
Seperti yang sudah di sepakati bersama Saka tadi malam.
Sam yang akan selalu mengantar dan menjemput Malika di dan dari sekolah.
Enak bener jadi Alfian ya, lima tahun yang lalu, ketika dia sedang proses cerai dengan istri pertamanya, dia mengirim Saka untuk di jaga dan diawasi pendidikannya di negara tetangga sampai selesai, nah sekarang, anak yang terlahir dari istri keduanya sudah bersekolah, Sam lagi yang disuruh antar jemput.
Yang punya anak sebenarnya siapa sih ?
Eh, tunggu dulu ! Kalau tidak ada Malika, bagaimana Sam mempunyai alasan untuk mengejar ibu guru Aisyah yang kata Alfian, cantik.
Menurut Sam, ya cantik juga, kalau ada yang bilang enggak cantik, pasti sirik.
Lebih pagi dari biasanya Lika akan segera diantar ke sekolah, Sam sudah menunggu di meja makan.
" Kakak ipar, bisa minta tolong Malika dipersiapkan lebih cepat, agar tidak terlambat "
Sam menyapa Dinda yang masih mempersiapkan bekal untuk Malika.
Dahi Dinda berkerut dalam.
" Biasanya Saka yang mengantar Om "
" Mulai sekarang, aku yang mengantar kakak ipar "
Sam tidak mau lagi protes pada Dinda kenapa dia terus memanggil Sam dengan Om, karena dia gak tahu mau memanggil Sam dengan sebutan apa, kalau memanggil nama saja, sangat tidak sopan.
__ADS_1
Meskipun Sam adiknya Alfian, tetapi usianya sudah dua kali lipat dari usia Dinda, anggap saja Dinda sedang mengajari Malika.
Dinda ingin membuka mulutnya lagi tapi Saka yang juga baru memasuki ruangan makan memberikan isyarat dengan gelengan kepala pelan tanda jangan bertanya apa pun lagi.
Dengan gayanya yang gagah, tangan kokoh Sam menggandeng tangan mungil Malika untuk diantar ke sekolah.
" Kenapa dia cepat sekali pergi mengantar Malika, apa dia yang menggantikan petugas kebersihan sekolah itu "
Sarkas Alfian mulai menggeser kursi yang juga baru memasuki ruang makan.
" Biarkan Om Sam berkembang Pa, dia sudah terlalu tua untuk terus membujang " Saka tertawa kecil.
" Kau sendiri, kapan mulai mengejar cinta "
Alfian melirik sekilas ke arah Dinda, tapi Dinda-nya bersikap acuh.
Saka dengan gaya santainya, mengecap teh di hadapannya.
...*****...
Jam tujuh tepat Sam sudah sampai di depan sebuah sekolah Taman kanak-kanak.
" Itu ibu Aish "
Malika menunjuk seorang perempuan muda yang berjalan mendekati gerbang sekolah.
" Lika, Pak, eh Om.... Pagi sekali mengantar Malika "
__ADS_1
" Tidak Apa apa bukan, dari pada terlambat "
Sam mensejajari langkah kaki Aisyah yang mendekati pintu ruang kelas Malika.
Aisyah mengulurkan tangannya bermaksud untuk mengambil alih tangan Malika agar Aisyah saja yang membimbing Malika masuk kedalam kelas, dan Sam sudah boleh pergi, tapi Sam tidak mau kehilangan momen yang tidak mungkin terulang kembali, Sam dengan cepat menyambar telapak tangan Aisyah.
" Oh, Bu Aish mau berkenalan dengan saya secara resmi, boleh.
Kenalkan, Sam, hanya Sam, adik satu-satunya dari Papanya Malika, sepertinya orang tua kami sedang malas mencarikan nama untuk saya, makanya cuma diberi nama Sam "
Aisyah melongo, Malika apa lagi, mentang mentang dia kecil, dikacangi.
" Jangan melongo bu Aish, saya tahu kalau saya tampan "
Sam mengedipkan sebelah matanya genit.
Wajah Aish memerah, belum pernah seumur hidupnya di godain pria matang seperti Sam.
" Bu-bukan Om, maksud saya..."
" Gak apa apa, santai saja, saya gak bakalan bilang siapa siapa, iyakan Lika "
Malika hanya mengangguk anggukkan kepalanya.
Din, bahayya, anakmu di berikan tontonan cara merayu, hati hati Al !
...******...
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...