
Karena kehilangan banyak darah, membuat kondisi Nathan sempat kritis walaupun dia berhasil melewatinya.
Terlihat Bella dan Eldar menunggu di depan ruang IGD sebab Nathan belum sadarkan diri. Di ujung lorong, Pak Bisri berjalan bersama Bastian. Sebenarnya kehadiran mereka tidak di butuhkan. Bella berniat memberi kabar agar Pak Bisri tidak khawatir namun sang Ayah malah ingin turut hadir.
"Sebaiknya kamu ganti baju dulu." Ucap Pak Bisri seraya menyodorkan bungkusan berisi baju.
"Nanti saja." Bastian menghembuskan nafas berat. Entah kenapa dia memiliki firasat buruk akan kejadian malam ini.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Bastian basa-basi. Dia bahkan mendoakan agar Nathan meninggal dunia. Matanya melirik ke arah Bella yang tengah di tenangkan Pak Bisri.
"Masa kritis sudah di lewati. Beliau belum sadarkan diri." Bastian mengangguk-angguk lalu duduk lemah di sisi Eldar.
Seharusnya Pak Bisri bisa lebih tegas dengan anaknya. Kalau seperti ini, kesempatan ku menikah dengan Bella malah semakin jauh!! Umpat Bastian dalam hati. Kesal?! Tentu saja begitu. Selama ini dia selalu menahan amarah hanya agar terlihat dewasa. Tapi semua itu terasa tidak berguna sebab sampai detik ini Pak Bisri tidak juga berlaku tegas pada Bella.
"Nona Isabella." Panggil seorang suster. Bella bergegas berdiri di ikuti oleh Pak Bisri dan yang lain.
"Ada apa Sus?"
"Pasien sudah sadar dan memanggil nama tersebut."
"Saya Isabella."
"Silahkan masuk Nona." Jawabnya mempersilahkan." Maaf Pak. Minimal dua orang. Em setelah pemeriksaan selesai, pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan. Permisi." Eldar dan Bastian kembali duduk.
"Kenapa dia berbuat itu?" Tanya Bastian pelan.
"Saya tidak tahu Pak. Terakhir kami bertemu sore ini. Beliau tidak berkata apapun. Mungkin terlalu lelah sehingga keputusan mati jauh lebih baik daripada harus hidup tanpa hati." Jawab Eldar menjelaskan. Dirinya benar-benar tidak tahu akan rencana Nathan.
"Dia hanya sedang mencari perhatian." Eldar tersenyum simpul seraya melirik sebentar ke arah Bastian yang terlihat kesal.
"Pak Ian tidak tahu apa-apa."
"Dia hanya seonggok lelaki brengsek."
"Manusia memang tempatnya kesalahan. Tidak ada manusia suci tanpa dosa begitupun saya."
"Seharusnya dia pergi kalau memang dia merasa bersalah pada Bella." Nada bicara Bastian mulai meninggi. Rasa cemburu tengah bergejolak.
"Keputusan ada pada Nona Isabella. Kalau memang Nona ingin bersama Pak Ian, mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi. Kalian tentu sudah hidup berbahagia."
"Sialan. Tuanmu merusak semuanya!" Umpat Bastian seraya berdiri. Dia memilih pergi membawa kekecewaan berat.
Selama ini Bastian berusaha bersikap dewasa, lembut juga sopan. Berharap Bella tertarik begitupun Pak Bisri. Rencananya memang berhasil mengelabui Pak Bisri tapi tidak untuk Bella yang sampai sekarang enggan membuka hati untuknya.
__ADS_1
Sementara di dalam. Nathan seketika tersenyum saat melihat Bella datang bersama Pak Bisri. Kata-kata terakhir yang di dengar dari Bella membuatnya begitu bersemangat untuk hidup. Dia tidak perduli pada usaha yang akan di lakukan nantinya. Selama Bella masih memiliki rasa, Nathan akan berusaha mengembalikan kepercayaan.
"Terimakasih sudah memberi kesempatan." Ucap Nathan lirih. Seorang suster dan dokter bahkan masih memeriksa keadaannya.
"Tidak. Aku hanya malas berurusan dengan polisi."
"Saya meminta maaf atas perbuatan saya." Seakan tidak mendengar penolakan Bella, kini tatapan Nathan beralih pada Pak Bisri.
"Sangat banyak hal yang perlu di lalui untuk menjadi dewasa. Om hanya berharap kamu tidak melakukan kesalahan lagi."
"Saya bersungguh-sungguh Om. Saya menyesal."
"Hm saya maafkan. Semua orang pernah melakukan kesalahan."
"Terimakasih Om. Kalau di izinkan, saya ingin segera menikahi Bella." Pak Bisri melirik ke arah Bella yang tengah berpaling. Bahasa tubuh yang di tunjukkan menandakan jika Bella memang masih memiliki rasa pada Nathan.
"Semua keputusan tetap di tangan Bella. Om tidak bisa memaksakan kehendak. Bagaimana Nak? Apa kamu terima." Bella melirik malas dengan wajah memerah.
"Aku belum mau menikah Yah." Aku mau. Tentu saja Bella merasa malu untuk mengakui keputusannya." Kenapa Ayah tidak marah padanya." Menunjuk ke arah Nathan.
Sebab Ayah pernah berada di posisi Nathan.
"Firasat orang tua saja." Jawab Pak Bisri singkat.
"Aku tidak mau."
"Sebaiknya Nak Nathan sehat dulu baru membahas soal ini."
"Ya Om." Aku senang sekali. Kamu masih mencintai ku dan itu berarti aku harus tetap hidup untuk menjagamu.
Sebelum hilang kesadaran, Nathan sempat mendengar pengakuan rasa Bella. Mungkin itu adalah alasan kenapa dirinya bisa melewati masa kritis.
Setelah memastikan keadaan stabil, Nathan di pindahkan ke ruang perawatan. Sementara Pak Bisri menemani Nathan, Bella tengah berada di dalam kamar mandi untuk mengganti baju.
Tepat di saat pintu toilet terbuka, obrolan antara Nathan dan Pak Bisri terhenti. Kini keduanya menatap ke arah Bella yang berusaha memasang wajah masam.
"Kamu belum makan malam. Nak Eldar sudah membelikannya untuk mu." Menunjuk ke arah meja yang terdapat dua kotak makanan.
"Aku tidak lapar Yah." Jawab Bella pelan. Sikapnya terlihat kaku sebab dia menyadari Nathan tengah memperhatikannya." Kapan kita pulang?" Imbuhnya basa-basi. Sungguh Bella ingin tinggal malam ini tapi dia tidak sanggup meredahkan getaran hati.
"Kita pulang besok. Kasihan Nak Nathan tidak ada yang menjaga."
"Pak Eldar?"
__ADS_1
"Dia punya keluarga dan anak yang masih kecil." Sahut Nathan cepat.
"Keluarga mu?"
"Ayahku sakit stroke. Tidak mungkin aku mengabarkan ini." Jawab Nathan beralasan. Padahal hubungan antara Pak Bisma tidak berjalan baik. Aku bisa saja pulang malam ini. Sayatan pada pergelangan tangan tidak berarti apa-apa.
"Sudahlah, berhenti menimbang. Makan lalu tidurlah." Pinta Pak Bisri pelan.
"Ayah saja yang beristirahat. Em aku akan ke depan sebentar."
"Sekarang pukul berapa? Lihatlah." Menunjuk jam dinding dengan isyarat mata. Pak Bisri berdiri lalu merangkul kedua pundak Bella erat." Makan lalu tidur." Pintanya lagi.
"Kenapa kita tidak pulang saja." Tanya Bella berbisik.
"Tadi Nak Eldar sudah meminta bantuan pada Ayah."
"Dia pasti hanya berpura-pura sakit."
"Kamu satu-satunya saksi yang berada di tempat kejadian." Pak Bisri tersenyum hangat. Mencoba menyadarkan Bella jika tadi Nathan hampir merenggang nyawa.
"Ayah saja yang tidur."
"Setelah kamu makan." Rajuk Pak Bisri tidak juga berhenti. Dirinya tahu jika Bella bukan tidak lapar, melainkan malu untuk makan.
"Hm." Bella berjalan ke arah meja dan mengambil satu kotak makanan. Dia duduk dengan gerakan kaku, ingin menghindari kontak mata Nathan yang masih melihatnya." Bisakah aku pulang saja Yah." Rasa gugup seketika merongrong. Meski tidak melihat tapi Bella tahu Nathan tengah menatapnya.
"Tidak Nak. Ini sudah terlalu malam."
"Hubungi Pak Eldar."
"Dia baru saja pulang."
"Aku akan tidur kalau kamu tidak nyaman." Sahut Nathan sambil memalingkan wajahnya.
"Sikapmu berlebihan. Aku tidak suka."
"Oh maaf." Jawab Nathan dengan posisi memunggungi.
Syukurlah dia berhenti melihat ku.
Baru saja Bella merasa lega dan tenang. Tapi pemandangan di hadapannya kembali membuatnya gugup. Nathan tidak benar-benar berpaling, sebab tenyata dia masih menatap dari pantulan cermin.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Maaf jika banyak kesalahan penulisan 🙏
Terimakasih dukungannya 🥰