Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Pernyataan rasa


__ADS_3

"Aku tahu kamu Nathan kan?"


Nathan bergegas berdiri lalu mengunci pintu. Penyamaran yang gagal membuatnya memutuskan berbicara dari hati ke hati. Dia sendiri tidak nyaman menyamar apalagi harus berganti sikap menjadi orang lain.


"Ini untuk mu." Ada perasaan lega ketika ucapan itu terlontar. Meski dia setengah mati merasa malu.


"Mana aku percaya Mas. Aku tahu sejarah mu. Apa yang sedang kamu rencanakan untuk ku?" Meski ketertarikan sudah terbangun. Bella tidak ingin di jadikan salah satu koleksi Nathan nantinya.


"Mendekati mu." Jawab Nathan singkat.


"Jujur saja Mas. Apa kamu ingin meledekku seperti yang lain?" Bella sadar jika fisiknya sudah berubah buruk karena tidak adanya perawatan. Aku takut dia kembali mempermainkan ku.


"Tidak. Membuang waktu saja." Nathan terlihat gugup. Ingin segera menyatakan perasaan bahkan tidak sabar melontarkan pinangan.


Gila! Nathan merasa sangat tidak waras. Padahal ketika berjauhan, dia selalu merencanakan hal buruk pada Bella. Seperti memanfaaatkan nya hanya untuk kepentingan pribadi. Namun ketika bertatap muka, dia sangat bernaffsu ingin memiliki Bella.


"Kamu tidak per percaya?" Tanyanya terbata.


"Aku sudah memaafkan mu. Bukankan kamu berjanji tidak menemui ku lagi." Nathan terdiam sesaat seraya menghela nafas panjang lagi dan lagi. Dia tengah menimbang jawaban yang tepat agar Bella tidak marah.


"Sudah ku lakukan. Em keanehan itu masih tidak pergi."


"Itu masalah mu Mas. Aku sudah memaafkan dan jangan libatkan aku." Aku berharap kamu tidak pergi karena sikap yang ku tunjukkan. Aku ingin tahu sejauh apa niatmu dan sejauh apa keinginan mu untuk memperbaiki kesalahan.


"Hei tidak bisa begitu. Aku hanya tidak jijik melihat mu."


"Apa ini salah satu tipu daya?" Nathan melirik malas sambil memasang wajah masam.


"Aku serius."


"Entahlah." Jawaban Bella semakin membuatnya frustasi.


"Ayo menikah." Ucap Nathan cepat. Hal yang paling di benci terlontar begitu saja.


"Aku tidak mau masuk ke lubang yang sama. Mas Leo yang ku kenal setia saja mampu berbuat itu apalagi kamu." Tolak Bella ketus.


"Jangan samakan aku dengan.."


"Kalian tidak ada bedanya." Bella beranjak dari tempat duduk dan bergegas saja Nathan menghadang langkahnya.


"Mau ke mana?"


"Berkerja. Aku tidak mau makan gaji buta."


"Pembicaraan kita belum selesai."

__ADS_1


"Aku malas membahas tentang hubungan."


"Ini kali pertama aku meminta seorang wanita untuk ku nikahin. Apa kamu tidak percaya padaku dan semua yang ku lakukan ini?" Nada bicara Nathan yang meninggi membuat Bella semakin tidak yakin.


"Teriakan mu menunjukkan kesamaan. Aku tidak mau merasakan sakitnya di tampar oleh orang yang ku sayangi." Jawab Bella tegas. Perasaan kecewa akan sosok Leo masih bertengger di kepala.


"Ya maaf. Aku terbawa emosi. Kamu menyebalkan sekali."


"Seseorang yang memiliki rasa sayang. Tidak mungkin tega meneriaki apalagi sampai melakukan kekerasan. Atur emosi mu kalau memang kamu serius."


Bella melewati Nathan dengan harapan jika Nathan mau melakukan permintaannya.


"Akan ku tunjukkan padamu kalau aku serius." Jawab Nathan sebelum Bella benar-benar keluar dari ruangan." Sialan!!" Umpat Nathan melepas kumis serta rambut palsunya. Dia tidak ingin menyamar lagi meski rencana masih tetap di jalankan.


Nathan berjalan keluar dengan wajah aslinya sehingga memancing kegaduhan beberapa karyawan wanita yang terlihat tengah menata barang sebelum mini market di buka.


Bisik-bisik mulai terdengar. Mereka tentu berdecak kagum pada sosok tampan berperawakan tinggi. Rambut ikal acak-acakan malah menambah kesempurnaan.


Kenapa dia malah menunjukkan wajah aslinya. Aku yakin dia akan jadi pusat perhatian. Mereka tidak tahu bagaimana buruknya perangai lelaki itu.


"Loh itu Pak Nino?" Gumam Silla melongok. Menatap Nathan dari atas sampai bawah.


"Tidak seharusnya kamu berada di sini." Bella tidak bergeming dengan perkataan Nathan.


"Cepat ikut ke ruangan." Pinta Nathan tanpa memperdulikan pertanyaan Silla.


"Nanti saja kita bicarakan Pak. Saya benar-benar ingin berkerja."


"Kamu tahu ini hanya sandiwara. Meski tidak berkerja kamu akan mendapatkan uang." Bella menghela nafas panjang lalu memutar tubuhnya menghadap Nathan.


"Saya butuh pembuktian bukan pemaksaan."


"Ayolah Isabella. Kamu selalu membuat semuanya sulit." Eluh Nathan tanpa perduli pada karyawan lain.


"Lakukan scenario sesuai rencana sebab saya tidak bisa langsung menerima."


Bella masih memperlihatkan keangkuhan meski dia tidak lagi cantik. Ada rasa takut terbesit jika nantinya Nathan akan pergi tanpa perjuangan seperti yang sudah terjadi dulu. Namun, Bella tidak ingin lagi merendahkan diri dan harus berakhir di injak-injak. Dia berusaha mengubur ketertarikan sebelum Nathan menunjukkan kesungguhannya.


"Bukan kamu yang berhak mengatur tapi aku."


"Ya lakukan." Tanpa basa-basi Nathan menarik lengan Bella dan mengiringnya menuju belakang. Dia tidak nyaman pada tatapan para karyawan." Kembalikan dompet dan ponselku." Nathan terkekeh seraya melepaskan genggamannya ketika keduanya sampai di ruang meeting.


"Dompet apa?"


"Jangan menambah kebohongan Mas. Aku tahu ini cara kotor mu." Bella merentangkan telapak tangannya ke arah Nathan.

__ADS_1


"Itu tandanya aku tidak ingin kamu pergi."


"Kamu memanfaatkan kekuasaan."


"Ya. Sekarang katakan. Kenapa kamu masih menolak ku? Padahal aku tampan, kaya, lantas apa yang kurang hah." Nathan mendengus kemudian duduk. Fikirannya tidak mampu menebak tentang apa yang bersarang pada otak Bella.


"Menurut mu apa?" Kenapa aku menjadi wanita yang munafik. Tidak? Apa yang ku lakukan adalah benar. Aku tidak mau tertipu lagi dengan lelaki ini.


"Tulus dari hati maksud mu?" Jawab Nathan seraya tersenyum penuh hinaan. Sudah lama dia tidak mempercayai ketulusan.


"Ya." Sok sekali. Padahal sejak awal aku tertarik padanya.


"Ketulusan itu hanya dongeng zaman dulu." Ujar Nathan asal bicara.


"Kembalikan ponsel ku Mas." Bella masih menginginkan ponselnya agar selalu terhubung dengan kedua orang tuanya.


"Tidak. Kau akan pergi nanti." Jawab Nathan pelan.


"Biarkan saja pergi. Di sini terlalu banyak kenangan buruk."


"Kau sadar aku siapa?" Bella menghembuskan nafas berat." Aku Bos mantan Suami mu." Imbuhnya menunjuk dada.


"Ponsel itu penting untuk ku." Bella tidak merespon ucapan Nathan yang menjelaskan soal kekuasaannya. Dia tidak berniat menemui orang di masa lalu untuk meledeknya apalagi membuatnya menyesal.


"Berjanjilah tidak pergi."


"Aku akan kembali menjadi tukang ojek dan kamu menjadi Bos. Jangan susah-susah mengatur scenario. Aku tidak mudah di tipu." Nathan beranjak dari tempatnya lalu memaksa Bella berdiri. Dia mengiring Bella ke sebuah kaca besar yang ada di sana.


Terlihat perbedaan yang nyata soal perubahan fisik Bella. Itu alasan kenapa dia tidak berkunjung ke rumah orang tuanya. Bella tidak ingin merek tahu kenyataan buruk tersebut. Terkadang ada keinginan untuk pulang, namun Bella menimbang soal kesehatan Ibunya.


"Kalau kamu kembali ke jalan. Kamu akan berubah semakin buruk." Bella berusaha menatap lurus ke depan meski dia tidak ingin. Sudah lama Bella tidak berkaca karena malas melihat wajahnya sendiri.


"Bukankah kamu dulu bilang aku tidak seberapa cantik? Aku memang tidak cantik. Aku juga sudah tidak ada waktu dan uang untuk melakukan perawatan." Jawab Bella pelan seakan berbicara pada dirinya sendiri.


"Lantas untuk apa kamu berniat kembali ke perkerjaan itu?"


"Setidaknya aku tidak merasakan sakit hati. Keadaan ku sekarang jauh lebih baik daripada saat aku tinggal di rumah Mas Leo." Bella memutar tubuhnya memunggungi kaca, di ikuti oleh Nathan." Aku pencemburu." Imbuhnya hampir tidak terdengar. Aku menahan perasaan berbulan-bulan di sana. Melihat pemandangan menjijikan yang di suguhkan Mas Leo.


Apa dia menyindir ku?


Nathan merasa tersinggung dengan ucapan Bella. Ada niat memanfaatkan Bella agar keanehan pada tubuhnya menghilang. Tapi setelah tahu fakta tentang kecemburuan Bella, membuat fikiran Nathan bercabang.


Apa ini tandanya aku harus setia padanya? Hahahaha konyol. Mana mungkin begitu. Bermain-main dengan wanita itu sangatlah menyenangkan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2