Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Kembali Menemui Wanita Gipsy


__ADS_3

Malam sudah larut, saat Wallace muncul di mansion Edgar. Namun begitu ia ingin masuk ke dalam, tubuhnya terpental ke luar. Tubuhnya seperti disetrum. Ia kaget. Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Ia beralih ke pintu belakang. Di sana juga sama ia tak bisa masuk. Seperti ada sebuah penghalang tak kasat mata yang tak bisa ditembus oleh Wallace. Ada yang sengaja menyegel mansion itu. Ia mengitari mansion mencari titik penyegelan. Ada lima titik di sudut ruangan berbeda. Itu dirasakan Wallace dari daya energi yang seperti hendak menyengatnya. Menyadari ia tidak bisa masuk ke dalam untuk melihat kondisi Ginnevra, ia pun pergi.


...★━━━━━━━━━━━━★...


... ....


.......


.......


.......


Aku tidak sabar menunggu siang untuk segera ke Dixie Holly. Sejak kemarin Edgar tidak menghubungiku. Hei, ini minggu pertama bulan pertama, berarti katedral akan dibuka seharian. Apakah akan bertemu Wallace di sana? Aku menggeleng. Tak perlu menunggu siang begitu Roger datang aku langsung berangkat.


Memang benar ada kebaktian di katedral. Dengan pelan aku menyelinap masuk dan duduk dibarisan paling belakang. Meskipun hari minggu tetap saja sepi. Tidak lama kemudian kebaktian selesai. Semua orang meninggalkan katedral tapi aku masih duduk di sana. Aku tak melihat pak tua di sekitar katedral. Di mana aku bisa menemuinya, ya?


Saat semua orang telah pergi meninggalkan katedral, salah satu bapak pemimpin kebaktian tadi mendekatiku.


"Ada yang bisa ku bantu, Nona?" tanyanya ramah.


"Em .... Aku mencari pak tua yang biasa ada di katedral ini! Apa anda melihatnya?" jawabku.


"Oh ... Pak Berto, dia ada di taman belakang! Nona bisa ke sana untuk bertemu dengannya" jawab bapak itu.


"Terima kasih!" ucapku.


"Sama-sama!" balasnya.


Aku pun beranjak ke luar dari katedral. Berjalan melewati jalan kecil samping katedral menuju taman. Aku pernah datang bersama Wallace jadi aku tahu.


Memang benar, saat aku tiba pak tua itu sedang membersihkan rumput di sekitar tanaman bunga. Aku mendekatinya dengan pelan.


"Pak Berto!" Aku memanggilnya seperti yang dikatakan bapak pemimpin kebaktian tadi.


Pak tua itu menoleh. Lalu ia berdiri, berjalan ke satu sudut taman dan mengambil sebuah kantong kertas. Ia lalu memberikan kantong kertas itu padaku. Aku mengambilnya dan baru hendak membukanya tapi ia melarang.


"Jangan sampai menghirup aroma bunga ini! Mungkin sebaiknya kamu tidak membukanya saja!" pesannya kemudian ia kembali pada kesibukannya.


"Apakah Wallace tidak kemari?" tanyaku.

__ADS_1


"Dia hanya muncul pada malam hari saja!" jawab Pak Berto.


"Terima kasih bunganya. Aku permisi dulu!" pamitku kemudian pergi.


Tapi langkahku berhenti kembali di depan pintu katedral. Terdiam berpikir sesaat. Aku masuk kembali ke katedral. Aku menulis inisial namaku diatas amplop lalu memasukkannya ke dalam kotak persembahan setelah sebelumnya telah kuselipkan beberapa lembar uang ke dalam amplop. Aku juga menitipkan beberapa lembar uang untuk pak Berto lewat bapak pemimpin kebaktian. Aku tahu pak Berto pasti tidak akan menerimanya jika ku berikan langsung. Ku anggap ini sebagai tanda terima kasih saja. Setelah itu aku baru meninggalkan Dixie Holly. Tujuan berikutnya menemui peramal Gipsy.


Taksi Roger berhenti tepat di depan toko Gipsy. Roger menatap agak heran padaku yang mengunjungi toko ini.


"Perlu aku temani?" tanyanya menawarkan diri.


"Tidak perlu. Aku akan masuk sendiri!" jawabku.


Roger mengangguk.


Wanita Gipsy itu tersenyum lebar begitu melihatku.


"Sepertinya kamu berhasil mendapatkan apa yang kuinginkan!"


Tanpa banyak berkata aku langsung menyerahkan kantong kertas berisi Angel's Trumpet itu padanya.


"Aku harap kamu tidak melupakan kata-kata mu!" Aku mengingatkan.


"Tentu saja tidak," jawabnya.


"Namaku Batilda! Kamu?" tanyanya.


"Eriza!" jawabku.


"Eriza. Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, kamu tidak memerlukan Crystal Orlov untuk membangunkan seorang gadis yang tertidur. Yang kamu butuhkan hanyalah Hati Ruby dan itu ada di dalam rumah gadis tersebut!" kata Batilda.


"Hati Ruby? Benda apa lagi itu? Edgar berkata menurut neneknya hanya Crystal Orlov yang bisa menyelamatkan kakaknya. Oleh karena itu kami mencari crystal itu ke mana-mana," jelasku.


"Hati Ruby akan menuntun kembali sebagian jiwanya yang pergi. Itu karena Hati Ruby diberikan oleh seseorang yang sangat dicintai gadis itu. Dan itu bukan Ruby biasa, melainkan Ruby pelindung jiwa. Kekuatan Hati Ruby berasal dari rasa cinta gadis itu, tapi begitu perasaan itu melemah, kekuatannya juga akan ikut melemah. Apalagi Ruby tersebut tidak lagi menempel di tubuh sang gadis. Itu membuat kekuatannya semakin samar dan memudar," jelas Batilda.


"Di mana Hati Ruby itu sekarang?" tanyaku.


"Biar ku terawang! Hati Ruby masih ada di dalam rumah gadis itu. Di sebuah ruangan ... di dalam kotak ... dan terkunci," jawab Batilda sambil menatap bola kaca di depannya.


"Kamu yakin Hati Ruby bisa membangunkannya?" tanyaku sekali lagi dengan serius.

__ADS_1


"Aku sangat yakin! Bisa dikatakan Hati Ruby adalah setengah jiwa dari gadis itu. Dia tidak pernah melepasnya sejak pertama diberikan kepadanya. Tapi entah kenapa kemudian ia melepaskannya," jawab Batilda yakin.


"Tapi, bagaimana aku menjelaskannya pada Edgar? Ia bersikeras mencari Crystal Orlov, meskipun tidak tahu di mana bisa menemukannya!" kataku bingung.


"Percayalah kamu tidak membutuhkan crystal itu. Mustahil menemukannya! Sementara sudah ratusan tahun dan tidak ada yang pernah menemukannya! Kamu akan berhadapan dengan maut jika kamu masih bersikeras mencari crystal itu!" ujar Batilda.


"Tahukah kamu?! Berapa banyak orang yang berusaha mencari crystal itu tapi tidak berhasil? Sudah tidak berhasil malah terkena musibah! Kebanyakan dari mereka juga memiliki tujuan yang tak baik. Kamu pasti tahu crystal itu terkutuk!" Batilda melanjutkan.


Aku hanya mengangguk pelan. Sambil terus berpikir.


"Jadi, kamu hanya perlu meyakinkan temanmu untuk pulang dan menemukan Hati Ruby itu!" ujar Batilda.


"Tapi, kamu tahu kan di mana tempat Crystal Orlov itu berada? Di penjuru istana?" kataku.


Batilda terdiam menatapku tanpa ekspresi.


"Kamu tidak akan menemukan apa-apa," katanya datar.


Aku tertawa. Meski tidak lucu.


"Aku sendiri tidak tahu itu di mana. Aku penasaran apa Istana Dixie benar-benar ada," kataku dengan santainya. Sedangkan Batilda sudah memasang wajah serius.


"Sampai detik ini pun Kerajaan itu masih ada! Aku hanya bisa berpesan padamu berhati-hatilah selama di Dixie Holly! Kamu tidak pernah sendirian!" ujar Batilda yang terdengar sedikit menakutkan.


"Apa maksudmu?" tanyaku merasa tak benar.


"Aku tidak akan mengatakannya padamu! Lagipula sebentar lagi kamu juga akan tahu. Ku harap jika saat itu tiba, kamu lebih bisa menghargai hidupmu!" jawab Matilda.


"Aku tidak mengerti ucapanmu! Sebaiknya aku pulang! Ku harap Edgar mau mendengar ceritaku!" kataku sembari meninggalkan toko. Kemudian kembali ke apartemen. 


Edgar masih tak menghubungiku. Jadi aku yang akan menghubunginya sekarang.


📲[Halo!] Suara Edgar di seberang.


"Hai, Edgar! Bisa ke apartemen ku sebentar? Aku ingin bicara!" kataku.


📲[Oke, aku segera ke sana!] balas Edgar.


Telepon pun ditutup. Sambil menunggu Edgar iseng-iseng aku bermain-main dengan aplikasi mesin pencari di ponsel. Pertama masuk ke mesin pencarian lalu mengetik sebuah nama, 'Wallace Grayson' dan cari. Banyak profil dengan nama Wallace Grayson yang berhasil ditemukan. Tapi semua tidak mirip dengan orang yang kucari. Lalu ku ganti nama 'Wallace Grayson' jadi 'Wallace Dixie'. Dan muncullah pangeran bermata biru yang benar-benar mirip dengan Wallace yang selama ini ku kenal.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2