Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Pergi Untuk Selamanya


__ADS_3

Aku keluar dari kamar dan turun ke bawah. Bibi Jane yang ku cari ada di dapur. Aku menghampirinya.


"Pagi, Bibi!" sapa ku.


"Pagi, Riza! Tumben sudah rapi? Mau pergi?" tanya bibi Jane.


"Iya. Oh ya, Bibi aku akan kembali ke luar kota lusa nanti untuk memperpanjang kontrak kerjaku!" Aku memberitahu rencana ku pada bibi Jane.


"Secepat itukah? Berapa lama kontrak kerjamu di sana?" tanya bibi Jane.


"Sekitar lima tahun! Jadi aku baru bisa pulang setelah lima tahun kontrak kerja ku habis!" jawabku dengan santai.


"Lama sekali! Kamu tidak menunggu Sienna dan Justin kembali dulu? Kamu baru pulang tidak lama sudah mau pergi lagi?" tanya bibi mengusulkan.


"Tidak, Bibi. Semakin lama aku di sini semakin banyak pekerjaan yang harus ku mulai lagi dari awal. Sebelumnya aku ingin minta maaf pada Bibi jika aku punya kesalahan. Dan terima kasih juga untuk semua kebaikan Bibi padaku selama ini!" kataku dengan tulus.


"Kamu ini bicara apa? Kenapa harus meminta maaf segala? Kamu anak yang baik, tidak pernah membuat Bibi kecewa. Bibi justru bangga padamu!" balas bibi Jane.


"Sekali lagi terima kasih, Bibi! Aku mau keluar dulu membeli beberapa keperluan yang akan ku bawa lusa nanti," kataku sambil pamit.


"Iya, kamu pergi sendiri?" tanya bibi Jane.


"Iya!" jawabku.


"Perlu Bibi temani?" usul bibi Jane. 


"Tidak perlu, lagipula belanjaan ku tidak banyak," tolak ku. 


"Oh, kalau begitu hati-hati di jalan!" pesan bibi Jane.


"Iya, Bibi! Aku berangkat!" kataku.


.......


.......


.......


.......


... ★━━━━POV2━━━━★...

__ADS_1


Selepas kepergian Eriza, bibi Jane merasa sangat tidak tenang.


"Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak, ya!?" gumamnya.


Selang beberapa jam kemudian telepon rumah berdering. Bibi Jane dengan cepat mengangkatnya.


"Halo!" jawab bibi Jane.


(....) Suara si penelepon.


"Iya, betul. Ada apa, ya?" tanya bibi Jane pada si penelepon.


(....)


"Apa?!" teriak bibi Jane begitu mendengar berita dari si penelepon.


Bibi Jane begitu kaget sampai tak bisa berkata apa-apa. Gagang telepon pun terlepas begitu saja dari tangannya. Ia sangat syok.


...........


Beberapa jam sebelumnya ....


Begitu Eriza pamit pada bibi Jane, ia langsung berangkat dengan bus menuju pusat kota. Tidak terlalu jauh. Eriza berhenti di halte berikutnya. Ia lalu pergi ke toko obat, kemudian ke beberapa toko lainnya. Tak lupa juga memesan tiket pesawat untuk lusa nanti.


Eriza segera menyeberang saat lampu penyeberangan pejalan kaki menyala. Namun sesuatu di seberang jalan mengalihkan perhatiannya. Dia melihat sosok seorang wanita yang berdiri di seberang jalan. Penampilan wanita tersebut sangat mencolok. Terutama pakaiannya, sangat jauh berbeda dengan pakaian wanita jaman sekarang. Wanita yang sepertinya pernah dia lihat di suatu tempat namun tidak tahu di mana tepatnya. Tatapan wanita itu lurus langsung mengarah kepada Eriza. Dan anehnya wanita itu menyunggingkan senyumnya seperti sedang tersenyum pada Eriza. Eriza pun dibuat tertegun sejenak.


Lampu penyeberangan seketika berganti tanpa disadari. Tiba-tiba saja sebuah mobil yang entah datang dari mana melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Eriza. Eriza yang terlambat menyadari kedatangan laju kendaraan mobil tersebut tak bisa menghindar. Hingga akhirnya kecelakaan pun terjadi. Mobil tersebut menabrak Eriza hingga membuat tubuhnya terpental di atas aspal. Mobil baru berhenti setelah menabrak tiang lampu yang berada di sisi jalan. Eriza tak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah. Si supir juga mengalami luka-luka dari benturan keras dan kaca mobil yang pecah. Beberapa orang yang melihat kejadian itu segera memanggil Ambulance untuk membawa korban ke rumah sakit dan yang lainnya menelepon polisi.


Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, tim medis terus berupaya memberikan pertolongan pertama kepada korban terutama Eriza. Darah terus mengucur dari kepalanya sementara ia masih tidak sadarkan diri. Salah satu perawat berusaha mencari kartu identitas dan ponsel korban untuk menghubungi pihak keluarga.


Tiba di rumah sakit, Eriza langsung dilarikan ke ruang ICU. Perawat yang berhasil menemukan ponsel dan kartu identitas Eriza segera menyerahkannya kepada polisi. Polisi pun langsung menghubungi nama bibi Jane yang ada di dalam daftar kontak.


Bibi Jane sangat syok mendengar kabar tersebut. Dengan suara bergetar dan terisak-isak, ia menelepon Edgar dan Sienna memberitahukan berita kecelakaan itu. Edgar langsung memacu mobilnya untuk menjemput bibi Jane ke rumah sakit. Ginnevra juga ikut bersama mereka.


Sejak dari rumah sampai perjalanan ke rumah sakit bibi Jane terus berlinang air mata. Tak henti-hentinya ia memanjatkan doa di dalam hati untuk keselamatan Eriza. Ginnevra berusaha menghibur bibi Jane. Edgar yang tak kalah cemasnya juga terus berdoa di dalam hatinya.


"Kita hanya bisa terus berdoa semoga Eriza baik-baik saja!" ucap Ginnevra yang diikuti anggukan bibi Jane.


Tiba di rumah sakit, bibi Jane, Edgar, dan Ginnevra langsung bergegas ke ruang ICU. Pintu ruang ICU masih tertutup rapat. Di depannya nampak dua orang polisi tengah berjaga. Melihat bibi Jane yang mendekati pintu ruang ICU, salah satu polisi menghentikannya.


"Maaf, anda tidak boleh ke sana. Dan anda ini siapa?" tanya polisi itu.

__ADS_1


"Aku Bibi dari korban yang bernama Eriza Ravella. Tadi aku ditelepon pihak kepolisian yang mengatakan keponakan ku mengalami kecelakaan," jawab bibi Jane.


"Oh jadi, anda bibi dari korban yang bernama Eriza?!" tanya polisi itu memastikan sekali lagi.


"Benar. Bagaimana keadaan keponakan ku? Apakah yang di dalam ruang ICU itu keponakan ku?" tanya bibi Jane dengan cemas.


"Ya. Keponakan Nyonya masih berada di ruang ICU. Tim medis masih sedang berusaha menyelamatkan nyawanya. Kita doakan saja semoga keponakan Nyonya baik-baik saja!" jawab sang polisi.


Bibi Jane hanya mengangguk dengan pasrah. Ginnevra menemani bibi Jane sambil menggenggam tangannya menguatkannya. Edgar juga masih terus berdoa di dalam hatinya.


'Ya, Tuhan ... kumohon selamatkanlah Eriza!'


Akhirnya pintu ruang ICU terbuka. Dokter keluar dari ruang tersebut. Bibi Jane, Ginnevra dan Edgar segera mendekati dokter.


"Dokter, bagaimana keadaan keponakan ku Eriza?" tanya bibi Jane dengan harap-harap cemas.


Dokter menghela nafas. Ia menatap bibi Jane, Ginnevra dan Edgar bergantian. Kemudian menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Maaf, Nyonya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun nyawa keponakan anda tidak bisa diselamatkan. Dia kehilangan terlalu banyak darah. Kami turut menyesal," jelas dokter yang kemudian langsung pergi.


Mendengar penjelasan itu wajah bibi Jane tiba-tiba berubah pucat. Dan saat itu juga tubuhnya tiba-tiba ambruk. Ginnevra dan Edgar segera membopong tubuh bibi Jane yang jatuh pingsan.


"Bibi ...," panggil Ginnevra setelah mereka memindahkan bibi Jane di tempat duduk.


Perlahan-lahan kesadaran bibi Jane kembali. Ia membuka matanya. Melihat Ginnevra dan Edgar di depannya, ia kembali menangis.


"Hiks .... Eriza ...," isak bibi Jane. Ginnevra langsung memeluknya.


...........


Tubuh Eriza sudah dibersihkan. Saat mereka melihat tubuh Eriza yang terbaring tanpa nafas. Tangis bibi Jane kembali pecah.


"Riza ... Bangunlah, sayang!" ucap bibi Jane sambil mengusap kepala Eriza dengan berurai air mata.


"Kenapa kamu harus pergi secepat ini? Huhuhu ...," isak bibi Jane lagi.


"Jika saja tadi Bibi tidak membiarkanmu pergi sendiri ... mungkin kamu tidak akan berakhir seperti ini. Mungkin hal ini tidak akan terjadi. Huhuhu ...."


Bibi Jane nampak begitu sangat sedih kehilangan Eriza. Begitupun Edgar yang awalnya begitu tegar akhirnya tak bisa menahan kesedihannya. Air matanya pun jatuh. Ginnevra juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Tidak hanya kesedihan dan kehilangan yang teramat yang Edgar rasakan. Ia juga diliputi perasaan menyesal karena ucapannya untuk menjauhi wanita yang dicintainya itu.


__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2