
Matahari sudah mulai meninggi saat Sienna membangunkan ku dari tidur.
"Riza, bangun! Kita tidak boleh melewatkan waktu makan bersama untuk terakhir kalinya."
Sesungguhnya aku masih sangat ngantuk. Setelah seharian jalan kemarin. Badanku rasanya pegal-pegal. Namun ku paksakan mata untuk terbuka juga.
"Memangnya sekarang jam berapa, sih?" tanyaku dengan malas.
"Jam 7.30. Masih ada waktu satu jam. Makanya sekarang bangun, mandi dan siap-siap. Aku tidak mau kalau sampai terlambat," jawab Sienna.
"Iya ... iya," kataku sambil beranjak turun dan langsung menuju kamar mandi.
Ritual dalam kamar mandi selesai hampir tiga puluh menit. Aku keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian. Merapikan rambut serta memoles wajah. Hari ini tak ada semangat sama sekali. Rasanya capek sekali. Sedangkan Sienna yang telah siap dari tadi menunggu dengan tidak sabar.
Tepat pukul 8.30 aku dan Sienna meninggalkan kamar. Tujuan kami sekarang ke restoran yang berada di lantai dasar hotel ini.
Setibanya di restoran terlihat rombongan Mr. Mark sudah menunggu di mejanya. Kami berdua lalu menghampiri mereka. Sebelumnya sudah tersedia dua kursi kosong untukku dan Sienna.
"Selamat pagi, semuanya! Maaf kami terlambat!" ucap Sienna.
"Tidak masalah. Kami juga baru sampai. Mari, silahkan duduk!" jawab Mr. Mark dengan ramah.
Aku dan Sienna duduk di kursi yang sudah disiapkan. Tempat duduk yang sudah diatur pastinya, yang bersebelahan dengan Justin dan Alex. Sienna tentunya akan memilih duduk di sebelah Justin. Sementara aku mau tak mau harus duduk di sebelah Alex.
"Kalian belum memesan makanan?" tanyaku. Karena meja masih nampak kosong.
"Kami menunggu kalian berdua," jawab Alex.
"Kalian lama sekali datangnya. Aku bahkan menunggu sampai kelaparan," gerutu Vanessa dengan ketus, yang duduk di sisi lain Alex.
"Vanessa, baru lima menit kita duduk di sini Eriza dan Sienna sudah datang! Kalau memang kamu lapar mengapa tidak memesan makanan duluan?!" tegur Alex dengan pelan.
"Oh, maaf kalau kami terlambat dan membuat kalian menunggu!" kataku tidak enak.
"Sudah ... Sudah ... Sebaiknya sekarang kita mulai pesan makanan," ucap Mr. Mark akhirnya.
Ia mulai menyodorkan buku menu pada kami. Sambil berkata, "Pesanlah apa yang kalian suka! Untuk kali ini aku yang akan bayar!"
"Wow, anda serius Mr. Mark?" tanya Justin bersemangat.
"Tentu. Tapi dengan catatan makanan yang kalian pesan, tidak masalah mau berapa banyak harus dihabiskan! Tidak boleh meninggalkan sisa," jawab Mr. Mark dengan senyum khasnya.
"Asyik! Makan sepuasnya!" kata Justin dengan senangnya.
__ADS_1
Mereka semua menyambut tawaran Mr. Mark dengan antusias. Dan mulai sibuk memilih menu makanan.
Aku melihat daftar menu yang tertera di buku. Semuanya makanan yang cukup 'berat'. Aku tidak terbiasa sarapan dengan makanan yang tinggi karbohidrat. Jadi, aku lebih memilih roti bagel sebagai sarapanku. Dengan segelas coklat hangat sudah cukup membuat perut kenyang hingga siang nanti.
"Eriza, kamu hanya makan itu saja? Apa bisa mengenyangkan?" tanya Alex dengan heran.
"Aku terbiasa sarapan dengan roti. Ini cukup mengenyangkan sampai nanti siang," jawabku.
"Wah, hebat sekali. Kalau aku hanya mampu tahan satu jam saja," ujar Alex.
"Bilang saja sedang diet. Takut badannya gemuk, ya? Jadi, hanya berani makan secuil roti saja?!" ejek Vanessa mulai lagi dengan ocehannya.
"Maaf ya ... Nona Vanessa, anggapanmu salah. Kami memang tak terbiasa sarapan dengan porsi besar sepertimu. Di rumah kami biasanya memulai sarapan pagi dengan roti atau sereal saja. Jadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan diet," ujar Sienna yang geram dengan tingkah Vanessa.
"Sudah, jangan bertengkar saat sedang makan. Vanessa, sudah aku katakan padamu agar menjaga sikapmu. Mereka adalah tamu kita. Makanlah makananmu sendiri, jangan urusi orang lain!" gertak Alex yang tak suka dengan ucapan Vanessa.
Vanessa pun terdiam tanpa berkata lagi. Semuanya kembali sarapan dengan tenang. Sesuai permintaan Mr. Mark, semua remaja itu menghabiskan makanannya tanpa sisa. Mr. Mark juga senang melihatnya. Bahkan Justin makan sampai kekenyangan.
Selesai makan Alex memutar badannya menghadap kearahku. Ia berbicara padaku.
"Eriza, mau jalan-jalan sebentar denganku? Hanya sekitaran hotel ini saja. Please ...!" kata Alex sambil memohon.
Awalnya aku diam. Tapi kupikir ini permintaan terakhirnya jadi ku iyakan. Aku mengangguk padanya. Dan Alex begitu girang.
"Pergilah bersenang-senang! Jangan lupa kumpul jam dua nanti di depan hotel kuharap kalian sudah berkemas," ujar Mr. Mark mengingatkan.
"Tentu, beres semuanya," balas Alex.
"Trims, Mr. Mark untuk sarapannya," Tak lupa aku juga berterima kasih padanya.
"Sama-sama, Eriza!" balas Mr. Mark.
Setelahnya aku dan Alex meninggalkan restoran. Alex selalu berusaha mensejajarkan langkahnya denganku. Kami berjalan-jalan di taman sambil mengobrol.
"Eriza ...."
"Riza saja!"
"Oh, baiklah. Riza."
"Ya?"
"Tak terasa liburanku sudah habis. Cepat sekali rasanya berada satu minggu di sini. Tapi, ugh ... bukan itu yang mau ku bicarakan," kata Alex dengan serba salah. Aku bahkan tak mengerti arah pembicaraannya.
__ADS_1
"Sebenarnya begini, aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Itu saja, aku sangat menyayangkan harus pulang hari ini. Padahal aku masih ingin menghabiskan waktu di sini, terutama bersamamu ....." ucapan Alex melambat diujung.
"Memangnya kenapa kalau bersamaku? Tujuan wisata kalian kan berbeda denganku," kataku bingung.
"Ya, memang. Tapi, entahlah aku merasa senang bicara denganmu. Apa mungkin ini yang namanya ... suka?" tanya Alex.
"Suka? Kita bahkan baru kenal. Bagaimana bisa kamu langsung suka padaku?" tanyaku sambil tersenyum.
"Riza, kamu tahu namanya Love at the first sight?! Aku pikir aku sedang mengalaminya saat ini," jawab Alex dengan begitu dramatisir.
Aku tertawa lucu mendengarnya.
"Alex, kamu ini sedang curhat atau mengungkapkan perasaan, sih? Aku jadi bingung. Sudahlah, sebaiknya kamu siap-siap dan berkemas saja. Masih ada sedikit waktu untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal di kamar hotel!" kataku sambil membalikkan badan hendak pergi.
"Riza, tunggu! Dengarkan aku dulu. Please!" kata Alex yang dengan cepat menahan tanganku.
"Oke. Bicaralah!" Aku berbalik dan menunggu.
"Riza, aku serius. Aku benar-benar suka padamu. Dari awal berkenalan denganmu! Aku mulai memikirkanmu sampai sekarang," kata Alex dengan sungguh-sungguh.
"Lalu?" tanyaku santai.
"Aku hanya berharap, apa mungkin kamu mau menerimaku ... ya ... sebagai ... pacarmu ... begitu? " kata Alex dengan terputus-putus.
"Tidak."
"Apa? Riza, serius!" Alex berkata dengan memelas.
"Tidak. Alex, kita baru kenal. Dan aku bahkan tidak tertarik maupun punya perasaan lebih terhadapmu. Sedikitpun tidak!" Aku menegaskan.
"Oke, oke. Tapi, tolong beri aku kesempatan. Setidaknya kita bisa berteman, kan? Mungkin aku akan mengunjungimu di Losta sekali-kali. Dan kita bisa pergi jalan atau makan sama-sama. Aku boleh tetap menghubungimu, kan?" kembali Alex berkata dengan penuh harap.
"Oke. Tidak masalah jika aku belum menemukan orang yang bisa meluluhkan hatiku. Tapi aku tidak menjamin akan tertarik padamu," kataku.
"Aku pasti akan menyingkir bila ternyata kamu menemukan orang yang lebih baik daripada aku," ujar Alex.
"Kuharap kamu bisa memegang ucapanmu tadi!" kataku serius.
"Pasti. I'll promisse!" balas Alex dengan mengangkat kedua jari membentuk peace.
"Baiklah, jika sudah tidak ada yang mau kamu bicarakan aku ingin kembali ke kamar. Aku merasa lelah sekali. Sienna pasti sedang bersama Justin. Aku akan menemui kalian jam 11 siang nanti," kataku pada Alex sambil berjalan meninggalkan taman.
"Biar kuantar sampai kamar. Nanti siang aku tunggu di lobby, ya! Aku sangat sedih harus pulang hari ini!" ucap Alex namun aku tak menanggapinya. Aku ingin segera sampai di kamar dan tidur saja.
__ADS_1
bersambung ....