
Hari telah berganti hari aku masih hanyut dalam kesedihan. Semuanya terasa hampa bagiku. Kehilangan seseorang yang dicintai untuk selamanya. Semangat pun hilang entah kemana.
Aku sedang termenung di dalam kamar dengan pandangan ke luar jendela. Saat itu tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan Sienna. Namun aku berusaha menyembunyikan kesedihanku darinya.
"Eriza .... Kamu merindukanku?" tanyanya menggoda.
"Kapan kamu pulang? Kamu tidak memberitahuku?" tanyaku.
"Kejutan!" jawab Sienna begitu senang.
"Oh ya, ada yang ingin bertemu denganmu di luar!" lanjutnya.
"Siapa?" tanyaku.
"Lihat saja!" jawab Sienna membuatku penasaran.
Aku langsung turun ke bawah. Begitu sampai di ruang tamu, senyum Alex menyambutku.
"Hai, Riza!" sapanya.
"Oh, Alex. Kamu rupanya!"
"Kenapa? Tidak senang melihatku?" tanya Alex dengan candaannya.
"Tidak, hanya ...," aku mengangkat bahu tak tahu juga apa yang mesti kukatakan.
"Bagaimana pekerjaanmu? Kamu sudah dapat libur?" aku beralih ke topik lain.
"Ya, liburan akhir tahun hingga tahun depan. Dan aku berencana menghabiskan liburan bersama dengan kalian!" jawab Alex senang.
"Oh yah? Di Losta!?" tanyaku berlagak tertarik.
"Bukan, di New Angeles!" jawab Alex mantap.
Senyumku langsung hilang. Mengerutkan dahi dengan bingung. Kota itu lagi.
"Kenapa? Kamu nampak tidak senang? Bukankah kamu menyukai kota itu?" tanya Alex bingung dengan perubahan wajahku.
"Tidak apa-apa. Hanya ku pikir aku baru ke sana sebulan yang lalu ...."
"Ayolah, Riza .... Apa salahnya kembali lagi! Kebetulan kita bisa bersama-sama mengunjungi kota itu kembali! Aku bahkan sudah memesan tiket untuk kita semua!" ujar Alex cepat.
"Kita semua?! Siapa?" tanyaku.
"Aku, Justin, Kamu, Sienna, Suzan, bibi Jane dan Ginnevra!" jawab Alex sambil tersenyum malu-malu saat menyebut nama Ginnevra.
"Ginnevra? Sejak kapan kalian dekat?" tanyaku heran.
"Sebulan yang lalu. Sebenarnya kami tak sengaja bertemu di sebuah situs jejaring sosial. Dan baru mulai dekat dari sana! Hehehe ...," jawab Alex malu-malu.
"Oh. Bagus juga!" kataku sambil lalu.
"Jadi, kamu segeralah berkemas. Kita berangkat besok siang," ujar Alex.
"Secepat itu?" tanyaku kaget.
"Iya!" jawab Alex.
Aku terbengong.
"Aku kan tidak bilang mau ikut," protesku pada Alex.
"Aku tidak perlu jawaban tidak ikut. Tiketmu sudah disiapkan. Lagipula kamu tidak mungkin sendirian di rumah. Jadi, segeralah berkemas!" balas Alex dengan puas.
"Kamu curang!" kataku ketus.
Alex hanya menertawaiku. Aku tak punya pilihan karena semuanya pergi. Akhirnya aku terpaksa harus ikut kemana mereka pergi.
.......
.......
__ADS_1
.......
.......
...★━━━━PoV Edgar━━━━★...
Edgar baru pulang sore itu. Ia langsung merebahkan diri di atas sofa. Duduk dengan santai sambil memejamkan mata. Hampir setiap hari ia pergi bersama Samantha. Mengunjunginya dan membawanya jalan-jalan. Meski gadis itu tak bisa berjalan, namun itu bukan masalah bagi Edgar untuk mengajaknya ke luar.
"Edgar!"
Sebuah suara memanggilnya tiba-tiba. Edgar tersadar, di depannya kini Wallace tengah berdiri di sana.
"Ada apa?" tanya Edgar sambil membetulkan posisi duduknya.
"Ada yang ingin aku katakan!" jawab Wallace.
Edgar cuma mengangguk menunggu Wallace yang bicara.
"Aku sudah menemui Eriza. Aku juga sudah ucapkan salam perpisahan padanya. Setelah ini aku tidak akan muncul lagi di hadapan kalian. Aku akan kembali ke dunia ku selamanya. Tapi sebelumnya aku memiliki satu permintaan terakhir untukmu," terang Wallace.
"Permintaan apa?" tanya Edgar.
"Tolong jaga Eriza! Aku tahu kamu mencintainya. Sekarang aku serahkan dia padamu! Tolong jaga dia!" jawab Wallace seolah memohon.
Edgar tersentak mendengar ucapan Wallace. Tapi Wallace keburu menghilang.
"Wallace. Wallace ...," panggil Edgar.
"Selamat tinggal, teman! Aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan sebelumnya," ujar suara Wallace dari kejauhan. Dan ia benar-benar telah menghilang.
Edgar masih tertegun memikirkan ucapan Wallace.
'Itu berarti Wallace tidak akan pernah muncul di sini atau di Dixie Holly lagi!? Darimana dia tahu aku mencintainya? Ah ... Eriza, sudah beberapa hari ini aku tak menemuinya. Ia pasti sedih sekali saat ini!' begitu pikirnya.
Tanpa membuang waktu Edgar beranjak pergi. Keluar meninggalkan mansion dengan mobilnya.
...****...
Siang ini Edgar sedang duduk di ruang santai mansionnya. Dengan wajah tersenyum sendiri menatap layar ponselnya. Di layar ponselnya sedang diputar rekaman saat Eriza bernyanyi di cafe. Kemarin ia pergi menemui Russel dan ternyata Russel memiliki rekaman itu. Russel sengaja meminta temannya merekam Eriza diam-diam saat tampil bernyanyi di cafe kampus. Layar ponsel Edgar tiba-tiba beralih dengan sebuah panggilan tertulis nama Samantha memanggil. Ia langsung menerimanya.
....
"Oh maaf sepertinya hari ini aku tidak bisa menemuimu. Ada sedikit urusan!"
....
"Oke, mungkin lain kali. Maaf ya! Bye!"
Panggilan pun dimatikan. Edgar meletakkan ponselnya ke atas meja. Kemudian meninggalkan ruangan.
Ia menuju ke bagasi dan masuk ke dalam mobil. Mobil yang dikemudikannya mundur keluar dari bagasi tepat saat mobil yang dikemudikan supir Ginnevra kembali. Ia pun melaju meninggalkan mansion.
Dengan santai mengemudikan mobil meski jalanan tidak macet. Tujuannya sekarang adalah rumah Eriza. Ia sampai di depan rumah Eriza. Tapi rumah itu nampak sangat sepi. Edgar keluar dari mobilnya dan mendapati pintu pagar yang terkunci.
"Terkunci? Apa berarti tidak ada orang di rumah!?" gumam Edgar. Ia lantas merogoh saku celananya.
"Ah, ponselku tertinggal!" lanjutnya.
Akhirnya ia masuk kembali ke mobil dan pulang kembali ke mansion. Sesampai di mansion juga sepi. Sejak pagi ini tidak melihat Ginnevra. Ketika akan masuk ke kamar ia berpapasan dengan Yuna.
"Eh Yuna, apa kamu lihat kakak? Sejak pagi ini aku tidak melihatnya!" tanya Edgar.
"Tuan muda tidak tahu? Nona kan sedang pergi ke luar kota!" jawab Yuna.
"Ke luar kota? Dengan siapa? Dia punya cukup keberanian untuk pergi sendiri?!" tanya Edgar kurang yakin.
"Iya, nona pergi bersama teman-teman yang dulu datang kemari menolongnya. Nona bilang mereka akan ke New Angeles dan mungkin akan kembali setelah tahun baru nanti!" jawab Yuna yang ikut senang dengan perubahan Ginnevra.
"Hah?! Mereka tidak mengajakku?! Baiklah, terima kasih infonya!" ucap Edgar lalu masuk ke kamarnya sambil menggerutu.
"Wah tega sekali tidak mengajakku pergi. Berarti Eriza pasti ke sana juga!"
__ADS_1
Ia melihat kalender dudum di atas mejanya. Dan kembali berpikir.
'Hari ini baru tanggal 17, berarti akan sangat lama mereka di sana! Apa aku susul saja, ya!? Tapi Samantha ....'
...★━━━━━━━━━━━━★...
... ....
.......
.......
.......
.......
Kami semua tiba di New Angeles sore hari. Dan langsung mencari tempat menginap.
"Apa kita akan menginap di hotel yang dulu?" tanya Alex sebagai pemimpin rombongan.
"Boleh juga! Lokasinya juga strategis," Sienna menyetujui.
Jadi kami pun check-in di hotel yang sama dengan tempat kami menginap dulu. Kemudian menentukan kamar untuk masing-masing dari kami. Alex dan Justin pastinya sekamar. Sedangkan bibi Jane dengan Sienna, tapi Suzan memilih bersama Sienna. Jadi aku sekamar dengan Ginnevra saja berdua.
Setelah menempuh perjalanan jauh kami memilih istirahat di hotel saja hari ini. Malamnya aku sudah bersama Ginnevra di kamar. Tak ada yang aku lakukan, aku perhatikan Ginnevra yang sedang sibuk memilih pakaian di koper. Ia sudah seperti gadis normal biasa, sangat berbeda jauh dengan Ginnevra yang dulu. Ginnevra sadar aku memperhatikannya, ia berhenti untuk menatapku.
"Kenapa melihatku begitu, Eriza?" tanya Ginnevra merasa aneh.
"Tidak apa-apa. Aku hanya senang menatapmu saja!" jawabku asal.
"Kamu membuatku takut. Kamu tidak menyiapkan pakaian yang akan dipakai besok?" tanya Ginnevra.
"Tidak. Pakaian mana pun sama saja tetap akan ku pakai," jawabku.
"Haha .... Mungkin aku yang paling repot soal penampilan! Biasanya Yuna yang menyiapkan semuanya. Em ... Eriza, boleh aku bertanya?" tanya Ginnevra ragu-ragu.
"Ya, apa?" jawabku.
"Menurutmu Alex itu orang yang seperti apa?" tanya Ginnevra malu-malu.
Aku mengerutkan dahi.
"Alex? Em .... Bagaimana ya, aku sendiri bingung menilainya," jawabku.
"Dia cerita padaku, dulu dia pernah menyukaimu. Dia terus mengejarmu sampai dia tahu kamu menyukai orang lain akhirnya dia berhenti. Benarkah begitu?" tanya Ginnevra dengan polos.
"Iya. Meski aku menolaknya berkali-kali ia tetap saja berusaha. Memang awalnya dia sudah berjanji akan berhenti mengejarku jika ternyata aku menyukai orang lain. Dan dia menepati janjinya!" jawabku sambil tersenyum.
"Oh," gumam Ginnevra.
"Apa kamu tertarik padanya?" godaku.
"Ah .... Aku baru saja mengenalnya. Masih terlalu cepat untuk itu," jawab Ginnevra.
"Ginnevra, yang ku maksud tertarik. Dalam artian bisa saja tertarik untuk dijadikan teman atau ...."
"Ah ... Sudahlah jangan menggodaku. Aku ingin membuka pintu hatiku untuk pemuda lain. Seperti kata pangeran, aku harus hidup sebagai diriku, di duniaku. Aku ingin jatuh cinta dengan pemuda yang nyata yang bisa memelukku dengan hangat dan membelaiku dengan lembut. Kamu juga harus berusaha, Eriza!" ujar Ginnevra dengan tekad yang kuat.
Aku terdiam, ia mengingatkanku lagi pada Wallace. Ginnevra sudah kembali 'hidup'. Bagaimana denganku? Apa aku akan terus terpuruk begini?
Aku menghela nafas panjang. Dan tersenyum pada Ginnevra.
"Ginnevra, aku salut padamu," pujiku.
Dia yang paling lama memendam perasaan dan bersama Wallace. Namun dia juga mampu merelakan dan melepas kepergian Wallace.
"Aku mengerti perasaanmu, Eriza! Tapi jika kita terus seperti ini, pangeran juga tidak akan tenang di sana. Jadi, kita harus merelakan semuanya! Dengan begitu pangeran akan bahagia dan tenang," ucap Ginnevra.
Aku mengangguk.
"Ya, aku akan berusaha!" kataku.
__ADS_1
Malam ini semua tidur dengan nyenyak. Kecuali aku. Aku masih terus memikirkan Wallace. Apalagi di kota ini tersimpan begitu banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan.
bersambung ....