
Aisyah menjadi sangat tidak enak, dia menjadi merasa canggung sendiri karena tertangkap basah berdebat pelan dengan Nonik tadi.
Tetapi walaupun begitu dia berusaha melayani Sam dengan mengambilkan makanan untuk Sam.
Dinda sendiri menghindari kontak mata dengan Nonik, dia tidak perlu beramah tamah dengan Nonik karena perempuan itu memang tidak pantas mendapatkannya.
Dinda lebih memilih berbicara pelan pada Alfian atau pada Yasmin yang duduk di sebelahnya, Dinda duduk di apit oleh Alfian dan Malika, tetapi karena Malika-nya di temani sarapan dengan Tika, Yasmin yang diminta duduk mendekat.
Saka lebih banyak diam atau sesekali berbicara pelan pada Yasmin tentang teman teman mereka ketika dulu di kampus, sehingga Nonik tidak memiliki celah untuk mengajaknya berbicara.
Aisyah, tentu saja dia lebih memilih berbicara dengan Sam, walaupun dia belum tahu bagaimana perasaannya terhadap Sam, tetapi Sam sekarang sudah menjadi suaminya dan Aisyah merasa nyaman.
Apalagi Sam tipe pria yang sedikit santai, hanya saja sedikit menyebalkan.
Alfian sama sekali tidak pernah berbicara pada Nonik, Alfian bukanlah tipe pria yang ramah dan murah senyum, dia tersenyum hanya seperlunya saja, wajahnya lebih banyak kaku seperti robot.
Sarapan pagi dilalui dengan cukup damai karena tidak ada satupun yang mengajak Nonik berbicara.
" Bang "
Aisyah yang mengekori langkah kaki Sam menuju kembali keruangannya, kenapa Nonik tidak bisa masuk ke wilayah pribadi milik Sam maupun Saka ? Ya, selain ruangan mereka selalu tertutup rapat yang ada cuma ruangan bersantai merangkap ruangan kerja, kamar lalu balkon yang berada di sudut kamar.
Untuk ke balkon tentu saja harus masuk kekamar dulu, karena memang balkon hanya diperuntukkan bagi siapa yang menjadi pemilik kamar.
Rumah induk tetaplah Alfian dan Dinda yang menempati, jadi tidak bisa Nonik masuk ke dalam wilayah pribadi Saka, apalagi wilayah Sam, walaupun Aisyah sepupunya kecuali ia berniat menggantikan tugas mbak Sri untuk bersih bersih.
" Hem "
Sam menepuk nepuk tempat di sebelahnya
" Mau mengajak berbulan madu ? "
" Bukan, Nonik meminta aku agar menanyakan pada Abang, apakah ada lowongan pekerjaan, eh maksudnya..."
__ADS_1
" Dia mau bekerja di perusahaan milik Alfian ? "
Potong Sam cepat.
Aisyah tersenyum sungkan lalu mengangguk, Aisyah sangat malu, sangat terlihat jika dia hanya manfaatkan kesempatan, tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak Nonik terus meneror-nya dan tidak mau pergi dari rumah Dinda.
Sam mendesah jengah.
" Bilang pada sepupumu, kalau dia ingin bekerja, ajukan surat lamaran pekerjaan dan penuhi semua persyaratan seperti yang lainnya, kalau mengambil jalur khusus, maaf ! Suamimu dan Saka hanya keluarga tapi bukan pemegang kekuasaan, pemilik tunggal tetaplah Alfian.
Masalah dia akan diterima atau tidak tergantung bagian HRD, dan jangan coba coba mendekati Alfian jika tidak ingin dia dipermalukan oleh suami Dinda "
Perkataan Sam bukan hanya sekedar memberi peringatan tetapi seakan sebuah tamparan, wajah Aisyah menahan malu sekaligus marah, gara gara Nonik dia harus mendengarkan ucapan tajam dari mulut suami yang baru sehari menjadi suaminya.
" Kalau sepupumu itu membandingkan dirinya dengan Yasmin, buang jauh jauh ! Saka membutuhkan skill Yasmin untuk membantu pekerjaan dan dia juga membutuhkan kekasihnya secara pribadi, jangan samakan dirinya dengan Yasmin, apalagi dengan Dinda "
Aisyah menundukkan kepalanya, semua benar benar diluar dari ekspektasinya.
"Maaf, Bang, aku hanya ..."
" Tapi aku gak enak dengan keluarga ini, dia tidak mau pergi sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya, maaf "
Sam merengkuh bahu Aisyah.
" Menghadapi orang seperti sepupumu itu harus kuat, jangan terlihat lemah sehingga mudah untuk intimidasi.
Biarkan dia ! Sampai kapan dia bertahan di rumah ini.
Dinda dan Alfian serta anaknya, akhir pekan seperti ini biasanya mereka berjalan jalan membawa Malika bermain.
Saka dan Yasmin ? Tentu saja berkencan "
Sam tertawa kecil, Saka kencan ? yang benar saja, hari ini dia dan Yasmin akan mencari kos kosan setelah tertunda akibat kesibukan di kantor.
__ADS_1
Benar yang diucapkan Saka, perempuan seperti Nonik tidak cocok untuk Saka.
Saka, Dinda dan Alfian, menjalani hari hari tidaklah gampang seperti yang orang orang melihat mereka dipermukaan saja, setiap hari mereka bertiga harus saling menjaga perasaan masing masing, terutama Alfian dan Dinda.
Alfian tidak bisa bertingkah mesra pada Dinda diluar kamar mereka seperti pada umumnya pasangan lain, walaupun hanya sekedar panggilan sayang.
Saka berhak mendapatkan perempuan yang benar benar baik, mungkin Yasmin, perempuan yang cocok untuk Saka.
" Dan kita...."
Jemari tangan Sam mulai merapikan anak rambut yang sama sekali tidak berantakan, lalu menyelipkan di belakang telinga Aisyah.
" Kita pengantin baru, tentu saja berada di dalam kamar saja "
Bisik Sam di telinga Aisyah.
Seketika seluruh permukaan kulit Aisyah meremang.
" Bang, perjanjiannya tidak seperti itu " Aisyah menggeser duduknya, tapi pinggangnya cepat ditarik oleh Sam.
" Perjanjian dibuat untuk dilanggar, sayang "
Sam menakut nakuti.
Aisyah mendadak pucat, dia masih sangat takut, benar benar takut sehingga kepalanya menggeleng berkali kali.
Sam tergelak.
" Gitu aja takut, kita disini saja nonton TV, anggap saja berkencan dengan gratis, kalau kita jalan jalan nanti sepupu kamu ikut "
Ujar Sam menepuk nepuk bahu Aisyah menenangkan.
Huh, Aisyah menghembuskan napas lega.
__ADS_1
...*****...
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...