
Kedua bola mata Sam membulat kaget seakan apa yang didengarnya salah.
" Aish, kamu yakin ? "
Aisyah mengangguk anggukkan kepalanya berulang ulang seakan mengatakan keseriusan ucapannya.
" Kamu mau beli apa ? Abang akan membelikan keinginan mu, lagi pula Abang kan sudah memberikan kartu pada mu, kamu bisa menggunakannya, itu juga sebagai nafkah Abang padamu "
" Enggak, itu berbeda, aku ingin membeli sesuatu dengan uangku sendiri "
" Itu uangmu juga Aish "
Sela Sam cepat
" Tentu saja berbeda, aku ingin membeli apa yang aku inginkan dari uang hasil kerjaku sendiri "
Aisyah menutup mulutnya.
Sam ingin tertawa tetapi ditahannya.
" Apakah melayani suami lalu meminta bayaran, itu masuk dalam kategori bekerja ? "
Sam duduk di sofa dengan menyilangkan salah satu kakinya bertumpu pada kaki yang satunya lagi.
Pelan kembali ia mengesap kopi buatan istrinya yang sedang merajuk.
" Anggap saja begitu "
" Kamu memanfaatkan Abang kalau begitu "
" Abang juga memanfaatkan aku, jadi tidak ada salahnya kalau sekarang giliran aku "
" Tetapi kalau setiap Abang hendak menyentuh kamu, lalu kamu meminta bayaran, kamu bisa kaya dan Abang bangkrut, memang kalau Abang bangkrut, kamu masih mau sama Abang ? bagaimana Abang bisa menafkahi kamu dan calon anak kita kalau Abang sudah tidak punya uang ? ".
Aisyah diam saja, dia tidak terpikir sampai ke situ.
Sam menyipitkan kedua matanya menatap Aisyah lekat lekat, sebulan lebih ia sudah menikahi Aisyah dan sepertinya Aisyah belum ada datang bulan, Sam bisa tahu karena Aisyah tidak pernah absen untuk Sholat, jangan jangan....
" Makanya jangan sering menyentuh aku supaya tidak bangkrut "
Sam terkekeh.
Lucu juga kalau Aisyah merajuk, sudah seperti Malika saja.
__ADS_1
" Apakah sepanjang pernikahan, harus seperti itu ? "
" Enggak "
" Oh, sampai kapan ? "
" Sampai hilang sakit hatiku "
" Oke, sekali sentuh berapa ? "
Ikuti saja maunya Om Sam, berharap saja sakit hatinya cuma sebentar.
Aisyah menyebutkan angka nominalnya, Sam terlihat berpikir sejenak lalu berdiri.
" Padahal Abang mau membelikan kamu mobil, biar kalau kamu berkunjung ke rumah orang tuamu, tidak perlu naik taksi sekalian bisa ajak sepupu kamu jalan jalan mungkin, tapi karena kamu minta bayaran, terpaksa dibatalkan "
Sam berdiri dari duduknya.
Kedua mata Aisyah melotot.
Sam terkekeh, keluar dari ruangannya menuju ruang keluarga.
" Bang "
Sam membalikkan badannya dan menatap Aisyah yang terlihat ragu ragu.
" Abang setuju kan ? "
" Apanya ? "
Sam pura pura amnesia, padahal ia tahu apa maksud yang ditanyakan oleh istrinya.
" Gak jadi "
Aisyah cemberut.
" Iya, Abang mau minta kenaikan gaji dulu dengan suaminya Dinda, biar bisa sering sering menyentuh kamu "
Sam mengedipkan matanya genit sembari terkekeh.
Aisyah semakin kesal, maksud hati ingin membuat Sam susah, kenapa justru dia sekarang yang jadi serba salah, apa lagi saat Sam mengatakan ingin membelikan dirinya mobil.
Benar kata Dinda, jangan sampai senjata makan tuan.
__ADS_1
...******...
Setelah makan malam, Aisyah berjalan mondar mandir di dapur, mbak Sri dan Tika saling berpandangan menatap tingkah laku Aisyah.
" Kak Aisyah, ada apa ? "
Tanya Tika mendekati setelah selesai cuci piring.
Aisyah celingukan, dia takut ada yang mendengar, terutama suaminya.
" Bisa minta tolong belikan tespack, maaf, kakak bisa saja pergi tapi kakak kuatir bang Sam tahu, soalnya...."
" Mau buat kejutan ya ? tenang saja, nanti akan Tika beli ke apotik, dan akan Tika letakkan di laci penyimpanan pisau ya ? jadi tinggal kakak ambil "
" Oke, terimakasih ya "
Aisyah cepat menyerahkan uang ke tangan Aisyah karena dilihatnya Saka masuk ke dapur.
Aisyah buru buru pergi, apalagi ketika tatapan mata Saka seakan menyelidik.
" Kerjasama apa yang kalian lakukan ? "
Tanya Saka sembari mengambil air dingin di dalam kulkas.
" Gak ada "
Tika menjawab cepat, mbak Sri lebih memilih menyingkir ke kamarnya sendiri mencari aman.
" Yakin ? terus kenapa dia memberikanmu uang ? "
Saka menunjuk lewat ekor matanya pada genggaman tangan Tika, uang yang diberikan Aisyah terlihat menyembul keluar.
Tika tertawa canggung.
" Kak Aisyah minta tolong dibelikan pembalut "
Saka hanya ber o saja lalu menyingkir dari dapur, ia tahu Tika sedang berbohong, kalau cuma minta belikan pembalut, untuk apa sembunyi sembunyi.
Tapi, ah sudahlah, bukan juga urusannya.
...******...
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1