Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Rahasia hubungan terlarang


__ADS_3

Lisa terlihat masuk ke dalam area apartemen. Dia memutuskan untuk membolos kuliah untuk menemui Stefan.


Setibanya di lobby. Kedatangannya sudah sambut. Keduanya berjalan masuk ke dalam lift dengan mempertontonkan kemesraan.


"Serius sayang. Kamu hamil?" Tanya Stefan senang. Dia begitu mengagumi Lisa sampai-sampai dia rela menjadi yang kedua. Sifatnya yang cenderung dewasa tentu seperti gayung bersambut ketika Lisa bersikap manja padanya.


"Ya sayang."


"Lantas kamu ingin hubungan kita berakhir?" Stefan merasa percaya diri. Dia seorang pengusaha garmen sementara Leo hanya Direktur. Kehidupan layak lebih bisa Stefan janjikan sebab dia sudah sangat lihai mengelola perusahaan.


"Pertanyaan macam apa sih? Memangnya kamu mau begitu?" Nada manja nan mendayu-dayu membuat hasrat Stefan langsung tersulut. Dia memiringkan kepalanya lalu mellumat bibir Lisa sejenak.


"Tidak sayang."


"Ini pasti anak mu. Aku tidak yakin ini anaknya." Stefan terkekeh nyaring. Lisa kerapkali mengeluh tentang keperkasaan Leo yang cepat loyo.


"Kita tes DNA. Kalau dia anakku. Minta cerai dan hiduplah bersama ku."


"Memangnya bisa."


"Bisa. Kita pergi ke Dokter besok." Lisa tersenyum simpul. Stefan memang terlihat lebih tampan dan gagah daripada Leo.


"Kenapa besok?"


"Tujuan mu ke sini kan untuk melepas rindu. Jadi..."


Hasrat keduanya kian memanas. Yang ada di otak hanya cara untuk saling memuaskan. Selayaknya apa yang di lakukan bukanlah dosa, keduanya begitu menikmati setiap percintaan seperti pasangan pasutri yang baru menikah.


🌹🌹🌹


Nathan langsung berdiri ketika melihat Leo keluar dari balik pintu. Dia sempat melirik ke arah Bella yang seolah tidak merespon kedatangan Leo. Rasanya sangat memuakkan harus kembali berada di sekitar masa lalu. Namun apa daya jika ini pilihan satu-satunya.


Bella tidak ingin Ayahnya berkerja sebagai tukang kayu. Umurnya yang sudah melebihi setengah abad membuatnya iba. Memang benar dia tertarik dengan Nathan namun hal itu menjadi tujuan kedua. Bella ingin lebih mementingkan kebahagiaan orang tuanya daripada dirinya sendiri.


"Ada keperluan apa?" Tanya Nathan berdiri tepat di hadapan Leo.


"Saya hanya ingin berbicara dengan Bu Bella." Menunjuk ke arah Bella.


"Dia sedang berkerja."


"Saya hanya ingin meminta maaf."


"Jangan beralasan. Pergilah." Usir Nathan tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Bella tolong. Beri kesempatan untuk berbicara." Bella masih sibuk mengetik seolah keberadaan Leo tidak di dengar. Muak sekali melihat wajah itu? Walaupun Bella berniat menemui Lisa untuk membuat perhitungan. Menampar atau paling tidak mengumpatnya di depan banyak orang.


"Dia tidak mau."


"Pasti anda yang melarang." Leo merasa sangat cemburu sampai-sampai tidak perduli tentang fakta lelaki di hadapannya.


"Hei dia bukan lagi Istrimu. Aku akan menikahinya bahkan sudah datang ke rumah untuk melamar." Deg!!! Mata Leo membulat. Tubuhnya seketika melemas mendengar penjelasan dari Nathan.


"Mana mungkin Bella memilih lelaki seperti anda." Nathan terkekeh sambil melirik ke Bella yang masih tidak bergeming.


"Memangnya aku kenapa? Aku tampan dan kaya, sementara kau." Menyentuh pundak Nathan dengan telunjuk lalu mendorongnya sedikit.


"Saya lebih tahu Bella daripada anda."


"Itu wajar sebab Bella bekas Istri mu. Kau fikir aku perduli itu? Asal aku sudah tahu penampakannya saat berkeringat, itu sudah lebih dari cukup untuk menyakinkan hati ku." Leo mendengus sambil menatap tajam ke arah Nathan.


"Tidak mungkin Bella melakukan hubungan seperti itu sebelum ada ikatan pernikahan. Dia bukan wanita yang..."


"Kau ingat saat aku pertama kali tinggal di depan rumah kalian. Bukankah kau tidak ada di rumah selama dua hari." Bella menoleh, dia tentu merespon perkataan Nathan.


"Tutup mulut anda Pak. Mana janji anda untuk bersikap profesional?" Sahut Bella ingin melupakan kejadian yang sulit di singkirkan dari otak. Sampai saat ini dessahan Nathan masih terngiang di telinga.


"Kami sudah melakukan itu. Dia bahkan menddesah hebat ketika..." Plaaaaaakkkkkk!!! Seketika Nathan bungkam begitupun Leo. Keduanya menatap ke arah Bella yang sudah berdiri sambil memasang wajah geram.


"Aku berkata itu agar dia tidak menganggu mu." Ujar Nathan seraya mencegah kepergian Bella. Dia meraih tas dan meletakkannya kembali.


Syukurlah. Itu hanya cerita karangan dari Nathan. Bella sudah mungkin melakukan hal menjijikan itu.


Leo bernafas lega. Sengaja Nathan berkata demikian agar Bella tidak pergi. Jujur saja jika Nathan juga tersulut api cemburu ketika Leo memaksa Bella untuk berbicara.


"Kau tahu itu..." Jawab Bella tertahan. Kedua tangan yang tadinya mencengkram kerah jas Nathan perlahan di turunkan. Itu sebuah aib. Kenapa dia mengatakan dengan bangga.


"Maaf. Aku terpaksa berbohong. Jangan pergi." Leo bergegas berjalan menghampiri Bella.


"Aku minta waktu sebentar saja." Sahut Leo.


"Untuk apa sih? Katakan? Bernostalgia atau pembicaraan memuakkan." Jawab Bella lantang juga ketus.


"Aku minta maaf atas nama Lisa."


"Tidak ku dengar kecuali Lisa sendiri yang menemui ku. Bagaimana jika itu terjadi pada Mama tercinta mu. Apa kamu bisa rela Mas!! Apa kau juga dengan mudah memaafkan orang yang sudah membunuh Ibu kandung mu." Leo menghela nafas panjang. Terbesit penyesalan namun dia tidak sanggup berbuat apa-apa.


"Kamu tahu bagaimana kekanak-kanakannya Lisa." Entah kenapa Bella masih merasa sakit hati ketika Leo melontarkan pembelaan. Mungkin sudah terlalu muak atau terlalu bosan. Sebab sejak kedatangan Lisa, sosok tersebut kerapkali memenangkan pembelaan." Dia juga sedang hamil." Kalimat tambahan tersebut sontak membuat Bella memperlihatkan senyuman yang sulit di artikan. Senang atau sakit? Entahlah.

__ADS_1


"Oh akhirnya." Ujar Bella." Bu Rita pasti sangat bersuka cita. Tapi aku masih menginginkan Lisa mengakui kesalahannya." Imbuh Bella terdengar di tekan.


"Tidak mungkin."


"Selamanya tidak akan ku maafkan." Lisa hamil? Apa itu berarti aku yang mandul?


Sedikit rasa iri terselip sebab Bella sangat menginginkan sebuah bayi bisa hadir di tengah keluarga kecilnya dulu. Tentu ada rasa ingin membahagiakan Bu Rita namun apa daya jika kesempatan tersebut tidak Tuhan berikan.


"Aku ingin berbicara lebih jauh lagi. Bisakah kita makan siang bersama?"


"Tidak." Jawab Bella cepat. Dia kembali duduk di sofa untuk melanjutkan perkerjaannya.


"Hanya beberapa menit."


"Orang di masa lalu itu seperti sampah. Tidak mungkin aku memungutnya lagi."


"Jangan begitu Bella. Aku tahu kamu sedang merasa cemburu." Bella tersenyum simpul ke arah Leo.


"Aku juga sedang bertanya-tanya tentang perasaan ku yang sebenarnya." Leo mengira Bella masih mencintainya dan ingin menimbang soal menjalin hubungan kembali.


"Aku yakin kamu tidak mudah melupakan ku."


"Bukan." Jawab Bella cepat.


"Lantas bagaimana?"


"Sebenarnya aku dulu mencintaimu atau tidak? Aku rasa perpisahan ini adalah cara Tuhan menunjukkan jalan lain." Leo tersenyum aneh sementara Nathan terkekeh. Kepalanya terlihat lebih besar karena merasa unggul daripada Leo.


"Jalan menuju lelaki ini maksud mu." Menunjuk ke arah Nathan.


"Kita hanya terpaksa bersama. Aku menginginkan keseriusan dan kamu bisa memenuhi itu. Akhirnya kamu jenuh dan memutuskan untuk pergi. Apa kamu tidak merasa aneh? Kalau kamu memang punya perasaan cinta. Kenapa harus bercerai hanya karena materi? Jujur saja jika saat itu kamu memilih bertahan mungkin aku semakin kagum."


"Aku terpaksa karena dia mengancam ku." Menatap tajam Nathan.


"Kamu menikmatinya Mas. Kamu sudah melupakan ku jauh sebelum perceraian terjadi. Sudah ku katakan hanya boleh ada satu Ratu di dalam rumah. Jika kamu menghadirkan seorang selir. Aku lebih memilih mundur daripada bertahan. Andai saja kamu mau jujur soal ketertarikan mu pada gadis yang kamu anggap anak angkat. Mungkin bukan kamu yang meminta cerai tapi aku."


Leo frustasi, dia mencengkram erat kepalanya lalu mengacak-acak tatanan rambutnya.


"Pergilah. Aku tidak mungkin kembali menjilat ludahku sendiri." Sindir Bella lalu fokus pada perkerjaannya.


Nathan menyeret Leo secara paksa meski penolakan masih di tunjukkan. Senyum Nathan terlihat sumringah ketika dia menjinjing kerah belakang jas Leo dan menghempaskan nya keluar ruangan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2