
Suara ketukan pintu terdengar saat aku sedang mencuci piring. Aku segera membukanya. Di sana Edgar berdiri dengan senyum manisnya.
"Selamat pagi! Apa aku mengganggu?" sapanya.
"Tidak. Masuklah!" ajakku.
"Pagi-pagi sudah sibuk sekali!" kata Edgar yang melihat ku kembali sibuk di bak cuci.
"Hanya membersihkan beberapa piring kotor. Kamu sudah sarapan? Masih ada beberapa potong roti selai di meja makan," kataku sembari menawarkan.
"Tidak, trims, aku sudah sarapan! Bagaimana kabarmu hari ini? Merasa lebih baik?" tanya Edgar.
"Ya, cukup baik!" jawabku.
"Aku ingin bicara denganmu. Namun jika kamu tidak keberatan," ujar Edgar.
"Tentu tidak. Bicaralah!" balasku.
Aku langsung ikut duduk bersama Edgar begitu selesai dengan pekerjaanku.
"Begini ... nenek Nancy mendesakku untuk secepatnya pulang membawa Crystal Orlov. Jadi, besok malam aku harus pulang ke Losta," Edgar mulai berkata.
"Tapi, kamu belum menemukan Crystal Orlov, bagaimana bisa mencarinya dengan waktu sesingkat ini?!" tanyaku.
"Aku tidak akan mencarinya. Wallace curiga pada nenek Nancy, jadi kami membuat rencana. Sekarang apa kamu bisa menemaniku ke toko Gipsy? Aku perlu bantuan wanita itu. Nanti akan ku jelaskan semuanya dalam perjalanan," ujar Edgar.
"Baiklah. Tunggu sebentar aku ambil tas ku dulu!" Aku menyetujui. Jadi, aku langsung ke kamar mengambil tas kecil dan keluar dengan cepat.
Kami langsung menuju ke toko Gipsy. Sesuai janji Edgar, di perjalanan ia menceritakan semua rencana yang dibuatnya bersama Wallace padaku secara terperinci. Aku mendengarkannya dengan seksama. Aku cukup paham dengan rencana mereka.
"Hanya saja aku tak bisa melakukannya sendiri. Aku butuh bantuanmu, Riza!" ujar Edgar setengah memohon.
"Aku mengerti. Kita juga tidak bisa melakukannya berdua. Kita butuh beberapa orang lagi, kan?!" kataku.
"Iya. Bisakah teman-temanmu membantuku?" tanyaku Edgar.
"Aku akan coba berbicara dengan Sienna! Dia pasti senang mendengar aku pulang," jawabku.
"Terima kasih, Riza! Aku sungguh merepotkanmu! Kamu harus pulang denganku sementara masalahmu di sini belum selesai," kata Edgar dengan perasaan tak enak.
"Tidak apa-apa. Aku akan menemuinya nanti malam. Hanya berbicara saja tidak akan butuh waktu lama," balasku dengan pikiran menerawang jauh.
Akhirnya mobil berhenti di depan toko Gipsy. Aku dan Edgar langsung masuk ke dalam toko. Batilda sedang duduk di balik mejanya dengan tatapan mengarah pada bola kaca di depannya. Pandangannya langsung beralih pada kami begitu kami datang.
"Hai, Eriza! Dan kamu ...," sapa Batilda. Karena tak mengetahui nama Edgar ia tak menyebutkannya hanya menatapnya saja.
"Edgar," ucap Edgar pada Batilda.
"Ooo Edgar, senang melihatmu!" kata Batilda. Edgar hanya membalasnya dengan senyum.
"Eriza, sepertinya kamu sangat kaget dengan kenyataan yang baru kamu ketahui!" tanya Batilda prihatin.
"Sedikit, tapi aku tak mau membahas itu. Ada yang mau ditanyakan Edgar padamu!" balasku.
Batilda mengangguk.
"Katakanlah!" ujar Batilda kemudian.
"Batilda, aku butuh sesuatu untuk melepas segel yang terpasang di rumahku," Edgar mulai menjelaskan.
Belum selesai bicara, Batilda sudah menyahut duluan.
"Aku mengerti, segel itu terpasang di lima sudut rumah. Sebenarnya tidak ada cara untuk melepas segel itu. Hanya orang yang memasang segel tersebutlah yang bisa melepasnya!"
"Apa? Tidak bisa dilepaskan?" tanya Edgar tak percaya.
"Ada satu cara, tapi hanya mampu melemahkan kekuatan segel. Tidak untuk melepaskannya apalagi dimusnahkan," jawab Batilda.
Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari balik lemari kecilnya. Sebuah kantong kecil berserut diberikannya pada Edgar. Ia menjelaskan.
__ADS_1
"Ini kelopak bunga kering yang sudah dimantrai. Sebarkan di depan pintu utama, sudut kanan-kiri depan rumah dan juga bagian belakang rumah. Tapi ingat, kekuatan segel hanya melemah selama 30 menit. Gunakan waktu itu dengan baik. Temanmu harus segera ke luar dari rumah itu sebelum kekuatan segel kembali."
"Kalau tidak?" tanyaku.
"Kalau tidak ... ya kamu tak akan bertemu dengannya lagi!" jawab Batilda dengan entengnya.
Aku terdiam.
"Apa itu berarti segel tersebut selamanya tidak akan musnah, jika si pemilik tidak melepasnya?" tanya Edgar.
"Tidak juga. Kekuatan segel berkaitan dengan pemiliknya. Jika kekuatan si pemilik melemah atau hilang, maka segel yang terpasang juga akan ikut melemah dan hilang," Batilda menjelaskan.
"Lalu, apa kamu tahu siapa sebenarnya yang memasang segel itu?" tanya Edgar.
Batilda tersenyum dan menjawab,
"Tidak perlu bertanya padaku! Kamu juga sudah tahu."
"Tidak mungkin!" ujar Edgar mendesah lemah tak bisa percaya.
Aku hanya menepuk bahunya mencoba menguatkannya.
"Ah, Batilda. Bagaimana kalau kami tidak bisa menemukan Hati Ruby dalam waktu 30 menit?" tanyaku cemas.
"Segel akan kembali kuat. Dan energi dari Hati Ruby akan semakin sulit terdeteksi. Sebenarnya kalian bisa mencarinya. Sayangnya butuh waktu lebih lama karena kalian tidak bisa merasakan energi yang muncul dari Hati Ruby. Hanya teman arwahmu yang bisa melakukannya. Tapi mungkin dia akan merasa tersiksa di dalam rumah yang seperti akan membakar habis jiwanya itu," jawab Batilda.
"Apa tidak ada jalan lain? Kalau rencana kami gagal ...," aku berkata pelan.
Batilda menarik nafas, terdiam sesaat memikirkan sesuatu.
"Dia bisa meminjam tubuh seseorang!"
"Maksudnya?" kini Edgar yang bertanya.
"Masuk ke tubuh salah satu dari kalian!" Batilda menjawab sambil menatap Edgar dan aku bergantian.
Aku dan Edgar pun saling tatap.
"Aku mengerti!" kataku pelan.
"Eriza," Edgar nampak tak sependapat.
"Jadi, tidak ada yang perlu kalian cemaskan, bukan?" tanya Batilda.
Aku hanya mengangguk pelan. Setelah urusan di sini selesai, kami kemudian pergi. Tujuan selanjutnya ke toko berlian. Entah apa yang Edgar cari di sana. Aku sibuk melihat perhiasan yang dipajang dalam lemari kaca. Sedangkan Edgar menemui si pengrajin berlian.
Begitu Edgar selesai dengan urusannya kami kembali ke apartemen. Edgar langsung pergi begitu ia mengantarku sampai di apartemenku. Ia berjanji akan menjemputku lagi nanti malam. Aku mengiyakan.
Aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Hari yang sibuk. Aku harus mengemasi pakaianku dan semua barang-barangku di sini. Besok aku akan pulang bersama Edgar. Oh iya, aku juga harus menelepon Sienna untuk meminta bantuannya. Aku mengambil ponsel dan langsung menghubunginya.
Tanpa basa-basi aku langsung menjelaskan pokok permasalahannya dan rencana yang sudah diatur kepada Sienna. Awalnya ia begitu senang mendengar aku akan pulang besok. Ia juga setuju akan ikut membantu. Dan berkata akan meminta bantuan Suzan juga. Ide yang bagus, semakin banyak yang membantu akan semakin mudah. Cukup lama mengobrol dengan Sienna di telepon. Hanya satu hal, aku belum menceritakan padanya mengenai siapa Wallace. Telepon baru ditutup begitu aku menyadari harus segera bersiap sebelum Edgar datang.
Edgar baru datang jam tujuh malam. Kami langsung berangkat. Kami tidak banyak bicara dalam perjalanan. Aku sendiri merasa gugup. Padahal biasanya begitu bersemangat.
"Kita sudah sampai!" kata Edgar menyadarkanku.
Aku baru membuka pintu mobil akan turun. Kemudian Edgar bertanya,
"Mau ku temani?"
"Tidak perlu. Aku pergi sendiri saja!" jawabku.
"Baiklah. Hati-hati!" ujar Edgar.
Aku mengangguk. Dan keluar dari mobil.
Berjalan sendiri di sini rasanya menjadi aneh. Meski malam ini cukup ramai pengunjung. Aku merasa gugup. Aku sampai di depan katedral yang sepi. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Tenanglah! Sambil menenangkan diri sendiri. Tidak ada siapa-siapa di sini. Aku berdiri dengan tak tenang di depan katedral. Mondar-mondir sambil berpikir apa yang akan ku katakan. Tiba-tiba suara itu memanggil.
"Aku kira kamu tidak akan datang lagi!" katanya.
__ADS_1
Aku langsung diam mematung. Memperhatikan sekali lagi wajahnya dengan jelas. Matanya masih sama biru dan kulitnya juga masih pucat.
Melihatku hanya diam saja. Wallace lalu maju melangkah.
"Jangan mendekat!" spontan aku berteriak.
"Kenapa? Kamu mulai takut padaku?" tanya Wallace. Raut wajahnya mulai sedih.
"Aku ... aku ... aku tak bisa bayangkan kamu itu apa. Kamu begitu pucat, begitu dingin, aku kira itu hal biasa. Tapi aku tak menyangka kalau ternyata yang aku temui selama ini .... Yang aku harapkan selama ini .... Hanya ... hanya ...." Aku tak sanggup meneruskan kalimatku.
"Eriza, jangan katakan lagi! Aku tahu kamu pasti sulit mempercayai semua ini. Ini juga yang membuatku takut. Tapi aku tak bermaksud membohongimu! Aku memang bukan manusia, Riza!" kata Wallace pelan.
Aku terduduk lemas. Kedua tanganku menutupi wajahku yang memanas. Aku tak percaya ini tapi ini sungguh terjadi.
Entah sejak kapan Wallace tiba-tiba sudah ada di sampingku.
"Riza. Maafkan aku!" ucapnya lirih.
"Entahlah, aku tidak tahu harus berkata apa lagi! Aku tak bisa berpikir lagi. Semua ini tidak benar, seharusnya kamu katakan dari awal. Buat aku lari melihatmu, buat aku berteriak ketakutan melihatmu, bukannya malah menarikku untuk semakin dekat denganmu!" kataku dibalik wajah yang tersembunyi.
"Kamu itu hantu!" teriakku padanya bersamaan dengan pecahnya tangisku.
Aku kembali menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Aku benar-benar minta maaf, Riza!" ucapnya semakin bersalah.
"Apa maaf saja bisa menyelesaikan masalah?! Ini sudah terlanjur terjadi. Seribu kali kamu bilang maaf pun tidak akan mengubah apa-apa. Kamu tetap berada di duniamu, dan aku tetap di duniaku sebagai diriku. Tapi kamu tidak pernah tahu betapa selama ini aku berharap agar bisa bertemu kembali denganmu. Bagaimana aku menghabiskan setiap malam dengan memikirkanmu? Bagaimana perasaanku saat mengetahui semua kiriman surat itu darimu? Apa kamu memikirkan semua itu? Jika aku tahu mustahil menyukai seseorang dari dunia yang berbeda, aku takkan melakukannya. Jika aku tahu pada akhirnya aku yang bersedih, aku yang patah hati, aku tidak akan pernah mencoba. Namun kamu pasti tak pernah berpikir sejauh itu," aku berbicara meluapkan semua amarah dan perasaan yang selama ini tak tersampaikan.
"Kamu salah, Riza! Selama ini aku juga tersiksa dengan perasaan dan rasa bersalahku. Aku tahu yang ku lakukan salah. Tapi aku tak bisa menghentikannya. Wajahmu selalu muncul di kepalaku. Sampai aku tak tahan lagi, aku mendatangimu setiap malam. Kadang aku melihatmu seperti sedang bermimpi buruk, kamu tidur dengan gelisah. Jadi, aku mengusap dahimu, tapi saat itu kamu malah terbangun," kata Wallace jujur.
Aku mendengarkannya, dan baru sadar ternyata tangan dingin yang selalu terasa di dahiku adalah tangan Wallace. Ia kembali melanjutkan,
"Kadang aku juga berbisik memanggil namamu. Saat kamu terlambat bangun. Tapi aku tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk tanpa sepengetahuanmu. Aku yang meminta Ginnevra mengirimkan amplop-amplop itu padamu, hanya agar kamu tidak melupakanku. Hanya ingin tahu bagaimana reaksimu. Namun ternyata yang aku lakukan salah. Aku membuatmu berharap pada hal yang mustahil. Aku membuatmu menyukaiku tapi aku juga menghancurkan hatimu. Maaf, Riza! Aku tak bermaksud mempermainkanmu, aku hanya tak bisa menahan perasaan hatiku. Aku mencintaimu, Riza!"
Aku kembali terdiam. Kata yang selalu ingin ku dengar. Yang dulu ku harap keluar dari mulutnya, tapi bukan diucapkan di saat-saat terakhir. Harusnya kata itu diucapkan untuk sebuah permulaan yang baik, bukan untuk akhir yang seperti ini. Kata-kata yang harusnya membuat hatiku berbunga-bunga justru terdengar menyedihkan. Aku malah tak bisa tersenyum padanya atau membalas kata-katanya. Aku berdiri, kesedihanku belum habis. Satu bulir air mata jatuh ke pipi. Aku mengusapnya dengan cepat. Entah air mata bahagia atau sedih. Aku mulai melangkah melewati Wallace.
"Eriza ...." Ia memanggil.
"Aku pulang dulu, Wallace! Aku akan tidur awal malam ini. Aku sangat senang mendengar kamu berkata 'aku mencintaimu'! Setidaknya aku tahu perasaanmu!" kataku padanya. Lalu kembali meneruskan langkah meninggalkan jalan yang penuh kenangan ini.
Aku masuk ke dalam mobil dengan mata sembab. Edgar menatapku dengan tak biasa.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya agak cemas.
Aku hanya menganggukkan kepala dengan cepat. Sementara tak berani menatapnya. Edgar baru kemudian menjalankan mobil.
"Boleh tidak malam ini aku menginap di apartemenmu?" tanyaku tapi tetap tak menoleh pada Edgar.
"Hah?" Edgar agak kaget dengan pertanyaanku.
"Aku takut di apartemen sendirian," jawabku.
"Oh tentu. Tentu saja! Kalau begitu kita pulang ke apartemenku!" kata Edgar.
Ia mungkin merasa aneh dengan ku malam ini. Aku jadi tak ingin sendirian di apartemen ku.
Edgar memberikan kamarnya untukku tidur, sementara dia memilih tidur di sofa ruang tamu. Dia langsung menyuruhku istirahat dan menutup pintu kamarnya.
Malam masih panjang aku belum dapat tidur. Aku berjalan ke luar balkon. Udara di sini cukup dingin. Aku masih dapat mendengar suara deburan ombak dari jauh. Namun langit begitu gelap. Tak ada bulan ataupun bintang. Aku masuk mengambil tasku. Buku harianku ada di dalam. Ku keluarkan lalu bersandar di pintu balkon. Aku mulai menulis.
╔═.✵.════════════════════╗
...4 November 2013,...
...Ini malam terakhir di kota ini. Berakhirnya petualangan di sini, berakhir pula perjalanan cintaku. Setidaknya aku tahu dia mencintaiku, walau tidak mungkin bersama. Kami hidup di dunia yang berbeda. Meski aku belum dapat mempercayai semua ini. Ini sungguh nyata, aku tidak bermimpi. Pangeran yang kucintai hanya sesosok jiwa tanpa raga....
╚════════════════════.✵.═╝
__ADS_1
Aku menutup buku harianku. Tiba-tiba aku teringat saat-saat bersama Wallace. Kenangan bersamanya berputar kembali di pikiranku. Aku baru menyadari seperti inikah perpisahan? Semua ini benar-benar sudah selesai? Selesai bahkan sebelum sempat memulai. Air mata kembali jatuh ke pipi. Seharusnya tidak perlu menangis lagi. Namun air mata tak henti mengalir. Malam ini aku benar-benar tenggelam dalam kesedihan.
bersambung ....