Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Tamparan untuk Leo


__ADS_3

Setelah kepergian Leo, Lisa terlihat bersiap-siap pergi ke kampus. Dia sangat bersemangat pagi ini karena berniat memamerkan ponsel baru.


Tanpa sepengetahuan Leo, Lisa menyembunyikan ponsel pemberian Stefan. Dia hendak menunjukkan pada Leo nanti siang dan berdalih membelinya dari uang jajan yang di berikan.


"Mereka pasti semakin dengki padaku. Hahahaha. Untuk apa berpacaran dengan yang seumuran kalau yang lebih tua lebih bisa menopang hidup." Lisa tersenyum simpul sambil memoles wajahnya.


Tok.. Tok... Tok...


"Ah siapa sih? Jangan-jangan wanita tua itu?" Gerutu Lisa mempercepat perkerjaannya mempercantik diri.


"Non." Ketukan beralih pada kamar.


"Ya Bik sebentar." Bergegas saja Lisa berdiri seraya menenteng tas kuliahnya." Ada apa Bik?" Tanyanya ketus.


"Ada tamu Non."


"Siapa?"


"Saya tidak tahu. Em mungkin orang tuanya Non."


"Mana mungkin! Orang tuaku sudah meninggal."


Lisa berjalan melewati si pembantu dan berjalan menuruni anak tangga. Dia menatap ke arah dua orang yang tengah duduk di ruang tamu.


Mengganggu saja!!


Umpat Lisa ketika melihat jika tamunya adalah kedua orang tua Bella. Dia cukup mengenal mereka dan sempat bertemu beberapa kali.


"Ada apa ya?" Tanyanya ketus tanpa duduk apalagi menunjukkan kesopanan.


"Astaga Lisa. Kamu sudah besar." Ibu Bella sudah menganggap Lisa sebagai cucunya sendiri.


"Aku sibuk. Ada keperluan apa?"


"Di mana Mama mu?" Lisa tersenyum simpul.


"Bella sudah tidak ada di sini." Ayah dan Ibu Bella saling menatap satu sama lain. Panggilan yang di lontarkan Lisa membuat perasaan mereka mendadak tidak enak.


"Kemana Nak?"


"Kalian tidak tahu? Papa Leo dan Bella itu sudah bercerai. Sekarang aku yang menjadi nyonya besar di sini. Sudah ya. Aku sibuk. Sebaiknya kalian pulang saja. Kalian sudah tidak punya hak di sini."


Lisa melenggang keluar tanpa peduli pada dampak ucapannya. Padahal dia tahu bagaimana kondisi kesehatan Ibu Bella. Berita mengejutkan tidak boleh asal di lontarkan dan bisa mengakibatkan kesehatan terganggu juga kematian.


"Tidak mungkin Yah." Ujar Ibu Bella seraya memegang jantungnya yang mendadak sakit di sertai sesak pada paru-paru.


"Tarik nafas Ma. Kita bisa hubungi Bella dan menanyakannya." Ayah Bella yang di ketahui bernama Pak Bisri, berharap berita tersebut tidak mengakibatkan sesuatu yang fatal.


Namun rupanya hal itu mustahil terjadi. Rasa sakit yang di rasakan terasa menghantam kuat sampai-sampai membuat tubuh Ibu Bella seketika tumbang.


Si pembantu ikut kebingungan apalagi Pak Bisri yang tentu khawatir. Bergegas saja si pembantu menghubungi kontak Leo untuk memberitahu.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Nathan merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel dari sana. Tertulis kontak milik Ayah Bella memanggil sehingga dia beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Bella yang tengah membantu Silla memasukkan barang.


"Ada telepon untukmu." Ucap Nathan seraya menyodorkan ponselnya.


"Ayah." Tentu saja tebakan itu langsung bersarang di sertai perasaan tidak enak. Bella berjalan keluar untuk menerima panggilan sementara Nathan memantau dari tempatnya berdiri.


📞📞📞


"Halo Ayah?


Baru saja sapaan terlontar. Bella sudah mendengar suara isakan tangis.


"Apa yang terjadi?


"Mama mu Nak.


"Kenapa Mama?


Bella mengatur nafas untuk menahan gemuruh pada hatinya. Entah kenapa dia mencium sesuatu yang buruk.


"Ada apa dengan Mama Yah?


"Mama mu meninggal dunia.


Rasanya nafas Bella berhenti sesaat mendengar berita yang selama ini menjadi ketakutan terbesarnya. Dia kehilangan orang yang sangat dia sayangi dan selalu di perjuangkan selama ini.


"Ayah bercanda. Jangan seperti itu.


Bulir air mata pun jatuh tidak tertahankan sehingga Nathan yang kala itu masih berada di dalam langsung menyusulnya keluar.


"Ayah serius Nak. Sekarang Ayah ada di rumah sakit Pelita. Sebaiknya kamu cepat ke sini.


"Baik. Aku akan ke sana Yah.


"Ayah tunggu.


📞📞📞


Bella berusaha mengendalikan perasaan namun tentu saja tidak bisa. Air mata terus saja mengalir begitu saja di sertai getaran hebat pada tubuhnya.


"Ada apa?" Tanya Nathan yang berdiri tepat di belakang Bella.


"Tidak ada. Aku harus pergi." Bella memberikan ponsel Nathan lalu berjalan masuk ke dalam. Langkahnya seketika terhenti ketika dia sadar tidak membawa motor juga tidak memiliki uang sepeserpun. Ketika dia kembali memutar tubuhnya, Nathan sudah berdiri di belakang. Terpaksa. "Aku butuh uang untuk naik taksi." imbuhnya lirih. Bella menyembunyikan kesedihannya dengan menundukkan kepala.


"Kamu jelaskan apa yang terjadi." Bella menggeleng cepat sambil mengulurkan tangan. Tentu saja dia tidak kuasa menjelaskannya." Biar ku antar." Imbuh Nathan cepat.


"Bukan waktunya untuk berdebat Mas."


"Maka dari itu ayo." Nathan hendak meraih pergelangan tangan Bella yang langsung di hindari.

__ADS_1


"Aku mau menemui Ayah. Tidak mungkin aku mengajak mu."


"Aku berjanji tidak muncul dan hanya mengantar. Memangnya rumah mereka ada di daerah mana?" Bella menghela nafas panjang sambil menegakkan pandangannya dan saat itulah Nathan baru tahu tentang keadaan mata Bella yang berair.


"Rumah sakit." Sesuatu yang lembut terasa menggetarkan hati Nathan. Mimik wajah Bella membawanya kembali ke masa lalu. Tepatnya di saat dia kehilangan Ibunya.


"Rumah sakit Pelita?" Bella hanya mengangguk." Ayo." Tanpa takut di tolak. Nathan mengiring paksa Bella untuk keluar menuju parkiran. Mereka tidak perduli menjadi sorotan para karyawan sebab ternyata Silla sudah bercerita jika Bella adalah Istri Nathan.


.


.


.


Singkat waktu setibanya di lokasi. Sesuai janji, Nathan tidak menampakkan diri. Dia tetap mengikuti Bella tapi berusaha menjaga jarak setelah Eldar mengabarkan jika Leo berada di sana.


Langkah Bella sempat berhenti ketika dia melihat sosok Leo tengah duduk di samping Ayahnya. Tebakan buruk memenuhi otak. Bella sudah bisa menebak bagaimana kematian bisa tiba-tiba merenggut nyawa Ibunya.


Plaaaaaakkkkkk!!!


Tanpa aba-aba Bella melayangkan tamparan ke wajah Leo sampai membuat pemiliknya terkejut begitupun sang Ayah.


"Kau sudah berjanji padaku bukan!!!" Teriak Bella geram. Sebelumnya dia memohon pada Leo untuk merahasiakan perceraian dari kedua orang tuanya.


"Bukan aku yang melakukan ini."


"Tega kamu Mas!!! Kau boleh menyakiti ku tapi kau di larang menyakiti kedua orang tuaku!!! Kenapa kau ingkar janji hah!!!" Bella mencengkram erat kerah baju Leo lalu menggoyang-goyangnya. Hal itu membuat sang Ayah berdiri untuk menghentikan Bella.


"Nak, sabar dulu. Kita bicarakan ini baik-baik. Bukan Nak Leo yang.."


"Lelaki ini memang brengsek!!!" Bella melepaskan cengkraman tangannya dan beralih memeluk sang Ayah. Tangisnya seketika tumpah saat menerima kenyataan yang si sebutnya sebagai mimpi buruk.


"Sabar Nak. Mama mu tidak akan suka melihat mu berkata kasar."


"Maaf Ayah." Bella duduk berjongkok seraya memeluk kaki sang Ayah. Dia tengah di liputi perasaan bersalah karena tidak bisa menemani sang Ibu di saat nafas terakhirnya.


"Kamu tidak bersalah Nak. Apapun yang terjadi pada Mama. Sudah suratan takdir."


"Seharusnya aku tidak menikah dan tetap tinggal bersama kalian." Leo menghembuskan nafas berat melihat pemandangan di hadapannya. Dia berusaha menghubungi kontak milik Lisa yang belum juga aktif.


Leo tahu bagaimana sejarahnya. Awalnya Ibu Bella tidak setuju kalau mereka tinggal terpisah meski berada di satu kota. Namun Leo berdalih tidak terbiasa tinggal di desa sehingga terpaksa Bella ikut.


Padahal, satu-satunya orang yang menentukan keputusan adalah Bu Rita. Beliau tidak ingin Leo di jadikan mesin ATM berjalan oleh kedua orang tua Bella.


Memang keterlaluan Lisa itu? Bukankah dia tahu kalau Ibu Bella memiliki penyakit jantung!!


🌹🌹🌹


Maaf. Kondisinya belum memungkinkan untuk doubel update 🙏


Terimakasih dukungannya 🌹🥰

__ADS_1


__ADS_2