Pasangan Beda Usia

Pasangan Beda Usia
Om Sam ( 6 )


__ADS_3

Dinda terlihat buru buru mempersiapkan Malika untuk pergi ke sekolah, sebenanya tidak harus Dinda yang mengurus segala sesuatu untuk Malika juga tidak apa apa, masih ada Tika yang memiliki banyak waktu senggang, tetapi Dinda mau di masa tumbuh kembang Malika di masa keemasannya, ia mendapatkan kasih sayang dan kepengurusan langsung oleh Dinda, walaupun Alfian kerap komplain karena sedikit terabaikan.


" Din, suamimu juga membutuhkanmu bukan hanya Malika, biarkan Tika yang menyisir rambutnya ! "


Alfian sengaja tidak mengancingkan pengait kemejanya, ia ingin Dinda yang melakukan.


" Mas, masa sama anak sendiri kamu gak mau ngalah, terus cemburu "


Kepala Dinda miring ke kanan dan ke kiri, apakah kuncir dua yang dibuatnya sudah simetris atau tidak, Alfian yang melihatnya jadi gemes sendiri.


" Lika tunggu Mama diluar ya, minta mbak Tika menyiapkan bekal, Om Sam sudah menunggu di meja makan, Mama mau mengurus bayi besar dulu " Ujarnya memberikan kedipan mata pada Malika.


Malika mengangguk, matanya melihat ke arah wajah Papanya yang terlihat cemberut, gadis kecil itu menutup mulutnya sembari terkikik kikik geli.


" Sudah tahu suamimu bayi besar, harusnya suamimu yang kamu urus, kalau Malika akan banyak orang yang mengurusnya, untuk apa Tika diberikan gaji kalau semua pengurusan Lika, kamu yang menghandle, berbeda dengan mas, mas hanya bisa kamu yang mengurus " Alfian ngomel ngomel.


Semakin bertambah usia Alfian, Alfian semakin cerewet, semua keperluannya harus Dinda yang turun tangan, dia tidak mau Dinda mengabaikannya.


Sepertinya Alfian dalam masa periode krisis kepercayaan, usianya sudah memasuki setengah abad, sementara Dinda baru juga berusia dua puluh tiga tahun lewat dikit.


Dinda harus banyak banyak bersabar menghadapi Alfian yang semakin tergantung pada Dinda, apalagi jika Dinda mengingat isi tausiah dari ustadz kondang yang didengarnya lewat aplikasi YouTube, bahwa seorang suami itu bayi besar, urus dulu suamimu, baru anakmu.


Kalau anakmu yang sedikit telat mengurusnya, paling juga menangis, tapi kalau suamimu ? bisa saja dia pergi mencari perempuan lain yang mau mengurusinya, karena banyak perempuan perempuan di luaran sana yang mau menggantikan posisi kita.


Nauzubillah, jangan sampai terjadi.


" Iya Mas, kamu kan bos, gak harus pagi pagi juga ke kantor, siangan dikit-lah, kan ada Om Sam dan Saka, jadi bisa gantian, Dinda ngurusi Lika dulu, baru kamu, Mas "


Dinda mengancingkan semua kemeja Alfian.

__ADS_1


Alfian diam saja, matanya terus menatap wajah Dinda yang masih muda dan segar.


" Kaya' gini mau nambah anak lagi, semakin Dinda gak bisa ngurus kamu, Mas "


Dinda memberikan tepukan pelan ke dada Alfian pertanda tugasnya sudah beres.


" Mas pikir juga gitu, sudah ada Saka dan Lika, itu sudah cukup, saatnya semua waktumu untuk Mas "


Alfian berjalan keluar dari kamar menuju ke ruang makan, Dinda berjalan disebelahnya sembari membawakan tas Alfian.


...*****...


Aisyah sengaja menunggu kedatangan Sam yang akan mengantarkan Malika sampai kedalam kelas seperti biasanya.


Dia meremas jari jemari tangannya karena merasa gugup.


Omongan Nonik malam tadi membuatnya harus berani mengambil keputusan juga hari ini.


" Pa-pagi " Jawab Aisyah gugup.


Sam tidak melepaskan kaca mata hitam yang selalu bertengger di hidung mancungnya, jadi Aisyah tidak bisa melihat iris mata Sam langsung, kemana Sam melihat, mana Sam terlihat semakin keren lagi.


" Lika main main di depan sebentar ya, ibu mau bicara sebentar dengan Omnya Malika "


Aisyah mengelus pelan pundak Malika, gadis kecil itu nurut.


Kenapa setiap orang dewasa mau berbicara, Lika selalu di usir, tadi Papa dan Mama, sekarang Bu Aish dan Om Sam, mereka mau ngomong apa sih ?


Malika masih sempat menolehkan kepalanya ke belakang sebelum bergabung dengan temannya untuk bermain perosotan.

__ADS_1


Sam memiringkan kepalanya menatap Aisyah yang semakin gugup.


" Saya sudah memutuskan "


Ujar Aisyah cepat.


" katanya membutuhkan waktu seminggu untuk berpikir "


" Tidak perlu, saya sudah memikirkannya semalaman ini "


" Tadi malam gak bisa tidur ya ? "


Goda Sam, Aisyah melongo.


" Jangan sok tahu Om ! "


" Oke, maaf ! Apa keputusanmu ? "


" Saya menerima lamaran Om " Wajah Aisyah merah, dia sangat malu.


" Katanya kamu tidak suka pada saya, kok diterima ? "


" Itu urusan Om, bagaimana supaya saya suka pada Om "


Aisyah menghembuskan napas lega, semua kata kata yang dihapalnya dari rumah, keluar dengan sempurna.


" Oke, saya jamin kamu akan segera menyukai saya dengan tidak membutuhkan waktu yang lama "


Jawab Sam penuh percaya diri, melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kelas Aisyah.

__ADS_1


...*****...


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2