
Saka masih berdiri di teras menatap kepergian Agam yang membawa adiknya pergi kerumah Kakek dan neneknya Malika.
Ada rasa iri di hati Saka karena dia tidak pernah merasakan apa yang dialami oleh Malika saat ini.
Orang tua Alfian berada jauh di ujung pulau sumatera, jadi setahun sekali baru bisa bertemu, tidak seperti Malika, yang kapan saja saling rindu bisa langsung datang atau dijemput.
" Melihat siapa ? "
Sapa Om Sam yang baru pulang dari menyelesaikan salah satu urusan yang menyangkut dengan pernikahannya.
" Bang Agam "
" Membawa Malika lagi ? "
" He-eh "
" Kenapa tidak dia saja yang memberikan cucu buat orang tuanya ? "
" Dia bilang belum menemukan perempuan yang tepat, seperti Om "
Saka mencibir.
" Tapi tadi ketika melihat Yasmin..."
" Kenapa ? Dia tertarik ? Tidak masalah kan ? Agam pria yang baik, dia cuma sahabat mu "
Om Sam menyembunyikan senyumnya.
Saka hanya diam,
Benarkah dia cuma menganggap Yasmin hanya sahabat.
" Cepat putuskan sebelum kau menyesal jika Agam yang maju "
Om Sam menepuk pundak Saka, berjalan masuk ke dalam.
Saka mengikuti langkah kaki Om Sam dari belakang.
" Aku belum yakin dengan perasaanku Om "
" Untuk apa menyakinkan dari sekarang, nikahi dia baru kau yakinkan untuk mencintai dirinya agar tidak kecewa "
Om Sam masuk ke dalam kamarnya dengan menutup pintu di belakangnya, membiarkan Saka berdiri di luar pintu.
Dasar bocah bodoh, mau berapa kali dia harus kehilangan perempuan yang diinginkannya ?
__ADS_1
Om Sam bergumam pelan sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Berdiri di bawa kucuran air shower, Om Sam senyum senyum sendiri membayangkan wajah Aisyah yang melotot horor ketika pagi tadi mengantar Malika ke kelasnya seperti biasa, Sam menyapa Aisyah dengan kata sayang.
Si kecil Malika saja sampai melongo.
Namanya juga sama calon istri, manggil sayang kan wajar, iya 'kan Om ?
Besok Om Sam sudah berjanji akan menemani Aisyah untuk berbelanja segala keperluan yang menyangkut pernikahan.
Jadi tidak sabar menunggu besok, eh, sebenanya apa yang membuatnya menerima lamaran ku ? Apa karena aku tampan ?
Om Sam terkekeh sendiri.
Mandinya di sudahi Om Sam, jangan kebanyakan ngayal ! kamar mandi sarang setan, bahaya.
...*****...
Semua orang sudah berkumpul di meja makan, sembari meletakan piring di tiap tiap orang, Dinda berbisik pelan pada Saka.
Kalau tidak diperhatikan dengan seksama, tidak akan ada yang menyadarinya.
Dinda memang tidak mau seperti nyonya besar yang hanya duduk diam menunggu semua beres.
Dia akan ikut turun tangan membantu Mbak Sri dan Tika untuk melakukan hal hal yang kecil, dia tidak lupa asalnya dari mana, sehingga Yasmin yang menumpang sementara juga ikut membantu apa yang bisa di bantu.
Wajah Alfian langsung muram, ada kecemburuan di dalam hatinya.
Bukan hanya cemburu, lebih tepatnya marah.
Apakah mereka sudah bermain main dibelakang-ku ?
Sepanjang makan malam, kedua mata Alfian terus menerus menatap Dinda dan Saka secara bergantian.
Dinda tetap melayani Alfian mengambil makanan, tetapi kenapa Saka terus melihat kepada Dinda.
Semua orang bercerita hal hal yang penting, Alfian lebih banyak diam.
" Yas, setelah makan, mau aku temani jalan jalan melihat keadaan luar dimalam hari ? " Saka berkata pelan.
Om Sam tersenyum, Dinda apalagi, dahi Alfian semakin berkerut dalam.
Yasmin melirik ke arah Dinda, Dinda mengangguk kecil.
" Pergilah Yas, kamu sudah hampir empat hari disini, perjalanan mu cuma dari rumah kekantor "
__ADS_1
Dinda mendorong Yasmin untuk menerima ajakan Saka.
" Baiklah "
...*****...
Saka dan Yasmin sudah pergi keluar satu jam yang lalu.
Alfian memaksa Dinda untuk membiarkan Tika yang membereskan kamar Malika yang sedikit berantakan karena Agam menjemput Malika tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
" Mas mau bicara penting "
Ujar Alfian di depan pintu kamar Malika.
Belum sempat Dinda menjawab, Alfian sudah berbalik.
Dinda bergegas menyusul Alfian.
" Ada apa ? "
Alfian diam menatap Dinda dengan tatapan yang rumit.
" Mas "
" Kamu masih mencintai Saka "
" Hah "
" Jawab dengan jujur, apa karena Mas sudah tua, lalu kamu ingin kembali padanya ? "
" Mas ini bicara apa ? "
" Mas tidak ingin dikhianati lagi, sejak kapan kalian kembali berhubungan ? Katakan ! "
Alfian berjalan mendekati Dinda selangkah demi selangkah.
Wajah Alfian yang terlihat marah, membuat Dinda sedikit takut, Dinda mundur beberapa langkah, Alfian terus maju hingga Dinda terpojok di balik pintu kamar yang tertutup.
" Mas, maksud kamu apa ? mencintai, berhubungan, apa ? "
Dinda bingung kemana arah ucapan Alfian.
" Baik jika kamu pura pura tidak tahu, Mas tadi melihat mu berkata mesra pada Saka di meja makan " ucap Alfian dingin.
Kedua bola mata Dinda membulat dengan sempurna, dia tidak menyangka jika suaminya sudah memergokinya.
__ADS_1
...*****...
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...