
Setengah mati Bella merasa canggung dengan makan siang kali ini. Kepercayaan perlahan terbangun pada sosok yang tengah duduk di samping nya.
Padahal masih beberapa hari berlalu. Namun perasaan Bella terasa kian menggebu karena perubahan yang di tunjukkan Nathan. Ingin mengiyakan pinangan tapi nyatanya ucapan tertahan di kerongkongan. Bella berusaha menahan diri untuk memenuhi janjinya pada Pak Bisri agar tidak jatuh ke lubang yang sama.
"Sampai kapan kamu menolak ponsel pemberianku?" Tanya Nathan seraya mengunyah.
"Saya berharap pada ponsel lama saya."
"Sudah ku buang." Jawabnya cepat.
"Lebih baik menunggu gaji untuk membeli itu." Ucap Bella beralasan.
"Tidak ada salahnya kan. Aku hanya ingin membelikan calon Istri ku." Sontak wajah Bella memerah di sertai helaan nafas panjang." Terima saja agar kita bisa berkirim kabar." Imbuh Nathan menimpali.
"Hm baik. Tapi tolong terima uang yang saya kembalikan."
"Untuk uang jajan. Tidak perlu bercerita pada Ayah mu kalau memang dia melarang. Aku tidak akan mengambilnya lagi walaupun kamu letakkan amplop itu bertahun-tahun di sana."
Terhina!! Begitulah yang di rasakan Nathan ketika Bella mengembalikan uang dan ponsel pemberiannya.
"Maaf. Untuk masalah uang. Sebaiknya jangan berdebat. Saya tidak mau menerima nya."
"Oke."
Suasana kembali hening ketika seorang pelayan membereskan meja atas perintah Nathan. Beberapa saat kemudian, Stefan tiba bersama sang sekertaris juga Lisa. Mereka merupakan relasi yang akan Nathan temui. Tentu saja Bella langsung memasang wajah geram namun berusaha di tahan karena dirinya wajib bersikap profesional.
Gawat. Ada Bella. Eluh Lisa di dalam hati.
Apa Lisa berkerja pada lelaki ini atau mereka. Mata Bella memicing ketika tangan Lisa perlahan terlepas dari lengan Stefan. Hah terserah. Ini bukan urusanku.
"Pak Nathan sudah menunggu lama." Sapa Stefan setelah menjabat tangan Nathan juga Bella.
"Sekalian makan siang." Astaga wanita ini. Dia berkhianat hahaha konyol.
Kenapa Bella bisa bersama Kak Nathan? Sampai sekarang dia masih terlihat paling tampan.
Sifat buruk yang ada pada Lisa merupakan warisan dari Almarhum Ibunya. Sejak perceraian, Ibu Lisa selalu memanfaatkan kecantikan untuk menguras harta para korbannya. Dia tidak perduli pada status si korban yang terkadang sudah beristri.
"Oh begitu. Mari kita mulai."
Dengan cekatan Bella mencatat pembicaraan. Dia ingin menyingkirkan dendam pribadinya pada Lisa untuk sejenak. Sepanjang pembahasan, Bella yakin jika Lisa berusaha menggoda Nathan mengunakan bahasa tubuh, seperti apa yang pernah di lakukan pada Leo dulu.
Sikap yang di tunjukkan Lisa membuat fokus Bella menjadi teralihkan. Beberapa kali dia melirik ke arah Nathan yang tidak merespon. Namun kekhawatiran tetap saja terbesit meski Bella tahu Nathan belum menjadi miliknya.
"Sebentar." Sahut Bella menyela pembicaraan.
"Ada apa Bu Bella?" Tanya sekertaris Stefan.
"Pembicaraan terlalu cepat. Saya tidak bisa mencatat semua." Nathan menggeser ponsel miliknya dan menunjukkan rekaman audio yang masih berlangsung.
Aku yakin fokus mu teralihkan karena wanita ini.
__ADS_1
"Tenang saja. Semuanya sudah terekam di sini. Kamu tinggal menyalin nya." Ujar Nathan menjelaskan.
"Em ya Pak maaf." Jawab Bella lirih sambil melirik sebentar ke Lisa yang tersenyum simpul.
"Bisa kita lanjutkan?" Tanya Stefan ramah.
"Silahkan."
Pembicaraan kembali berjalan. Kali ini Bella hanya ikut menyimak sambil memperhatikan Lisa. Sungguh dia semakin muak melihat kelakuan Lisa yang tidak berhenti menunjukan keburukan.
.
.
.
Singkat waktu. Setelah kata mufakat tercapai, sebuah sajian sederhana di suguhkan. Sengaja Nathan memesan untuk memberikan peluang Bella membalas kekesalannya.
"Kamu membolos kuliah?" Tanya Bella tersenyum ke arah Lisa.
"Iya. Kenapa?"
"Em, apa Mas Leo tidak memberikan uang cukup." Bella berharap Lisa panik akan pertanyaannya. Mana mungkin begitu? Sebab Stefan sudah tahu akan status pernikahan Lisa.
Siapa wanita ini? Batin Stefan bertanya-tanya.
"Cukup kok. 50 juta satu bulan tapi aku mulai bosan padanya." Bella menghela nafas panjang. Dia masih ingat jika dulu Leo memberi jatah lima juta perbulan. Itupun Bella sudah kenyang mendengar celotehan Bu Rita yang memintanya berhemat." Apa kamu ingin kembali padanya." Stefan tersenyum. Dia memastikan jika Bella adalah mantan Istri Leo.
"Tidak. Aku hanya sekedar ingin tahu keadaan mu paska perbuatan buruk mu."
"Bukan masalah lelaki itu tapi mulut pedasmu." Sahut Bella menekankan.
"Oh itu." Lisa malah tertawa kecil." Mereka datang saat aku terburu-buru pergi ke kampus. Terpaksa aku berkata itu agar mereka cepat pergi dari rumah ku." Dengan gerakan cepat Bella berdiri dan melayangkan tamparan ke pipi kanan Lisa. Sontak saja Stefan menghalau ketika tamparan kedua akan Bella berikan.
"Bicara baik-baik Nona. Jangan seperti ini." Cegah Stefan menghempaskan tangan Bella kasar.
"Saya tidak punya urusan dengan anda." Jawab Bella lantang.
"Dia calon Istri saya." Nathan terkekeh sehingga tatapan sekitar beralih padanya. Sementara Bella sendiri masih menatap tajam ke arah Lisa. Dia tidak menyangka jika gadis yang awalnya di anggap lugu ternyata berkepala dua.
"Saya tidak perduli jika wanita itu calon Istri anda. Saya punya urusan yang belum terselesaikan." Terlihat Lisa memasang wajah ketakutan untuk mengelabuhi Stefan. Dia bahkan berharap mendapatkan pembelaan dari Nathan.
"Urusan dia menjadi urusan saya." Bella tersenyum simpul.
"Cinta memang membutakan. Biarkan saya menampar mulutnya satu kali saja!!" Bella hendak menerobos tapi tentu saja Stefan tidak membiarkannya.
Stefan mendorong tubuh Bella sampai hampir terjungkal. Beruntung Nathan sudah berdiri di belakang untuk menahan tubuh Bella agar tidak jatuh.
Sontak hati Bella bergetar ketika punggungnya menempel di dada bidang Nathan. Kedua tangan kekarnya bahkan merangkul pundaknya erat.
"Tamparan mulut tidak sepadan dengan perbuatannya." Sahut Nathan seraya menunjuk ke arah Lisa." Berikan padanya." Imbuhnya tersenyum simpul. Ada perasaan aneh yang tengah bergejolak sampai-sampai Nathan enggan menyingkirkan rangkulan tangannya.
__ADS_1
"Tidak Pak. Anak buah Pak Nathan sudah melampaui batas."
"Selayaknya anda. Em saya sedang membela calon Istri saya." Mata Stefan seketika membulat begitupun Lisa yang tidak percaya dengan apa yang di dengar.
Dia tidak malu mengakui ku? Oh tidak. Ini melemahkan pertahanan.
"Pak Nathan bercanda?" Tentu saja Stefan tidak mempercayai hal tersebut sebab Bella terlihat sangat buruk.
"Tidak. Satu tamparan untuk proyek besar. Atau anda lebih memilih kerja sama gagal?" Jawab Nathan mengancam.
"Memangnya apa yang Lisa perbuat?" Terpaksa Stefan merendahkan diri sebab dirinya membutuhkan suntikan dana untuk pengembangan perusahaan.
"Dia membunuh Ibu saya."
"Mana mungkin? Kalau memang begitu, seharusnya Lisa sudah di penjara." Tutur Stefan menyangkal.
Nathan meraih berkas yang baru saja di tandatangani lalu merobeknya. Itu merupakan kode keras sehingga tatapan Stefan kini beralih pada Lisa.
"Apa benar?" Tanya Stefan pelan.
"Aku hanya asal bicara.."
"Tapi kau tahu Ibuku menderita sakit jantung dan komplikasi." Teriak Bella geram.
"Saya mohon maafkan dia Nona. Dia sedang hamil." Stefan memasang wajah memelas dan berharap Bella melupakan kesakitannya.
"Tidak akan ada kesempatan kedua. Kerja sama ini gagal." Perkataan Nathan membuat Stefan merasa di tekan. Dia tidak ingin kerja samanya gagal. Ini satu-satunya jalan agar perusahaan miliknya bisa berkembang pesat.
"Maafkan aku ya." Dengan berat hati Stefan menggeser tubuhnya untuk memberi jalan bagi Bella.
"Tega kamu sayang." Terlihat Bella langsung melangkah maju namun bukan untuk memberikan tamparan melainkan guyuran jus alpukat. Dia menimbang ketika Stefan menjelaskan kehamilan. Bella sedikit merasa iba dan yakin jika sang Ibu membenarkan keputusannya.
"Aku harap suatu saat balasan akan kau dapatkan." Setelah meletakkan gelas kosong. Bella melangkah keluar meninggalkan restoran.
"Menjijikan!!" Teriak Lisa geram. Hatinya tidak menerima perbuatan Bella. Itu berarti Lisa belum menyadari akan kesalahannya.
"Biar ku bersihkan." Stefan mengambil tisu untuk membersihkan jus dari wajah dan rambut Lisa. Namun Stefan menghentikan perkerjaannya ketika melihat Nathan hendak pergi." Lalu bagaimana dengan kerja sama kita Pak Nathan?" Imbuhnya bertanya.
"Saya akan mengatur ulang jadwal. Nanti Eldar akan mengabari." Nathan berlalu pergi setelah menjawab pertanyaan dari Stefan.
"Aku malu sayang."
"Maaf. Aku membutuhkan suntikan dana."
"Terus kau mengorbankan aku?!!" Menunjuk dadanya.
"Kita pulang untuk membersihkan ini lalu jalan-jalan ke Mall. Katanya ingin membeli berlian?" Seketika wajah Lisa berganti sumringah. Dia sangat menyukai keroyalan Stefan.
"Satu set ya."
"Hm iya."
__ADS_1
"Ya sudah ku maafkan." Stefan tersenyum lega. Perusahaan bisa berkembang dan kemarahan Lisa bisa teratasi.
🌹🌹🌹