
Sienna menubruk bahuku dari belakang begitu aku keluar dari kelas. Jadwal terakhir kami hari ini berbeda. Aku melihatnya, seharian ini ia terlihat sangat ceria.
"Kamu mendapat nilai bagus hari ini?" tanyaku.
"Tidak," jawabnya senyum-senyum.
"Lalu, apa yang membuatmu sangat senang? Seharian ini kulihat kamu sangat bahagia," kataku.
"Coba kamu tebak!" Sienna menantang.
"Aku sedang tidak mood main tebak-tebakan," ujar ku.
"Ya sudah, aku beri tahu nanti. Sekarang aku ada janji dengan Suzan. Aku duluan!" kata Sienna dengan cueknya sambil berjalan pergi.
"Anak ini ...," gerutu ku penasaran.
"Hai, Eriza! Sienna mau pergi ke mana? Buru-buru sekali dia," tanya Russel, teman kampusku yang tiba-tiba datang entah dari mana.
"Entah. Katanya ada janji dengan Suzan," jawabku seperti adanya.
"Oh ... Jadi, aku bisa pulang denganmu? Kebetulan hari ini aku tidak bawa motor," tanya Russel.
"Tumben sekali? Tidak biasanya kamu pulang jalan kaki," kataku basa-basi.
"Ya, motorku sedang service di bengkel. Ada sedikit kerusakan. Jadi, kamu tidak keberatan, bukan? Kita pulang bareng? Jalan rumah kita juga searah," jawab Russel sekaligus bertanya.
"Tentu saja tidak," jawabku.
"Ayo!" ujar Russel senang.
Kami mulai melangkah. Dari arah berlawanan muncul sekelompok mahasiswa dengan gelak tawa riang sedang membicarakan sesuatu. Mereka berjalan melewati kami. Namun salah satu dari mereka berhenti di depan kami.
"Russel dan Eriza?!" ucap gadis berambut blonde yang nampak bingung melihat kami bersama.
"Ya. Ada apa, Gwen?" tanya Russel pada gadis yang biasa disapa Gwen itu. Aku hanya tersenyum saja.
"Tidak biasanya kalian cuma berdua. Oh ya, kalian harus ke cafe sekarang! Ada Edgar di sana. Katanya ia akan bernyanyi. Sayang kalau dilewatkan!" jelas Gwen dengan mata berbinar-binar.
"Maksudmu Edgar Juan Henley? Bukankah ia sedang mengikuti lomba bernyanyi di luar kota?" ujar Russel memastikan.
"Dia baru kembali kemarin. Baiklah, aku duluan!" ujar Gwen kemudian pergi.
Aku dan Russel kembali meneruskan langkah. Tak ada niat sedikitpun dari kami untuk melihat pertunjukan Edgar Juan Henley di cafe. Lagipula aku tidak begitu kenal yang mana orangnya. Kami hanya habiskan sepanjang perjalanan pulang dengan obrolan seputar kuliah.
__ADS_1
...*****...
"Riza, Eriza ...," suara bibi Jane membahana di dalam rumah.
Aku yang sedang belajar di kamar segera turun menemuinya.
"Ya, aku datang!" sahutku.
"Ada apa, Bibi?" tanyaku pada bibi Jane yang duduk di ruang tamu.
"Ada kiriman untukmu, sayang! Ini!" jawab bibi Jane sembari menyodorkan sebuah amplop merah maroon padaku.
Aku menerimanya setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Kemudian kembali masuk ke dalam kamar.
Ku bolak-balikkan amplop tanpa nama pengirim itu. Kemudian membukanya. Isinya beberapa lembar kartu pos dengan gambar ikon-ikon dari kota New Angeles.
Aku mendesah. Apa maksudnya? Siapa orang iseng yang mengirim begini banyak kartu pos untukku? Pertanyaan itu muncul dari dalam kepala. Saat aku mengeluarkan semua kartu pos itu dari dalam amplop, tiba-tiba secarik kertas lepas dari tanganku lalu melayang jatuh di atas lantai. Aku memungutnya. Membuka kertas yang terlipat dua. Nampak tulisan tinta hitam tergores di atas kertas. Tertulis, 'a**ku merindukanmu!'.
Sekarang aku jadi dongkol. Tahu siapa yang muncul dalam kepalaku? Alex. Aku yakin ini pasti ulahnya. Aku akan membicarakannya nanti jika dia meneleponku. Ku masukkan kembali semua kartu pos itu ke dalam amplopnya. Dan menyimpannya ke dalam laci meja di bagian paling bawah. Lalu aku kembali meneruskan kegiatan belajarku.
...****************...
Pagi ini Russel datang ke rumah. Katanya untuk mencari ku. Sienna mengatakannya padaku begitu aku turun. Jelas aku bingung untuk apa Russel kemari. Aku keluar dan melihat Russel sedang duduk menunggu di teras depan. Aku segera menghampirinya.
"Russel?" panggilku.
"Motormu sudah beres?" tanyaku begitu mendapati motor matic yang biasa dia pakai terparkir di halaman.
"Iya," jawab Russel.
"Lantas ada keperluan apa mencari ku pagi-pagi begini?" tanyaku heran.
"Em ... Menjemputmu untuk ke kampus sama-sama," jawab Russel malu-malu.
"Hah?" Aku melongo. Tumben sekali.
"Tapi, aku biasa pergi bersama Sienna! Tak mungkin aku tinggalkan dia sendiri, kan!?" kataku.
"Kalian berangkat duluan saja! Suzan akan datang 15 menit lagi!" Sienna berseru dari dalam ruang tamu.
Aku menoleh ke dalam. Di mana Sienna sedang duduk dengan tenangnya di sofa. Ia tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata. Sepertinya ada yang tak beres.
"Jadi, kita bisa berangkat sama-sama, bukan!?" Russel memastikan sekali lagi. Kali ini aku tak punya alasan untuk menolak.
__ADS_1
"Baiklah kamu menang. Tapi kita tidak akan pergi sekarang. Ini masih terlalu pagi!" ujar ku.
"Masuklah dulu!" ajak ku lalu memutar badan kembali ke ruang tamu. Duduk bersama Sienna. Russel mengikuti dan duduk bersama kami.
...******...
Usai mengikuti kelas pertama, aku menuju ke loker. Membuka pintu loker kemudian memasukkan beberapa buku mapel yang sudah tak dipakai. Setelah itu menutup pintu loker kembali. Aku baru akan beranjak pergi namun sontak dibuat terkejut dengan sosok pemuda yang entah kapan berada di sebelahku. Pemuda itu sedang sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam lokernya. Kebetulan lokernya berada di sebelah lokerku. Merasa aku memperhatikannya, ia berhenti dan menoleh padaku. Kemudian melemparkan senyum padaku. Tapi aku tak menggubrisnya, malah pergi begitu saja.
Aku mencoba mengingat-ingat siapa pemuda pemilik loker di sebelahku itu. Aku memang tidak pernah melihatnya atau memang tidak pernah memperhatikannya? Aku pun jadi bingung.
Aku menggelengkan kepala tak mau ambil pusing. Dan segera menuju ke kelas berikutnya. Di dalam kelas tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan dua orang gadis yang duduk di belakangku, Felma dan Cristy.
"Aku dengar Edgar berhasil meraih juara kedua di kompetisi bernyanyi yang dia ikuti di luar kota, ya?" tanya Felma.
"Iya. Semua orang di kampus juga sudah tahu," jawab Cristy.
"Aduh ... sudah tampan, pintar di kampus, dan jago bernyanyi lagi! Benar-benar penuh prestasi." puji Felma.
"He-em. Dia sampai membuat pertunjukkan bernyanyi di cafe untuk merayakannya bersama kita. Sangat disayangkan kalau ada yang melewatkan pertunjukannya itu kemarin," Cristy menimpali.
"Ya benar. Oh, andai saja Edgar bisa jadi pacarku," Felma berandai-andai.
"Jangan bermimpi! Kamu tahu ada berapa banyak gadis yang berdiri lebih dulu di depanmu?" ujar Cristy.
"Sedikit berharap tidak apa-apa, bukan?!" balas Felma.
"Memang tidak. Tapi kamu pasti akan kalah saing mengingat betapa banyaknya surat cinta yang terselip di dalam lokernya," Cristy berujar dengan tawa cekikikan.
"Loker? Hei, tidak ada salahnya menambah satu surat cinta lagi, bukan? Siapa tahu aku bisa jadi pertimbangan. Dia mau membacanya saja aku juga sudah senang," kata Felma.
"Semoga beruntung saja!" Cristy menambahkan.
"Namanya juga berusaha. Kalau aku tidak salah ingat lokernya nomor 164, bukan!?" tanya Felma.
"Iya," jawab Cristy.
Aku tersentak begitu mendengar nomor loker yang disebut Felma. Bagaimana tidak?! Itu berarti pemuda yang kulihat tadi yang berada di sebelah lokerku adalah Edgar. Edgar Juan Henley!?
Ini sungguh mengejutkan, sebab selama ini aku tidak pernah tahu pemilik loker di sebelahku. Yang aku tahu malah sering para gadis-gadis kampus yang berdiri di sana sambil berbisik dan tertawa-tawa tidak jelas. Wajar juga ku kira karena Edgar memang jarang sekali terlihat. Aku pun jarang memperhatikan. Baiklah, aku tak mau memikirkannya lagi. Yang jelas sekarang aku sudah tahu.
bersambung ....
╔═.✵.═════════════════╗
__ADS_1
"Sudah sampai bab 20,nih! Jangan lupa dukungannya dengan memberikan tanda suka, favorit, atau gift, ya! Eits, jangan diboom like tapi ya, cukup like 20 bab perhari. Supaya jumlah dukunganmu tetap masuk ke hitungan Top Fans. Terima kasih!"
╚═════════════════.✵.═╝