Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Dusta di balik janji


__ADS_3

Nathan mengira jika dirinya berbohong, padahal apa yang di lontarkan pada Bella adalah yang ada di dalam lubuk hati. Dia tidak merasa sedang membohongi diri sendiri dengan tidak mengakui ketertarikannya.


"Mana mungkin kamu bisa setia Mas." Tentu saja Bella tidak percaya.


"Sudah lama aku tidak melakukan nya karena kutukan darimu."


"Aku tidak pernah mengutuk mu. Ingatlah Mas. Aku manusia biasa."


"Terserah kalau kamu tidak percaya."


"Mungkin seiring berjalannya waktu aku akan percaya. Kembalikan ponsel ku." Ujar Bella mengingatkan keinginannya tadi.


"Tidak ya tidak. Orang tuamu akan mengabari ku kalau ada sesuatu." Jawab Nathan menolak.


"Aku takut mereka tahu kebohongan ku."


"Menikah dan beres. Mereka akan beruntung memiliki menantu seperti ku. Bagaimana." Bella menghela nafas panjang. Nathan tidak juga mengerti jika dirinya tidak ingin asal melangkah. Apalagi sejarah buruk tentang Nathan yang hobi bergonta-ganti wanita.


"Tidak." Jawab Bella tegas.


"Ya sudah. Jangan berharap ponsel mu kembali."


"Hm. Jadi setelah ini kamu akan kembali ke perusahaan?"


"Tidak. Perkerjaan ku adalah membuktikan kalau perkataan ku serius." Senang, tentu saja. Bella ingin sedikit bermimpi meski nantinya mimpi itu selamanya akan jadi mimpi. Mustahil bisa membuat seorang mantan penjahat ranjang setia pada satu nama.


"Fikirkan Mas. Aku pencemburu sementara kamu pencinta wanita."


"Aku sudah berhenti."


"Jadi kamu akan tetap di sini."


"Bukan hanya aku tapi kita."


"Hm. Bersikaplah profesional."


"Kita tidak perlu melakukan ini kalau kamu langsung mau dengan permintaanku." Bella tersenyum simpul seraya menegakkan posisi berdirinya.


"Kamu sudah menorehkan kotoran di wajah ku Mas. Bu Rita dan Mas Leo menuduhku berselingkuh padahal aku tidak melakukan apapun. Lalu kamu ingin aku langsung mengiyakan? Tidak Mas. Aku belum memiliki perasaan apapun. Sejujurnya aku masih kesal melihatmu bahkan malas melihat mu."


Nathan memperlihatkan wajah frustasinya meski dirinya sadar akan kesalahannya di masa lalu. Memang seharusnya dia melupakan penolakan Bella namun dia sendiri sulit mengendalikan gejolak di hatinya. Rasa penasaran ingin menjinakkan begitu melekat bahkan mengusik ketenangan hidup.


"Jadi setelah aku bisa membuktikan, kamu akan mau?" Tanya Nathan memastikan. Cukup memuakkan tapi tidak ada jalan lain.


"Entahlah Mas. Aku membenci sebuah hubungan semenjak hari itu. Aku harap kamu mengerti dan tidak memaksakan kehendak."


"Aku punya itikad baik. Aku ingin menikah bukan berpacaran." Lagi lagi Nathan menunjukkan keegoisan.


"Kamu ingin menipu ku?"


"Apa maksudmu?"


"Kamu sedang mencari cara mematahkan keanehan yang kamu sebut kutukan. Aku yakin setelah keanehan itu menghilang, kamu akan pergi dan meninggalkan ku." Aku harap tebakan ku tidak benar.


Kenapa dia tahu?


"Tidak perlu terburu-buru. Lambat laun semuanya akan membaik kalau memang kamu berniat baik. Aku akan ke depan." Setelah tersenyum simpul. Bella berjalan keluar ruangan. Nathan masih menatapnya dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Terbuat dari apa hatinya.


"Kurang apa aku?" Gumam Nathan kembali menghadap kaca dan menatap lekat sosok dirinya. Sempurna! Ya memang sangat sempurna di mata para wanita yang tidak ingin menjalani hubungan serius.


Sementara di luar, Bella tengah mengatur detak jantungnya sebelum akhirnya keluar. Terlihat mini market sudah di buka. Beberapa pengunjung tampak ada. Bella berjalan sambil mengecek jika mungkin ada penataan barang yang tidak rapi.


"Bu Bella." Silla melambai ke arahnya. Segera saja Bella berjalan ke arah kasir.


"Ada apa?"


"Duduk di sini." Menunjuk kursi plastik yang ada di sampingnya.


"Biar ku bantu memasukkan barang."


"Tidak. Kamu kan wakil manager."


"Jangan hiraukan ucapan itu." Bella tersenyum kemudian membantu Silla memasukkan barang ke kantung belanja.


"Totalnya 145 ribu Kak." Setelah memberikan kembalian, Silla memutar tubuhnya ke arah Bella." Sebenarnya apa hubungan kalian." Tanya Silla berbisik.


"Hubungan apa?"


"Kamu dan Pak Nino?"


"Hanya salah faham." Jawab Bella cepat.


"Oh. Salah faham masalah apa?" Aku merasa mereka punya hubungan khusus. Tapi mana mungkin? Apa Pak Nino buta? Bella terlihat sangat buruk?


Semua orang yang tidak tahu sejarahnya seperti apa, tentu mencibir ketertarikan Nathan dan menganggap semuanya aneh. Begitu banyak pilihan lain yang lebih cantik dan glamor tapi kenapa pilihan jatuh ke Bella? Seorang wanita yang tampak buruk.


"Tidak penting untuk di jelaskan."


"Entahlah." Jawab Bella pelan.


Angkuh sekali sih? Jelek saja sok tidak tertarik.


"Maaf Kak. Saya ingin membeli air isi ulang." Silla tersenyum simpul. Ada sedikit rencana untuk memberi pelajaran pada Bella agar rasa irinya terbalaskan.


"Oh ya Kak. Harganya 20 ribu."


"Hm." Si pembeli memberikan uang pas." Tolong bawa ke mobil saya ya." Imbuhnya tersenyum.


"Em Bella. Kebetulan anak-anak masih mengurus barang di gudang. Tolong kamu atasi itu ya." Pinta Silla sengaja.


"Ya oke." Bella mengiyakan saja permintaan tersebut Tania berprotes.


Bersamaan dengan itu Nathan keluar dari lorong belakang. Pandangannya langsung tertuju pada Bella yang tengah berjalan keluar.


Sial. Gawat. Kenapa Pak Nino malah keluar.


Terlihat Nathan bergegas keluar untuk menyusul. Dia sempat menatap tajam ke arah Silla sebelum akhirnya pergi.


"Mobil saya ada di sana." Tunjuknya ke seberang jalan berjarak 20 meter.


"Oh iya." Tepat di saat Bella membungkuk untuk mengambil, Nathan langsung mengambil alih perkerjaannya. Bella menoleh begitupun si pembeli yang langsung terpesona.


"Jadi membeli atau tidak?" Tegur Nathan ketika si pembeli malah berdiri mematung menatapnya.

__ADS_1


"Oh iya Kak." Wah. Aku baru melihat karyawan ini. Dia tampan sekali.


Bella hanya berdiri terpaku menatap ke arah Nathan. Nafasnya berhembus lembut ketika pengakuan ketertarikan menghantam perasaannya. Dia tidak menyalahkan para wanita yang sudah tertipu sosok Nathan. Tentu tidak mudah menolak pesonanya begitu pula yang di rasakannya sekarang.


"Kenapa mau saja." Ucapan Nathan membuat lamunan Bella buyar.


"Semua karyawan lelaki ada di gudang." Jawab Bella mengalihkan pandangan.


"Seharusnya di tolak. Kamu juga wanita. Siapa yang menyuruh?"


"Tidak perlu di perbesar. Ini masalah kecil."


"Memangnya kamu kuat mengangkatnya?"


"Pasti kuat." Jawab Bella acuh padahal Nathan ingin pertolongannya di akui.


"Tidakkah kamu sadar kalau aku sedang memberikan perhatian?" Setelah mendengar jawaban tersebut, Bella menjadi yakin jika Nathan tidak tulus memberikan pertolongan.


"Terimakasih Pak Nino atas perhatiannya. Sayangnya saya tidak terkesan." Bella meninggalkan Nathan yang sontak memasang wajah kesal.


"Cih sok angkuh. Lihat apa yang bisa ku lakukan untuk menarik perhatian mu." Nathan berjalan masuk lalu menghampiri meja kasir." Kau yang menyuruh nya tadi?" Menunjuk ke arah Bella yang sedang duduk.


"Menyuruh apa Pak?"


"Mengangkat ini." Nathan meraih galon air mineral kosong lalu melemparkannya tanpa perduli pada pengunjung yang tengah berbelanja.


Seketika mimik wajah Silla berubah gugup. Dia melirik sebentar ke arah Bella sambil mengumpat dalam hati.


Sialan. Ini semua gara-gara Bella. Kenapa harus membentak ketika banyak orang sih!!


"Maaf Pak. Tadi karyawan lelaki sedang ada di gudang jadi saya.."


"Jangan beralasan! Seharusnya kau yang melakukan bukan melimpahkan perkerjaan pada orang lain!"


Kemarahan Nathan terlihat tidak pantas. Tapi apa boleh buat. Dia berkuasa di sana dan bisa bebas memerintah.


Suntikan dana yang di keluarkan Eldar tidak main-main. Jumlahnya setara dengan membeli tempat tersebut sampai-sampai pemiliknya bisa membangun cabang baru.


"Saya tidak apa-apa Pak. Jangan memperbesar masalah." Sahut Bella tanpa menatap ke Nathan maupun Silla. Dia tahu jika apa yang Nathan lakukan semata-mata ingin menarik simpatiknya.


"Aku berusaha membelamu."


"Sebaiknya Pak Nino bersikap profesional agar penilaian saya tidak semakin buruk." Bella beranjak dari tempatnya. Dia berniat pergi agar Nathan berhenti memarahi Silla.


Ya Tuhan. Terbuat dari apa otak wanita itu. Aku berusaha membantu tapi dia menjatuhkan ku.


"Saya tidak akan mengulanginya lagi Pak. Bila perlu saya akan berkata pada para karyawan dan menjelaskan tentang hubungan spesial Pak Nino bersama Bella." Nathan membuang nafas kasar seraya menoleh ke arah Bella yang terlihat memeriksa rak yang berantakan." Sebenarnya hubungan Pak Nino dengan Bella itu apa?" Imbuhnya mencoba mencari celah untuk menjelek-jelekkan Bella.


"Dia Istriku." Seketika Silla tersenyum aneh.


"I Istri?" Jawabnya terbata.


"Ya. Dia sedang marah padaku dan kalau aku melihat mu menyuruh nya! Kau akan berurusan dengan ku!" Menunjuk dadanya lalu pergi.


Nathan kembali tersulut ketertarikannya sampai-sampai dia tidak bisa berfikir jernih dan melontarkan kata asal-asalan. Ini kali pertama dia mengakui hubungan dengan seorang wanita bahkan menyebutnya sebagai Istri.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Minta dukungannya ya teman-teman. Agar novel ini tetap lanjut. Terimakasih 🙏


__ADS_2