Pasangan Beda Usia

Pasangan Beda Usia
Om Sam ( 19 )


__ADS_3

Dinda meraba raba ponselnya yang berada di dalam tas ketika merasakan getaran.


" Mas, pulang yuk ! Tuh Malika sudah kelihatan capek, Dinda juga, pengen istirahat dirumah "


Dinda memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.


" Nanti kalau dirumah, kamu uring uringan terus melihat mantan rivalmu "


Sahut Alfian menatap ke satu titik arah pandangan dengan dahi sedikit berkerut.


" Tika barusan memberikan info jika dia sudah kembali ke habitatnya "


Dinda tertawa kecil sembari mengikuti arah pandang Alfian.


" Bu Dewi ? "


" Hem "


Alfian hanya menggeram, tetapi tetap menatap Dewi yang sedang melingkarkan tangannya pada lengan Ramadhan dengan sangat manja, perubahan yang sangat mencolok, dulu ketika masih bersuamikan Alfian, Dewi tidak pernah semanja itu, apa karena statusnya sebagai pengajar.


" Cemburu ? "


Ada yang nyeri di hati Dinda ketika mengucapkan kata itu.


Sudah lama mereka tidak pernah bertemu dengan Dewi, terakhir Alfian hanya melihat sepintas kala Dewi datang ke kantor untuk menemui Saka.


Refleks Alfian berpaling melihat ke arah Dinda yang tepat berada disebelahnya.


" Mas hanya senang melihat dia bahagia, hanya itu "


Dinda mencebikkan bibir bawahnya seraya menggandeng tangan Malika untuk pulang.


" Kamu yang cemburu Din ? "


Alfian berjalan mensejajari langkah kaki Dinda yang sedikit terburu buru dengan wajah yang cemberut.


" Enggak "


" Terus kenapa cemberut ? "


" Siapa yang cemberut ? "


Suara Dinda sedikit ketus, Alfian tertawa kecil, ia tahu Dinda sedang cemburu.


" Mas senang kamu cemburu Din, masa' selama ini Mas saja yang cemburu sama kamu, cepat kita pulang yuk ! Mas kangen sama kamu "


Alfian mengedipkan sebelah matanya genit.

__ADS_1


Dinda melotot, lalu mencubit pinggang Alfian pelan karena dari tadi Malika terus menguping pembicaraan kedua orang tuanya.


" Tapi sejujurnya Mas suka pada rivalmu itu "


ujar Alfian tersenyum sembari menjalankan mobilnya pelan keluar dari area parkiran basement Mal.


Dinda menatap tajam.


Alfian terkekeh.


" Kalau tidak karena dia yang " Alfian menaikkan kedua bahunya


" Kamu tidak mungkin jadi istri Mas, Din, itu maksudnya "


" Kelihatan dia iri dengan dirimu dan istri Sam, dia sepertinya ingin mendapatkan pria berduit juga, Robert sedang mencari istri, tapi jangan harap dia bisa berbuat macam macam atau mau menguasai harta Robert.


Kedua anak perempuan Robert, bukanlah gadis yang lemah "


" Om Robert jadi bercerai juga ya Mas "


Alfian tersenyum kecil.


" Istrinya tidak tahan melihat kelakuan nakal Robert, padahal saat itu Robert mau insyaf "


" Terus gak jadi gitu ? "


" Sepertinya Nonik cocok dengan Om Robert "


Dinda senyum senyum penuh arti, Alfian hanya mengerutkan dahinya melirik sekilas pada Dinda sembari menggelengkan kepala.


...*****...


Aisyah melangkah pelan ke dalam kamar, terlihat jika Sam sudah tertidur, mungkin efek kelamaan menunggu Aisyah yang katanya membuat minuman.


Semua gara gara Nonik yang menahannya dengan segala macam pertanyaan.


Hem, tampan juga bang Sam, justru lebih tampan dari Papanya Malika, tapi Papa Malika macho, haish, kenapa aku membanding bandingkan.


Aisyah terus menatap Sam yang tertidur sembari menyeruput jeruk peras yang baru dibuatnya tadi di dapur.


" Sudah puas melihati suamimu ? tampan kan ? "


Sam membuka matanya sedikit, Aisyah terkejut hampir menyemprotkan minuman yang berada dalam mulutnya yang baru disedotnya.


" Abang dari tadi gak tidur ? "


" Kenapa kamu lama sekali ? Ditahan oleh sepupumu ? "

__ADS_1


Sam bangun dari rebahannya, mulai menjejakkan kakinya mendekati Aisyah yang duduk di sofa.


" Dia pamit pulang "


" Cuma satu malam ? kenapa ? gak ada yang menemaninya ? "


Aisyah diam saja, dia merasa kasihan sekaligus jengkel pada Nonik, tapi bagaimanapun Nonik tetaplah sepupunya.


" Rumah ini keadaannya seperti itu, hanya Dinda yang selalu ada dirumah, itu juga kalau suaminya berada di kantor atau keluar, kalau suaminya ada dirumah, jangan berharap melihat Dinda tanpa ada Alfian yang ada di sampingnya "


Sam mengambil minuman yang ada dihadapannya, dan meneguknya hampir habis.


" Manis sekali mereka "


Aisyah memuji jujur.


" Abang juga bisa lebih manis dari Papanya Malika "


Sam sudah menarik lagi pinggang Aisyah untuk mendekat ke arah badannya.


" Bang, aku mau kekamar mandi "


Aisyah berusaha melepaskan diri.


" Bolak balik ke kamar mandi, mau ngapain ? "


" Mau buang...."


" Tahan saja ! " Sam mulai merapikan surai hitam Aisyah dengan jari tangannya, menyusuri leher Aisyah, tulang pipi lalu ke tulang rahang.


" Bang "


" Hemm "


" Jangan begini ! "


" Kenapa ? Abang cuma merapikan rambutmu saja "


Sam sudah ingin tergelak melihat Aisyah yang semakin gelisah, wajahnya juga semakin memerah, terkadang terlihat matanya terpejam menikmati sentuhan yang Sam lakukan.


Melihat Aisyah yang masih memejamkan mata, Sam menyudahi permainannya menggodai Aisyah, melangkah keluar kamar menuju ke arah balkon sembari tertawa mengejek.


Aisyah membuka matanya, ia merasa malu karena terhanyut oleh sentuhan yang Sam lakukan tadi, dengan mendesah jengkel, Aisyah keluar dari kamar menuju ke dapur.


...*****...


...🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2