
Sebenarnya Pak Bisri menginginkan acara lamaran sederhana. Namun berbeda dengan Nathan yang sudah mengirim beberapa orang untuk mendekor rumah bahkan memesan layanan catering.
Terlihat sungguh-sungguh padahal semua orang yang hadir dalam acara pertunangan hanyalah orang bayaran termasuk kedua orang tua Nathan.
Kali ini bukan hanya Bella yang di tipu tapi Pak Bisri juga para tetangga. Persiapan lamaran yang tidak biasa membuat para tetangga tergelitik untuk mendekat. Apalagi mereka mengingat status janda yang sudah Bella sandang.
"Pasti habis banyak ya Pak. Dekorasinya seperti orang mau menikah saja." Sanjung salah satu tetangga yang datang.
"Saya tidak tahu Bu. Saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Acaranya mendadak sekali."
Pak Bisri mencoba memperlihatkan senyum meskipun hatinya ada yang mengganjal. Perbedaan status sosial membuatnya ketakutan jika nanti Bella kembali di kecewakan. Tapi tetap saja dia tidak bisa berbuat apa-apa apalagi setelah melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Bella.
Ya Tuhan. Kalau memang Nathan yang terbaik. Tolong lancarkan semuanya. Tapi jika dia bukan yang terbaik untuk saat ini. Gagalkan pernikahan ini meskipun nanti anakku sakit hati. Akan lebih baik sakit hati di awal daripada harus kembali memutuskan sakralnya pernikahan.
.
.
.
Tepat pukul satu siang. Iring-iringan rombongan Nathan terlihat datang. Pemandangan itu sangat menggemparkan penghuni kampung mengingat banyaknya mobil mewah yang terparkir di sepanjang jalan.
Bagaimana mungkin Bella tidak semakin yakin, jika Nathan seakan-akan memperlakukannya spesial.
Lamaran saja semewah ini.
Bella merasa di ratukan, di rias selayaknya pengantin. Namun yang memberatkan adalah senyum palsu yang Pak Bisri perlihatkan.
Aku akan membuktikan kalau ini langkah yang terbaik Yah.
Sungguh Bella merasa terbebani atas pemandangan tersebut. Namun rasa itu tidak lebih kuat dari keinginan untuk hidup bersama Nathan.
Pembicaraan berlangsung hangat. Orang tua palsu yang Nathan bayar bisa memainkan perannya dengan sangat mulus. Mereka juga mengatakan hal yang sanggup menyakinkan perasaan Pak Bisri akan perbedaan status sosial.
"Kami tidak pernah memaksakan kehendak Pak. Asal Nathan senang kami akan merestui." Pak Bisri mengangguk-angguk seraya tersenyum ramah. Sengaja waktu di luangkan untuk saling berkenalan sebelum acara inti di lakukan.
Eldar yang turut hadir hanya tertunduk dengan bibir terbungkam. Dia merasa ikut berdosa melihat penipuan yang terjadi di hadapannya.
"Saya juga seperti itu. Em sebelum acara di mulai. Saya ingin berbicara dengan Nak Nathan. Silahkan pindah ke sini." Menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Bergegas saja Nathan berpindah tempat, dia berharap acara cepat selesai.
"Ada apa Om." Pak Bisri tersenyum lalu menjabat tangan Nathan dengan sangat erat. Sontak perasaan Nathan terasa aneh seakan-akan ketakutan dan kekhawatiran Pak Bisri mampu menembus relung hatinya.
"Berjanjilah untuk tidak mengecewakan saya juga anak saya. Kami hanya berpegang teguh pada ucapan yang kamu katakan. Masih ada waktu untuk mundur kalau kamu ingin melakukannya. Saya tidak pernah memaksakan kehendak. Restu yang saya berikan semata-mata untuk kebahagiaan anak saya." Nathan menelan salivanya kasar. Entah kenapa bulu kuduknya meremang seketika.
__ADS_1
Kenapa orang tua ini?
"Saya tidak akan mundur Om." Jawab Nathan pelan hampir tidak terdengar. Dia bahkan berniat membatalkan pernikahan jika keanehan yang terjadi padanya menghilang setelah acara pertunangan.
"Saya serahkan kebahagiaan putri saya. Kamu sanggup?" Tanya Pak Bisri tegas.
"Saya sanggup."
"Hidup mu tidak akan berjalan baik kalau sampai kamu menyakitinya." Nathan tersenyum aneh. Dia melirik sebentar ke arah Eldar lalu beralih menatap Pak Bisri.
"Om mendoakan sesuatu yang buruk pada saya?"
"Bukan mendoakan. Saya hanya berusaha melindungi putri saya. Apa kamu keberatan?" Jawab Pak Bisri menuntut jawaban.
Kenapa rasanya mengerikan. Tapi ya sudah.
"Mana mungkin saya menyakitinya."
"Hm berjanjilah."
"Saya berjanji. Kalau sampai saya melanggar. Hidup saya tidak akan tenang." Jawab Nathan asal. Dia ingin acaranya cepat selesai untuk mengetahui hasilnya.
Setelah mengambil janji, acara segera di mulai. Bella keluar dengan balutan kebaya modern berwarna jingga. Kusam pada wajahnya tertutupi karena riasan mewah yang sengaja Nathan pesan. Meski hanya acara lamaran setingan. Tapi Nathan tidak ingin di permalukan dengan penampilan Bella.
"Kita akan menikah dua bulan lagi." Sontak Bella memasang wajah kecewa. Sebab Nathan pernah berkata agar pernikahan di gelar satu Minggu setelah lamaran.
"Katanya satu Minggu Mas?" Tanya Bella seraya memakaikan cincin pada jari manis Nathan.
"Banyak surat yang harus di urus." Semoga saja ada perubahan setelah pertunangan di lakukan. Kalau tidak ada, terpaksa aku memajukan pernikahan.
Sungguh buruk niat Nathan. Dia tidak memikirkan bagaimana perasaan Bella dan Pak Bisri nanti kalau mereka tahu niat Nathan yang sesungguhnya.
"Oh begitu." Tentu saja kekecewaan seketika memenuhi otak. Belum apa-apa Nathan sudah melanggar ucapannya sendiri.
Setelah memutuskan bulan pernikahan. Acara di lanjutkan dengan makan-makan sementara Nathan dan Bella terlihat duduk sambil memandangi para tamu.
"Setelah ini kamu tidak perlu berkerja." Pinta Nathan pelan.
"Aku akan tetap berkerja Mas. Kita kan belum menikah."
"Tidak pantas kelihatannya."
"Apa kamu sudah punya calon sekertaris baru?" Terbesit rasa cemburu ketika Nathan meminta Bella berdiam di rumah. Walaupun dia melihat sendiri perubahan sikap Nathan, namun hal itu tidak juga menghilangkan ketakutan kalau nantinya Nathan kembali hobi bergonta-ganti wanita.
__ADS_1
"Tidak ada."
"Terus kenapa aku kita boleh berkerja?"
"Memang seharusnya kamu berdiam di rumah."
"Tidak Mas. Ayahku butuh biaya untuk hidup. Aku tidak mau nantinya memberatkan mu." Bella belajar dari masa lalu ketika Leo memberikan jatah uang bulanan dengan setengah hati.
"Itu perusahaan ku."
"Aku tahu. Setidaknya aku mendapatkan upah dari perkerjaan ku."
"Akan ku berikan dengan cuma-cuma." Kalau dia berkeliaran di sana. Aku tidak bisa bebas melakukan pembuktian.
"Aku tidak mau."
"Hm oke. Terserah, aku hanya tidak tega melihatmu berkerja di sana. Seharusnya kamu berada di rumah dan menunggu ku pulang."
Seketika ingatan soal Leo melintas. Dulunya lelaki itu mengatakan hal yang sama. Awalnya memang terasa bahagia namun setelah tahu kenyataannya. Bella menyesal sudah menuruti perintah tersebut. Lebih baik dia tetap berkerja agar biaya hidup kedua orang tuanya bisa di topang sendiri.
"Lalu aku di sebut benalu." Jawab Bella pelan.
"Mana mungkin."
"Sudahlah Mas. Aku akan tetap berkerja." Nathan menghela nafas panjang. Dia tidak sedang mengalah, melainkan takut kalau nantinya niat buruknya terbongkar.
Sementara Eldar menjauh dari lokasi pertunangan untuk menerima panggilan masuk.
📞📞📞
"Jadi mereka sudah berkumpul di sana?
"Ya Pak. Saya juga melihat beberapa wanita panggilan.
"Hm.
📞📞📞
Eldar mengakhiri panggilan seraya menatap ke Nathan dan Bella dari tempatnya berdiri. Namun tatapan beralih ketika Pak Bisri keluar dari rumah sambil menyambut para tamu dengan senyum teduh. Rasa berdosa akan penipuan semakin menghantam kuat. Eldar takut kalau persekutuannya akan membawa dampak buruk pada keluarganya.
Terpaksa Tuan. Maafkan saya.
🌹🌹🌹
__ADS_1