Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Kunjungan Bu Rita


__ADS_3

Bu Rita menghela nafas panjang ketika melihat keadaan memuakkan di hadapannya. Lisa tengah duduk santai di depan televisi sambil memakan cemilan.


Berbagai bungkus makanan berserakan di meja, di tambah dengan keadaan rumah yang berantakan. Cucian dan piring kotor menumpuk sampai menimbulkan bau tidak sedap.


"Astaga Lis." Teriak Bu Rita saat kembali dari belakang.


Lisa hanya menatapnya sambil terus mengunyah seakan sosok mertuanya tidak berarti.


"Kamu jorok sekali ya. Daripada bermalas-malasan, bukankah lebih baik kamu mencuci piring dan baju."


"Malas lah Ma. Memangnya aku pembantu." Darah Bu Rita seakan mendidih mendengar jawaban tersebut.


"Kamu tidak risih tinggal di sini."


"Kalau Mama hanya mau mengomel, mendingan pulang saja. Aku ingin bersantai di rumah, mumpung libur kuliah."


"Terus. Mau kamu apakan cucian itu?"


"Ya biar Papa Leo yang mengurus. Pembantunya keluar jadi wajar kalau rumah berantakan. Mama juga tahu kan, aku tidak bisa beres-beres. Lagian nih ya. Uang Papa Leo kan banyak. Untuk apa aku capek-capek mengurus rumah."


Bu Rita baru menyadari sifat asli Lisa dua bulan yang lalu. Selama ini dia merasa tertipu dengan sikap Lisa yang dulunya di rasa lebih baik daripada Bella.


Belajar memasak tidak pernah di lakukan. Lisa kerapkali membeli makanan di restoran dan mengakuinya sebagai masakan buatannya.


"Mama tidak suka wanita yang boros."


"Ya sudah minta Papa Leo menceraikan ku. Kamu fikir aku bahagia hidup bersama anakmu yang pelit itu." Bu Rita menghela nafas panjang sambil mengusap-usap dadanya. Semakin hari keburukan Lisa semakin menjadi-jadi.


"Jangan kurang ajar kamu ya Lis!"


"Kurang ajar apa sih Ma. Itu fakta! Gaji Papa Leo itu ratusan juta tapi aku hanya di jatah lima juta perbulan. Menurut Mama nominal itu cukup? Untuk membeli make up dan perawatan salon saja sudah habis."


"Kau belum menghitung uang kuliah dan hidupmu. Menurut mu itu murah?"


"Itu memang tanggung jawabnya Papa Leo. Menyesal aku menikah kalau akhirnya harus berhemat dan berhemat, huh." Lisa beranjak dari tempatnya lalu menaiki tangga. Terdengar pintu utama di banting keras sampai-sampai Bu Rita berjingkat.


Segera saja Bu Rita mengambil ponsel dan menghubungi kontak Leo. Dia ingin bercerita tentang kelakuan Lisa.


📞📞📞


"Ada apa Ma.


"Istri mu keterlaluan. Rumah kotor seperti ini di biarkan saja.


Kini Bu Rita di hadapkan dengan kenyataan tentang menantu pilihannya yang malah memiliki sifat jauh dari kata baik.


"Sore ini pembantu baru datang Ma. Yang kemarin pulang kampung.


"Mama capek ya Le. Setiap ke sini selalu berdebat dengan Lisa. Seharusnya kamu itu bisa bersikap tegas dan menegurnya.


"Sudah Ma. Tapi mungkin umur Lisa masih sangat belia jadi seperti itu.


Terbesit rasa sesal sebab ternyata sampai detik ini Lisa belum juga memberikan keturunan.


"Belia atau tidak. Kalau sudah jadi Istri ya harus tahu sopan santun.

__ADS_1


"Ya Ma. Maaf. Aku ada meeting. Em nanti kita bicarakan lagi.


"Hm


📞📞📞


Bersamaan dengan berakhirnya panggilan. Lisa terlihat menuruni anak tangga. Tas branded dan baju minim di kenakan sambil berlenggak lenggok seolah tengah meledek Bu Rita yang sedang memelototinya.


"Mau ke mana kamu?"


"Pergi Ma. Nongkrong sama teman."


"Masuk Lisa. Ganti baju! Kamu itu sudah punya Suami."


"Malas lah. Jaga rumah ya. Aku pulang sebelum Papa Leo datang. Em sekalian cuci tuh piring. Baunya tidak enak. Bye Mama."


Lisa melenggang keluar tanpa perduli pada teriakan Bu Rita. Di depan sudah ada sebuah mobil menunggu. Ketika Lisa masuk, terlihat jelas seorang lelaki duduk di sebelahnya sehingga teriakan Bu Rita semakin lantang.


🌹🌹🌹


Tepat di saat Bella selesai mandi. Terdengar suara ketukan di sertai panggilan nama. Bergegas saja Bella membuka pintu dan memasang senyuman simpul ketika melihat salah satu tetangga kost-an. Sebut saja namanya Silla.


"Mau pepes udang Mbak. Em kebetulan aku buat banyak tadi." Tawarnya ramah.


"Astaga merepotkan." Tanpa basa-basi Bella menerima pemberian meski dia tidak memiliki nasi.


"Sebagai perkenalan Mbak. Em aku Silla yang tinggal di sebelah kanan kamar."


"Oh aku Bella. Silahkan masuk." Sambil mengeringkan rambut, Bella mempersilahkan Silla masuk. Terlihat kamar Bella masih berantakan. Ada beberapa barang yang belum di keluarkan dari kardus.


"Umur Mbak Bella berapa?" Pertanyaan yang cukup aneh bagi Bella. Seharusnya Silla melontarkan pertanyaannya lain. Begitulah tanggapan awal Bella.


"Ingin tahu saja Mbak."


"25 lima mungkin."


"Oh masih muda." Ternyata dia lebih muda daripada aku. Beruntung wajahnya buruk jadi tidak ada yang menyaingi ku di sini.


"Memangnya Mbak Silla umurnya berapa?"


"Aku 29 tahun hehe. Panggil nama saja ya biar lebih akrab." Ratu caper sebutan yang melekat pada Silla. Dia kerapkali mencari teman yang lebih buruk darinya sehingga kecantikan tidak di kalahkan.


"Iya."


"Nah. Kamu tidak punya penanak nasi?"


"Tidak Sil. Em aku biasanya beli nasi bungkus."


"Ya sia-sia dong aku bawakan pepes. Aku ambilkan nasi ya, biar nanti kenyang." Silla kerapkali menunjukkan sikap ramah meski di hati tersimpan sifat iri dan dengki pada teman-temannya.


"Tidak perlu Sil."


"Tunggu ya." Bella hanya tersenyum sambil mengekor. Dia duduk di teras dan memperhatikan Silla yang sudah masuk ke kost-an miliknya.


Terdengar suara motor dari arah kiri. Bella menoleh dan melihat Nathan baru saja tiba. Entah kenapa dia tidak ingin terlalu lama menatap dan lebih memilih berpaling meski Bella tahu Nathan berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Hai." Sapa Nathan tersenyum simpul. Terlihat cukup manis dalam sosok Nino.


"Ya Mas."


"Besok kamu siapkan lamaran ya. Kebetulan ada lowongan." Seketika senyum mengembang Bella perlihatkan.


"Terimakasih ya Mas."


"Aku hanya membantu sebisanya."


"Ini bantuan besar bagi saya."


"Jangan terlalu formal. Em aku Nino." Nathan mengulurkan tangannya.


"Bella." Hanya sebentar Bella menjabat tangan tersebut. Dia benar-benar tidak ingin menyulut keakraban agar terhindar dari hubungan yang tidak di harapkan.


"Kamarku tiga petak dari sini. Kalau butuh apa-apa kamu bisa memanggil ku."


"Ya Mas terimakasih."


Bersamaan dengan itu, Silla baru saja keluar dengan satu piring nasi. Nathan yang melihat itu sontak mengambil masker lalu memakaikan. Dia takut mual dan membuat rencananya berantakan.


"Astaga penghuni baru." Sapa Silla seraya memperhatikan seragam yang di kenakan Nathan.


"Hm." Jawab Nathan singkat. Bella tersenyum aneh sebab merasa ganjil dengan sikap Nathan yang tadinya ramah.


"Aku juga berkerja di sana. Bukankah itu seragam khusus Manager ya."


Eldar tentu memilih jabatan tertinggi di sana. Apalagi si pemilik dengan senang hati mengizinkan bahkan merahasiakan. Hal itu tentu tidak gratis karena Eldar sudah menyuntikkan dana cukup fantastis.


"Ya." Lagi lagi Nathan hanya menjawabnya singkat padahal biasanya mulutnya begitu manis dalam merayu.


"Oh saya Silla. Kasir di sana. Em kebetulan hari ini saya libur." Silla mengulurkan tangannya.


"Hm aku permisi dulu. Besok kita berangkat bersama agar kamu tidak tersasar." Segera saja tangan Silla di tarik perlahan. Dia merasa malu karena Nathan mengabaikannya.


Sialan.


"Ya Mas." Manik Nathan terlihat menyipit. Itu tandanya dia tersenyum di balik masker sebelum akhirnya pergi.


Penolakan membuat perasaan Silla sontak kesal. Apalagi Nathan memiliki jabatan tertinggi. Tentu saja jiwa caper nya bergejolak.


"Apa dia sudah menikah Bell?" Tanya Silla ingin tahu.


"Kurang tahu juga."


"Nah sepertinya kalian akrab?"


"Tidak Sil. Aku juga baru saja bertemu dengannya tadi."


"Oh. Nih nasinya. Aku pulang ya." Dengan gerakan kasar Silla memberikan nasi lalu masuk. Braaaakkkkk!!!


"Kenapa dia?" Gumam Bella bingung atas sikap yang di tunjukkan Silla barusan." Sebaiknya ku makan. Aku lapar sekali." Bella memutuskan masuk dan memakan sajian pemberian Silla.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Maaf jika typo bertebaran 🙏🙏


Terimakasih dukungannya ❤️🥰


__ADS_2