
Bella sedikit canggung namun terpaksa berbaur. Apalagi Leo terlihat turut hadir bersama semua orang yang terlibat dalam taruhan. Bella masih merasa di rendahkan walau prasangka itu mencoba di tepis jauh.
Senyuman mereka, tatapan mereka seakan berusaha melepas kulit wajahnya. Bella tertunduk, ingin berfikir positif, tapi itu bukan hal mudah.
"Makanlah jangan di lihat saja." Tegur Anis menatap wajah canggung Bella
"Iya Mbak." Di mana Mas Nathan?
Sejak Bella masuk, dia tidak melihat Nathan meski matanya sudah menyisir setiap sudut ruangan.
"Sebenarnya ini pesta untuk apa Mbak." Tanya Bella basa-basi. Daripada tidak ada yang di bicarakan.
"Tidak tahu. Pak Eldar hanya mengumumkan pesta terbuka untuk semua karyawan dan staf kantor."
"Em." Bella menguyah pelan. Memikirkan pertanyaan lanjutan." Apa pesta seperti ini sering di gelar?" Imbuhnya ingin tahu.
"Tidak Bell. Ini pertama kalinya Pak Nathan mengundang kami. Dia sudah anti wanita sampai-sampai sebagian staf wanita di pindah ke perusahaan cabang. Yang tertinggal hanya orang tua seperti kita hehe."
Bella tersenyum tipis. Hatinya merasa lega mendengar itu. Tapi tetap saja, perasaan untuk pergi dari sana ingin di lakukan. Sebenarnya dia malas berada di sekeliling pegawai Asian group setelah perbuatan buruk yang di lakukan Nathan dua tahun lalu.
"Selama ini kamu ke mana sih Bell? Padahal Pak Nathan sudah memberikan jabatan tinggi tapi kamu malah pindah kerja."
Sejak kepergiannya, Nathan menutup rapat soal rahasia taruhan dan kegagalan lamaran. Hanya segelintir orang yang terlibat, itupun sudah di kecam keras. Membicarakan hal itu sama halnya di pecat. Sehingga berita tersebut tetap terjaga rapi.
"Aku itu Mbak.." Bella terkejut ketika Eldar mengambil piring miliknya.
"Ikut saya Nona." Pintanya pelan sambil meletakkan piring di atas meja.
"Kemana Pak?" Eldar hanya menunjuk ke arah Nathan yang sudah berdiri di tangga." Untuk apa?" Imbuhnya gugup.
"Ada beberapa hal yang ingin di bicarakan Tuan Nathan."
Semua mata menatap ke arah Bella sehingga terpaksa dia melangkah ke arah Nathan. Malu dan gugup. Tentu saja begitu. Staf dan karyawan Asian group berjumlah ratusan orang. Aula Vila sampai penuh dan kini tatapan mereka berfokus pada Bella.
"Apa ini?" Tanya Bella berbisik.
"Aku ingin mengajakmu menikah." Jawab Nathan lantang. Suaranya menggema di seluruh sudut ruangan.
Terlihat Leo memilih pergi daripada harus melihat pemandangan yang mampu menyayat hati. Sementara Bara tersenyum penuh ejekan sebab dia tidak yakin dengan apa yang di katakan Nathan.
Pasti hanya berakting. Begitulah yang ada di benak Bara juga teman lainnya.
"Kau sedang apa?" Tanya Bella seraya memundurkan tubuhnya.
"Meminta mu menjadi Istri." Sontak suasana berubah riuh. Sebagian dari mereka mendukung tapi sebagian lainnya cenderung mengejek.
"Rencana apalagi ini?" Nathan kembali mengejutkan hatinya. Pasti ada rencana lain. Bella menoleh ke arah Bara yang tengah tersenyum mengejek ke arahnya. Hal itu membuatnya berfikir dan menebak jika mungkin Nathan kembali mempermainkannya.
"Hanya melamar dan mereka sebagai saksinya." Jawabnya sambil menunjuk ke bawah.
"Mudah sekali kau mengatakannya. Kau fikir aku akan terkesan." Seketika suasana hati Bella menjadi buruk setelah dia melihat senyum Bara dan kawan-kawannya.
__ADS_1
"Aku tidak sedang membuatmu terkesan. Aku hanya butuh jawaban ya." Bella kembali menatap ke bawah. Suasana riuh semakin membuatnya muak. Ternyata kesakitan yang terjadi di masa lalu sedikit membuatnya trauma.
"Tidak! Itulah jawabannya." Eldar menghela nafas panjang ketika Bella turun dari tangga dan menerobos keluar di ikuti oleh Anis. Namun bibir Nathan tersungging, dia sedikit lega sudah berhasil mempermalukan dirinya sendiri.
"Wajah pas-pasan saja sok jual mahal." Tatapan Nathan kini beralih pada sumber suara. Dia menuruni anak tangga lalu menghampiri Bara. Seketika kekehan penuh hinaan terhenti saat Nathan mencengkram erat kerah kemeja lelaki yang di sebut teman.
"Coba ulangi lagi!!!" Bara tersenyum aneh. Sedikit takut melihat wajah garang Nathan.
"Apa kamu sedang berpura-pura?" Bugh!!! Nathan menghantam mulut Bara sampai tersungkur. Eldar yang melihat kejadian tersebut hanya tersenyum simpul.
Para anggota taruhan memang seharusnya di beri pelajaran. Sangat tidak adil jika selama ini hanya Nathan yang mendapatkan hukuman.
"Agggggghhhhhh." Teriak Bara kesakitan. Darah segar keluar dari mulutnya sampai mengotori lantai.
"Besok, jangan datang lagi ke perusahaan." Ujar Nathan lantang.
"Ma maksud nya saya di pecat?!"
"Ya! Sudah ku katakan untuk tidak membahas itu di sini. Ancaman ini bukan hanya berlaku untuknya." Menunjuk ke arah Bara." Siapapun yang banyak mulut, tidak perlu datang ke perusahaan." Mimik wajah teman-teman Bara seketika menegang. Tentu mereka tidak ingin di pecat.
"Tunggu Pak Nathan. Saya hanya bercanda tadi."
"Perduli apa aku! Kemasi barang-barang mu besok." Nathan melangkah keluar, dia berniat menyusul Bella tanpa perduli pada teriakan Bara.
"Kau sih." Ujar temannya berbisik.
"Kalian tahu kelakuan nya kan? Munafik sekali dia tidak mempermainkan Bella saat ini." Eldar berjalan menghampiri lalu menatap lekat ke arah Bara.
"Tolong rayu Pak Nathan untuk mencabut pemecatannya." Ucap Bara memohon. Dia tidak ingin kehilangan gaji tingginya.
"Peringatan sudah di berikan sejak awal."
"Saya tidak sengaja."
"Maaf Pak Bara. Saya akan persiapkan pesangon meskipun seharusnya itu tidak perlu."
"Peraturan macam apa itu?!!" Protes Bara mengumpat.
"Kita hanya pesuruh, lantas kita bisa apa. Beruntung saya masih memberikan pesangon." Jawab Eldar ketus.
Tidak ada gunanya Bara memohon sebab peringatan memang sudah di lontarkan satu tahun lalu. Nathan memberikan peringatan keras jika ada salah satu karyawan membahas soal taruhan. Hukumannya adalah pemecatan secara tidak terhormat dan terancam masuk daftar hitam.
Anis langsung pergi ketika dia menyadari kehadiran Nathan. Bella berusaha mendownload aplikasi ojek online agar dia bisa pergi dari sana. Namun unduhan selalu gagal karena jaringan sangat buruk.
"Pestanya belum selesai." Bella menoleh ke arah Nathan kemudian berpaling.
"Kau bilang akan berubah! Mana buktinya?! Kau tetap saja membuatku kesal." Nathan duduk lemah di teras tepatnya di samping Bella yang tengah berdiri.
"Aku sedang memperbaikinya."
"Memperbaiki apa?!"
__ADS_1
"Dengan begitu mereka akan menatapku rendah. Lamaranku di tolak olehmu." Bella terdiam, dia baru tahu maksud dari perbuatan Nathan." Aku akan mengembalikan martabat mu." Imbuhnya pelan. Gerakan tangan Bella berhenti, dia bahkan membatalkan unduhan lalu ikut duduk di samping Nathan.
"Sudah terlanjur buruk. Biarkan saja." Jawabnya pelan.
"Aku yang brengsek." Bella menoleh. Ingin mencari kebohongan yang mungkin terselip.
"Berati lamaran tadi hanya palsu?"
"Tidak juga. Kalau kamu mau, kita menikah satu Minggu lagi." Nathan kembali menyodorkan kontak cincin bahkan mengeluarkan isinya.
"Aku masih malas."
"Hm pakai saja." Nathan meraih jemari Bella lalu memakaikan cincin di jari manisnya.
"Tidak!" Jawabnya hendak menarik tangannya.
"Anggap ini pemberian ku, bukan lamaran. Jangan di lepas." Imbuhnya tersenyum simpul." Akan ku tunggu sampai kamu siap. Setelah kamu yakin, kita pergi ke Ayah untuk meminta restu." Tidak terasa Bella ikut tersenyum ketika menatap Nathan dari samping.
"Ayahku?"
"Bukan Baby. Tapi Ayahku, em Mamaku sudah tiada. Kapan-kapan kita pergi ke makam dan ku kenalkan beliau padamu."
Walaupun dalam dua tahun terakhir Nathan hidup dalam keputusasaan. Tapi dia merasa lebih baik daripada harus hidup bergumul dengan keburukan.
Sosok Bella mampu membuatnya kembali menjadi Nathan yang dulu, saat Almarhum Ibunya tidak pernah lupa memberikan kasih sayang.
"Hm." Jawaban singkat yang cukup membuat suasana hati Nathan membaik.
"Kamu mau?" Tanya Nathan mengulang.
"Kapan-kapan."
"Mari masuk. Pesta belum selesai, aku memesan beberapa menu. Kamu harus mencicipi semuanya." Nathan berdiri lebih dulu lalu mengulurkan tangannya sambil membersihkan celananya yang mungkin kotor. Bella tidak menyambut uluran tangan dan berdiri tanpa bantuan.
"Aku lebih suka sambal buatan Ayah." Bella berjalan lebih dulu, Nathan mengikutinya dari samping. Dia tidak malu setelah kejadian tadi? Ah jangan lagi gampang tergoda.
"Pasti enak."
"Ya tentu saja. Seharusnya kamu beritahu kalau ternyata ada pesta. Setidaknya aku memakai gaun."
"Begini saja sudah cantik."
"Aku tidak cantik."
"Dalam pengelihatan ku, kamu sangat cantik."
"Sedang menggombal?"
"Hanya padamu."
Obrolan seketika terhenti saat keduanya mencapai ruang tamu yang lebih pantas di sebut aula. Tanpa malu sedikitpun Nathan mengiring Bella mencicipi berbagai menu. Tentu para tamu memilih diam daripada harus berakhir dengan pemecatan tidak terhormat.
__ADS_1
🌹🌹🌹