
Selama tiga hari belakangan ini hanya dihabiskan dengan jalan-jalan di tempat wisata saja. Berkeliling dengan bus kota. Berjalan-jalan di tengah keramaian kota. Benar-benar tanpa arah dan tujuan. Seperti anak tersesat dengan pandangan mengawasi sekeliling. Berjaga-jaga mungkin akan melihat Edgar. Tapi itu sia-sia. Sudah tiga malam pula aku menunggu di Dixie Street tanpa ada hasil. Orang yang paling ingin ku temui sama sekali tidak muncul. Sienna sendiri terus mendesak ku untuk pulang karena usaha ku yang sama sekali tidak membuahkan hasil. Sedangkan waktu terus berjalan. Sudah lima hari aku di sini.
Malam ini aku kembali ke Dixie Holly. Dengan membawa harapan setiap malamnya agar dapat bertemu Wallace lagi. Roger tetap menjadi supir kepercayaan bila ke luar di malam hari. Ia selalu menunggu di taksi tanpa jenuh. Sementara aku menenggelamkan diri dalam kerumunan pengunjung di Dixie Street. Lagi-lagi aku hanya duduk menunggu. Beberapa waktu menunggu sendiri muncul pikiran yang membuatku merasa bodoh. Menunggu sesuatu yang tidak jelas. Dan tak pasti adanya. Aku merasa putus asa lalu beranjak pergi dari sana. Tapi hanya beberapa langkah suara itu memanggilku.
"Eriza."
Aku berhenti melangkah, terdiam tak bergerak. Mungkinkah .... Aku menoleh. Seketika kurasakan jantungku berpacu dengan cepat. Aku tersenyum senang dan secepatnya menghampiri dia. Tapi sesampai di depannya aku malah tak bisa berkata-kata. Aku jadi gugup.
"Sudah lama tidak bertemu. Aku senang melihatmu dalam keadaan baik!" kata Wallace dengan lembut.
" Wallace, ini benar kamu?" Aku bertanya dengan bodohnya.
Wallace tersenyum sambil mengangguk.
" Ya, ini aku! Aku kira kamu sudah lupa denganku," katanya.
"Aku bahkan tidak bisa melupakanmu! Dengan semua kartu pos dan pesan yang kamu kirim bagaimana aku bisa melupakanmu? Hei, darimana kamu tahu alamat rumahku?" tanyaku penasaran.
"Seseorang. Lalu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Wallace berusaha mengalihkan topik.
"Sudah beberapa malam ini aku kemari. Menunggumu di sini. Aku hampir putus asa dan memilih kembali ke Losta jika malam ini tak juga bertemu denganmu!" jawabku.
"Kamu tidak datang hanya untuk bertemu denganku, bukan?" tebak Wallace.
Aku tak menjawab. Tebakannya tepat. Aku menatap wajahnya lebih dalam. Wajahnya tidak berubah, hanya saja terlalu pucat di bawah sorot lampu yang terang.
"Wallace, kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kamu sakit?" tanyaku cemas.
Ku tempelkan telapak tanganku ke wajahnya. Tapi spontan tanganku menjauh setelah merasakan wajahnya yang sangat dingin. Wallace terlihat sangat tidak nyaman dengan yang ku lakukan. Dia menyembunyikan wajahnya ke sudut tempat yang lebih gelap. Selama ini aku tidak pernah begitu memperhatikan wajahnya karena tempat yang kami kunjungi sangat minim cahaya.
"Aku baik-baik saja! Mungkin karena cuaca malam ini agak dingin, aku merasa sedikit kedinginan!" jawabnya hati-hati.
"Kalau begitu biar aku belikan minuman hangat untukmu!" kataku kemudian.
Tapi Wallace menolak dengan cepat.
"Jangan. Tidak perlu maksudku. Aku hanya ingin bicara denganmu! Bukankah itu juga yang kamu inginkan?! Jadi, jangan pergi."
"Baiklah," kataku sembari mengangguk.
Wallace mulai berjalan memasuki halaman katedral. Aku hanya mengikutinya dari belakang. Lalu berjalan memutari katedral yang cukup besar menuju ke bagian belakang yang merupakan sebuah taman. Taman ini cukup terawat. Meski hanya ada dua lampu taman sebagai penerang saja. Cukup menonjolkan keindahan taman.
Wallace duduk di sebuah bangku kayu. Ia memberi isyarat agar aku duduk di sebelahnya. Aku pun menuruti dengan perasaan canggung.
"Jujurlah! Apa yang kamu lakukan di New Angeles sampai rela meninggalkan kuliahmu!? Kamu bukan datang ke kota ini hanya untuk bertemu denganku, bukan?" tanya Wallace dengan tenang tapi serius.
"Bagaimana kamu tahu aku meninggalkan kuliah untuk ke sini? Siapa yang memberitahumu?" Aku bertanya balik dengan agak aneh.
"Aku tahu semua hal yang ingin ku ketahui, kecuali pikiranmu! Aku tidak bisa membaca apa yang kamu pikirkan dan bagaimana isi hatimu," jawab Wallace kalem.
"Hari ini kamu sangat aneh!" kataku begitu saja.
"Kamu mulai merasa begitu? Aku jauh lebih aneh dari apa yang kamu pikirkan! Sampai aku begitu takut kau akan ...," Wallace terdiam.
"Akan apa?" aku bertanya cepat.
"Akan menertawakanku," jawabnya kalem.
Aku menyengir.
"Tidak lucu!" gerutuku.
"Apa kamu pernah merindukanku?" tanya Wallace tiba-tiba.
Ya, aku sangat dan selalu merindukanmu. Ingin aku berkata begitu tapi tenggorokanku tercekat. Sulit mengucapkan kata itu. Sehingga aku hanya bisa terdiam saja.
"Tidak apa kalau kamu tak pernah merindukanku. Aku hanya ingin kamu tahu saja kalau tak sekalipun aku melupakanmu!" kata Wallace kemudian.
Aku kembali terdiam hanya mampu menatapnya saja. Perasaan yang terpendam selama ini yang ingin kusampaikan namun sulit mengucapkannya.
"Jadi, maukah kamu memberitahuku apa yang kamu lakukan di kota ini, Riza?" tanya Wallace sekali lagi dengan nada yang lebih lembut.
"Aku mencari Edgar Juan Henley," jawabku.
"Untuk apa mencarinya?" tanya Wallace. Wajahnya agak berubah.
"Aku hanya berusaha mencegahnya agar tidak sampai mengganggumu!" jawabku.
"Kenapa dia harus menggangguku?" Wallace bertanya balik.
"Karena ... Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi dia berusaha mencegah sesuatu," jawabku tak berani mengatakannya terang-terangan.
__ADS_1
"Apa yang kamu takutkan? Mengapa harus mengejarnya sampai kemari?" tanya Wallace.
"Wallace, aku tak mau dia berkata macam-macam padamu. Sama seperti hal yang dia katakan padaku. Semenjak hari itu aku tidak berbicara padanya dan tak tahunya dia ke New Angeles. Aku langsung berpikir bahwa dia akan mencarimu dan memakimu di sini," kataku penuh emosi.
"Riza, kamu tak perlu takut. Ku rasa dia tak akan melakukan hal itu," ucap Wallace menenangkan.
"Benarkah begitu?" tanyaku tak yakin.
"Tak ada yang perlu kamu takutkan, Riza! Kadang kita tidak bisa mencegah sesuatu yang tak diinginkan terjadi," ujar Wallace.
"Maksudmu?" tanyaku.
"Bukan apa-apa. Bukankah sudah larut malam? Mungkin sebaiknya kamu pulang!" kata Wallace.
Aku melihat jam di ponselku. Benar saja sudah jam sebelas malam.
"Tapi masih banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu, Wallace!" kataku.
"Kita bisa bicara lain waktu!" ujar Wallace.
"Oke, besok aku kembali jam tujuh malam! Kamu harus datang, ya!" pintaku sebelum pergi.
"Aku pulang dulu. Malam!"
"Malam. Hati-hati di jalan!" pesan Wallace.
Aku mengangguk dan pergi meninggalkan Wallace. Perasaan bercampur aduk menyelimuti hati. Di sisi lain begitu senang, sementara di sisi lain merasa ada yang aneh dengannya. Tapi ku tepiskan perasaan itu. Rasa rindu yang terpendam begitu lama setidaknya sedikit terobati.
Aku tahu ini sudah tengah malam, Sienna pasti sudah tidur. Tapi aku tak peduli, ku raih ponsel dan mulai mengetik panjang lebar tentang pertemuanku dengan Wallace lalu mengirimkannya. Besok pagi Sienna pasti akan membalasnya.
Ya, memang benar, pagi-pagi sekali ia sudah meneleponku. Berbicara banyak denganku. Ia baru mengakhiri obrolan kami begitu bibi Jane berteriak memanggilnya turun untuk sarapan. Sementara aku tak sabar menunggu malam kembali tiba.
...****************...
Sejak siang hujan terus turun mengguyur New Angeles. Beruntung hujan reda sebelum jam tujuh malam. Meski di luar masih gerimis. Semoga setibanya di Dixie Holly benar-benar reda.
Pukul 18.30 aku sudah siap dengan pakaian hangat dan sarung tangan. Ini cukup menutupi kulit dari hawa dingin. Aku ke luar dari hotel dan melihat Roger telah menunggu. Dengan penuh semangat aku langsung masuk ke dalam taksi yang siap membawaku ke Dixie Holly.
"Kamu nampak bersemangat sekali, Eriza!" goda Roger.
"Ya. Bukankah seharusnya begitu?!" balasku senyum-senyum.
"Belum," jawabku pelan. Aku hampir lupa tujuan awalku kemari.
"Jangan menyerah! Aku yakin kamu pasti akan bertemu dengannya!" kata Roger menyemangati.
"Ya! Trims," jawabku.
Aku tiba di Dixie Holly. Hawa dingin langsung menerpa wajahku begitu aku ke luar dari taksi. Seperti harapanku hujan memang sudah reda dengan menyisakan jalanan yang basah. Aku tak sabar ingin segera bertemu Wallace lagi.
Senyum bahagia langsung merekah di bibirku begitu melihat Wallace sudah berada di depan katedral. Wallace juga melemparkan senyumnya padaku.
"Sudah lama menunggu?" tanyaku.
"Baru saja!" jawabnya.
"Mau jalan-jalan?" Wallace menawari.
Tumben sekali pikirku. Tak ingin menunggu lama aku segera mengangguk cepat. Dan kami mulai berjalan menyusuri sisi jalan Dixie Street. Malam ini lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena di luar udara dingin sehabis hujan jadi orang-orang enggan pergi ke luar.
"Kamu pernah ke Mansion Maera?" tanya Wallace begitu kami lewat di depan mansion tua itu.
"Dulu pernah sekali. Tapi aku tidak suka di dalam sana. Terlalu pengap dan berdebu. Jadi, aku hanya masuk sampai di ruang utama," jawabku.
"Jadi, bukan karena kamu takut?" ejek Wallace.
"Apa yang harus ditakutkan?" tanyaku santai.
"Bukankah tempat itu angker?" ujar Wallace.
"Tapi aku tidak melihat apa-apa! Itu hanya nampak seperti rumah tua yang tak terawat," kataku.
"Benar juga. Kalau kamu penakut kamu pasti takkan kemari malam-malam sendirian!" ucap Wallace.
"Memangnya apa yang kamu lakukan di sini sendirian tiap malam?" aku bertanya balik.
"Aku menunggumu!" jawab Wallace penuh percaya diri.
"Sebelum kamu bertemu denganku?" tanyaku lagi.
"Jalan-jalan. Menghilangkan kejenuhan!" jawab Wallace.
__ADS_1
"Oh," aku bergumam. Mendadak aku teringat suatu hal.
"Oh ya, aku ingin bertanya sesuatu padamu!" kataku dengan cepat pada Wallace.
"Apa itu?" tanya Wallace.
"Kamu tahu Lucent Inn di ujung jalan itu, bukan?! Apa kamu tahu mengapa penginapan itu ditutup? Aku dengar tempat itu sangat angker bahkan tak ada satupun orang yang berani mendekat. Dan satu lagi, aku pernah secara tak sengaja melihat penampakan seseorang di lantai tiga penginapan itu! Apa yang ku lihat itu hantu?" aku menjelaskan dengan cepat pada Wallace.
Tapi Wallace sejenak terdiam dengan wajah tanpa ekspresi. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ya, yang kamu lihat itu memang hantu. Dia penunggu penginapan itu. Dia akan mengganggu siapa saja yang berani masuk ke sana. Itu sebabnya tak ada yang berani mendekati penginapan itu! Tapi aku salut, kamu gadis yang cukup pemberani!" jawab Wallace dengan senyum tersungging.
Aku sempat bergidik saat Wallace mengatakan yang ku lihat itu memang hantu.
"Aku tidak begitu percaya pada rumor. Lalu, mengapa penginapan itu ditutup tanpa alasan yang jelas?" tanyaku kemudian.
"Itu karena mereka selalu diganggu oleh penunggu penginapan itu. Hantu itu sudah ada di sana lama sebelum penginapan itu dibangun. Dan dia tidak suka tempatnya diganggu. Oleh karena itu dia mengganggu manusia-manusia itu supaya mereka pergi," Wallace menjelaskan dengan sungguh-sungguh.
"Kamu tahu banyak. Tapi ceritamu berbeda dengan cerita yang kudengar dari orang-orang," kataku.
"Tentu saja aku tahu lebih banyak. Aku besar di sini. Orang-orang di luar sana sengaja mengarang cerita agar terdengar menarik sehingga semakin banyak turis datang kemari," jelas Wallace.
Aku hanya menganggukkan kepala saja. Memahami cerita Wallace. Kami masih terus berjalan. Beberapa saat sempat terdiam. Sampai di sebuah jalan pintas kami berbelok. Jalan yang menghubungkan Dixie Street dengan Stairway Street. Di jalan yang sempit dan sepi dengan pencahayaan yang minim, Wallace memegang tanganku. Aku sempat tersentak. Meskipun aku mengenakan sarung tangan tapi dinginnya tangan Wallace terasa menembus sampai ke kulit tanganku.
Udara malam ini memang sangat dingin. Tidak heran jika tangannya begitu dingin. Aku hanya salut kalau dia tidak merasa kedinginan sama sekali.
"Malam ini sangat dingin. Apa kamu tidak kedinginan?" tanyaku.
"Tidak. Aku sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini," jawab Wallace kalem.
"Hebat. Aku malah tidak mampu menahan udara dingin! Hujan sebentar saja sudah cukup membuatku menggigil," ujar ku.
Wallace tersenyum. Ia meremas lembut tanganku. Aku makin bisa merasakan tangannya yang dingin dan kaku.
Hingga kami memasuki Stairway Street. Jalan ini pun sepi. Kami berjalan bergandengan menuju ke gedung tua di mana dulunya biasa kami duduk.
Kami duduk berdampingan di salah satu anak tangga gedung. Wallace masih enggan melepas tanganku. Ia meraihnya, menggenggamnya dengan kedua tangannya. Lalu ia mengecupnya. Aku hanya diam menatapnya. Itukah bukti cintanya? Ia bahkan belum mengutarakan perasaannya padaku.
"Aku sangat senang malam ini!" ucap Wallace lembut.
Aku tersenyum. "Aku juga!"
Wallace menarik tanganku dan menempelkannya ke wajahnya. Wajahnya begitu halus, pucat dan kaku. Aku terus menatapnya. Sesaat kami saling bertatapan lama. Wajah Wallace nampak bahagia tapi semakin lama mata birunya menjadi sendu. Ia memalingkan wajahnya dan melepaskan genggaman tanganku.
"Apa kamu sudah menemukan orang yang kamu cari?" tanyanya. Seperti sedang mengalihkan topik.
"Belum. Aku sudah mencarinya hampir di semua hotel di kota ini. Tapi tak ada satupun tamu dengan nama itu," jawabku setengah bingung dengan perubahan sikap Wallace.
"Dia tidak menginap di hotel. Dia tinggal di sebuah apartemen," ujar Wallace yakin.
Aku mengernyitkan dahi.
"Bagaimana kamu tahu?" tanyaku heran.
"Dia tinggal di Mediterania Residence, Montana. Kamu bisa ke sana mencarinya!" jawab Wallace. Tapi bukan jawaban pertanyaan ku.
"Kamu belum jawab. Darimana kamu tahu?" Aku mengulang kembali pertanyaan ku.
"Aku tahu semuanya," jawab Wallace singkat tapi pasti.
"Pulanglah, sudah malam! Saatnya kamu istirahat!" Wallace melanjutkan.
Aku merasa Wallace agak aneh malam ini. Tapi aku tak bisa membantah, ini sudah lewat dari jam pulang ku biasanya. Mengesalkan, mengapa waktu begitu cepat berlalu. Aku memang harus segera pergi.
"Baiklah. Aku pulang dulu! Kamu mau ikut pulang denganku? Aku bisa meminta Roger mengantarmu sampai di St. Barbara!" Aku menawari.
"Tidak. Ini sudah terlalu malam. Aku tak mau merepotkan. Lagipula Roger juga perlu istirahat. Aku bisa pulang sendiri nanti," tolak Wallace.
"Oke. Tapi, jangan pulang terlalu malam! Bye, Wallace! Good night!" pamit ku.
"Night. Hati-hati di jalan, Riza!" pesan Wallace.
Aku mengangguk dan tersenyum. Lalu pergi meninggalkan Wallace sendiri di tempatnya.
Aku masuk ke dalam taksi. Di dalam Roger sedang mendengar radio.
"Roger, besok jam 9 pagi tolong antar aku ke Mediterania Residence di Montana!" pesanku pada Roger.
"Siap, Nona!" ujar Roger dan taksi pun melaju meninggalkan Dixie Holly.
bersambung ....
__ADS_1