
Perang dingin antara Sam dan Aisyah, terus berlanjut, keduanya bertegur sapa hanya sewajarnya saja.
Hingga kehamilan Aisyah sudah memasuki bulan ke empat, perutnya juga sudah membuncit, tidak ada keinginan Aisyah untuk memberitahukan kepada Sam, walaupun Sam sudah tahu.
Hampir tiga bulan Sam yang mengalami morning sickness, dan segala macam keinginan akan makanan khas orang yang sedang mengidam, Sam penuhi sendiri, tidak jarang dibantu oleh Saka dan Tika maupun Mbak Sri.
Aisyah sendiri tidak mengalami masa masa mengidam.
Sam yang semakin pucat dan kurus semasa mengidam, tidak membuat Aisyah melunak hatinya.
Dinda tidak lagi ikut campur, karena percuma, Aisyah kepala batu.
Alfian, Saka dan Dinda tidak menyangka jika aslinya Aisyah sangat keras kepala.
Laporan Nonik tiga bulan yang lalu tentang Sam dan Robert yang bertemu dengan dua perempuan muda juga tidak pernah dicari kebenarannya.
Sam sendiri tidak lagi berusaha meminta maaf pada Aisyah.
Tinggal dibawah naungan atap yang sama, tidur di ranjang yang sama juga, tetapi keduanya serasa berada di dunia yang berbeda.
Sam sendiri tidak pernah lagi menyentuh Aisyah dari pertama kali Aisyah untuk minta bayaran sampai saat ini, usia kehamilan Aisyah sudah menunggu kelahiran.
Aisyah yang tidak pernah merasakan mengidam, apalagi hubungan dengan ayah dari bayi yang dikandungnya semakin terasa asing, membuat Aisyah tidak merasakan ikatan batin yang kuat pada calon anak mereka.
" Bang, aku mau bicara "
__ADS_1
Ujar Aisyah sebelum keduanya sama sama hendak tidur.
" Ya "
" Setelah anak yang ada didalam kandungan ku lahir, mari kita bercerai ! "
Sam terkejut.
" Tidak adakah jalan yang lain ? Kita bisa memulai dari awal ? Bukankah selama ini Abang pulang dan pergi tepat waktu ? Abang tidak pernah macam macam diluar sana atau bermain api, Abang setia padamu "
Aisyah menggeleng gelengkan kepalanya.
" Bukan karena itu, tetapi sampai saat ini aku tidak bisa juga mencintai Abang, begitu juga sebaliknya, pasti Abang juga belum mencintai aku "
" Tapi Aish, anak kita....."
Aisyah berkata seolah tanpa memiliki rasa apa pun pada bayinya.
" Aish, maafkan Abang ! Walaupun Abang tahu jika kamu tidak pernah memaafkan Abang "
Sam terpekur menatap lantai.
Rasa kantuknya terbang entah kemana, walaupun dia memang belum mencintai Aisyah, tapi Sam tidak ingin bercerai, Sam percaya suatu hari nanti, dirinya dan Aisyah bisa sama sama jatuh cinta lalu menua bersama.
Hubungan yang renggang selama tujuh bulan ini, Sam kira, Aisyah membutuhkan waktu untuk memaafkan dirinya, ternyata Sam salah.
__ADS_1
Hingga tiba Aisyah memilih melahirkan secara Cesar, terlahirlah bayi perempuan yang cantik, Sam memberikan nama Fatimah, sama seperti dirinya, yang hanya diberi nama Sam oleh kedua orang tuanya, Sam juga memberikan nama hanya Fatimah kepada putrinya.
Selepas lima hari Aisyah melahirkan, Sam menjatuhkan talak kepada Aisyah dengan mata yang basah.
Talak itu jatuh karena permintaan Aisyah.
Keluar dari rumah sakit, Aisyah tidak lagi kembali kerumah dimana selama sembilan bulan ini dia tinggal, dia dibawa kembali kerumah orang tuanya.
Sam seperti orang yang kehilangan semangat membawa putrinya pulang kerumah.
Putri yang masih merah, putri yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu, tapi Fatimah tidak akan mendapatkannya dari Aisyah, Fatimah akan mendapatkan dari tiga orang perempuan, Dinda, Tika dan Mbak Sri, serta satu kakak yang sudah berusia enam tahun, si cantik Malika.
" Bang "
Sam mengaduh seperti anak kecil pada Alfian.
" Takdirmu memang harus seperti ini Sam, semoga kelak kau mendapatkan istri yang akan menjadi jodohmu hingga maut memisahkan, Sam "
Alfian menepuk pelan pundak Sam, memberikan do'a yang terbaik.
" Jangan kuatir kan Fatimah, ada Dinda dan yang lainnya yang akan mengurus dan memberikan kasih sayang pada Fatimah putrimu "
Sam hanya mengangguk lemah.
Itulah akhir dari perjalanan rumah tangga Sam dan Aisyah yang tidak sampai berumur satu tahun.
__ADS_1
...****************...
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...