
Seusai acara lamaran. Nathan berserta keluarga pulang namun tidak untuk Eldar. Dia beralasan mengurus pembongkaran dekorasi sampai selesai.
Sengaja Eldar menunggu waktu yang tepat untuk berbicara empat mata dengan Bella. Eldar berniat memberitahu niat busuk Nathan agar tidak ada hati yang di kecewakan lagi.
Bukan hanya itu saja. Satu-satunya orang yang memperkuat niatnya adalah Pak Bisri. Eldar merasa ikut bersalah karena sudah menutupi kebohongan niat Nathan.
Perkerjaan menjadi taruhannya. Sebab Eldar sudah membayangkan kemarahan yang akan di dapatkan. Turun jabatan atau di pecat! Tapi rencana semua sudah di pertimbangkan matang. Eldar memiliki harta yang cukup untuk membangun usaha baru kalau memang Nathan memecatnya.
Setelah rumah benar-benar sepi, Eldar berjalan menghampiri Pak Bisri dan duduk tepat di sampingnya.
"Apa Nona Bella sedang beristirahat?" Tanya Eldar sopan.
"Ada keperluan?"
"Saya ingin membicarakan beberapa hal."
"Sebentar saya panggilkan." Pak Bisri berdiri lalu berjalan masuk untuk memanggil Bella. Hanya sesaat menunggu. Pak Bisri keluar bersama Bella yang sudah berganti baju rumahan.
"Loh Pak Eldar belum pulang." Sapa Bella seraya duduk.
"Belum. Saya ingin membicarakan sesuatu yang em... Sebelumnya saya meminta maaf atas semuanya." Bella menatap ke arah Pak Bisri sejenak lalu beralih pada Eldar.
"Ada apa Pak? Sepertinya serius." Tanya Bella pelan. Hatinya di liputi kekhawatiran melihat mimik wajah gelisah yang Eldar perlihatkan.
"Sebaiknya Nona ikut saya agar semuanya jelas. Mohon di izinkan Pak." Pinta Eldar sopan. Bapak beranak satu ini selalu memperlihatkan tutur kata lembut nan bijaksana.
"Kalau memang penting, pergilah. Asal pulangnya jangan terlalu malam." Seolah bisa menebak. Tidak biasanya Pak Bisri mengiyakan keinginan seorang lelaki asing.
"Saya berjanji hanya sebentar Pak." Bergegas saja Eldar berdiri di ikuti oleh Bella." Saya tunggu di mobil. Permisi." Bella menghela nafas panjang seraya menatap ke arah Pak Bisri.
"Tumben Ayah langsung..."
"Pergilah. Apapun yang kamu lihat nanti. Ayah akan tetap mendukung mu." Sebagai orang tua tentu Pak Bisri merasakan kepekaan apalagi Nathan di anggap cerminan masa lalu baginya.
"Ayah bicara apa?"
"Sudahlah Nak. Kamu memang masih terlalu dini untuk mencerna. Ayah hanya tidak ingin mengecewakan mu." Jawab Pak Bisri seraya mengisyaratkan Bella untuk pergi.
"Aku pergi Yah." Pamit Bella seraya mencium punggung tangan Pak Bisri.
__ADS_1
"Hm hati-hati." Aku melihat ketulusan yang berbungkus kebohongan. Semoga setelah ini kamu paham dengan kekhawatiran Ayah.
Bukan tanpa alasan Pak Bisri tidak memberikan restu. Dia sendiri di buat bingung atas sikap Nathan yang di rasa penuh misteri. Terkadang lelaki itu datang dengan ketulusan tapi ada kalanya Pak Bisri mampu mencium aroma kebohongan.
Tapi rupanya Pak Bisri sengaja memberikan kesempatan sebab dirinya yakin kalau Nathan hanya sedang tersesat.
Selayaknya dirinya yang dulu kesulitan mencari jalan yang tepat, begitulah yang terjadi pada Nathan sekarang.
.
.
.
Singkat waktu. Sudah beberapa menit berlalu, Eldar tidak juga menceritakan soal kemana dia akan membawa Bella pergi. Rasanya memang sangat berat, sebab Eldar harus mengkhianati kepercayaan Bosnya sendiri.
"Sebenarnya kita mau ke mana Pak?" Tanya Bella lirih sambil melihat pemandangan sekitar.
"Saya hanya menjalankan perintah Nona. Maafkan atas kesalahan saya." Jawaban Eldar malah membuat Bella bingung.
"Memangnya Bapak salah apa?"
"Tuan sedang mengadakan pesta di puncak untuk merayakan kemenangannya." Sontak Bella menoleh.
"Taruhan."
Seketika mimik wajah Bella berubah kecewa ketika Eldar menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Nathan melupakan jika Asian grup sudah di kendalikan penuh oleh Eldar sehingga pertemuan rencana taruhan bisa dengan mudah terendus.
Eldar sengaja diam dan berharap Nathan mengurungkan niatnya. Artikel merubah sikap memang di berikan agar Nathan bisa mempelajari bagaimana cara memperlakukan orang yang spesial.
Namun rupanya niat itu gagal sebab Nathan tidak melupakan taruhan. Keangkuhan dan keegoisan masih berada di ubun-ubun sampai-sampai dia tidak mampu merasakan kenyataan soal hatinya yang mulai terpaut pada Bella.
"Mana mungkin Pak. Dia sudah berubah." Kekecewaan terpatri jelas pada mimik wajah Bella. Sungguh penipuan yang sangat mulus tak berjejak.
"Itu kenapa saya akan membuktikannya. Saya tidak mau lagi melakukan penipuan semacam ini Nona." Bella menghembuskan nafas berat. Kebahagiaan baru saja di rasakan beberapa jam lalu tapi harus hancur dengan kenyataan yang di lontarkan Eldar.
"Kenapa Pak Eldar baru mengatakannya sekarang." Tubuh Bella rasanya melemas padahal hatinya belum seberapa yakin akan sosok Nathan.
"Saya ini hanya asisten pribadi Tuan Nathan. Kalau saya tidak menuruti perintahnya, perkerjaan saya akan menjadi ancaman. Dulu memang saya bisa meminta bantuan pada Pak Bisma. Tapi sekarang beliau sedang sakit stroke. Untuk berbicara saya kesulitan."
__ADS_1
Bella terdiam. Seharusnya dia yang lebih berhati-hati bukan malah menyalahkan Eldar atas kejadian yang menimpanya.
"Lantas perkerjaan Pak Eldar bagaimana kalau seandainya dia tahu?"
"Tidak apa Nona. Saya sudah fikirkan ini matang-matang. Ada dana cukup untuk membangun usaha kecil-kecilan." Bella menghembuskan nafas lembut namun panjang.
Obrolan terhenti begitu saja. Eldar tidak berani berkata banyak sementara Bella memilih diam sambil menyiapkan diri untuk kenyataan yang akan di lihat.
Setibanya di lokasi. Keduanya masuk melalui jalan samping. Eldar sudah berkerjasama dengan penjaga Vila untuk membukakannya pintu.
Bella mengekor kemana Eldar membawanya dengan perasaan was-was. Sakit tentu saja! Dia kembali kecewa atas keputusan bodoh yang di ambil.
Suara musik mulai terdengar ketika mereka mencapai pintu rumah samping. Banyaknya perpohonan membuat pengintaian mereka berjalan mulus. Penjaga Vila terlihat pergi karena tidak ingin ikut campur terlalu jauh.
"Apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa ada wanita? Apa mereka staf di kantor cabang atau..."
"Wanita panggilan Nona. Em Tuan Nathan punya akses untuk memesan karena seringnya memakai jasa mereka."
Meski Bella sudah menyiapkan diri untuk hal terburuk. Tapi rasanya masih tetap sakit. Padahal dia yakin perasaannya belum di jatuhkan terlalu dalam namun sisa rasa kecewa di masa lalu membuat suasana hatinya seketika buruk.
Bara dan yang lain ada di sana. Di mana Mas Nathan?
Bella mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Nathan. Di sudut ruangan yang hampir tidak terlihat, Nathan duduk bersebelahan dengan wanita cantik. Penampilannya begitu modis namun busana yang di gunakan sangat minim.
"Tuan berharap keanehan pada tubuhnya menghilang setelah dia bertunangan. Kalau masih ada, Tuan baru akan menikahi Nona tapi saya tidak menjamin kelakuan Tuan akan berubah."
Sebisa mungkin Bella perasaan sakit yang bergemuruh hebat. Apalagi Nathan terlihat menaiki lantai dua dan masuk ke salah satu kamar.
"Mari Nona saya antar." Eldar hendak melangkah maju namun tangan Bella mentahannya.
"Tidak Pak. Saya tidak mau Bapak dan keluarga terkena imbas." Pinta Bella lirih di sertai mata yang mulai berkaca-kaca. Pegangan tangannya perlahan terlepas.
"Saya sudah menyiapkan kemungkinan terburuknya."
"Jujur saja jika saya terlalu lelah. Saya berharap keanehan itu menghilang agar nantinya saya bisa hidup tenang." Air mata mulai lolos dari kedua sudut pipi Bella. Eldar merasa ikut tersakiti melihat pemandangan tersebut sebab dirinya termasuk lelaki yang sangat perduli pada perasaan wanita.
"Mana mungkin Nona. Saya yakin itu tidak akan menghilang karena keanehan merupakan hukuman dari Tuhan. Ayo Nona, mari saya selesaikan agar semuanya jelas. Tuan harus di berikan pelajaran." Bella menggelengkan kepalanya cepat lalu berjalan pergi meninggalkan Eldar yang masih mematung. Bergegas saja Eldar menyusul karena takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Sementara di dalam kamar, Nathan di buat frustasi atas keanehan yang belum juga berhenti. Rasa mual dan jijik semakin menghantam otak ketika wanita di hadapannya mulai melucuti pakaiannya.
__ADS_1
"Pakai lagi bajumu dan keluarlah!!!" Pinta Nathan kasar. Dia bergegas berdiri dan masuk kamar mandi untuk menuntaskan mual yang mengaduk-aduk perut.
🌹🌹🌹