
Usai berpamitan dengan bibi Jane, kami berangkat. Kali ini tetap Alex yang mengemudikan mobil. Aku, Sienna dan Mandy duduk bersama di kursi belakang.
Melewatkan dua jam perjalanan dengan candaan membuat perjalanan terasa menyenangkan. Tak terasa kami tiba. Setelah Alex memarkirkan mobil di parkiran kami semua turun. Udara sejuk langsung menyengat kulit begitu ke luar dari mobil. Untung pakaianku cukup hangat karena aku tak tahan dengan udara dingin.
Kami berjalan menuju anak tangga. Lalu berhenti sebentar memandang ke depan. Mungkin ada ratusan anak tangga yang harus dinaiki untuk sampai ke puncak.
"Bersiaplah merasa pegal esok hari!" ujar Mandy yang duluan menaiki tangga.
Kemudian Justin menyusul.
"Siapa takut," kata Justin dengan enteng.
Sienna mulai menyusul Justin. Baru kemudian aku dan Alex di belakang.
Belum sampai setengah anak tangga yang dinaiki aku sudah cukup kelelahan. Aku putuskan berhenti sebentar. Mandy sudah cukup jauh di depan, berjalan sendirian dengan membawa buku panduan di tangannya. Sedangkan di depan Justin dan Sienna masih begitu semangat. Aku berusaha mengatur nafas yang mulai kewalahan. Alex muncul dari belakang. Dari tadi ia terus berjalan dibelakang ku.
"Kamu capek? Minum dulu!" katanya sembari memberikan sebotol air mineral padaku.
Aku menerimanya lalu membuka tutup botol yang masih tersegel, segera meminumnya.
"Trims," kataku dan mengembalikan minumannya.
"Sama-sama," balas Alex.
"Kita bisa berhenti sebentar kalau kamu masih lelah," lanjutnya.
"Tidak, aku sudah cukup kuat!" kataku dan melanjutkan perjalanan.
Alex mengikuti. Tapi kini ia berjalan di sampingku.
"Kamu sudah pernah ke sini?" tanya Alex.
"Belum. Ini pertama kalinya," jawabku.
"Sama dengan Mandy kalau begitu. Aku dan Justin sudah pernah ke sini setahun yang lalu. Tidak ada yang berubah. Suasananya masih tetap sama," jelas Alex.
"Oh ... itu sebabnya Mandy membawa buku panduan ke mana-mana?!" gumam ku beranggapan.
Alex tersenyum.
"Mungkin saja atau bisa juga kebiasaannya. Karena dia suka memisahkan diri dari kelompok. Dia lebih senang berjelajah sendiri," ujar Alex.
"Itu supaya dia tidak tersesat," tambah ku.
"Iya," ucap Alex.
Beberapa saat kami terdiam. Masing-masing berjalan menaiki beberapa anak tangga.
"Maaf ya, aku tidak jawab telepon mu. Aku sudah tidur," kataku kemudian.
"Tidak apa-apa. Salahku terlalu malam menghubungimu," balas Alex.
"Memangnya apa yang kamu lakukan sudah malam begitu masih belum tidur?" tanyaku basa-basi.
"Memikirkan mu!" jawab Alex.
Jawaban yang tak terduga.
"Kenapa memikirkan ku? Tidak ada kerjaan lain, ya?!" ucapku ketus.
Alex menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Entahlah, hatiku yang ingin memikirkan mu. Apa tidak boleh? Atau sudah menemukan orang lain yang kamu suka?" tanyanya serius.
Aku terdiam tak tahu harus menjawab apa. Kalau sudah bicara perasaan suasana jadi tak enak begini.
"Sudahlah jangan dipikirkan. Ayo, kita sudah sampai di tengah puncak!" kata Alex.
Di tengah puncak berarti masih ada setengah jalan lagi sampai ke puncak bukit. Tapi di sini ada tempat peristirahatan, kedai penjual makanan dan cindera mata. Nampak Mandy sedang duduk beristirahat disalah satu kedai penjual makanan. Dan Justin serta Sienna mulai bergabung dengannya. Aku dan Alex mulai mendekati mereka. Tapi meja di kedai ini sangat kecil sehingga aku dan Alex duduk terpisah di meja lain.
"Kamu pasti belum makan? Aku pesankan sesuatu, ya!" kata Alex penuh perhatian.
"Tidak usah. Aku sudah sarapan!" tolak ku.
Tapi Alex bersikeras tetap memesan makanan untukku.
"Sarapan mu sangat sedikit. Lagipula ini sudah waktunya makan siang. Aku takut kamu tidak kuat sampai keatas. Kamu tunggu saja sebentar, aku akan segera kembali," katanya dan segera berlalu memasuki kedai.
Tidak lama kemudian ia kembali dengan dua mangkuk sup tahu hangat. Ia menaruhnya semangkuk di depanku.
" Ayo, dimakan!" suruhnya.
"Trims." Aku berkata sambil tersenyum padanya.
Aku pun mulai menikmati sup tahu hangat itu. Dengan udara yang dingin begini, semangkuk sup tahu hangat ini cukup mampu meredam rasa dingin dalam tubuh.
"Em ... Rasanya sama seperti setahun yang lalu!" ujar Alex begitu menikmati sup-nya.
"Sup tahunya? Atau suasananya?" tanyaku menggoda.
Alex menatapku sambil tersenyum. Ia berkata, "bisa jadi keduanya," lalu lanjut makan.
Aku paham. Benar atau salah inilah anggapanku.
"Em ... Tidak tepat kalau dikatakan pacar. Karena waktu itu aku belum pacaran dengannya, masih memendam perasaan suka," jawabnya begitu jujur.
"Oh," gumam ku.
Sebenarnya tidak tertarik untuk bertanya lebih banyak. Tapi aku penasaran juga kelanjutan ceritanya. Jadi memutuskan bertanya lagi.
"Lalu, apa perasaanmu tersampaikan?"
"Ya. Aku mengutarakan perasaanku seminggu kemudian. Kami pacaran tapi sayang hubungan kami hanya bertahan dua bulan saja," jawab Alex.
"Secepat itu? Apa yang terjadi?" tanyaku prihatin sekali dengan kisah cinta Alex.
"Perbedaan pendapat. Kami tidak cocok. Sifat kami bertolak belakang, ya sama-sama keras kepala dan sulit mengalah," jawab Alex.
"Oh ... Mungkin dia bukan jodohmu!" kataku.
"Ya. Semoga kamulah jodohku!" ujar Alex pelan.
"Apa?" tanyaku karena tak mendengar jelas.
"Ah, bukan apa-apa! Kamu sudah selesai makan? Siapkan energi mu, sebentar lagi kita lanjut jalan!" kata Alex mengalihkan topik.
"Aku sudah kenyang. Sepertinya teman kita di meja sebelah sudah akan lanjut naik lagi!" ujarku begitu melihat ketiga temanku mulai bangkit dari tempat duduknya.
"Biarkan mereka duluan saja. Kita bisa menyusul nanti. Kamu istirahat saja!" usul Alex.
"Tapi, aku tidak capek lagi. Kakiku sudah kuat. Ayo!" ajakku memaksa.
"Oke, baiklah! Tapi kalau kamu lelah katakan padaku, aku akan menggendongmu!" pesan Alex diselingi tawa.
__ADS_1
"Tidak mau!" tolak ku mentah-mentah. Alex tertawa semakin keras.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Beberapa kali aku berhenti beristirahat sejenak. Dengan Alex yang selalu di sampingku. Berkali-kali pula ia menawarkan diri ingin menggendongku meskipun sekedar candaan. Tapi aku tetap menolak.
Bayangkan menaiki ratusan anak tangga bukanlah hal yang mudah dilakukan apalagi untuk pertama kalinya. Namun begitu tiba di atas bukit, semua kelelahan terbayarkan oleh pemandangan yang begitu luar biasa indahnya. Aku jadi mengerti mengapa tempat ini dinamakan Green Hill. Karena pemandangan bukit hijaunya yang benar-benar indah memanjakan mata. Segala kelelahan pun hilang.
Banyak pula pengunjung yang berhasil sampai di atas sini. Mereka sepertinya enggan turun. Seperti ditengah puncak tadi, di sini pun disediakan kedai-kedai penjual makanan dan tempat beristirahat. Namun begitu tertata dengan sangat rapi dan bersih. Aku melihat ada kursi kosong didekat pembatas pagar dan aku segera duduk di sana. Aku belum menemukan sosok Mandy, Justin maupun Sienna di sini. Mungkin mereka beristirahat di salah satu kedai. Alex ikut duduk di sampingku dan menyodorkan sebotol air mineral. Aku menerimanya dan berkata, 'trims'. Lagi-lagi air mineral baru yang masih bersegel. Dan ku habiskan minuman itu hingga tersisa setengah botol. Ku kembalikan lagi pada Alex. Di depanku tanpa malu-malu Alex menghabiskan sisa minumanku tadi tanpa menjauhkan mulutnya dari bibir botol. Aku tertegun melihatnya.
"Apa kamu lelah?" tanya Alex.
"Tidak. Rasa lelah itu sudah terbayar dengan indahnya pemandangan di sini," jawabku.
"Kamu suka? Baguslah. Perjalanan panjang kita tidak sia-sia," ujar Alex senang.
"Ngomong-ngomong, aku tidak lihat Mandy dan yang lainnya. Mereka ke mana, ya?" tanyaku pada Alex. Mungkin ia tahu.
"Mungkin mereka pergi ke salah satu kedai. Kamu mau makan lagi? Kita bisa ke kedai penjual makanan di sana," tanya Alex sambil menunjuk kedai yang ia maksud.
"Tidak, aku masih kenyang," tolak ku.
"Oke," kata Alex.
"Riza, kamu suka bunga apa? Kalau aku boleh tahu," tanyanya kemudian.
"Tulip," jawabku singkat.
"Kenapa Tulip? Kebanyakan perempuan menyukai Mawar," tanya Alex lagi.
"Karena Tulip simbol dari cinta yang sempurna," jawabku.
"Oh, begitu. Aku baru tahu! Tapi aku lebih suka Edelweis," komentar Alex.
"Kenapa?" Aku balik bertanya.
"Karena Edelweis melambangkan keabadian dan cinta sejati," jawab Alex mantap.
"Edelweis sudah langka. Jangan kamu petik lagi!" ucapku sambil tersenyum.
"Ya, karena itu aku tidak berani memetiknya. Padahal ingin ku persembahkan padamu!" ujar Alex kecewa.
"Memangnya di mana kamu lihat bunga itu? Bukannya hanya tumbuh di daerah pegunungan?!" kataku.
"Itu di bawah sana ada beberapa," jawab Alex sembari menunjuk ketempat tumbuhnya bunga itu.
Aku menoleh mengikuti jarinya menunjuk. Ya ada beberapa yang sedang bermekaran.
"Aku pikir ia hanya tumbuh di pegunungan," gumam ku. Alex ikut mengangguk.
Tiba-tiba Mandy, Justin dan Sienna muncul di depan kami.
"Hei, kalian asyik sekali! Apa kami mengganggu?" Justin berkata dengan nada mengejek.
"Tentu saja tidak. Darimana saja kalian? Sekarang baru muncul!" tanyaku sembari menggeser posisi duduk lebih merapat ke Alex. Supaya ketiga temanku ini bisa ikut duduk bersama.
"Kami habis makan. Uh ... Makanan di sini enak-enak. Udara dingin membuat perutku jadi lapar terus," jawab Justin dengan gaya khasnya.
"Dasar, tukang makan!" ejek ku. Dan yang lainnya menertawakannya.
Semua nampak senang. Aku juga bisa merasakan aura kegembiraan dari Alex yang menempel di sampingku. Wajahnya lebih ceria dari sebelumnya. Tidak ada rona kelelahan dari wajah mereka. Semua nampak gembira.
Beginilah hari yang kami habiskan di puncak Green Hill yang indah ini. Dengan penuh canda tawa bersama sepupu dan teman-teman baru. Beban di hati juga sedikit berkurang.
bersambung ....
__ADS_1