
Di dalam sebuah mansion mewah. Seorang gadis cantik berambut hitam bergelombang sedang bermain piano disalah satu sudut ruangan. Ia sangat menikmati permainannya. Seperti sudah sangat hafal dengan lagunya, bahkan dengan memejamkan mata pun ia bisa memainkannya. Namun permainannya tiba-tiba berhenti begitu ia merasakan ada hawa lain disekitarnya. Ia tahu siapa tamu tak diundang yang masuk tanpa permisi ke rumahnya.
"Aku sudah melakukan seperti yang kamu perintahkan, Pangeran!" kata sang gadis tanpa menoleh kepada siapa ia bicara. Kemudian melanjutkan permainan piano-nya lagi.
"Terima kasih, Ginnevra," ucap si tamu yang dipanggil pangeran.
Sang gadis yang bernama lengkap Ginnevra Joana Henley tersenyum kecil dan menjawab.
"Senang membantumu, Pangeran!"
"Aku akan datang jika butuh bantuanmu lagi!" kata pangeran.
Ginnevra berhenti memainkan piano kemudian menatap pangeran yang tak lain ialah Wallace Dixie.
"Aku akan siap membantu kapanpun Pangeran butuh!" ujar Ginnevra.
Wallace Dixie menyunggingkan senyumnya. Ginnevra juga tersenyum kecil. Wallace akhirnya menghilang. Ginnevra kembali memainkan pianonya. Sesaat itu muncul Edgar dari balik pintu.
"Sampai kapan Kakak akan berhenti menggangu kehidupan orang?" katanya ketus.
"Ini bukan urusanmu!" jawab Ginnevra tenang.
"Memang bukan. Tapi Kakak melakukan kesalahan!" kata Edgar menekankan kalimatnya dan berlalu pergi.
"Melakukan kesalahan?! Aku tidak merasa melakukan kesalahan. Aku juga tidak merugikan siapapun, jadi tidak ada yang salah!" gumam Ginnevra pada dirinya sendiri.
... ★━━━━━━━━━━━━★...
.......
.......
.......
Malam ini seperti biasa, aku sedang belajar di kamar. Sesaat kemudian pintu kamarku diketuk.
"Masuk!" teriakku.
Sienna muncul dari balik pintu kamar. Ditutupnya kembali pintu lalu ia duduk di atas ranjang.
"Apa aku mengganggu?" tanyanya.
"Tidak. Aku juga sudah selesai. Ada apa?" jawabku sembari menutup buku-buku yang ada di meja.
"Hanya ingin bicara. Bosan sekali! Akhir-akhir ini kamu lebih banyak di kamar. Aku jadi tak ada teman untuk bicara," curhat Sienna membuatku merasa tak enak.
Aku tersenyum. Kemudian berkata padanya.
"Maaf! Tapi kebetulan kamu datang, aku juga ingin bicara!"
"Bicara apa?" tanya Sienna. Ia yang kini jadi was-was.
Aku menghampirinya dan melemparkan tubuh ke atas ranjang.
"Kamu belum menceritakan kelanjutan hubunganmu dengan Justin. Kamu buru-buru pergi dengan Suzan kemarin, ingat?"
Sienna memutar bola matanya mencoba mengingat-ingat. Ia berseru.
"Oh iya .... Aku ingat! Aku bilang akan memberitahumu nanti."
"Nah, sekarang katakan!" ucapku.
"Tapi, aku kan menyuruhmu menebak!" Sienna beralasan.
"Tidak ada istilah menebak. Cepat katakan!" desak ku.
"Ya, masa kamu tidak bisa menebak. Aku dan Justin kan sudah ...."
"Pacaran!?" Aku memotong dengan cepat.
"Nah, itu kamu sudah tahu, kan! Kenapa bertanya lagi?" tukas Sienna.
"Aku kan menebak. Terus kelanjutannya bagaimana?" tanya ku.
"Kelanjutan apa?" Sienna bertanya dengan bingung.
Aku mendekat ke depan wajahnya, kemudian berbisik dengan nada menggoda.
"Kalian sudah ciuman belum?"
"Ah, kamu ini tanyanya yang seperti itu. Tentu saja belum!" jawab Sienna.
"Tidak seru kalau begitu! Kukira ada cerita yang lebih menarik," ujarku kembali membenamkan tubuh di atas kasur.
"Kamu sendiri dengan Alex bagaimana? Ada kemajuan?" tanya Sienna bersemangat.
__ADS_1
"Aku masih tidak ada perasaan tertarik padanya," jawabku singkat.
"Kenapa? Bukankah dia baik? Dia juga sepertinya serius sekali ingin mendapatkan mu," kata Sienna yang ikut berbaring di sampingku.
"Entahlah. Memangnya perasaan bisa dipaksa? Aku tetap tidak merasakan ada perasaan khusus padanya. Tidak sama sekali!" jawabku yakin.
"Terus kalau Russel, bagaimana?" tanya Sienna tiba-tiba. Pertanyaan yang membuatku kaget.
"Apa? Russel? Russel?!" Aku berkata menyakinkan kalau aku tak salah dengar. Benar, Sienna sampai manggut-manggut. Aku sempat ingin tertawa. Tapi tak jadi.
"Kamu bercanda?" tanya ku.
"Tidak!" Sienna berkata serius.
"Oh .... Aku mengerti sekarang! Kejadian kemarin dan tadi pagi pasti sudah kalian rencanakan, bukan?! Supaya aku bisa berdua dengan Russel?!" tuduhku pada Sienna.
"Bukan aku. Russel yang minta tolong padaku. Kemarin itu aku ingin mengajakmu ikut denganku dan Suzan menonton pertunjukan Edgar. Tapi Russel mendadak mencegatku begitu keluar dari kelas. Jadi, aku tak bisa menolak!" Sienna menjelaskan.
"Dan kamu diberi imbalan apa sama Russel?" tanyaku.
"Tidak ada," jawab Sienna polos.
"Kalau begitu lain kali jangan mau disuruh olehnya!" ujarku cepat.
"Terus kalau ada imbalan berarti boleh?!" goda Sienna sambil terkekeh.
"Tetap tidak!" jawabku ketus.
Sienna malah menertawaiku. Aku tetap memasang wajah cemberut.
Kami berdua berbaring di atas kasur. Dengan jendela yang menghadap di depan. Langit nampak jelas karena aku tak pernah menutup tirainya.
"Ini alasan kamu tak mau pindah dari kamar ini?" ucap Sienna. Ia melanjutkan.
"Bahkan berbaring saja aku bisa melihat langit dari dalam sini. Tapi sayang malam ini tidak ada bintang!"
Bintang?! Mendengar Sienna mengucap bintang mengingatkanku pada Wallace lagi. Padahal seharian ini aku sama sekali tak mengingatnya. Namun tak berarti aku melupakannya. Aku masih tetap merasakan sesuatu yang lain padanya.
"Riza. Hei, Eriza!" panggil Sienna menyadarkan ku dari lamunan.
"Ah, ya?" jawabku.
"Diam saja! Apa yang kamu pikirkan?" tanya Sienna. Ia menatapku dengan lekat.
"Tidak ada!" jawabku bohong.
"Eriza, kamu tidak bisa membohongiku! Aku tahu apa yang kamu pikirkan!" kata Sienna mengejek atau menakuti?
"Jangan jadikan lelucon. Ini bukan sesuatu yang patut ditertawakan! Aku tahu kamu pasti memikirkan orang asing itu! Mungkin kamu tidak menyadari perubahanmu semenjak pulang dari New Angeles. Kamu lebih banyak diam. Lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Hampir-hampir bisa jadi sehari aku tak melihatmu di hari libur. Karena kamu terus bersembunyi di kamar," celoteh Sienna panjang lebar.
Aku hanya tersenyum pada sepupuku yang satu ini. Ia benar-benar sangat memperhatikan gerak-gerik ku.
"Sepertinya aku harus lebih waspada, karena sepupuku mulai mengawasi ku!" ejek ku padanya.
Sienna berkata dengan cueknya.
"Terserah!"
Ia lalu bangkit dari tempat tidur. Melihat jam disampingnya yang menunjuk pukul 21.24 malam. Ia berdiri dan hendak pergi.
"Aku ke kamar dulu! Sudah waktunya tidur. Selamat malam, Riza!" pamit Sienna.
"Malam. Mimpi indah!" balasku.
Sienna akhirnya meninggalkan kamarku. Kini aku seorang diri menatap ke luar jendela, di langit yang gelap. Berharap sebuah bintang yang terang muncul. Tapi ia tak pernah muncul di sana, bahkan di saat aku telah terlelap.
...*******...
Beruntung, Russel tak datang lagi pagi ini. Sehingga aku mendapatkan kembali ritual pagi ku, berangkat ke kampus bersama Sienna.
Sampai di kampus, aku dan Sienna berpisah di kelas Sastra. Sedangkan aku langsung menuju loker. Kubuka loker untuk mengambil buku dan menyimpan beberapa barang. Agak lama berdiri di depan loker dengan pintu terbuka. Begitu urusanku selesai aku menutup pintu loker dengan cueknya. Namun begitu berbalik, aku kaget.
Pemuda itu ada di sana. Kerepotan dengan lokernya yang penuh dengan amplop merah muda. Aku berniat mengacuhkannya dan segera pergi. Tapi terlambat, ia keburu menyadari keberadaan ku. Sehingga ia berhasil memamerkan senyum mautnya yang juga berhasil memancing perhatian ku.
"Hai, kamu Eriza Ravella, bukan?" tanyanya dengan sopan.
"I, iya," jawabku gugup.
"Kamu pasti sudah tahu namaku. Tapi aku belum berkenalan denganmu. Aku Edgar Juan Henley," kata Edgar sembari mengulurkan tangannya.
Aku membalas jabatan tangannya.
"Kamu juga sudah menyebut namaku tadi, Eriza Ravella."
__ADS_1
Mendengar perkataan ku Edgar tertawa malu-malu.
"Akan lebih baik kalau berkenalan dengan formal," tukasnya.
"Ya," Aku sependapat.
"Kamu sekarang mau ke mana?" tanya Edgar tiba-tiba.
"Ke kelas Sastra! Sebentar lagi sudah mau masuk," jawabku.
"Oke. Lain kali tolong luangkan waktu supaya kita bisa ngobrol lebih lama!" pinta Edgar berharap.
Ia kemudian berpaling dariku menutup loker dan menguncinya. Beberapa gadis yang melihat kami bicara terus mengawasi dari tempat mereka. Aku tak mempedulikan hal itu.
"Baiklah, aku duluan!" pamitku sambil berlalu.
Edgar membalasnya dengan senyum diikuti anggukan.
Dalam hati aku bertanya-tanya, Edgar ingin ngobrol lagi denganku? Aku tidak salah dengar? Lucu sekali, sepertinya minggu ini ada banyak sekali kejutan tak terduga. Tapi ini cukup menyenangkan. Setiap harinya ada saja sesuatu yang terjadi tanpa terduga. Benar-benar penuh kejutan!
Aku melangkah dengan lebih semangat menuju kelas Sastra. Kelas pertama untuk pagi ini.
Jam istirahat di cafe kampus. Aku dan Sienna duduk di sebuah meja ditemani dua gelas minuman.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Edgar tadi pagi?" tiba-tiba Sienna bertanya.
"Darimana kamu tahu?" Aku bertanya agak kaget.
"Semua membicarakan mu!" jawab Sienna santai.
"Kami hanya berkenalan, berjabat tangan, sudah! Tidak ada yang spesial!" kataku.
"Pasti semua gadis iri padamu! Karena kamu salah satu dari sedikit gadis yang bisa bicara langsung dengannya!" jelas Sienna.
"Oya?! Tapi aku tak merasa itu sesuatu yang istimewa," ujar ku biasa saja.
"Memang itu bagimu, kalau menurut yang lain kan tidak!" tukas Sienna.
Dari pintu masuk datang Suzan menghampiri meja kami dan ikut duduk bersama kami.
"Hai guys. Sedang membicarakan apa?" tanyanya santai.
"Gosip hangat pagi ini!" jawab Sienna tetapi matanya mengarah padaku.
"Oh .... I see! Kamu sangat beruntung!" kata Suzan sambil mengangkat jempolnya padaku.
Aku menyipitkan mata menatap Suzan.
"Apa maksudnya?" tanyaku tak mengerti.
"Ah, itu tidak penting! Apa gosip terpanasnya? Apa dia mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan perasaan?" tanya Suzan dengan suara pelan.
"Ti-" Aku belum selesai bicara tapi Suzan langsung memotongnya.
"Kalau tidak ada tidak usah cerita. Aku tak mau dengar!" katanya.
"Baguslah!" balasku cuek.
Russel datang. Dia langsung duduk di depan kami dengan kasar.
"Hei, kamu ini tidak punya sopan santun sekali! Duduk begitu saja tanpa permisi!" gerutu Suzan pada Russel.
"Ah, cerewet sekali! Kamu tahu aku sedang kesal?" kata Russel.
"Suzan, bukannya tadi kamu juga datang dan langsung main duduk tanpa permisi?" kataku tapi tak berarti membela Russel.
"Ya setidaknya ini kan kumpulan para gadis. Jadi, kupikir tidak perlu bertanya lagi," jawab Suzan membela diri.
"Sudahlah. Begitu saja ribut. Nah, Russel apa yang membuatmu kesal?" giliran Sienna buka mulut.
"Sudah tidak jadi. Sudah hilang!" jawabnya asal.
"Cepat sekali!" ucap Sienna.
Obrolan pun berhenti hingga kelas berikutnya dimulai. Dan kami semua memisahkan diri.
...******...
Malam mulai menjelang. Aku sedang mengerjakan tugas kuliah di kamar. Tugas selesai aku langsung merapikan buku-buku yang berserakan di mana-mana. Saat akan naik ke tempat tidur, aku melihat amplop merah maroon kemarin yang belum sempat dibuka. Penasaran juga apa isinya. Aku pun mengambilnya. Lalu membuka penutup amplop dan mengeluarkan isinya. Kali ini aku dikirimi foto. Ada enam lembar foto. Ku perhatikan foto itu satu persatu.
Lembar pertama adalah foto gerbang dari Dixie Holly, Dixie Street, deretan gedung tua, mansion, katedral, dan ... apa ini? Gelap? Foto terakhir tidak terlihat apa-apa. Ah, mungkin burning. Aku tak menghiraukan foto terakhir. Ada lagi secarik kertas putih terselip diantara foto. Aku membacanya, sebuah kalimat yang tertulis di sana.
'Aku menunggumu!'
Menungguku? Tapi kamu siapa? Aku bahkan tidak tahu. Aku menggelengkan kepala. Memasukkan kembali foto-foto dan kertas itu ke dalam amplop kemudian menaruhnya lagi di laci paling bawah.
Aku tak mau memusingkan siapa yang mengirim amplop itu. Aku naik ke atas kasur kemudian tidur.
__ADS_1
Aku masih tertidur. Nyenyak dan tak bermimpi. Namun tiba-tiba rasanya ada sebuah tangan berat yang dingin menempel di dahiku. Aku tersadar lalu terbangun dengan perasaan kaget. Aku melihat ke seluruh sudut ruangan kamar. Tidak ada siapa-siapa. Tirai jendela tetap terbuka. Di luar terlihat sangat gelap. Tiba-tiba aku merinding. Perasaan takut yang tidak jelas. Aku kembali berbaring dengan selimut menutup sampai kepala. Mengucapkan doa pendek dalam hati hingga akhirnya kembali tertidur.
bersambung ....