
Aisyah dan Sam tidur saling memunggungi, Sam belum tidur dan sama sekali juga belum mengantuk, dia juga tidak berniat hendak menyentuh Aisyah.
Bukan karena Aisyah minta bayaran, kalau hanya itu dan nominal yang disebutkan oleh Aisyah juga tidak banyak, Sam masih mampu untuk memberikan apa yang Aisyah mau, Sam hanya tidak ingin jika Aisyah benar benar sudah hamil, bisa keluar lagi karena Sam belum membawanya ke dokter dan jika sesuai dengan perkiraan Sam, belum juga diberikan obat penguat kandungan.
Sam tidak mau mengambil resiko, dia sudah sangat ingin memiliki keturunan, usianya sudah tidak mudah lagi.
Menghadapi Aisyah yang usianya jauh dua kali lipat dibawahnya yang dalam mode protes, harus pintar pintar.
Mengalah, Aisyah semakin ngelunjak, dilayani, itu akan menghancurkan rumah tangganya, lebih baik tarik ulur saja.
Aisyah sendiri semakin sebel, pengajuan proposal tentang biaya yang diajukan pada Sam, gak jelas ujung pangkalnya, antara setuju atau tidak, buktinya, saat ini, Sam tidak bergeming.
Dari pada semakin dongkol, dia memilih tidur.
Menjelang subuh, Aisyah buru buru bangun, dan berjalan cepat menuju ke dapur, mengubek ubek laci menyimpanan pisau.
Setelah menemukan pesanan yang dibeli Tika tadi malam, Aisyah kembali masuk ke dalam kamar, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Menunggu sepuluh menit, Aisyah harap harap cemas, dia juga berharap, tetapi karena masih kesal dengan Sam, dia kurang begitu antusias.
" Hem, buaya tua itu ternyata unggul juga, sungguh menyebalkan "
Aisyah mendengkus.
Sedikit kesal Aisyah membuang tespack yang sudah terpakai ke dalam tempat sampah.
Buaya itu suamimu, Aish.
Aisyah tidak memerlukan drama seperti adegan adegan yang ada di sinetron yang sering ditontonnya dengan menunjukkan hasil testpack yang menunjukkan positif bahwa dia hamil, lalu sang suami menciumnya dengan mesra.
Aisyah mencibir sendiri di depan cermin wastafel.
Dia harus cepat bersiap siap, karena hari ini, hari pertama dia kembali kesekolah setelah sebulan hanya berdiam diri di rumah.
...*****...
__ADS_1
" Aish, kamu mau kemana sayang ? "
Gombalan pagi Sam mulai terdengar.
Sam melihat penampilan Aisyah yang terlihat berbeda dari biasanya, saat ini Aisyah berpenampilan seperti sebelum menikah dan masih menjadi guru di kelas Malika, hanya jauh lebih cantik dan modis, hasil dari belanja kemarin.
Kalau sebelum menikah, penampilan Aisyah sederhana.
" Kembali ke sekolah "
Sam membulatkan matanya.
" Aish, apa maksudmu ? Jangan katakan kalau ....."
" Ya, aku kembali ke pekerjaanku seperti dulu "
" Aish, kamu belum meminta izin Abang, dan Abang tidak akan mengizinkan "
" Maaf bang, untuk saat ini, beri aku dispensasi untuk tidak menuruti perintah Abang "
Setelah mengatakan itu, Aisyah berlalu meninggalkan Sam yang masih belum merapikan penampilan dirinya sendiri.
Drama apa lagi yang mau dimainkannya dan agaimana jika dia kelelahan ?
Sam sedikit terburu buru mengejar langkah kaki Aisyah yang mungkin sudah berada di di meja makan.
" Aish, kita perlu bicara ! "
Sam sudah menarik tangan Aisyah dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar.
" Mau bicara apa bang ? "
" Katakan apa yang harus Abang lakukan agar kamu tidak bekerja, Abang takut kamu kelelahan, lalu...."
Sam tidak bisa meneruskan ucapannya karena semua baru batas praduga dirinya saja.
__ADS_1
" Lalu ...."
Aisyah memiringkan kepalanya.
" Gaji yang kamu terima berapa ? Abang akan memberikannya sepuluh kali lipat, tapi Abang mohon, kamu jangan kembali ke sekolah, menghadapi banyak anak seusia Malika, kamu pasti tidak bisa diam, kamu mau perhiasan ? Abang akan membelinya, Abang mohon ! "
Aisyah menarik napas secara perlahan, lalu menghembuskannya dan membuangnya ke udara.
" Bang, ini bukan soal uang dan perhiasan, aku juga suka keduanya, aku tidak munafik, hampir semua wanita suka, uang, perhiasan dan barang barang mewah, tapi aku tidak sematre itu, jika memang aku mengincar harta Abang, dari awal kita menikah, aku bisa saja meminta macam macam, tapi tidak kan ? "
" Lalu untuk apa kamu bekerja ? "
" Agar aku bisa setara kedudukan ku dimata Abang, seperti Abang menempatkan wanita itu, tidak seperti sekarang, Abang terlalu menganggap aku rendah, apakah aku harus menjadi model juga agar Abang bisa menghargai aku ? "
Aisyah menatap tajam tepat di manik gelap milik Sam.
Aisyah sebenanya ingin menangis tetapi ditahannya.
" Apakah ini masih soal cincin ? "
" Bukan hanya cincin saja, ketidak jujuran Abang dan ketidak adilan Abang memperlakukan aku membuat aku...."
Aisyah menggelengkan kepalanya.
" Jika Abang tidak mampu, aku mengerti tapi ini karena Abang pasti sangat mencintai dirinya dulu, sangat berbeda dengan aku, tapi harusnya Abang bisa berpura pura menganggap aku berarti bagi Abang agar aku tidak terluka "
Aisyah mengusap ujung matanya yang basah dengan jari telunjuknya.
Ia sangat benci, kenapa harus menangis.
Sam tidak mampu untuk mengeluarkan kata kata, sepertinya hati Aisyah atau harga dirinya benar benar terluka.
" Mari kita sarapan, semua pasti sudah menunggu di meja makan "
Aisyah melangkah terlebih dahulu meninggalkan Sam yang masih terdiam.
__ADS_1
...******...
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...