
Aisyah kembali mengamati cincin yang dilemparkan oleh Liliana.
Bibirnya tersenyum masam.
" Apakah karena aku hanya seorang guru TK dan dia seorang model jadi Abang memberikan cincin yang sangat jauh berbeda pada kami ? "
" Aish, bukan seperti itu "
" Atau karena tidak ada cinta diantara kita sehingga Abang memberikan cincin yang sembarangan untuk ku dan cincin yang indah untuk untuk istri Abang dulu ? "
Aisyah bertanya tanpa melihat wajah Sam yang terlihat serba salah.
" Aish, kita akan membeli cincin yang lebih bagus lagi jika itu yang kamu inginkan, ayo kita pergi ! "
Sam hendak meraih tangan Aisyah, tetapi Aisyah segera menjauhkan tangannya.
" Tidak perlu, cincin yang ini cocok untuk ku, karena aku cuma mantan guru TK dan perempuan yang Abang nikahi tanpa cinta, serta apa tujuan Abang menikahi aku, aku juga tidak tahu selain Abang ingin aku melahirkan anak Abang, baik, aku akan melahirkan anak yang Abang inginkan "
Aisyah membalikkan badannya, melangkah pelan kembali ke meja makan.
Saka masih berdiam di tempat semula seperti patung.
Karena dia serba tidak enak, mau meninggalkan Om Sam berdua dengan Aisyah, Om Sam berdiri di tengah tengah pintu, akhirnya Saka mendengarkan semua apa yang tidak patut Saka dengarkan.
Sam juga tidak mengatakan apa-apa selain mengikuti Aisyah ke ruang makan.
Alfian dan Dinda sudah selesai terlebih dahulu, Aisyah makan dalam diam, Sam sudah kehilangan selera makannya, dia ingin membujuk Aisyah tapi tidak tahu bagaimana caranya.
Gombalan gombalan ketika belum menikah sepertinya sudah tidak mempan lagi, apalagi Aisyah yang bahkan tidak emosional, dia berkata datar tetapi menusuk, wajahnya juga tanpa ekspresi, justru membuat Sam jadi kehilangan akal.
Sam memilih masuk ke dalam kamar meninggalkan Aisyah dan Saka hanya sarapan berdua tanpa bicara.
Tidak lama setelah Sam masuk ke dalam kamar, dia sudah keluar untuk berangkat ke kantor lebih pagi tanpa permisi pada Aisyah.
Aisyah sendiri, berdandan rapi lalu ikut mengantarkan Malika bersama Dinda.
__ADS_1
" Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya Aish ? "
Dinda melirik ke arah Aisyah yang duduk di sebelahnya.
" Aku akan melamar pekerjaan kembali menjadi guru di sekolah Malika seperti dulu "
Dinda menghembuskan napasnya pelan.
Dia tidak bisa menunjukkan keberpihakan dirinya pada siapa pun, karena jika mau berkaca dengan kaca mata netral, Om Sam yang bersalah, dia menyembunyikan statusnya pada Aisyah, dan karena Aisyah, Om Sam menceraikan istri pertamanya, dan yang lebih parahnya lagi, cincin nikah yang diberikan oleh Om Sam untuk Aisyah, hanya cincin sederhana bermata satu, sementara cincin untuk Liliana, bertahtakan berlian, perempuan mana yang tidak merasa tidak di perlakuan dengan adil ?
Begitu juga dengan Aisyah, ia kecewa bahkan terluka.
" Baru sebulan kamu berhenti mengajar, semoga kepala sekolah masih mau menerima dirimu ya Aish, bagaimana ? apakah sudah ada tanda tanda kehamilan ? "
Aisyah menyandarkan punggungnya ke sandaran jok kursi penumpang di sebelah pengemudi.
" Harusnya sudah datang, biar saja, dia tidak perlu tahu, kalau aku hamil, aku akan menyerahkan bayi ini padanya, dia hanya membutuhkan anak karena usianya yang sudah tua bukan ? "
Aisyah menyebut kata tua dengan jengkel.
Dinda tersenyum kecut, suaminya lebih tua lima tahun dari Om Sam.
Aisyah menyeringai kecil karena merasa bersalah.
" Memang kenyataannya Aish, suami kita sudah tua "
Aisyah tertawa, setelah peristiwa pagi tadi, tidak ada yang membuat mood Aisyah membaik, baru kali ini, dan dia mentertawakan diri mereka sendiri.
Dinda mau tidak mau akhirnya ikut tertawa juga.
" Din, apakah ketika Mamanya Saka masih bersama suamimu, suamimu memperlakukan hal yang berbeda pada kalian berdua ? "
Dinda tertegun mendapat pertanyaan dari Aisyah.
" Maaf Din, maksud aku...Ah, tidak perlu kamu jawab ! "
__ADS_1
" Gap apa apa Aish, kita sama sama menjadi yang ke-dua, hanya caranya saja yang berbeda, tapi tetap saja yang kedua, dimata orang lain, kita ini pelakor "
Dinda tertawa getir.
" Seperti yang kau tanyakan tadi, sayangnya aku tidak terlalu di bedakan dalam hal memberikan materi, boleh dibilang lebih, aku ...."
" Aku mengerti "
Potong Aisyah.
" Itu karena kau lebih muda dan lebih cantik dari Mamanya Saka, sementara aku, tetaplah upik abu yang tidak mungkin menjadi seorang putri "
" Jangan menilai diri terlalu rendah Aish ! "
" Memang kenyataannya seperti itu, apakah aku harus menjadi seorang model dulu baru bang Sam akan memperlakukan aku sama seperti istri pertamanya ? "
" Mau jadi model apa ? "
Dinda memiringkan kepalanya.
" Obat nyamuk mungkin "
Dinda terkikik geli.
Mobil yang Dinda kemudikan sudah berhenti tepat di depan sekolah Malika.
" Din, biar aku akan pulang bersama Malika, kamu tidak perlu menjemputnya "
" Yakin ? "
" He-eh "
" Oke "
Dinda segera meninggalkan sekolah Malika setelah memastikan Aisyah dan Malika sudah masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
...*****...
...🌸🌸🌸🌸🌸...