
Alfian pulang dari bermain golf masih dengan wajah manyunnya.
Ketika bersama Robert dan relasinya, Alfian bisa bersikap netral, dan memberikan senyum seperti biasanya tetapi saat kembali ke rumah, wajah Alfian kembali tidak enak dipandang.
Dinda tahu suaminya cemberut karena apa, Dinda tetap selow, kapan lagi dia menikmati kecemburuan Alfian yang belakangan ini absen setelah kasus Dinda yang mau pulang ke rumah orang tuanya.
Mengikuti suaminya sampai ke dalam kamar, menyiapkan pakaian ganti tanpa berbicara setelah itu menelepon bang Agam, menanyakan bagaimana keadaan Malika di sana.
Melihat itu, tentu saja Alfian semakin jengkel.
" Din, kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu pada Mas ? " Alfian sudah tidak tahan untuk terus berdiam diri karena sepertinya Dinda sama sekali tidak berniat untuk menjelaskan apa pun juga.
" Menjelaskan apa ? "
Dinda hanya menatap datar pada Alfian yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk.
Alfian semakin jengkel.
" Kamu dan Saka ? " Suara Alfian menggeram.
" Kamu masih cemburu dan tidak mempercayai kami, Mas ? "
" Bu-bukan begitu maksud Mas, coba kamu pikir dari sisi Mas, bukan dari sisimu "
" Pakailah baju Mas ! jangan terus memperlihatkan tubuhmu, sudah lima tahun Dinda melihatnya "
Dinda menyerahkan baju yang sudah diambilnya tadi.
Alfian tidak terpengaruh dengan ucapan yang baru Dinda katakan.
" Dinda cuma mengatakan pada Saka "
Dinda melirik ke arah Alfian yang masih belum memakai bajunya.
Terkadang Dinda merasa iba terhadap Alfian, mungkin benar, perbedaan usia yang sangat banyak membuat Alfian terlalu cemburu, kebebasan yang dijanjikan oleh Alfian memang ditunaikannya tapi wajah Alfian terlihat tertekan.
Dinda memakaikan kaus oblong polos pada Alfian, persis seorang ibu kepada anak laki lakinya.
Dan Alfian terus menunggu kelanjutan ucapan Dinda.
" Jauh jauh Yasmin datang kemari, bukan tanpa sebab, tidak akan ada perempuan yang mau mengarungi perbatasan antar negara, walaupun tidak terlalu jauh hanya untuk yang namanya teman, apalagi dia wanita Melayu.
Saka terlalu bodoh atau masih belum yakin dengan perasaannya ? Entahlah "
__ADS_1
Dinda menaikkan kedua bahunya.
" Dinda hanya membisikkan kata, jika Saka hanya menganggap Yasmin sahabat, Dinda akan menyocokkan Yasmin dengan bang Agam "
Dinda mengedipkan matanya genit kearah Alfian yang wajahnya masih mengetat.
" Hanya itu ? "
" Iya Mas, hanya itu, dan Mas bisa lihat sendiri bukan ? Dia langsung membawa Yasmin jalan jalan "
Dinda tertawa kecil.
Pelan pelan Alfian menghembuskan napas lega.
" Jangan cemburuan terus, itu sangat tidak baik dengan kesehatan jantungmu Mas "
ucap Dinda sebelum keluar kamar dan meninggalkan Alfian yang masih belum memakai bawahannya.
" Dia menganggap aku sudah tua " Gerutu Alfian sembari memakai celananya.
...*****...
Mobil yang Sam kendarai sudah berhenti tepat di depan rumah orang tua Aisyah.
" Kenapa, mau ikut saya pulang ? " senyum Sam mulai mencandai Aisyah.
" Bukan ? itu ada sepupuku, tau gitu muter muter dulu baru pulang "
Wajah Aisyah cemberut.
Sejak malam lamaran yang Sam lakukan lima hari yang lalu, Nonik seakan memusuhinya.
Tidak ada lagi Nonik datang kerumah orang tua Aisyah seperti biasa atau sekedar berbalas pesan seperti i mereka lakukan selama ini, dan kalau tiba tiba hari ini muncul tanpa pemberitahuan, Aisyah kuatir pertanda kurang baik.
" Kalian sedang bertengkar ? Jangan katakan karena memperebutkan saya "
Aisyah melotot
Sam terkekeh.
" Jangan suka melotot gitu dengan calon suamimu, nanti cepat jatuh cinta lho, terus saya berjuangnya kapan ? "
Hadeuh, rasa percaya diri Om Sam berada pada level yang memprihatinkan.
__ADS_1
" Om, aku serius "
" Oke, apa masalahnya "
Sam kembali ke style awalnya yang tenang.
" Dia menganggap aku membohongi-nya, karena..."
Aisyah diam, masih terlihat ragu hendak menyampaikan apa tujuan Nonik, bagaimanapun Nonik adalah sepupunya.
" Katakan saja, sebentar lagi kita akan menikah, tidak perduli kamu belum menyukai saya, saya pastikan itu tidak akan lama, dan hanya pada saya orang yang tepat untuk kamu menceritakan semuanya "
Sam menatap serius pada wajah Aisyah.
Benar apa yang dikatakan Sam, Aisyah tidak membutuhkan orang lain lagi untuk berbagi rahasia selain kedua orang tuanya tentunya.
" Nonik...."
Sam tersenyum tipis mendengar apa yang Nonik rencanakan.
" Untuk apa dia mengejar Saka jika dia sama sekali tidak menyukainya, dan dia pikir dirinya siapa yang bisa menaklukkan hati kami, jangan samakan dirinya dengan Dinda "
Sam berbalik menatap Nonik yang masih menunggu di beranda.
" Jadi kamu menerima saya buru buru takut Nonik mendekati saya ? tandanya kamu menyukai saya, kamu saja yang terlalu gengsi "
Sam menaikan alisnya sebelah.
" Jangan pede ! "
" Dari pada rendah diri "
" Pura pura gak tahu kalau aku sudah menceritakan semua "
" Tenang saja, saya bukan anak kecil, saya gak turun "
Aisyah mengangguk.
Mengambil semua belanjaan di kursi belakang, lalu berjalan menuju teras setelah mobil yang Sam kendarai perlahan meninggalkan halaman rumah orang tua Aisyah.
" Enak ya calon suami orang kaya, belanjanya banyak, pasti mahal mahal " Sarkas Nonik mengikuti langkah kaki Aisyah masuk ke dalam rumah.
...******...
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...