
Sam memang lebih dulu tidur, tapi Sam juga yang lebih dulu bangun, tengah malam lagi.
Sam pria dewasa, dia bukan anak remaja yang kalau sudah tidur kaya' kebo, apalagi Sam juga bukanlah pria yang bekerja menggunakan ototnya tetapi pakai otaknya.
Jadi tidak terlalu lama membutuhkan waktu untuk mengistirahatkan dirinya yang lelah, tidur secukupnya tetapi benar benar terlelap, bukan pura tidur, itu cukup untuknya.
Melihat Aisyah yang tertidur sangat lelap dan nyaman.
Ya iyalah, biasa dirumah tidur diatas spring bed standar dan cuma pakai kipas angin yang suaranya seperti tornado, kalau kedinginan dimatikan, eee, kegerahan, bangun, dihidupkan lagi, terus gitu sehingga tidak bisa terlalu nyenyak, apalagi kalau sudah Nonik datang menginap, bisa tarik menarik selimut sepanjang malam.
Beda dengan sekarang, tidur diatas ranjang milik Om Sam, sudahlah empuk, wanginya juga bikin gimanaaa gitu, aroma Woody yang belum pernah Aisyah temui, menenangkan sekaligus bikin candu.
Itu baru aroma parfum yang Om Sam gunakan, bagaimana kalau Om Sam-nya, eh.
Sam terus menatap wajah Aisyah dalam keremangan malam, hanya cahaya dari light pada pendingin udara yang yang menunjukkan suhu yang disetel yang membantu penerangan suasana kamar.
Tangan Sam bergerak merapikan beberapa surai yang menutupi dahi dan pipi Aisyah.
Mengusap pipinya pelan, berganti ke bibir Aisyah yang terbuka lucu.
Masih nganten baru Om Sam, coba kalau sudah lewat setahun, hadeuh.
Sam mengecup bibir yang terbuka itu sekilas.
Gerakan replek, bibir Aisyah terkatub rapat tetapi Aisyah tidak bangun.
Sam terkekeh geli tanpa suara.
Sam menggerakkan badannya semakin mendekat, mencium dahi Aisyah pelan, Aisyah tidak juga bangun.
Sam semakin berani, ia pelan menciumi semua permukaan wajah Aisyah.
Cepat Sam memperhatikan gerak gerik Aisyah apakah bangun atau tidak, ternyata nihil.
__ADS_1
Sam ingin melakukan lebih tapi takut Aisyah terbangun, kan gak lucu kalau ketahuan diam diam Sam mencuri ciuman pada Istrinya sendiri.
Habisnya biasa bobok sendiri, ini ada perempuan muda yang tidur di sebelahnya, mana bisa tahan.
Merasa sudah cukup untuk malam ini, Sam kembali menggeser tubuhnya pada posisi semula sembari memeluk guling, jadi jika besok Aisyah bangun pagi terlebih dahulu, tidak ketahuan jika malam tadi Sam menciumi semua permukaan wajahnya.
...*****...
" Sayang "
Telinga Aisyah gatal mendengar panggilan yang sangat belum terbiasa didengarnya.
" Jangan panggil gitu ! "
Bibir Aisyah mengerucut kedepan, Sam kan jadi kepengen mencium lagi, tapi sayangnya Aisyah sedang tidak tidur.
" Kenapa ? "
" Malu "
Aisyah terdiam, benar juga, dari pada semakin malu, Aisyah gegas keluar dari dalam kamar, menuju ke arah dapur membantu Mbak Sri dan Tika menyiapkan sarapan pagi, kalau dia seperti nyonya besar, sangat tidak enak dengan Dinda, karena Dinda yang menjadi Nyonya utama di rumah itu saja suka turun tangan mempersiapkan meja makan.
Tetapi Aisyah datang sedikit terlambat, semua sudah tertata dengan rapi dan lengkap, Yasmin juga sudah duduk di kursinya, hanya tinggal menunggu Alfian, Saka dan Sam.
Dinda sebagai ibu muda masih berkutat di kamar Malika.
" Kapan kau pulang "
Aisyah bertanya pelan dengan mendudukkan bokongnya di sebelah Nonik.
Makan tadi malam sedikit kurang nyaman karena Nonik yang menyindir nyonya rumah membuat Aisyah sangat tidak enak.
" Kau mengusirku ? "
__ADS_1
Nonik menggeram jengkel.
" Aku hanya tidak enak, Nik, disini bukan hanya aku dan suamiku yang tinggal, tetapi ada kedua orang tua Malika dan dua anaknya, jangan lupakan juga mereka sedang kedatangan tamu " Aisyah tetap memelankan suaranya sembari melirik ke arah Yasmin yang pura pura tidak ikut campur urusan keduanya.
" Aku juga tamu, sama seperti dia " Tunjuk Nonik pada Yasmin dengan dagunya.
" Dia beda Nik, dia dari negara yang berbeda, sementara rumahmu masih bisa ditempuh dalam tempo satu jam itu juga kalau macet, lagi pula dia calon istri Saka, kau tidak memiliki kepentingan dirumah ini "
" Dia baru calon tapi belum, yang sudah jadi istrinya saja bisa direbut apalagi baru calon "
Aisyah melotot.
" Kau jangan sombong, baru juga satu malam menjadi istri Om Sam, kau sudah seperti kacang lupa kulitnya "
Nonik mencibir.
" Jadi apa mau-mu ? "
" Tunaikan janjimu "
" Apa ? "
" Minta suamimu memasukkan aku bekerja di perusahaan milik keluarga ini "
Ekhem.
Deheman dari mulut Sam yang baru menggeser tempat duduknya mengurungkan niat Aisyah untuk membantah omongan Nonik, apalagi setelah Alfian, Dinda dan Saka mulai duduk di kursi mereka masing masing.
Malika di tuntun olah Tika menuju ke ruang keluarga, sepertinya Dinda sudah memisahkan agar Malika tidak ikut makan di meja makan selama Nonik masih berada di rumah ini untuk menghindari dari telinganya mendengan obrolan yang saling menyindir, sangat tidak baik untuk perkembangan otaknya.
Wajah Aisyah menjadi suram, menikah bukan membuatnya menjadi lebih bahagia tetapi justru sebaliknya, ia merasa tertekan karena permintaan Nonik.
...*****...
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...