
POV. AMMAR
" Menikahi Kanaya atau kau tidak akan mendapatkan apa pun."
" Kanaya? Dia adik ku, Pa."
Gila apa? Menikahi Kanaya? Bermimpi pun aku tidak berani, dia sudah seperti adik kandungku sendiri. Membayangkannya saja aku sudah tergidik ngeri, itu seperti hubungan incest. Big no. Aku rasa papa cuma bergurau.
" Cuma adik angkat, semua orang juga tahu."
" Tapi aku sudah menganggapnya adik sendiri."
Pria karismatik sekaligus arogan yang sayangnya papaku itu tersenyum mengejek.
" Cuma menganggap, tapi tetap bukan adikmu."
Aku hanya bisa berdecak jengkel, Papa selalu memaksakan kemauannya. Apa dia lupa kalau aku sudah dewasa? Bahkan aku seorang suami dan ayah satu anak yang tidak pernah direstui.
" Pa, sudah berapa kali aku katakan, kalau aku..."
" Selama Papa masih hidup, Papa tidak akan pernah bisa menganggapnya sebagai menantu, atau jika kau tetap memaksa..."
Papa menggantung ucapannya, aku yang menunggu kelanjutan ucapan dari bibir Papa sampai harus menahan nafas.
" Pergilah dari rumah ini hanya dengan pakaian yang melekat di tubuhmu!" usir Papa terlihat serius.
Aku membulatkan kedua mataku, benar-benar tidak percaya jika papa sampai hati mengatakan hal seperti itu. Aku yakin jika itu cuma gertakan papa saja.
" Kau ingin mencoba? Silahkan! Serahkan semua kartu yang kau pegang, dan mulai besok kau tidak perlu lagi datang ke kantor! Angkat kaki dari rumah ini, Papa masih memiliki anak yang lain selain dirimu."
Papa mengulurkan telapak tangannya ke arahku untuk meminta kartu kredit yang ada di dalam dompet.
Tidak, jika itu sampai terjadi, bagaimana bisa aku membiayai hidup Hanin dan Maura.
" Masih ada Rayyan, kenapa harus aku, Pa?"
Aku masih mencoba bernegosiasi, siapa tahu papa luluh.
" Kau anak tertua, Papa mau kau! Bukan Rayyan."
" Berikan aku waktu untuk berpikir!"
__ADS_1
" Tidak!"
Keras kepala aku, lebih keras lagi papa.
" Baiklah, terserah Papa saja!" Akhirnya aku menyerah, kulihat papa menyeringai puas.
Aku akan memberikan pengertian pada Hanin bahwa aku tidak berdaya.
******
Setelah keluar dari ruangan kerja papa, aku mendorong pintu kamar Kanaya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
" M-mas Ammar? Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?"
Kanaya terlihat buru-buru memasang pengait kancing kemeja yang tadi baru dibuka dua buah dengan cepat, sepertiya tadi dia hendak berwudhu mau melaksanakan shalat Ashar. Karena memang sudah masuk waktu Ashar saat ini.
Aku cuma melengos. Sejak mengetahui jika aku akan dinikahkan secara paksa oleh dirinya, entah kenapa tiba-tiba saja aku membenci Kanaya.
" Nay, Mas bersedia menikahimu atas kemauan Papa dan Mama, tapi ingat! Jangan berharap lebih dari pernikahan ini."
Setelah mengatakan itu, aku berlalu begitu saja meninggalkan kamar Kanaya.
Aku tahu jika gadis yang berusia dua puluh tiga tahun itu tentu saja syok mendengarkan ucapan pedas yang keluar dari bibirku, aku tidak peduli. Pada siapa lagi kekesalan ini aku lampiaskan kalau tidak pada dirinya.
Lima tahun yang lalu.
Kanaya sedang duduk-duduk di salah satu kedai hanya untuk membeli sebotol minuman ringan.
Tidak sengaja Kanaya melihat aku keluar dari dalam rumah orang tua Hanin, hari itu kami sedang mengadakan acara syukuran pernikahanku dengan Hanin yang baru saja dilaksanakan secara agama.
Disitulah Kanaya tahu jika aku sudah menikah, tetapi aku meminta dirinya agar merahasiakannya. Cukup dia saja yang tahu
******
Pernikahanku dan mas Ammar, dilaksanakan dengan sangat meriah. Semua kerabat, relasi, teman dan tetangga diundang semua. Pertama kalinya keluarga Haliman Brotoseno dan Wanda Ayuningtyas mantu, tentu saja pesta diadakan dengan sangat meriah.
Seluruh tamu undangan dan khalayak ramai juga tahu jika putra tertua Haliman menikahi adik angkatnya sendiri, yaitu aku, Kanaya Pradita. Tentu saja itu tidak masalah karena aku hanyalah anak angkat dari sahabat karib mama Wanda dan papa Haliman yang sudah seperti orang tuaku sendiri.
Mas Ammar memperlihatkan memperlihatkan wajah masamnya, tapi tidak denganku. Aku tidak ingin membuat papa Haliman dan mama Wanda malu pada semua tamu jika aku juga berwajah masam.
Hingga pesta usai, tidak terucap sepatah katapun dari bibir Ammar untuk menyapaku. Tapi aku tidak peduli, aku anggap ini adalah bentuk dari baktiku pada papa dan mama. Karena dengan cara apa aku bisa membalas kebaikan keduanya jika tidak menuruti apa yang mereka inginkan.
__ADS_1
*****
POV . Ammar
" Kau mau kemana?"
Aku hanya bisa menggerutu di dalam hati mendengar teguran papa, padahal aku sudah bersiap-siap hendak pergi dari rumah dan kembali pulang ke apartemen.
Pesta sudah usai, mau apa lagi? Sudah dua hari aku tidak pulang, pasti Naura sudah mencari-cari aku. Terlebih juga aku ingin menjelaskan semua pada Hanin.
" Aku mau kembali ke apartemenku, Pa. Selama ini aku tinggal disana kan?"
jawabku sembari menatap ke arah lain, menghindari agar tidak beradu pandang dengan papa. Aku tahu alasanku sangat konyol, tapi memang itu kenyataannya.
Tiga tahun menikah dengan Hanin, sudah cukup bagiku untuk main kucing-kucingan. Dan dua tahun terakhir baru aku dan Hanin bisa hidup normal seperti pasangan lainnya, tentu saja dengan alasan ingin mandiri agar ada alasan biar bisa keluar dari rumah.
Kulihat papa mencibir. Aku tahu jika papa mengawasi semua sepak terjang diriku di luar rumah, tapi aku pura-pura tidak tahu kalau diawasi.
" Ini malam penggantimu, jangan kau kira Papa bodoh. Masuk ke kamar kalian! Kanaya berhak atas dirimu."
Melihat wajah papa yang tidak bisa dibantah, aku hanya bisa mendengkus kesal. Aku pria dewasa, bagaimana bisa papa memperlakukanku seperti anak kecil.
Rayyan yang baru mau masuk ke dalam kamarnya menatapku dengan sedikit iba sekaligus jengkel, aku sangat tidak suka dengan tatapannya.
Aku yakin jika saja papa yang meminta dirinya untuk menikahi Kanaya, pasti dia tidak akan pernah keberatan. Dia kan anak yang patuh, anak kebanggaan papa dan mama, cocok untuk Kanaya.
Dengan berat hati, aku melangkah menuju ke kamar pengantin yang sudah dipersiapkan oleh mama, mataku memicing ketika menatap Kanaya yang sedang sholat.
Jika kemarin-kemarin aku akan bangga dengan Kanaya yang Sholeha, sekarang justru aku menganggap Kanaya seorang yang munafik.
Kanaya tersentak kaget melihat aku yang duduk diam di atas sofa, aku terus menatap tajam memperhatikan gerak-gerik dirinya yang tengah melipat mukena.
" Bersihkan sampah itu! Kau tidak berharap kita seperti pengantin pada umumnya kan?"
ucapku mengandung cibiran yang aku tahu pasti sangat menusuk di dalam hatinya.
"Naya kira Mas Ammar akan pulang ke apartemen, makanya belum sempat Naya bersihkan."
sahutnya sambil menyapu bersih kelopak bunga mawar yang bertaburan diatas ranjang pengantin berwarna putih.
Aku tidak menjawab, aku segera menjatuhkan badan diatas ranjang yang sudah bersih tanpa ada satupun kelopak bunga yang tersisa.
__ADS_1
" Tidurlah! Ranjang ini cukup besar untuk kita tiduri tanpa bersentuhan." ucapku sengaja meletakkan bantal guling ditengah-tengah tempat tidur sebagai pembatas antara diriku dan Kanaya.
...****************...