Pangeran Dari Dunia Lain

Pangeran Dari Dunia Lain
Kedatangan Alex dan Teman-teman


__ADS_3

...★━━━━PoV Wallace━━━━★...


Tidak seperti malam biasanya. Malam ini Wallace berdiri di tengah jalan tepat di depan katedral. Sorot matanya tajam namun kosong. Pandangannya lurus ke depan jalan di mana orang berlalu-lalang. Seolah menunggu sesuatu yang ia tahu tidak akan muncul.


Seorang kakek tua muncul dari balik pagar katedral. Matanya langsung menangkap keberadaan Wallace. Memang Wallace bukanlah orang asing bagi kakek tua itu. Dengan langkah pelan kakek tua itu berjalan dan berhenti di belakang Wallace.


"Jangan ganggu gadis itu lagi!" kata si kakek tua dengan suaranya yang berat.


"Aku mencintainya," jawab Wallace tanpa ekspresi. Namun pandangannya tetap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah kakek tua.


"Jangan bercanda! Kehidupan kalian tidak sama! Dunia kalian berbeda!" bentak sang kakek tua.


"Aku tidak peduli!" Wallace menjawab tak mau kalah.


"Kau tidak bisa seenaknya berbuat sesukamu. Kau seharusnya tidak berada di sini! Sudah terlalu lama, terlalu lama kau bermain-main di tempat yang tak seharusnya kau berada," kata kakek tua dengan serius.


"Ini rumahku! Kalian ... manusia yang mengambil tempat tinggal kami. Kemudian mengubahnya menjadi tempat menjijikan seperti ini!" ujar Wallace tajam.


Kakek tua tersentak. Ia menghembuskan nafas panjang.


"Itu dulu. Berabad-abad yang lalu. Sekarang sudah berbeda. Dunia terus berubah begitupun dirimu. Kau tidak mungkin hidup selama ratusan tahun sementara fisikmu tidak berubah," kata kakek tua.


Wallace menyunggingkan senyum lalu berbalik menghadap kakek tua.


"Kau bilang aku tidak hidup?! Kau sendiri melihat dan mengetahui keberadaan ku sejak ratusan tahun," tukas Wallace.


"Ya, tapi kau hidup bukan sebagai manusia," Kakek tua berkata pelan.


"Dan kau kira kau manusia? Tidak ada satupun manusia yang berani tinggal di daerah ini!" kecam Wallace.


Setelah itu ia menghilang. Sementara kakek tua itu masih berdiri mematung di sana.


...★━━━━━━━━━━━━★...


.......


.......


.......

__ADS_1


Di sebuah padang bunga yang luas, aku berdiri seorang diri. Angin bertiup perlahan mengacak rambutku. Dari kejauhan aku mendengar suara. Suara itu mendekat dan semakin dekat. Arahnya dari belakang. Aku berbalik dan dari kejauhan aku melihat seorang pangeran memacu kudanya mendekat kearah ku. Ia berhenti di depanku diikuti suara lengkingan kuda yang memecah kesunyian.


Wallace. Ia menatapku dengan sorot mata birunya yang tajam. Namun dari balik tatapannya menyimpan kesedihan yang tak bisa dimengerti. Ia menunggang kudanya berbalik membelakangi ku. Dan kembali memacu kudanya menjauh sebelum aku sempat mengucapkan beberapa kata. Namun, aku malah mengejarnya yang semakin jauh meninggalkanku. Sampai akhirnya kakiku tersandung akar tanaman dan terjatuh.


Aku terkejut. Seketika langsung membuka mata. Kamarku masih gelap. Rupanya aku sedang bermimpi. Mimpi apa tadi? Aku bangun dari tempat tidur kemudian melirik jam weker di samping meja. Pukul 03.00 dini hari. Mimpi barusan membuatku tak bisa tidur lagi. Aku kembali memikirkan Wallace.


Apa yang dia lakukan? Apa dia masih pergi ke Dixie Holly? Adakah dia memikirkan ku? Aku jadi merasa bodoh sendiri dengan semua pemikiran itu. Seperti orang bodoh yang tergila-gila dengan orang yang tak dikenalinya. Bagaimana tidak? Kalau sudah lost contact begini apa yang bisa aku harapkan. Kenapa begitu sulit melupakan pertemuan singkat ini?


Aku masih duduk bersandar di atas tempat tidur. Tanpa sengaja melirik ponsel di meja. Lampu pemberitahuan berkedip-kedip pertanda ada pesan masuk. Aku mengambilnya dan membuka isi pesan itu. Ada tiga pesan dan sebuah panggilan tak terjawab.


Alex? Semuanya dari Alex. Isi pesannya tidak pernah penting. Aku malah menyengir sendiri dengan pertanyaan yang terlintas di kepalaku. 'Apakah penting bagimu mengetahui apa yang aku lakukan, aku sudah makan dan tidur? Tidak sekalian saja bertanya apa aku sudah buang air hari ini?' Lucu sekali! Tapi aku tetap membalasnya. Hanya sebuah pesan balasan. Setelah itu ku non-aktifkan lagi ponselku. Ia pasti akan menelepon ku pagi-pagi begitu ia melihat balasan dariku.


Hoam ... Masih terlalu pagi untuk bangun. Ada baiknya kalau aku kembali tidur dengan harapan akan memimpikan Wallace lagi. Tapi mimpi yang lebih indah dari yang tadi.


...****************...


Tok ... Tok ... Tok ...Tok ...


"Riza, Bangun! Eriza!" teriakan dari Sienna diikuti ketukan pintu kamar memaksa mataku terbuka.


"Kenapa sih masih pagi, kan?!" gumam ku dengan malas.


"Hei, buka pintunya! Ini sudah siang! Ayo, bangun!" Kembali Sienna berteriak dengan tak sabar.


Usai membukakan pintu aku kembali keatas ranjang ku yang empuk.


"Kenapa balik tidur lagi? Ayo, bangun! Ingat kita ada janji hari ini!" kata Sienna geram.


"Masih awal, bukan!? Biarkan aku tidur sebentar lagi!" ujarku.


"Riza, ini sudah jam 9! Justin dan teman-teman akan tiba satu jam lagi! Mereka akan langsung kemari!" kata Sienna memberi tahu.


"Hah, sudah jam 9? Yang benar?" Aku tak percaya dan melirik jam weker di meja. Benar sudah sesiang ini.


"Hem ... Perasaan semalam kamu tidur awal. Tapi bangunnya tetap siang juga," gerutu Sienna.


Aku tak mau membalas kata-katanya lagi. Aku segera bangun dan pergi mandi.


Pukul 10.15 pagi, Justin dan teman-teman tiba di rumah. Mereka datang dengan mobil. Alex yang mengemudikannya. Sienna segera berlari keluar menyambut tamunya. Aku menyusul belakangan.

__ADS_1


"Sudah ku bilang kan kalian tidak akan tersesat sampai di rumahku!" kata Sienna begitu senang.


"Alamatnya tidak sulit dicari! Jadi mudah kami kemari," Alex menimpali.


"Oh ya, Eriza mana?" tanya Mandy yang turut hadir juga.


"Aku di sini!" jawabku yang baru muncul dari dapur dengan beberapa gelas minuman dingin.


"Tidak perlu repot begitu!" kata Alex yang ikut membantu membagikan minuman pada temannya.


"Tidak. Kalian datang jauh-jauh pasti capek. Ayo, diminum dulu!" Aku mempersilahkan. Yang lain mengangguk dan mulai minum.


"Jadi, kalian datang bertiga saja?" tanya Sienna.


"Ya. Vanessa tidak mau ikut jadi kami bertiga saja," jawab Justin.


"Wajar saja, karena dia tidak menyukai kami," timpal ku.


"Sifatnya memang begitu. Makanya dia tidak punya banyak teman. Tidak perlu dimasukkan ke dalam hati," ujar Alex dengan santai.


"Aku tidak mempermasalahkannya," balasku.


"Lalu, setelah dari sini kalian mau ke mana?" tanyaku.


"Kami ke sini sudah pasti mengunjungi kalian. Bukankah kita sudah buat janji akan keluar jalan bersama?" jawab Alex sambil nyengir.


Aku menatap Sienna dan baru ingat pembicaraan kemarin dengannya.


"Oh, aku lupa. Maaf ... maaf!" kataku cepat.


"Tidak apa-apa," ucap Alex.


"Jadi, kita akan ke mana?" giliran Mandy bertanya.


"Ke Green Hill," jawab Justin.


"Itu perlu dua jam dari sini," kata Sienna.


"Tidak masalah, kita bisa habiskan waktu seharian di sana," ujar Alex.

__ADS_1


"Kalau begitu jangan undur waktu lagi. Ayo, berangkat!" ajak Justin dengan penuh semangat.


bersambung ....


__ADS_2