Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Gagalnya penyamaran


__ADS_3

Leo menatap geram ke arah Lisa yang seakan tidak melakukan kesalahan. Telinganya mendadak tuli padahal sejak tadi Bu Rita mengumpat Lisa habis-habisan.


"Le." Panggil Bu Rita untuk kesekian kali.


"Ya Ma?" Jawab Leo lemah.


"Pokoknya ceraikan dia. Mama tidak mau kamu hidup dengan wanita tidak tahu diri."


"Dulu tidak cocok dengan Bella, sekarang tidak cocok dengan ku. Watak seperti Mama tidak akan bisa di terima siapapun!" Leo mencengkram erat kepalanya yang meledak-ledak. Perdebatan akan memanas jika Bu Rita di lawan.


"Kamu dengar sendiri kan Le! Istri mu ini benar-benar keterlaluan."


"Cerai ya cerai. Ayo." Jawab Lisa menantang.


"Uang jajannya akan ku tambahkan 20 juta." Lisa tersenyum simpul sebab ternyata Leo masih berusaha mempertahankannya.


Tentu saja Papa tidak akan menceraikan ku..


"Lima puluh juta Pa." Bu Rita langsung melotot.


"Terlalu besar sayang. Sebagian uangnya ku tabung." Tolak Leo lirih.


"Pokoknya lima puluh juta atau cerai!" Jawab Lisa lantang.


"Le! Mama tidak.."


"Sudahlah Ma. Aku mencintainya." Sahut Leo cepat.


"Itu banyak sekali."


"Tidak apa. Lebih baik Mama pulang saja. Aku sudah memesan taksi online untuk mengantar. Maaf Ma. Aku sedikit pusing." Leo berjalan menaiki anak tangga karena merasa lelah mendengar perdebatan.


"Haha lihat sendiri kan." Ujar Lisa tersenyum penuh kemenangan.


"Aku menyesal sudah memasukkan mu ke keluarga ini!" Menunjuk kasar ke arah Lisa.


"Terserah. Papa Leo lebih menyanyangi aku daripada kau! Pulang sana!!"


Sambil menahan kekesalan, Bu Rita mengambil tasnya lalu pergi dan masuk ke dalam taksi yang sejak tadi menunggu.


Wah wah. Dapat ponsel baru, uang saku lima puluh juta. Wajar sih? Aku kan cantik. Semua lelaki pasti ingin memanjakan ku.


🌹🌹🌹


Keesokan harinya..


Sesuai janji. Hari ini Bella berangkat menuju mini market bersama Nathan. Keduanya sempat mampir ke depot pinggir jalan untuk sarapan pagi.


Entah kenapa rasa sungkan seketika sirna. Ketika Bella semakin yakin jika sosok Nino merupakan Nathan. Dirinya yang memang menginginkan Nathan memperjuangkan. Ingin mengikuti scenario dan tetap berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Setibanya di mini market. Para perkerjaan yang ada di sana seketika berbisik ketika melihat penampilan Bella yang polos. Tidak ada make up menjadi alasan satu-satunya.


Namun mereka tidak mampu berkata banyak, sebab Bella datang bersama Nathan, si manager baru.


"Kamu bisa berdandan." Tanya Nathan tiba-tiba. Langkahnya berhenti ketika tiba di lorong kosmetik.


"Bisa Pak tapi.."


"Ambil produk yang biasa kamu pakai." Pinta Nathan sontak membuat karyawan lain melongok.


"Tidak Pak terimakasih."


"Kalau aku bilang ambil ya ambil." Nathan mendengus sambil berpaling. Dia tidak kuasa menahan emosi ketika penolakan di lontarkan Bella.


"Saya tidak punya.."


"Please jangan berdebat." Bella mengangguk sambil mengambil beberapa produk kosmetik yang biasa di pakai." Semua karyawan kumpul di ruang meeting." Teriak Nathan setelah memastikan Bella melakukan perintahnya.


Dasar arogan. Meski dia memakai kumis dan rambut palsu. Tapi aku sangat hafal dengan teriakkan nya.


Entah kenapa Bella tersenyum. Tentu saja dia merasa senang ketika menerima kenyataan Nathan bersusah payah menyamar hanya untuk dekat dengan nya.


Murah sekali harga diriku. Seharusnya aku membenci lelaki itu tapi.. Dia memang tipeku..


"Bell." Lamunan Bella buyar saat Silla menepuk pundaknya keras.


"Ke ruang meeting." Jawabnya seraya melirik kosmetik yang Bella bawa.


"Iya."


"Enak ya jadi kamu. Baru kerja satu hari sudah di berikan barang gratis. Nah aku.. Setiap bulannya harus potong gaji karena barang banyak yang hilang." Bella tersenyum simpul seraya mengangguk.


"Mungkin Pak Nath.. Eh maksudku Pak Nino kasihan. Aku kan baru terkena musibah."


"Iya mungkin. Yang tidak mungkin itu kalau Pak Nino suka sama kamu hehe." Ledek Silla cukup menyinggung perasaan Bella.


"Itu memang mustahil." Silla benar. Aku yakin Nathan punya niat buruk. Sebaiknya aku berhati-hati.


"Mungkin saja Bell. Maaf ya, aku cuma bercanda." Memang tidak mungkin lah. Wajah buruk seperti itu kok di sukai Pak Nino! Yang ada itu, Pak Nino kasihan karena penampilan mu seperti pengemis!!


Bella hanya menjawab dengan senyuman singkat. Meski dia tersinggung namun perkataan seperti sekarang kerapkali dia dengar selama beberapa bulan terakhir.


"Hari ini ada karyawan baru. Perkenalan namamu." Bella segera berdiri.


"Nama saya Isabella Anastasia. Panggil saja Bella."


"Dia wakil manager." Sontak suasana menjadi riuh. Jangankan para karyawan, Bella saja merasa bingung dengan ucapan Nathan.


"Memangnya Bella sudah ahli di bidang ini Pak." Sahut Silla berusaha menyudutkan. Perasaan iri semakin menghantam otaknya. Dia yang sudah berkerja selama bertahun-tahun tidak pernah mendapatkan promosi naik jabatan.

__ADS_1


"Kamu tidak menghargai keputusan saya." Menunjuk ke dada. Nathan di beri kuasa penuh atas mini market tersebut. Si pemilik bahkan tidak ingin tahu tentang apa yang akan di lakukan.


"Bukan begitu Pak. Em biasanya kalau ada karyawan baru Pak Aldi selalu hadir tapi..."


"Keluar saja kalau kamu keberatan dengan keputusan saya." Bella tersenyum aneh. Dia baru menyadari jika Nathan semakin terlihat arogan. Padahal dulu lelaki itu selalu bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang pada setiap wanita.


"Tidak Pak. Maaf." Huh! Sebaiknya aku bertanya pada Pak Aldi kalau berkunjung.


"Bukankah kemarin Bapak bilang saya di tempatkan pada.."


"Saya tidak mendengar protesan. Kalian kembali berkerja dan kamu Bella. Tolong buatkan kopi."


Daripada mendapatkan masalah, para karyawan membubarkan diri sementara Bella masih duduk mematung. Dia merasa sungkan pada yang lain.


Walaupun pengalamannya berkerja sangat baik, tidak seharusnya Nathan memberikan jabatan tinggi kecuali Bella sudah lama berkecimpung di bidang mini market.


"Kenapa masih di sana? Kopi itu tidak mungkin ada kalau kamu tidak membuatnya."


"Baik Pak." Jawab Bella terpaksa berdiri menuju dapur kecil yang berada tepat di samping ruang meeting.


Sementara di Asian group. Eldar menggelengkan kepalanya ketika melihat sikap yang di tunjukkan Nathan. Seharusnya Nathan bisa menahan diri untuk mengindari kecurigaan Bella.


Mana mungkin Tuanku patuh.


Eldar hanya mampu memantau. Dia sudah memberikan saran tapi rupanya Nathan tidak mau mematuhinya sehingga Eldar tidak mau lagi memperingatkan akibatnya.


Setelah meletakkan kopi, Bella berdiri di samping Nathan untuk menunggu perintah. Maniknya menatap ke tanda lahir yang ada di leher sebelah kanan yang di kenali sejak Nathan mengganggu hidupnya.


"Tugas saya apa Pak?"


"Tidak ada."


"Em saya akan membantu yang lain menata barang-barang."


"Duduk." Pinta Nathan cepat. Perlahan Bella duduk. Kepalanya tertunduk sebab Nathan kembali menatapnya.


Aku gugup. Astaga..


"Apa yang sedang Bapak lakukan?" Bella memberanikan diri untuk bertanya seraya menegakkan pandangannya. Lelaki itu masih terlihat tampan di matanya meski luka sangat dalam sudah di torehkan.


"Tidak ada." Nathan berpaling seraya menghela nafas panjang. Tahan diri Nath. Agar semuanya tidak berantakan.


"Tujuan mu apa?" Tanya Bella pelan. Dia sendiri tidak tahan ingin tahu fakta yang sebenarnya. Percuma berpura-pura karena Nathan pun tidak mampu menahan diri.


"Tu tujuan apa maksudmu?" Nathan mulai memasang wajah gugup." Ingat untuk memanggil ku Pak ketika berada di sini." Imbuhnya lagi.


"Kenapa kamu menyamar?" Sontak Nathan tersenyum aneh seraya membetulkan kumis palsu nya. Dia menebak jika Bella mengenalinya karena hal itu. Padahal kenyataannya, kehadiran Nathan memberikan kesan pada hati Bella sehingga sikapnya melekat di ingatan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2