
Setelah hari itu, semuanya sekarang kembali normal. Esoknya aku kembali ke kampus dengan segala kesibukan harian. Aku akan sangat sibuk karena harus mengejar ketertinggalan. Sampai terkadang bisa seharian berada di kampus. Untungnya Edgar selalu membantu. Meski dia juga ikut mengejar pelajaran yang tertinggal, itu tak masalah buatnya karena ia pintar.
Aku pun tak punya waktu untuk bermain dengan Alex dan Justin. Hanya Sienna yang menemani Justin setiap pulang kampus. Sedangkan Alex ... nampaknya ia masih patah hati. Meski pun gayanya terlihat cuek.
Sampai saat ini aku tidak melihat Wallace lagi. Entah apakah ia pernah muncul di kamarku tanpa sepengetahuan ku atau ia masih sering berhubungan dengan Ginnevra, aku tidak tahu. Aku juga tak mau memikirkan masalah itu. Saat ini yang terpenting fokus pada tugas kuliah. Aku harus menyelesaikan ketertinggalan ku sebelum bulan Desember tiba. Ya, supaya aku bisa berlibur tanpa memikirkan tugas yang tertunda.
Hari berganti hari, memasuki akhir November. Akhirnya aku menyelesaikan tugasku dengan cepat. Sekarang aku sudah bisa bernafas lega. Kuliah tinggal beberapa hari lagi. Sore ini seperti biasa aku dan Sienna pulang berjalan kaki. Sampai di tengah jalan sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan kami. Seorang gadis keluar dari dalam mobil. Itu Ginnevra. Ia tersenyum pada kami.
"Eriza, bisa ikut aku sebentar?" tanya Ginnevra.
Aku menatap Sienna, agak heran tiba-tiba gadis itu mencariku. Sienna mengangguk menyuruhku ikut dengan Ginnevra.
"Pergilah, aku bisa pulang sendiri!" katanya yakin.
Aku agak tidak enak meninggalkannya, tapi Sienna tak keberatan. Akhirnya aku ikut bersama Ginnevra dengan mobil yang dikemudikan supir barunya. Karena Mr. Henry telah berhenti setelah peristiwa itu.
"Ada yang ingin aku tunjukkan padamu!" kata Ginnevra dalam perjalanan.
"Menunjukkan apa?" tanyaku.
"Nanti kamu akan tahu," jawab Ginnevra.
Aku tak bertanya lagi. Gadis ini sudah kelihatan lebih sehat dari sebelumnya. Wajahnya juga lebih merona. Ia lebih banyak tersenyum, tidak dingin seperti dulu. Ku perhatikan, Hati Ruby tidak melingkar di lehernya lagi. Apa yang kemudian terjadi setelah peristiwa itu?
Beberapa lama perjalanan akhirnya tiba di rumah yang tak asing bagiku. Rupanya ia membawaku ke mansionnya. Mobil berhenti di depan. Aku dan Ginnevra keluar. Ia langsung mengajakku masuk ke dalam. Aku mengikutinya. Ia membawaku sampai di taman belakang mansion. Ia menyuruhku duduk dan menunggu sebentar sementara ia kembali ke dalam rumah mengambil sesuatu. Aku menurut saja. Ku perhatikan sekeliling. Suasana mansion nampak sepi. Sepertinya Edgar belum pulang.
"Maaf, membuatmu menunggu lama!" kata Ginnevra begitu ia kembali.
"Tidak apa-apa. Kamu nampak lebih baik sekarang," jawabku sambil berbasa-basi.
Ginnevra tersenyum.
"Berkat dirimu dan teman-temanmu! Terima kasih untuk semuanya," jawabnya.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu tunjukkan?" tanyaku ke pokok masalah.
"Sebelumnya ada hal yang ingin aku katakan," jawab Ginnevra.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop merah maroon yang sudah lama tak pernah ku lihat.
"Kamu pasti kenal amplop seperti ini!" ujarnya.
Aku mengangguk. Lalu ia melanjutkan kata-katanya.
"Sebenarnya aku yang menulis dan mengirimkan semua amplop ini padamu! Kamu jangan salah paham dulu. Ini semua atas permintaan Pangeran Wallace! Dia memintaku menulis apa yang ingin ia sampaikan padamu! Dan ini adalah yang terakhir. Ini ditulis sehari sebelum aku tak sadarkan diri, aku tak sempat mengirimkannya padamu. Bacalah! Ini adalah ungkapan perasaan Pangeran padamu!"
"Aku tak mau!" tolakku. Aku tak mengambil amplop itu.
"Ini memang tulisan tanganku, tapi percayalah semua yang ku tulis sesuai dengan apa yang ingin disampaikan Pangeran kepadamu! Aku tak akan berani berbuat jika itu bukan keinginannya," Ginnevra menjelaskan.
"Bukankah kamu mencintainya?! Kenapa kamu mau melakukan ini untuknya?" tanyaku.
Ginnevra tidak kaget dengan pertanyaan ku. Ia menarik nafas sebelum kemudian menjawab pertanyaan ku.
"Sejak dulu aku memang mencintainya! Dia teman kecilku, sahabatku, teman bermainku, aku tidak kenal siapapun selain dia. Sejak dulu dia selalu bersamaku, di sampingku, dekat sekali denganku. Aku tumbuh dewasa bersama dirinya yang selalu menemani ku. Dari aku masih kecil aku sudah mengenalnya. Dia sama sekali tidak berubah. Sampai kemudian dia jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dia menjadi berbeda. Dia menjadi diam, jarang menemaniku, tidak pernah lagi bermain denganku. Dia baru mulai kembali datang saat dia memintaku menulis surat untukmu. Aku melakukannya karena aku ingin selalu melihatnya. Aku ingin dia tersenyum. Meskipun senyum itu bukan untukku. Aku melihat rona wajahnya yang ceria saat dia mengungkapkan perasaannya melalui kertas yang ku tulis ini. Tapi aku menutup rapat perasaanku padanya. Dia tidak pernah tahu sampai hari itu."
"Apa yang terjadi setelah itu?" tanyaku, bagian inilah yang ingin ku tahu.
Ginnevra tersenyum menatap ke tempat yang jauh. Ia mulai bercerita padaku.
.......
.......
__ADS_1
.......
.......
... ★━━━Pov Ginnevra━━━★...
Setelah semuanya pergi, Ginnevra masih tak mengerti apa yang terjadi. Ia mencoba mengingat-ingat semua dari awal. Tidak ada yang bisa dia ingat. Sampai Edgar menceritakan semuanya padanya. Ia sangat kaget. Lebih kaget lagi karena ciuman Pangeran Wallace yang membangunkannya. Ia langsung keluar dari kamar. Mencari-cari keberadaan Wallace. Tapi Wallace tidak muncul.
Hingga malam menjelang dengan kegundahan hati Ginnevra duduk di depan piano yang lama tak disentuhnya. Membelai tuts-tuts piano itu tanpa berniat memainkannya. Saat itu Wallace muncul.
"Pangeran!" seru Gennivra.
"Ginnevra, aku tidak pernah tahu perasaanmu selama ini! Kenapa kamu menyembunyikannya?" tanya Wallace.
"Aku hanya tak ingin kamu pergi," jawab Ginnevra.
"Cepat atau lambat aku pasti akan pergi. Kamu sudah tahu itu sebelumnya, bukan?! Ginnevra, aku tidak tinggal selamanya di sini dengan mengorbankan hidupmu! Aku sudah mengasingkan mu dari dunia nyata milikmu. Aku sudah ambil separuh dari sisa hidupmu! Bukannya sudah terlalu lama kamu membuang waktumu untukku?" kata Wallace tanpa ekspresi.
"Pangeran, aku tak merasa begitu. Dari dulu aku merasa ada pangeran di sisiku, aku sudah tidak butuh siapa-siapa lagi. Pangeran selalu bisa membuatku tertawa, tersenyum sementara orang-orang di luar sana mengucilkan ku! " jawab Ginnevra.
"Tidak begitu, Ginnevra. Aku baru sadar karena aku, kamu menutup diri dari dunia luar. Sekarang sudah saatnya kamu melihat duniamu! Kamu tidak bisa terus bersembunyi di dalam mansion ini hanya dengan bermain denganku. Kamu lupa bahwa banyak orang yang ingin berteman denganmu, mereka bahkan mengkhawatirkan mu dan membantumu dalam kesusahan," Wallace menjelaskan.
"Tapi, siapa mereka? Aku tidak merasa ada yang ingin berteman denganku," tanya Ginnevra.
"Kamu lupa teman-teman barumu yang berjuang menolong mu tadi pagi? Mereka sangat khawatir saat kamu tak kunjung sadar, terutama Edgar dan Eriza. Meski Nancy sudah dienyahkan," jawab Wallace. Ia kembali melanjutkan.
"Justru Eriza-lah yang memintaku menggunakan 'Ciuman Pangeran' sebagai harapan terakhir agar kamu sadar. Dan itu berhasil, kamu terbangun. Dan itu yang membuatku sadar kamu menyimpan perasaan padaku. Tapi Ginnevra ... ingatlah satu hal, dunia kita berbeda. Lupakan perasaanmu, hiduplah dengan duniamu. Ada sahabat dan cinta sejati mu yang menunggu di luar sana! Maka bukalah matamu dan jelajahi dunia luar! Setelah ini aku akan pergi dan tidak akan muncul lagi!"
"Pangeran mau ke mana?" tanya Ginnevra.
"Aku harus kembali ke tempat seharusnya aku berada. Bukankah seharusnya begitu!?" jawab Wallace.
"Tapi, Pangeran .... Bagaimana dengan Eriza? Amplop terakhir itu ...," tanya Ginnevra bimbang.
"Berikan amplop terakhir itu padanya. Dan ceritakan semuanya. Dia pasti mengerti. Dan untuk terakhir kalinya aku pasti akan datang menemuinya," jawab Wallace dengan raut sedih.
"Tidak! Tempatku bukan di sini. Kamu harus janji padaku, untuk hidup lebih baik dan bahagia tanpaku dengan menjadi dirimu sendiri! Kamu bisa janji, kan?!" ujar Wallace.
"Ya, aku janji!" balas Ginnevra.
"Aku harap kamu menepatinya. Selamat tinggal, Ginnevra! Terima kasih untuk semua waktumu!" ucap Wallace dengan wajah tersenyum.
Perlahan-lahan bayangannya mulai memudar berubah menjadi ribuan kilauan cahaya yang berpendar dan menghilang seketika.
...★━━━━━━━━━★...
... ....
.......
.......
.......
"Itulah yang terakhir. Dia tidak akan datang lagi. Namun dia akan menemui mu, Eriza! Sebelum dia benar-benar pergi," ujar Ginnevra setelah ia selesai bercerita padaku.
Aku terdiam entah apa yang harus aku katakan.
"Eriza, ini lebih berat karena harus mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang dia cintai! Ini juga pasti berat untukmu!" katanya lagi.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa. Semua ini memusingkan! Ginnevra, kalau kamu sudah selesai boleh aku pulang?" tanyaku.
Ginnevra mengangguk. Ia tetap memberikan amplop itu padaku. Aku menerimanya. Dan ia menyuruh supirnya mengantarku pulang.
__ADS_1
Sesampai di rumah aku langsung membuka amplop itu. Isinya hanya selembar surat. Ku buka dan membacanya.
╔═.✵.═════════════════════╗
Eriza, apa kamu akan kembali? Aku menunggumu setiap malam di sini. Sejak bertemu denganmu aku selalu merindukanmu. Selalu ingin melihatmu. Kadang aku merasa kamu dekat sekali, ingin sekali ku sentuh tapi aku tak berani. Aku selalu takut dengan kenyataan, dikejar oleh ancaman jika suatu hari aku tak akan melihatmu lagi.
Aku benar-benar takut hingga gelisah. Ah, aku baru tahu jika cinta bagiku sangat menyiksa. Seharusnya aku tidak jatuh cinta. Seharusnya kita tidak bertemu. Tapi terlambat karena aku terlanjur bertemu denganmu sehingga membuatku jatuh cinta padamu. Untuk pertama kalinya mencintaimu, mencintai dengan penuh ketakutan. Takut kamu akan membenciku bila tahu siapa diriku. Eriza, aku mencintaimu! Meski jika nanti kamu akan membenciku, aku tetap mencintaimu!
^^^-Wallace-^^^
╚═════════════════════.✵.═╝
Aku melipat kembali surat itu. Berdiri dengan mata yang basah menatap ke luar jendela kamar. Sebenarnya ia sedang berusaha memberitahu ku mengenai dirinya. Ia bahkan sudah menyatakan perasaannya lebih dulu sebelum aku bertanya padanya. Sekarang aku tak tahu di mana ia berada. Kenyataan yang baginya menakutkan mungkin sedang terjadi. Tapi aku sama sekali tak membencinya. Aku tak pernah menyangka jika akhirnya menjadi seperti ini.
Sienna menerobos masuk ke kamarku dan terkejut melihatku menangis. Aku cepat-cepat menghapus air mata yang jatuh ke pipi.
"Riza, kenapa kamu menangis?" tanya Sienna cemas.
"Aku tidak apa-apa," kataku berbohong.
"Kalau tidak ada apa-apa, tidak mungkin kamu menangis. Ceritakan padaku apa yang terjadi! Apa yang Ginnevra katakan padamu?" tanya Sienna semakin mendesak.
Aku tak berkata apa-apa. Ku perlihatkan surat Wallace padanya. Sienna mengambil dan membaca isinya.
"Tidak ada yang salah dengan surat ini, bukan? Apa yang ditakutkan Wallace?" tanya Sienna. Lalu ia mengingat sesuatu,
"Tunggu! Jangan-jangan .... Sebenarnya dari kemarin aku sudah ingin bertanya padamu, hanya belum ada waktu karena kamu begitu sibuk. Apakah Wallace yang selama ini kamu maksud adalah Wallace yang tak pernah bisa ku lihat sosoknya itu? Yang masuk ke dalam tubuhmu dan yang tiba-tiba muncul saat mencium Ginnevra?!" Sienna berkata dengan tak percaya.
Aku mengangguk. Sienna masih nampak tak percaya.
"Tidak mungkin. Bagaimana bisa? Bukankah dia ...." Sienna tak melanjutkan kata-katanya.
"Dia bukan manusia. Iya, dia sudah meninggal berabad-abad yang lalu. Dia seorang pangeran yang meninggal saat perang. Dan aku baru tahu beberapa hari sebelum pulang ke Losta," aku melanjutkan ucapan Sienna.
Sienna langsung memelukku dan berusaha menenangkan ku.
"Semua ini sangat sulit dipercaya. Kamu harus sabar, Riza! Kamu harus merelakan semuanya," ujar Sienna pelan.
"Aku tidak tahu harus bagaimana. Tidak tahu harus bagaimana melupakan semuanya. Saat aku mulai mencintai seseorang ternyata dia menghilang, hilang untuk selamanya. Bahkan untuk melihatnya saja tidak bisa," kataku dalam pelukan Sienna.
"Eriza, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Yang sudah terjadi biarlah seperti itu. Dia hidup di masa lalu dan hanya menyentuh sedikit kehidupanmu. Jangan sampai merusak masa depanmu juga," nasehat Sienna.
"Tapi aku mencintainya! Mengapa kenyataan tak memihak ku?" tanyaku.
"Dia juga mencintaimu, Riza! Dia juga takut, malah menyimpan ketakutan jauh sebelum dirimu! Tapi, cinta bukan berarti harus bersama, kan?! Dunia kalian memang berbeda. Namun hati kalian sama! Itulah yang paling penting. Meskipun sangat sulit menerima kenyataan ini. Kamu harus bisa, Eriza!" jawab Sienna.
Ku hapus air mata yang masih tersisa di pipi.
"Aku sangat kaget. Saat menyadari orang ku cintai ternyata sesosok arwah! Semua perasaan bercampur aduk. Aku merasa semua yang kulakukan dan perjuangkan selama ini sia-sia. Tidak ada gunanya. Seolah harapan adalah kekosongan, mimpi hanya kehampaan. Semua tidak berarti. Belum memulai bahkan sudah harus berakhir. Bukankah ini sungguh menyedihkan?" kataku.
"Ada yang datang, ada pula yang pergi. Setiap awal memiliki akhir. Dan tiap pertemuan pasti akan berakhir perpisahan. Hanya waktu saja yang menentukan. Tidak ada yang abadi. Tapi, ingatlah selalu ada awal untuk memulai sesuatu yang baru. Anggaplah ini bagian special dari kisah hidupmu! Yang tidak semua orang memilikinya. Seperti setiap cerita yang kamu tulis dibuku harianmu, dan ini cerita yang special!" ujar Sienna menghibur.
"Aku sudah lama tidak menulis," kata ku.
"Tidak apa-apa. Kamu bisa memulainya dengan halaman yang baru," balas Sienna.
"Aku tidak ingin yang ku tulis membuat ku teringat berkali-kali saat aku membacanya lagi. Cukup ku simpan di hati saja," kataku pelan.
"Itu keputusanmu! Asal jangan terus larut dalam kesedihan. Semua ingin kamu kembali tertawa. Dan Wallace juga pasti tidak akan tenang kalau tahu kamu terus bersedih karenanya," ujar Sienna penuh perhatian.
"Ya, trims. Aku perlu waktu untuk melupakan semua ini," kataku.
"Aku mengerti. Jangan sungkan untuk berbagi denganku, aku akan selalu membantumu," ucap Sienna tulus.
__ADS_1
Aku mengangguk. Akhirnya Sienna pamit meninggalkan aku sendiri di kamar. Aku masih menatap surat itu. Lalu mengeluarkan buku harianku dari balik bantal. Ku buka lembar tulisan pertemuanku dengan Wallace. Satu persatu hanya melihatnya sekilas.
bersambung ....