
Sekeras apapun Bella berteriak. Sekuat apapun dia berusaha melawan dengan memukul-mukul lengan Nathan bahkan menggigitnya. Namun hal itu tidak membuat mobil berhenti melaju.
Rasa lelah tentu saja terasa. Kerongkongan Bella mengering karena teriakan tidak di respon.
Di sebuah tempat sepi, mobil Nathan berhenti. Dia menghela nafas panjang sebelum angkat bicara untuk memulai obrolan.
"Aku minta maaf."
"Aku menganggap itu bagian dari masa lalu." Jawab Bella pelan. Maniknya lurus ke depan tanpa melirik ke sosok tampan di sampingnya.
"Kamu menghukum ku. Hidupku tidak lagi seperti dulu."
"Aku tidak tahu Mas. Selama ini aku sudah melupakan semuanya."
"Tolong Bella. Jangan sisakan dendam juga rasa kesal. Aku akui jika aku bersalah."
"Jangan menyamakan. Aku tidak seperti mu yang hobi menyimpan dendam. Aku juga tidak ada waktu memikirkan masa lalu dan sibuk dengan perkerjaan ku." Nathan menghembuskan nafas berat. Entah kenapa dalam pandangannya Bella terlihat sangat cantik. Rasa mual yang biasanya hadir tidak dia rasakan.
"Datanglah ke kantor besok. Ku berikan perkerjaan." Bella terkekeh kecil dan masih tidak ingin melihat paras di sampingnya.
"Tidak. Terimakasih. Aku sudah bahagia atas hidupku."
"Daripada kamu berkerja panas-panasan."
"Itu lebih baik daripada aku berhubungan dengan lelaki seperti kalian." Nathan menghela nafas panjang sambil menegakkan posisi duduknya. Kini keduanya sama-sama menatap lurus ke depan.
"Aku ingin meminta sesuatu darimu untuk pembuktian." Ujar Nathan pelan. Ingin membuktikan perkataan Eldar yang selalu menyangkut pautkan keanehan tubuhnya dengan kesalahannya pada Bella.
"Apa? Katakan? Setelah itu, biarkan aku pergi." Jawab Bella cepat. Sungguh dia ingin pergi dari sana, sayangnya pintu mobil terkunci otomatis.
"Cium aku." Sontak Bella menoleh. Kini maniknya menatap Nathan yang juga tengah melihatnya.
"Kau gila?! Setelah kesalahan itu, kau ingin aku melakukan hal menjijikan itu!!" Tentu saja kemarahan Bella semakin meluap-luap. Dia menganggap Nathan kembali merendahkan nya.
"Kamu tidak mengerti apa yang sedang menimpa ku. Tolong Bella, cium aku agar semuanya jelas." Bella memutar tubuhnya lalu berusaha membuka pintu dengan gerakan kasar.
"Buka! Tolong Mas! Jangan seperti ini!!
"Tidak akan ku lepaskan sebelum kamu menciumku." Bella kembali menghadap Nathan. Maniknya terlihat berkaca-kaca disertai tarikan nafas berat.
"Apa belum cukup kamu menghancurkan hidup ku hah!" Kini Nathan di pertontonkan kemarahan Bella yang terasa meluap-luap. Dia berusaha menelan itu bulat-bulat sambil berharap keanehan pada tubuhnya hilang.
"Aku kehilangan rasa Bella." Sontak ucapan Bella terhenti.
"Rasa apa?"
"Em itu. Aku.. Berubah tidak normal. Aku tidak bisa melakukan kesenangan ku semenjak kamu pergi." Rasanya sangat berat terlontar namun Nathan berusaha mengatakannya." Bahkan untuk berciuman saja aku mual. Awalnya ku fikir ini penyakit tapi.. Dokter tidak mendeteksi keanehan apapun. Aku merasa jika ini kutukan yang berasal darimu. Tolong Bella. Mungkin setelah kamu memaafkan ku. Hidupku akan kembali normal. Aku berjanji akan memberikan imbalan sepadan." Imbuh Nathan menjelaskan.
"Aku tidak butuh imbalan."
"Lalu apa yang kamu butuhkan? Apapun akan ku berikan."
__ADS_1
"Menjauh lah. Aku tidak mau melihat mu lagi."
"Hm oke. Maafkan aku dari lubuk hatimu lalu cium aku sebentar saja. Aku berjanji tidak akan datang besok dan seterusnya."
Selayaknya dalam negeri dongeng. Nathan berharap kutukan musnah setelah ciuman di lakukan.
Bella yang masih tidak yakin. Terdiam cukup lama dan untuk menyiapkan diri. Rasa benci pada sosok di hadapannya berusaha di hilangkan agar hidupnya tidak lagi ada gangguan.
Dengan sedikit canggung Bella mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya. Namun ketika dia akan menyudahi kegiatan. Tangan kanan Nathan meraih tengkuknya untuk memperdalam ciuman.
"Sialan!!!" Umpat Bella mendorong kasar dada Nathan agar menjauh.
"Oh astaga. Aku bisa merasakan manisnya ciuman setelah sekian lama." Nathan tersenyum sumringah. Dia menganggap jika kutukan sudah berakhir.
"Antar aku pulang dan jangan datang lagi." Jawab Bella acuh. Mencoba menyembunyikan degup jantung tidak beraturan yang tengah bergejolak di hatinya. Ah. Kenapa aku menikmati itu. Seharusnya aku tidak merasakannya. Lelaki ini yang sudah menghancurkan pernikahan ku.
"Berkerjalah di cabang baru. Aku tahu kamu tidak ingin bertemu Leo." Tawar Nathan seraya melajukan mobilnya. Dia ingin cepat mengantar Bella pulang sebab tidak sabar hendak memboking seorang wanita malam ini.
"Terimakasih."
"Kamu ingin uang tunai?"
"Ganti rugi ponsel dan pintu yang sudah kamu rusak tadi." Jawab Bella seakan acuh.
"Hm akan ku urus. Itu nominal yang kecil. Berapa nomer rekening mu?" Masih saja Nathan berusaha memberikan imbalan yang sepadan.
"Tidak ada."
"Tidak perlu. Aku tidak mau berurusan dengan mu."
"Hm sesuai janji. Aku tidak akan datang lagi untuk seterusnya. Tapi imbalan tetap ku berikan." Bella tidak menjawab ucapan tersebut. Rasanya kesal ketika dia mendengar kenyataan Nathan dengan senang hati menerima syaratnya.
Ada keinginan aneh sedang bergejolak. Bella menginginkan Nathan meski kesalahan besar sudah di lakukan. Tidak dapat di pungkiri jika sampai detik ini Bella belum melupakan hangatnya percintaan yang Nathan berikan dulu.
Berkacalah Bella. Mana mungkin begitu? Nathan seorang Bos besar berparas tampan. Sementara aku..
🌹🌹🌹
"Maaf Tuan. Saya tidak bisa melanjutkan perkerjaan saya."
Bukan kali ini saja Leo mendengar ucapan tersebut. Sudah enam pembantu gugur. Banyak sekali alasan yang mereka lontarkan, keluarga yang sakit dan lain-lain.
"Jangan Bik. Saya sudah cocok sama masakan Bibik." Si pembantu terlihat tertunduk.
"Keluarga di kampung sakit Tuan."
"Pulang kampung saja. Jangan berhenti berkerja." Bersamaan dengan itu Lisa datang dari kampus. Sontak si pembantu berdiri sambil memasang wajah panik.
"Tidak bisa Tuan. Saya akan berkemas."
Lisa tersenyum simpul dan duduk di samping Leo. Dia meletakan buku di tangannya sebelum bersandar lemah pada pundak Leo.
__ADS_1
"Kenapa baru pulang?" Tanya Leo pelan.
"Banyak sekali mata kuliah hari ini Pa."
"Bibik keluar. Menurut mu apa yang membuatnya tidak betah. Apa kamu bersikap kasar padanya?" Leo selalu di pusingkan dengan berhentinya pembantu-pembantu. Sebab karena hal itu, dia harus kembali mencari pembantu baru.
"Tidak Pa. Kenapa aku yang di tuduh?"
"Bukan menuduh. Papa hanya bertanya."
"Aku tidak tahu! Sudah capek terus di ceramahi." Gerutu Lisa seraya berdiri. "Aku lapar Pa. Tolong pesankan makanan. Bibik kan mau pergi." Imbuh Lisa meminta.
"Kamu tahu kalau Papa baru saja pulang. Sebaiknya kamu siapkan sendiri sekalian belajar melayani Papa."
"Tidak. Aku malas dan capek. Kalau Papa tidak mau, aku delivery saja." Lisa berjalan menaiki tangga tanpa perduli pada Leo, Suaminya.
Helaan nafas panjang terdengar berhembus. Memang benar jika Lisa dan Bella sama-sama tidak bisa memasak. Tapi meski begitu, Bella senantiasa melayaninya. Tidak pernah sekalipun Leo menyiapkan makanan sendiri.
Sementara di kamar mandi. Lisa mengeluarkan ponsel dari sakunya setelah mengunci pintu kamar. Dia menghubungi kontak seseorang sambil berkaca di depan wastafel.
📞📞📞
"Terimakasih ya sayang. Aku puas.
"Bagaimana dengan pembantu mu? Dia akan mengadu perbuatan kita.
"Tenang saja. Dia sudah ku pecat sepihak. Rahasia kita akan. Em besok pagi lagi ya
"Jangan terlalu sering. Aku takut.
"Tinggal menyeberang jalan saja apa susahnya.
Semenjak kepergian Bella, Nathan menjual rumah yang baru di beli karena merasa risi dengan gelagat serta sikap Lisa. Kini seorang pengusaha menempati rumah tersebut sehingga Lisa berganti haluan padanya.
Permainan ranjang dan keroyalan menjadi tolak ukur bagi Lisa. Dia tidak perduli akan status si pengusaha yang mungkin sudah beristri.
"Kita bertemu di hotel saja ya. Em sekalian membeli ponsel baru. Katanya kamu ingin?
"Ya sudah sayang. Asal kita bisa bertemu. Em tapi aku juga ingin berbelanja baju.
"Oh oke. Kita beli juga besok.
"Iya.
📞📞📞
Lisa mengakhiri panggilan seraya tersenyum manis. Jatah berbelanja yang kurang membuatnya berselingkuh. Leo masih menerapkan sistem yang sama dan hanya memberikan jatah bulanan sementara sisa uang di pegang sendiri.
"Siapa suruh pelit! Ku fikir setelah menikah aku bisa bebas memakai uangnya. Tapi ini? Uh! Aku hanya di beri uang lima juta selama satu bulan. Rugi sekali menikahinya. Sudah gampang loyo! Pelit lagi!!"
Umpat Lisa seraya melepas baju dan memutuskan untuk segera mandi.
__ADS_1
🌹🌹🌹