
Sam menautkan kedua alisnya hingga menyatu, Alfian, Dinda dan Saka masih menunggunya di ruang tamu.
" Ada apa ? Kenapa kalian semua belum tidur ? Ini sudah malam tidak baik untuk anak kecil "
ujarnya lucu lalu terkekeh.
" Apa yang kau bicarakan pada gadis itu sehingga membuatnya harus menunggu seharian "
Alfian buka suara.
" Bang " Sam melirik pada Saka dan Dinda, seperti sedikit enggan untuk mengatakan yang sebenarnya.
" Dinda yang menahannya seharian, jangan main rahasia pada Dinda Om ! " sela Dinda.
" Aku juga sudah Dewasa " tambah Saka.
" Kalian ini, aku sudah tua, kenapa kalian mau tahu saja urusan orang, tapi baiklah, aku melamarnya "
" Apa ? " Saka dan Dinda berbarengan bertanya.
" Diterima ? " Saka bertanya antusias.
Sam menaikkan kedua bahunya acuh, melangkah keruangan pribadinya, Saka mengikutinya dari belakang.
" Sudah tahu jawabannya ? Ayo tidur "
Alfian mencekal pergelangan tangan Dinda, membawanya masuk ke dalam kamar.
" Mas, tapi kenapa Om Sam terburu buru, kan bisa pacaran dulu "
" Kenapa kalian perempuan suka sekali hanya diajak bermain main, ada yang langsung ngajak serius justru dipertanyakan, sudah tidak perlu membahas Sam, sini ! "
Alfian menepuk nepuk bantal di sebelahnya.
Perlahan Dinda naik ke atas ranjang, pikirannya masih pada Aisyah, apakah gurunya Malika akan menerima lamaran dari Sam atau menolaknya.
" Tapi Mas, untuk menerima lamaran seorang pria setidaknya Aisyah harus mengenal terlebih dahulu Om Sam seperti apa, agar ada rasa suka "
" Din, ketika kita menikah, kita belum juga saling suka "Alfian menatap lekat wajah Dinda.
" Iya, yang ada dalam pikiran Mas kan cuma ***** "
Dinda mencebik.
" Jangan menyalahkan Mas, tubuhmu merespon dengan baik lho " Alfian menahan senyumnya.
" Sudah ah, jangan membahas yang sudah basi "
Alfian terkekeh.
__ADS_1
" Iya iya, kita bahas, bagaimana kalau kita memberikan adik untuk Malika "
" Hah ? "
...*****...
Saka terus mengekori langkah kaki Sam.
" Kau sudah seperti Malika saja, ingin tahu "
" Pasti di tolak, iya kan Om ? "
" Belum jelas, dia justru marah marah " Sam tergelak.
" Tapi percayalah, malam ini dia tidak akan bisa tidur.
Eh, perempuan yang bernama Nonik, mencari-mu tadi, ketemu ? "
" Dia seperti orang gila mencari-ku di kantor, aku malu "
Saka berdecak.
" Terus, kau benar benar tidak menyukainya ? "
Saka menggeleng.
" Dinda dan Papamu sudah bahagia, saatnya giliranmu "
Sam menepuk pundak Saka.
" Tidak, melihat dirinya, membuat aku dan Dinda akan terus mengingat masa lalu, jadi tidak Om, lagi pula aku tidak menyukainya, yang pernah terjadi hanya kesalahan karena rasa penasaran bagaimana manisnya dosa "
Saka menggeleng tegas.
" Solusinya bagaimana ? dia akan terus mengejarmu "
" Gampang lah Om, beritahukan security jika dia datang, dan itu tugas Lola untuk menghadangnya, cuma yang menjadi masalah, dia sepupu Aisyah, gadis yang Om kejar "
Saka mengangguk anggukkan kepalanya.
" Ya Tuhan, Om lupa "
Sam menepuk Jidatnya.
...*****...
Nonik sering menginap di rumah Aisyah sepupunya, walaupun terbilang tidaklah dekat tetapi entah kenapa dia suka sekali bermain kerumah tantenya, bahkan menginap hingga dua atau tiga hari di rumah orang tua Aisyah, Ibunya Aisyah merupakan adik dari Bapaknya Nonik.
" Dari tadi melamun terus, mikirin apa " Senggol Nonik pada Aisyah yang memeluk bantal guling dengan erat, tetapi tatapan matanya menerawang jauh menatap langit langit kamar.
__ADS_1
Nonik hanya bermain ponsel.
" Kau tidak bosan jadi pengangguran terus ? "
" Aku baru lulus setengah tahun yang lalu, bagaimana bisa kau mengatakan aku pengangguran "
Nonik mendengkus.
" Habisnya kau cuma bermain main saja, tidak kulihat kau melamar pekerjaan "
" Aku mau mencoba peruntungan melamar di perusahaan periklanan milik orang tua Saka, syukur syukur diterima, bisa sekalian aku punya banyak kesempatan untuk mendekati Saka "
Wajah Nonik menampilkan senyum licik.
" Memangnya disana sedang membutuhkan karyawan ? "
" Gak tahu "
Nonik menghela napas panjang.
" Aku tadi kekantor milik Papanya Saka "
" Ngapain ? "
Aisyah tidak bisa percaya jika Nonik lebih berani dari yang dibayangkannya.
" Mencari Saka, apalagi, tetapi tidak ketemu, justru dengan Om Sam aku jumpa dengannya di parkiran, hem, kalau Saka sulit di gapai, Om Sam lebih cakep dari suaminya Dinda "
Deg.
Aisyah menahan napasnya.
" Tapi dia kan sudah tua "
Aisyah memberikan alasan.
" Duitnya enggak tua, kau tidak melihat kehidupan Dinda seperti apa ? Rumah orang tuanya di sebelah rumahku, lihatlah sekarang hidupnya ? kalau tidak punya uang, usia segitu akan terlihat tua, tapi kalau duitnya banyak....itu kalau Saka sukar didekati "
" Memangnya Om Sam bakalan mau denganmu ? "
Aisyah merasa tidak rela jika Om Sam jatuh ke tangan sepupunya yang mata duitan itu.
" Aku dekati aja terus, lama lama juga mau "
Nik, Nik, terlalu percaya diri sekali kamu.
...*****...
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1