
Dinda dan Malika lebih dahulu pulang dengan mobil yang dikemudikan oleh Dinda sendiri, Aisyah hanya diam mengikuti langkah kaki Sam menuju ke mobilnya.
Membukakan pintu mobil di bagian penumpang, lalu mempersilahkan Aisyah untuk masuk, Sam memperlakukan Aisyah layaknya seorang putri, Aisyah yang mendapatkan perlakuan manis dari Sam hanya bisa menyembunyikan senyumannnya.
Ia belum puas untuk memberi pelajaran pada buaya tua itu.
Sam tetap santai, tidak terpengaruh dengan sikap Aisyah yang acuh acuh butuh.
" Ada yang ingin kamu sampaikan pada Abang, Aish ? "
Sam memulai pembicaraan setelah keduanya hanya diam sejak sepuluh menit yang lalu.
Sam menoleh sekilas menatap Aisyah yang duduk disebelahnya.
Aisyah menggeleng.
" Yakin ? "
" Iya bang ? "
" Apa yang kalian bicarakan pada Dinda, Abang mendengar semuanya, lalu untuk apa kamu sembunyikan dari Abang ? "
Aisyah sedikit terkejut, kedua matanya menyipit menatap Sam yang sekilas meliriknya tadi.
Benarkah dia sudah tahu kalau aku hamil ? Ah tidak mungkin, pasti dia menjebak diriku.
" Baguslah kalau Abang sudah tahu, jadi aku tidak perlu repot-repot memberitahukan pada abang "
Sam mau tertawa, tetapi ditahannya.
Bagaimana bisa dia mengikuti permainanku ? Ternyata dia tidak sepolos yang kupikirkan, baiklah kita lihat saja, siapa yang jadi pemenang dan terjebak dalam permainan ini.
Hingga mobil yang di kendarai Sam berhenti tepat di depan rumah, baik Sam maupun Aisyah sama sama masih terlarut dalam pikirannya masing-masing.
Sam mengikuti langkah kaki Aisyah hingga sampai ke dalam kamar.
" Abang gak kembali ke kantor ? "
Aisyah yang hendak menanggalkan pakaian kerjanya berbalik menatap Sam.
__ADS_1
" Kenapa ? "
" Kalau mbolos kerja, ntar gaji Abang gak jadi dinaikkan oleh suami Dinda, justru bisa bisa dikurangi, bagaimana mau membayar aku ? "
Sam tergelak.
Masih ingat saja dia dengan permintaannya sendiri.
" Iya, Abang ini mau kembali ke kantor, Abang cuma ingin memastikan kalau dirimu sudah sampai dengan selamat tanpa kurang satu apapun juga "
Sam mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya.
" Ini untuk kamu "
Ujar Sam sembari menyerahkan kotak beludru persegi panjang merah.
" Bukalah ! "
Aisyah membuka kotak pemberian Sam secara perlahan.
Terlihat satu set perhiasan, ada kalung bersama liontin berbentuk bandul berwarna putih, sepasang anting dan sebuah cincin dengan hiasan yang sama.
Aisyah tahu bandul itu adalah mutiara.
" Aku tidak sedang berulang tahun, untuk apa Abang memberikan aku hadiah ? "
Walaupun sebenarnya Aisyah tahu jika perhiasan yang diberikan Sam, pasti itu bentuk rasa bersalahnya dengan kasus cincin kemarin.
" Hadiah spesial untuk hari ini, Abang pergi ! Jaga dirimu baik-baik, banyaklah istirahat "
Sam mengedipkan matanya genit sembari berlalu dari hadapan Aisyah dengan bersiul riang.
Aisyah diam menatap punggung Sam yang berjalan keluar dari kamar.
Dia itu sebenarnya tahu enggak sih ?
...*****...
Sam bukan langsung berjalan keluar untuk kembali ke kantor, justru melangkahkan kakinya menuju kamar Malika, karena biasanya setelah Malika pulang dari sekolah, Tika akan menemani Malika istirahat atau kembali bermain di dalam kamarnya.
__ADS_1
" Tik, Mamanya Lika mana ? Ada di kamar ? Panggil dong ! Saya tunggu di ruangan Saka ya "
Ujar Sam melongokkan kepalanya di depan pintu yang terbuka
Perintah Sam sedikit pelan, tanpa menunggu jawaban dari Tika, Sam berlalu begitu saja seraya melangkah menuju ruangan pribadi milik Saka.
" Ada apa Om ? "
Dinda sudah berdiri di hadapan Sam yang sudah menunggunya duduk di sofa.
" Kamu pasti tahu Din, apa yang ingin saya ketahui "
Dinda terkekeh.
" Om, gak asik, cari tahu sendiri dong apa yang Aisyah sembunyikan, dapat pesan dari mantan pacar mungkin ? "
Dinda menaikkan kedua bahunya lalu kembali terkekeh sembari melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Saka.
" Din "
Sam mengikuti langkah kaki Dinda.
" Jangan memaksa ! Dinda gak mau menjadi teman yang berkhianat pada temannya sendiri, Om kan sudah berpengalaman, masa membujuk istri yang lagi ngambek baru segitu saja sudah nyerah, belikan saja perhiasan atau...."
" Sudah, tadi saya sudah memberikan perhiasan padanya "
" Terus ? Masih ngambek juga ? "
" Sepertinya, dia terlihat biasa saja, apa harus Om belikan mobil ? "
" Boleh juga "
" Ah tidak, nanti dia justru pergi kemana mana, Din, apakah dia sudah hamil ? "
Dinda bukannya menjawab, justru kembali tertawa.
Sam berjalan menuju ke luar, karena percuma mencoba mencari tahu dari Dinda, Dinda tidak akan mungkin memberitahukan padanya, tapi Sam cukup yakin jika apa yang dipikirkannya benar.
...*****...
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...