
Hari ini kami menaiki bus menuju Glosy Tower yang berada di pusat kota. Berbekal buku panduan New Angeles dan G-Maps dari ponsel memudahkan kami mencari lokasi tempat wisata di kota ini.
Kira-kira empat puluh lima menit perjalanan dari hotel, kami tiba di sana. Aku dan Sienna berlari menuju ke depan tower. Dengan ketinggian mencapai 1063 kaki, menjadikan Glosy Tower sebagai menara tertinggi di negara ini. Selain melihat dengan jelas menara yang tertinggi ini kami juga bisa naik ke puncak menara dengan lift yang disediakan. Ada dua lift yang disediakan. Tetapi untuk mencapai puncak menara harus membayar uang tiket naik lift dulu.
Karena banyaknya pengunjung, kami harus antri untuk mendapat giliran naik lift yang hanya memuat 10 orang saja dengan petugas lift. Setelah sepuluh menit mengantri tiba giliran kami. Seusai membayar tiket untuk dua orang, aku dan Sienna masuk ke dalam lift beserta dengan pengunjung lain. Petugas lift kemudian menutup pintu besi lift dan kami pun dibawa naik ke atas puncak menara.
Kami sampai di puncak menara. Begitu kami semua ke luar dari lift, masuklah sepuluh orang turis ke dalam lift yang akan membawa mereka turun. Di atas menara juga sudah ramai pengunjungnya.
Puncak Glosy Tower memang sangat tinggi. Bayangkan dari atas sini aku bisa melihat seisi kota New Angeles yang ada di bawah sana. Angin di sini pun agak kencang. Sienna begitu kegirangan dapat menyaksikan pemandangan kota yang indah dari atas sini. Ia berdiri di tepi menara yang dibatasi dengan pagar besi setinggi dada orang dewasa. Ia terlihat sibuk berfoto ria. Kami juga mengambil beberapa foto selfie bersama. Puas berfoto, Sienna mulai merekam pemandangan kota yang ada di bawahnya. Aku juga tidak ingin ketinggalan. Aku ikut berdiri di tepi pagar sambil menikmati pemandangan indah dan kota yang ada di bawahnya yang tidak akan kudapatkan ketika kembali ke Losta. Beberapa detik saat aku berdiri di tepi pagar melihat pemandangan di bawah sana, tiba-tiba saja kepalaku mendadak berputar-putar. Aku segera mundur ke belakang menjauh dari pagar agar tidak melihat lagi ke bawah. Sienna yang tadi berada di sampingku lalu menghentikan kegiatan merekamnya dan menoleh padaku.
"Kamu takut ketinggian?" tanyanya melihat wajahku yang pucat.
Aku rasa begitu, kepalaku mendadak pusing. Aku mengangguk pada Sienna. Ia lalu mendekatiku. Dan kembali bertanya. "Kamu tidak apa-apa? Bisa jalan, kan?"
"Ya," jawabku.
"Kalau begitu kita turun sekarang saja. Aku juga sudah puas mengambil foto dan rekaman. Ayo!" ajak Sienna sambil merangkul ku berjalan menuju lift.
Untuk turun kami pun harus antri. Beberapa menit menunggu lift datang dengan sepuluh orang turis. Setelah mereka ke luar giliran kami untuk masuk dan turun ke bawah. Akhirnya kami kembali ke bawah menara. Kakiku menginjak tanah lagi. Pusing juga mulai berkurang.
Hari telah siang pengunjung masih tetap ramai seperti pagi tadi. Kami memutuskan duduk sebentar di sebuah bangku yang berada tak jauh dari menara. Sienna mengeluarkan ponselnya dan terlihat sibuk mengetik.
"Apa kamu merasa lapar?" tanya Sienna sementara jari-jarinya sibuk menari di atas layar ponsel.
"Tidak begitu. Tapi kalau kamu sudah lapar kita bisa mencari tempat makan dan beristirahat sejenak di sana," jawabku.
"Kalau begitu ... Kita makan di Housten Cafe saja! Tidak jauh dari sini. Justin dan teman-temannya juga sedang menuju ke sana. Yah, kalau kamu tidak keberatan bergabung bersama mereka," ujar Sienna sambil memasang wajah manis agar aku menyetujuinya.
"Terserah padamu saja! Aku akan ikut ke manapun!" kataku pada Sienna.
"Baiklah, ayo pergi! Kita jalan kaki saja! Kira-kira butuh waktu 15 menit untuk sampai ke sana!" ujar Sienna sembari memperhatikan perhitungan perjalanan melalui G-Maps.
Lantas kami memulai perjalanan menuju Housten Cafe. Di perjalanan aku coba menggoda Sienna dengan pertanyaan mengenai hubungannya dengan Justin.
"Sepertinya kamu dan Justin sangat akrab, ya?!"
"Masa? Apa terlihat seperti itu?" tanya Sienna terlihat salah tingkah.
__ADS_1
"Ya. Padahal baru kemarin saling kenal," tambah ku.
Sienna hanya tertawa kecil.
"Sepertinya ada hubungan spesial," godaku.
"Hahaha ... Tidak ada!" jawab Sienna.
"Ayolah, Sienna ceritakan padaku! Tidak mungkin tidak ada, aku rasa kamu tertarik padanya," desak ku pada Sienna sambil mengedipkan mata padanya.
Akhirnya Sienna mengalah. Dengan malu-malu ia berkata, "mungkin kamu benar!"
"Jadi, kamu menyukainya?" tanyaku lagi.
"Sepertinya. Dia sangat menyenangkan, diajak bicara juga nyambung, dia juga suka bercanda, pokoknya aku merasa nyaman di dekatnya! Tapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya terhadapku," curhat Sienna.
"Hem ... Kenapa tidak tanyakan langsung padanya saja?!" godaku.
"Apa?! Maksudmu aku harus menyatakan perasaanku padanya begitu?! Eriza ... Aku tidak mungkin melakukan itu. Kami baru kenal kemarin," kata Sienna tak sependapat.
"Hihihi ... hanya bercanda. Kamu tenang saja masih ada waktu dua hari sebelum mereka pulang. Jika dia menyukaimu dia akan memberi isyarat," kataku dengan yakin.
"Yah, misalnya mengajakmu bertemu lagi atau memintamu untuk tetap menghubunginya," jawabku spontan.
"Oh," ujar Sienna mengerti.
Berjalan sambil mengobrol membuat perjalanan lima belas menit ini serasa cepat.
Tak terasa kami akhirnya sampai di tujuan. Aku dan Sienna masuk ke dalam cafe dan langsung bisa menemukan kawanan 'Blue Rose' di meja depan. Ke-empat teman baru kami dan Mr. Mark. Tidak ada Roger di sana, sepertinya ia tidak jadi supir hari ini.
Sienna melambaikan tangan pada Justin. Lalu Aku dan Sienna pun bergabung dengan mereka. Alex melihat kedatangan kami lalu menarik dua kursi kosong di meja sebelahnya. Ditaruhnya dua kursi kosong itu di sebelah tempat duduknya dan satu lagi di sebelah Justin. Ia juga mengosongkan meja untuk bagian kami setelah sebelumnya berserakan piring berisi makanan. Kemudian mempersilahkan kami berdua duduk. Aku duduk di sebelah Alex dan Sienna di sebelah Justin. Wajah Vanessa langsung berubah merah. Sepertinya tidak senang dengan kedatangan kami apalagi perhatian Alex yang langsung mengarah padaku. Memang tidak ada yang mempedulikan perubahan wajahnya.
"Kamu mau pesan sesuatu, Eriza?" tanya Alex sambil menyodorkan buku menu padaku.
Aku mengambil buku menu itu sambil menatap Alex sekilas. Lalu melihat daftar menu-menu yang tertera di sana.
"Aku tidak lapar sebenarnya! Aku pesan segelas cappucino saja!" kataku pada Alex sementara mataku masih menjajal ke daftar menu.
__ADS_1
"Kamu pesan apa, Sienna?" tanyaku pada Sienna.
"Aku mau sup jamur dan cola saja!" jawab Sienna.
" Oke!" kata Alex. Ia lalu memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan kami. Sedang pelayan mencatatnya setelah itu pergi. Dan kembali dengan cepat sambil membawa pesanan kami berdua.
Aku meneguk minuman ku yang masih hangat. Dan Sienna melahap sup jamurnya. Yang lainnya sedang mengobrol ada juga yang masih makan. Alex masih berusaha mencuri perhatianku. Ia banyak bicara padaku. Dan sama sekali tak mempedulikan Vanessa di sampingnya yang cemberut.
"Apa rencana mu setelah selesai kuliah?" tanya Alex padaku.
"Entahlah. Aku belum memikirkannya!" jawabku.
"Kalau aku berencana ingin bekerja di luar kota. Mencari pengalaman baru. Merasakan tinggal di lingkungan baru dan memiliki teman baru. Pasti sangat menyenangkan!" kata Alex tanpa ditanya.
"Ya. Sepertinya, kalau kamu punya jiwa petualang dan sosialisasi yang tinggi," kataku asal.
"Tentu saja. Aku sangat suka berpetualang. Ke tempat-tempat baru yang belum pernah ku datangi," ujar Alex bersemangat.
"Ya, ke tempat berhantu juga misalnya," tambah ku setengah mengejek.
Alex tertawa dan menjelaskan. "Itu hanya sekedar hobi. Kebetulan teman-temanku yang lain juga memiliki hobi yang sama. Jadi kami buat saja sebuah perkumpulan."
"Oh."
Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan topik yang dibicarakan Alex. Lama-lama membosankan. Berbeda dengan Sienna di sampingku yang malah sangat bersemangat dengan Justin. Sebenarnya aku mencari waktu yang tepat untuk kabur.
Aku perhatikan orang-orang di meja ini. Mandy sedang sibuk dengan buku tebalnya. Mr. Mark masih sibuk melahap spaghetti sambil membaca koran. Justin dan Sienna asyik berbicara sedangkan Vanessa tetap diam dengan wajah kusut dan cemberut. Aku melihat Vanessa seperti orang bodoh. Di kala yang lain menyibukkan diri, ia justru diam dengan tangan terlipat di dada. Jelas menunjukkan kejengkelannya. Tapi aku tak suka melihatnya lama-lama. Wajahnya yang sedang jengkel itu nampak mengerikan.
Mr. Mark selesai menyantap spagetinya. Ia melipat kembali koran yang ia baca dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia bangkit berdiri.
"Anak-anak, jika kalian mencari ku, aku ada di parkiran!" pesan Mr. Mark sebelum ia pergi.
"Yes, Mr!" ujar yang lainnya.
Yang lain kembali dengan kesibukan mereka. Pandanganku mengikuti ke mana arah Mr. Mark pergi. Dari balik dinding kaca cafe aku bisa melihatnya berjalan menuju parkiran. Ia bersandar di sebuah mini van warna abu-abu kemudian mulai menyulutkan api ke sebatang rokok yang dihisapnya.
Pandanganku kembali ke teman-temanku di depan. Sebuah ide terlintas begitu saja di kepala. Aku lalu berdiri pamit kepada semuanya.
__ADS_1
bersambung ....