Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Pertemuan Singkat Yang Menjadi Tanda Tanya


__ADS_3

Pesta dimulai pukul 7 malam nanti. Jadi sebelum pukul 7 kami sudah harus berangkat. Begitu kami keluar dari halaman rumah, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depan kami.


Seorang lelaki tua keluar dari dalam mobil sambil memperkenalkan diri.


"Selamat malam, Nona Sienna dan Nona Eriza! Aku Henry, supir tuan muda Edgar! Aku kemari atas permintaan tuan muda untuk menjemput anda berdua! Silahkan masuk ke dalam mobil!" ujar Henry dengan sopan sambil membukakan pintu bagi kami.


"Ini hebat!" seru Sienna yang langsung masuk ke dalam mobil.


Mobil pun melaju menuju mansion tempat Edgar tinggal. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Kami berdua turun.


Tamu yang datang sudah cukup ramai. Semua tamu berpakaian rapi dan formal. Aku dan Sienna masuk ke dalam sambil melihat sekeliling. Beberapa gadis menatap ke arah kami.


Pesta dimulai. Sebuah kue tart berukuran besar dibawa keluar oleh dua orang pelayan. Kemudian Edgar muncul dari salah satu ruangan bersama seorang gadis. Tepuk tangan pun membahana. Edgar melambaikan tangan meminta semuanya untuk tenang.


"Terima kasih kalian semua sudah datang hari ini! Sebelumnya aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian. Ini dia kakakku, Ginnevra Joana Henley!" ujar Edgar sambil menunjuk sang gadis. Gadis itu mengangguk dengan anggun.



"Dan ... acara akan kubuka dengan sebuah lagu!" lanjut Edgar.


Kemudian Edgar berjalan ke sebuah piano yang tergeletak tak jauh di sana. Ia duduk di depan piano. Jari-jarinya mulai menyentuh tuts-tuts piano dan perlahan alunan musik dari piano terdengar diikuti suara merdunya.


Just a gentle wisher, Tell me that you'd gone


Leaving only memories, Where did we go wrong


I could'nt find the words then, So let me say them now


I'm still in love with you ....


Tell me that you love me, Tell me that you care


Tell me that you need me, And i'll be there


I'll be there waiting ....


I will always love you, I will always stay true


There's no one who loves you like i do


Come to me now


I will never leave you, I will stay here with you


Through the good and bad I will stand true


I'm in Love with you ....


(In Love With You by Jacky Cheung & Regine Velazquez)


Semua bertepuk tangan begitu Edgar selesai bernyanyi. Acara berlanjut dengan pemotongan kue, kue pertama diberikan kepada Ginnevra. Musik kembali bergema dan semua menari dengan gaya mereka.


Sienna sedang sibuk mencicipi makanan kecil. Dan aku hanya berputar-putar sendiri di tengah ramainya pesta. Tiba-tiba Edgar datang menghampiriku.



"Hai, Riza. Kamu sangat cantik!" puji Edgar.


"Trims. Happy birthday, ya! Ini hadiah kecil dariku! Semoga kamu suka!" kataku malu-malu sambil memberikan sebuah kotak hadiah kecil kepada Edgar.



"Terima kasih! Harusnya kamu tidak perlu repot begini. Kedatangan mu saja sudah jadi hadiah untukku!" jawab Edgar dengan sedikit gombalan.


"Kamu bisa saja!" ujarku.


Beberapa teman Edgar datang memberikan ucapan kepadanya. Melihat mereka mulai asyik mengobrol jadi aku segera pergi.


Aku memutuskan berjalan-jalan di luar. Menyusuri halaman yang begitu luas dengan taman yang terawat dengan baik. Di tengah jalan tidak sengaja bertemu Russel.


"Hai, Eriza! Lama tidak melihatmu. Dan .... Wow! Kamu sangat berbeda malam ini!" ujar Russel dengan gaya bicara yang lucu.

__ADS_1


Aku tertawa kecil dan membalasnya.


"Kamu juga. Terlihat lebih rapi dari biasanya!"


"Ya, begitulah! Di pesta orang kaya kita harus terlihat rapi dan mengesankan. Ngomong-ngomong kenapa hanya sendiri? Mana Sienna?" tanya Russel.


"Dia sibuk mengisi perutnya. Mumpung bisa makan gratis!" jawabku sambil bercanda.


"Hahahaha .... Ya, benar juga! Kesempatan yang jarang terjadi," ujar Russel.


"Russel, cepatlah kemari sebelum aku ke sana menyeretmu!" teriak seorang pemuda dari kejauhan.


"Iya, sebentar!" balas Russel.


"Maaf Riza, aku harus pergi! Temanku yang cerewet itu sudah memanggil," kata Russel padaku.


"Baiklah. Selamat bersenang-senang!" ujarku.


Dan aku kembali menyusuri taman ini. Saat aku menoleh ke jendela rumah di samping taman, tanpa sengaja aku melihat Ginnevra di balik gorden sedang diam-diam menatapku. Gadis itu langsung bersembunyi begitu aku melihatnya. Ia berjalan pergi dengan cepat. Karena sisi samping rumah ini begitu banyak jendela jadi aku bisa melihatnya dengan jelas dan mengikuti ke mana arah perginya. Sampai akhirnya aku tiba di sebuah pintu.


Pintu itu tidak dikunci. Dengan pelan aku membukanya dan masuk ke dalam. Bayangan Ginnevra masih bisa ku ikuti. Aku membuntutinya terus dari jauh tanpa ia sadari. Kemudian ia masuk ke sebuah ruangan dan terus berjalan ke depan. Sekilas aku memperhatikan ruangan yang penuh buku ini. Langkahku tiba-tiba berhenti saat aku melihat sesuatu di atas bufet samping lemari buku. Aku mendekat. Sebuah kotak amplop berisi amplop yang masih banyak. Aku mengambil satu amplop itu. Aku tercengang, ini amplop merah maroon yang biasa ku terima. Sama persis. Aku mengambil amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas tanganku. Kemudian aku keluar dari ruangan itu.


Ku tutup kembali pintu dengan pelan. Kemudian berjalan kembali ke tengah pesta. Baru beberapa langkah berjalan, suara seseorang yang sangat ku kenal memanggil namaku.


"Eriza!" panggilnya.


Aku menoleh. Betapa senangnya hatiku.


"Wallace!" seruku. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Aku bergegas menghampirinya.


"Wallace, kamu tidak bilang kamu ada di Losta? Sudah berapa lama kamu di sini? Aku sangat senang melihatmu lagi!" kataku dengan girang.


"Eriza!" tiba-tiba Sienna memanggil. Aku langsung menoleh. Dan mendekati Sienna.


"Aku cari kamu ke mana-mana, di sini rupanya. Ayo, kita pulang!" ajak Sienna.


Tapi aku menahan tangannya.


Wallace menghilang begitu aku menoleh kembali ke tempatnya.


"Wallace. Wallace," panggilku.


"Siapa Wallace?" tanya Sienna bingung.


"Pemuda yang aku ceritakan. Ke mana perginya? Tadi dia di sini!" kataku dengan gelisah.


"Dari tadi aku tak melihat siapa-siapa di sini!" ujar Sienna yakin.


"Tapi tadi dia benar-benar di sini!" Aku menegaskan.


"Sudahlah, Riza! Ayo, kita pulang, ini sudah malam! Mr. Henry sudah menunggu di depan!" ajak Sienna. Ia menarik tanganku pergi. Aku pun tak membantah. Aku masih menoleh kembali ke belakang. Tapi Wallace tidak ada di sana.


...********...


Aku termenung di dalam kamar memikirkan kejadian tadi. Aku benar-benar tak menyangka akan bertemu dengan Wallace di sana. Meskipun hanya sebentar. Aku kembali berpikir jika Wallace ada di Losta kemungkinan dia yang mengirim semua kartu pos itu kepadaku. Tapi, dia kan tidak tahu alamat rumahku. Dan amplop itu ada di rumah Edgar. Apa mungkin dia kenal dengan Edgar? Bisa saja karena dia juga hadir di pesta ulang tahun Edgar. Ah, ini semakin membingungkan.


...****************...


Begitu selesai jam kuliah aku mencari Edgar di seluruh penjuru kampus. Aku menemukannya di perpustakaan. Ia sedang mengembalikan buku. Aku memanggilnya dari pintu.


"Psst .... Edgar," dengan suara kecil aku memanggil.


Edgar menoleh dan datang menemuiku.


"Ada apa?" tanyanya.


"Aku ingin bicara!" jawabku.


"Ya, katakanlah!" kata Edgar.


"Tidak di sini!"

__ADS_1


"Kalau begitu kita ke suatu tempat yang ...."


"Tidak. Tidak. Aku hanya ingin bertanya beberapa hal! Apa kamu masih sibuk?" tanyaku.


"Mungkin setelah aku mengembalikan buku-buku itu ke rak!" jawab Edgar sambil menunjuk ke buku yang dimaksud.


"Oke, aku tunggu di taman, ya!" pesanku kemudian pergi.


Setengah jam kemudian Edgar datang menemui ku.


"Ingin bicara apa, Riza?" tanyanya.


Aku mengeluarkan amplop merah maroon yang ku ambil semalam dari dalam tasku. Lalu menunjukkannya pada Edgar.


"Ini milikmu, kan?" tanyaku.


"Milik keluargaku lebih tepatnya. Ada apa?" Edgar bertanya kembali.


"Jadi, kiriman tanpa nama yang selama ini ku terima itu darimu?" tanyaku.


"Kiriman apa? Aku tidak pernah mengirim apa-apa ke rumahmu!" Edgar nampak bingung.


"Kiriman kartu pos serta foto-foto dari New Angeles," jawabku.


"Aku saja tidak pernah ke sana. Bagaimana aku bisa mengirimkan kartu pos dan foto dari kota itu?" jawab Edgar. Ia terlihat tidak berpura-pura.


"Kalau bukan kamu lalu siapa? Amplop yang sama persis yang aku terima tersimpan di rumahmu!" kataku.


Edgar malah mengangkat bahu tak tahu. Ia kembali berkata.


"Mungkin bukan hanya keluargaku yang memiliki amplop seperti itu. Bukankah itu amplop biasa yang juga dijual bebas?"


Aku hanya menatapnya tanpa mengatakan apa-apa. Ya, ucapannya benar juga.


"Aku benar-benar tidak tahu soal amplop itu, tapi kalau gaun yang ku tinggalkan di rumahmu .... Itu memang pemberianku!" Edgar mengakuinya.


"Jadi, maksudmu gaun yang aku dan Sienna pakai adalah pemberianmu? Kamu sengaja meletakkannya di depan rumahku?" Aku bertanya agak kaget.


"Iya. Aku takut kamu tidak mau terima bila kuberikan secara langsung. Jadi, aku menaruhnya di depan pintu rumahmu!" jawab Edgar.


"Oh. Terima kasih atas kebaikanmu!" kataku. Kemudian aku beralih kepertanyaan lain.


"Kalau begitu kamu pasti kenal Wallace!"


"Wallace?!" seru Edgar.


"Ya, kemarin aku bertemu dengannya di pestamu! Kamu pasti tahu, kan? Aku berkenalan dengannya di New Angeles. Aku tidak tahu kalau dia datang ke Losta. Karena aku sama sekali tidak ada kontaknya. Bisakah kamu memberiku sedikit informasi tentang keberadaannya?" tanyaku dengan penuh harap.


"Maaf Riza, tapi aku tak kenal siapa itu Wallace. Aku merasa tidak memiliki teman dengan nama itu. Ah, apa mungkin dia kenalan kakakku?" jawab Edgar pelan.


"Benarkah? Sayang sekali! Kukira dia temanmu!" Aku berkata dengan kecewa.


"Aku juga terlalu sibuk jadi tidak memperhatikan semua tamu yang datang!" jelas Edgar.


"Tidak apa-apa. Kalau begitu aku pulang dulu!" pamitku.


"Biar ku antar!" Edgar menawarkan.


"Tidak perlu. Aku pulang sendiri saja. Bye!" Aku pun pergi.


"Eh, Riza ...." Edgar memanggil.


"Ya?" jawabku sambil menoleh padanya.


"Em .... Tidak. Tidak apa-apa. Hati-hati di jalan!" kata Edgar. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.


"Oke. Bye!" Aku kembali melanjutkan langkah.


Begitu tiba di rumah aku melihat Sienna duduk sambil menonton tv. Aku menghampirinya dan langsung memberitahunya kalau gaun yang kami kenakan semalam adalah pemberian Edgar. Sienna tidak terkejut. Dia malah memuji Edgar yang memiliki selera fashion yang bagus. Aku memutar kedua mataku mendengar ucapan Sienna. Dan aku masih penasaran dengan keberadaan Wallace di sini.


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2