Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Bolos Karena Mengantuk


__ADS_3

Ku taruh tas dan buku-buku ke atas meja belajar. Pandanganku jatuh pada laci paling bawah meja yang terbuka sedikit. Laci itu sudah cukup penuh dengan amplop-amplop merah maroon yang berantakan. Aku selalu ingin membereskannya tapi belum sempat. Aku juga bingung mau ku apakan semua surat itu. Akhirnya ku biarkan saja begitu.


Hari masih sore. Aku berbaring sebentar di tempat tidur. Hingga tak sadar malah ketiduran. Dalam tidurku aku bermimpi.


Rasanya aku sedang tidur. Saat mataku terbuka silau cahaya matahari langsung menerpa wajah. Dan begitu bangun aku berada di sebuah padang bunga yang luas. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya sebuah padang bunga. Aku menoleh ke sana-kemari, tak tahu entah di mana aku berada. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara lengkingan kuda diikuti pacuan kaki kuda. Tapi, suara itu tak mendekat malah terdengar semakin jauh saja. Aku bangkit lalu berusaha mengejar suara itu sebelum hilang. Entah mengapa tiba-tiba aku menjadi ketakutan. Tempat ini sangat sepi dan asing bagiku. Aku masih terus berlari sementara suara itu semakin jauh dan jauh. Hingga akhirnya aku terjatuh dan tak sadarkan diri.


Aku merasa sangat lelah. Lelah sekali. Nafasku tersengal-sengal. Jantungku berpacu cepat. Kemudian sebuah tangan berat dan dingin mengelus dahi ku. Aku kaget. Dengan spontan membuka mata. Tapi begitu mataku terbuka, aku sedang berada di kamarku yang gelap gulita.


Aku menarik nafas panjang. Aku bermimpi aneh lagi. Ku rasakan jantungku masih berdegup kencang. Dan tangan dingin itu .... Aku memegang dahi ku. Masih bisa kurasakan belaian dari tangan dingin itu. Hal itu sangat nyata tidak seperti mimpi. Bahkan rasanya terlalu sering aku merasakan belaian itu.


Aku turun dari tempat tidur. Melihat hari sudah gelap. Lalu membuka lampu kamar baru kemudian ke luar dan bersiap untuk mandi.


...─────PoV2─────...


Sebenarnya Wallace berdiri di sudut kamar yang tak terlihat oleh Eriza. Sedari gadis itu tertidur ia terus mengawasinya. Namun hawa dingin tangannya justru membuat Eriza terbangun. Ia menghilang kemudian setelah Eriza meninggalkan kamar.


... ───── ❁ ❁ ─────....


.......


.......


.......


.......


Pukul 9 malam aku kembali ke kamar. Setelah sebelumnya mengobrol dengan Sienna di teras. Tak ada niat belajar hari ini. Aku pun naik ke atas tempat tidur. Berbaring telungkup sambil memasang earphone ke telinga. Suara merdu Edgar langsung terdengar dengan lagu More Than Words yang ia nyanyikan.


Aku mengubah posisi tidurku menjadi berbaring. Sambil menikmati alunan musik lembut yang ia bawakan. Belum selesai satu lagu rasanya bantalku tidak nyaman. Aku kembali telungkup menarik bantalku ke kepala. Saat itu ku lihat buku harian yang rasanya sudah lama tak ku sentuh tersimpan di sana. Aku meraihnya.


Membuka lembar demi lembar halaman yang tertulis dengan tulisan tanganku. Kemudian berhenti di beberapa halaman. Halaman dengan cerita perjalananku ke New Angeles. Kemudian halaman selanjutnya mengenai pertemuan dengan Wallace. Wallace! Aku sudah lama tak memikirkannya. Tak terasa hampir empat bulan sudah berlalu. Bagaimana dia di New Angeles? Apa baik-baik saja? Pertanyaan itu muncul tiba-tiba. Ku lepas earphone yang masih terpasang di telinga. Lalu membuka halaman kosong dan mulai menulis lagi.


┌──˚────◌────────◌────˚─┐


...2 September 2003...


...Tak terasa sudah hampir empat bulan berlalu sejak liburanku ke New Angeles. Dua bulan belakangan ini aku malah tidak pernah menulis lagi. Tidak juga memikirkan bintang di langit....


...Bagaimana kabarnya di sana, ya? Apakah dia baik-baik saja? Jahat sekali membiarkan aku sendiri memikirkannya di sini. Tapi aku juga tidak terlalu bagaimana memikirkannya. Mungkin karena aku terlalu sibuk. Atau mungkin karena Edgar?! Semenjak dekat dengan Edgar aku hampir tidak memikirkannya lagi. Tapi bukan berarti aku menyukai Edgar. Aku hanya menganggapnya teman. Aku selalu sadar aku tidak sebanding dengannya, oleh sebab itu aku selalu menjaga perasaanku. Menyukai seseorang yang tak ada kejelasan kabar, aku seharusnya melupakannya....


...Tapi, apa semudah itu? Aku bingung! Aku sering mendapat kiriman surat tanpa nama. Dan anehnya semua kiriman berhubungan dengan New Angeles....


└──◌────˚──────◌─────˚──┘


New Angeles? Tunggu dulu! Jangan-jangan ini suatu petunjuk. Aku segera menutup buku harianku dan beranjak membuka laci di mana aku menyimpan amplop-amplop merah maroon itu. Ku ambil secara asal satu amplop dan mengeluarkan isinya. Kebetulan yang ku ambil kartu pos dengan icon kawasan Dixie Holly. Hanya selembar dan tidak ada memonya. Tapi aku lupa tanggal kapan ku terima.


Aku mulai berpikir apa ini dari Wallace? Tapi ia tak tahu alamat rumahku! Dan lagi siapa yang selalu meletakannya di depan pintu? Aku makin bertambah bingung.


Kebingunganku tidak terjawab namun hari semakin larut. Tak ingin besok terlambat bangun ku sudahi masalah ini. Dan segera pergi tidur. Namun begitu tetap saja tak bisa tidur nyenyak.


...*******...


Hoam .... Entah sudah berapa kali aku menguap sejak pagi tadi. Mata terasa ngantuk tapi belum bisa tidur. Masih ada dua mata kuliah lagi yang harus diikuti. Aku duduk dengan mata hampir terpejam di sudut cafe kampus bersama Sienna. Sienna sendiri memperhatikan ku dengan heran.


"Eriza, nampaknya kamu mengantuk sekali! Apa yang kamu lakukan semalaman?" tanya Sienna sudah tak tahan.


"Aku tidak bisa tidur," jawabku setengah sadar. Benar-benar mengantuk.


"Kalau kamu mengantuk begini, bagaimana bisa mengikuti dua mata kuliah lagi?" ujar Sienna.


Dari arah pintu masuk Edgar datang menghampiri kami.

__ADS_1


"Hai, ladies! Aku boleh duduk di sini?" tanyanya.


"Silahkan!" jawab Sienna pada pemuda tampan itu. Bisa jadi ini pertama kalinya Sienna bicara pada pemuda itu.


"Trims," balasnya.


"Kamu sepupu Eriza, bukan?" tanya Edgar kemudian.


"Iya," jawab Sienna.


"Kita belum berkenalan secara langsung. Namaku Edgar Juan Henley," kata Edgar sembari mengulurkan tangan.


"Sienna Aeris," Sienna balas jabatan tangan Edgar.


"Riza kenapa? Lesu sekali!" tanya Edgar melihat aku yang membenamkan kepala di meja.


"Ngantuk katanya. Gara-gara semalam tak bisa tidur," jawab Sienna.


"Oh," gumam Edgar paham.


"Kamu punya ide? Karena sebentar lagi dia pasti akan ketiduran di sini," tanya Sienna.


"Em ... kamu tidak keberatan aku membawa sepupumu, kan?! " Edgar bertanya pada Sienna meminta ijin.


"Silahkan saja! Lagipula ia pasti tidak akan sanggup mengikuti mata kuliah terakhir hingga selesai," jawab Sienna memperbolehkan.


"Kalau begitu ... Riza. Ayo, kita pergi!" ajak Edgar.


"Hah? Mau ke mana?" tanyaku malas.


"Ikut saja! Nanti kamu juga tahu. Hitung-hitung kamu bisa tidur pulas hari ini! Ayo, kamu juga pasti tak bisa mengikuti kuliah dengan mata mengantuk seperti itu!" jelas Edgar.


Kami berjalan ke halaman parkir. Begitu sampai di depan mobil aku segera masuk. Tak butuh waktu lama, mobil Edgar bahkan belum meninggalkan area kampus mungkin aku sudah ketiduran duluan. Tak peduli lagi ke mana Edgar akan membawaku, mataku sudah tak bisa diajak kompromi. Sehingga sepanjang perjalanan aku benar-benar tertidur pulas.


Aku mulai mengerjap-ngerjapkan mata. Saat aku merasakan mobil Edgar sudah tak lagi melaju. Entah sudah berhenti berapa lama. Aku membuka kembali mata yang tadinya berat kini terasa lebih segar. Kulihat ke luar jendela mobil. Bunga-bunga matahari sedang bermekaran. Edgar tidak ada di dalam mobil. Ia berdiri di luar bersandar di depan mobil. Aku keluar dari mobil dan ikut berdiri di sampingnya.


"Sudah bangun? Bagaimana tidurmu?" tanyanya.


"Sangat nyenyak. Apa kita sudah lama sampai di sini?" tanyaku balik.


"Hampir setengah jam!" jawab Edgar


"Oh. Kamu pasti berdiri dengan bosan di sini!" kataku tak enak.


"Tidak. Pemandangan di sini terlalu indah untuk bisa membuat orang merasa bosan!" ujar Edgar dengan santai.


"Aku belum pernah ke tempat seperti ini," kataku sembari menatap pemandangan di sekitar yang dipenuhi dengan bunga Matahari di setiap sisi jalan.



"Ini daerah perkebunan Sunflower Garden. Kebetulan bunga matahari sedang mekar semuanya. Indah bukan?!" jelas Edgar.


"Iya," jawabku singkat.


" Kamu belum makan siang, bukan? Ayo, kita ke kedai yang ada di depan sana. Aku juga belum makan," ajak Edgar. Aku mengangguk.


Lalu kami berjalan menuju ke kedai yang dimaksud Edgar. Edgar memesan dua mangkuk sup Tourin.



Begitu pesanan tiba kami segera menghabiskannya sebelum menjadi dingin. Kami masih mengobrol cukup lama di dalam kedai. Sebelum berjalan kembali ke tempat mobil terpakir. Rasanya belum puas menikmati indahnya bunga matahari. Kami masih berdiri di depan mobil.

__ADS_1


"Eriza," panggil Edgar.


"Ya," sahutku.


"Menurutmu cinta itu seperti apa?" tanya Edgar pelan.


Aku menyipitkan mata menatapnya. Kenapa tiba-tiba Edgar bertanya soal cinta? Aku tersenyum dan menjawab pertanyaannya.


"Aku tidak begitu mengerti. Mungkin seperti saat kita bertemu seseorang lalu merindukannya sepanjang malam dan ingin terus melihatnya!"


Itu seperti perasaanku pada Wallace, aku mengatakannya dalam hati.


"Apa kamu sedang merindukan seseorang?" tanya Edgar.


"Tidak," jawabku sambil menggelengkan kepala. Aku tahu aku berbohong.


"Lalu, apa ada orang yang ingin kamu temui?" tanya Edgar lagi.


"Tidak juga," jawabku. Aku merasa aneh dengan Edgar hari ini.


"Mengapa kamu bertanya aneh-aneh begitu. Terus terang saja aku malah belum pernah menyukai seseorang," aku lanjut berkata. Lebih tepatnya aku baru mulai menyukai seseorang.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja. Karena akhir-akhir ini aku sering memikirkan seseorang, seperti yang kamu katakan tadi. Tapi, aku tidak tahu apakah itu berarti cinta!" jawab Edgar sangat polos.


"Kamu belum pernah jatuh cinta, ya?" tanyaku. Cukup tertarik dengan kehidupan pribadi Edgar.


"Dulu aku pernah menyukai seseorang. Semasa SMU. Tapi aku tidak pernah berani mengatakannya. Dua tahun aku menyimpan perasaan itu. Sampai hari kelulusan tiba, aku berniat mengutarakan perasaanku padanya. Namun sayang terlambat. Dia sudah terlebih dulu meninggalkan Losta sehari sebelum upacara kelulusan," kenang Edgar.


"Jadi, kamu tidak pernah mengatakannya?" tanyaku.


"Tidak. Sampai hari ini aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Dan juga tidak ada kontak dengannya," jawab Edgar santai.


"Lalu, kamu masih menyukainya sampai sekarang?" tanyaku pelan.


Edgar tertawa. Lalu berkata.


"Tentu saja tidak. Perasaan itu sudah lama hilang."


"Jadi, siapa yang sering kamu pikirkan sekarang?" tanyaku menggoda.


"Rahasia!" jawab Edgar dengan senyum misterius.


"Ah, tidak seru!" tukasku.


Edgar kembali tertawa.


"Belum waktunya kamu tahu!" katanya.


"Terserah! Tidak mau beritahu juga tidak apa-apa," ujarku. Lalu berbalik akan masuk ke mobil.


"Ayo, pulang! Aku tak mau sampai di rumah kemalaman," ajakku.


Edgar dengan wajah masih tersenyum segera menyusul ke mobil. Mesin dihidupkan dan mobil melaju meninggalkan perkebunan.


bersambung ....


┌──❀*̥˚─────◌──◌────❀*̥˚─┐


Sudah selesai baca, ingat dukungannya dengan memberikan tanda suka, gift, favorit juga biar tidak ketinggalan update, ya! Terima kasih!


└◌─────❀*̥˚───◌──────❀*̥˚┘

__ADS_1


__ADS_2