Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Jiwa perebut


__ADS_3

Ingin rasanya Bella melupakan perasaannya pada Nathan semenjak kebohongan terbongkar. Dia fikir rasa itu akan menghilang seiring berjalannya waktu.


Hampir tiga bulan lamanya Bella sempat tinggal di kampung halaman Istri Eldar untuk menenangkan hati. Selama itu juga dia sering menumpahkan air mata yang entah kenapa sulit berhenti.


Itu lebih sakit ketika Leo mengucapkan kata cerai? Aneh? Tentu saja keanehan Bella rasakan semenjak itu. Seakan hubungan menjijikan yang Nathan suguhkan telah mengikat hatinya kuat.


Aku benci ini? Kenapa aku tidak juga bisa melupakan sosok yang seharusnya jadi lelaki yang paling ku benci? Mana bisa? Aku berusaha melakukan itu bertahun-tahun tapi lelaki ini tetap ada di sana.


"Percuma kau melakukan itu." Ucap Bella seraya berpaling. Dia berusaha menghempaskan perasaannya yang bertolak belakang dengan ucapannya.


"Satu kesempatan lagi." Pinta Nathan memohon. Dia masih duduk bersimpuh seraya mendongak ke arah Bella.


"Tidak." Bella memutar tubuhnya dan melangkah pergi. Bergegas saja Nathan berdiri untuk menyusul tanpa perduli pada tatapan sekitar.


"Apa salah ku? Kita akan menikah dan kamu pergi." Bella tersenyum kecut. Dia enggan membicarakan masa lalu yang ingin di kubur dalam-dalam." Semenjak kamu pergi aku bukan lagi manusia melainkan batu. Kamu harus memahami bagaimana rasanya hidup tanpa hati." Bella berhenti seraya menatap rendah ke arah Nathan.


"Apa kau sedang berakting Tuan. Bagus sekali. Kenapa kau tidak menjadi pemain film saja. Tampang dan akting mu pasti laku keras di pasaran." Nathan menghembuskan nafas panjang. Kini Bella sulit percaya padanya karena kebohongan yang terus saja di suguhkan.


"Aku tidak sedang berpura-pura."


"Apa bedanya hah!!! Kau berdalih menjadi seseorang yang tersakiti padahal satu-satunya orang yang tersakiti adalah..." Menepuk-nepuk dadanya.


"Bukankah kamu tahu aku sudah tidak berselera..."


"Taruhan! Menurut mu aku barang? Kau memang sudah tidak memiliki hati semenjak dulu." Kedua manik Bella mulai berkaca-kaca. Hatinya bergemuruh hebat akibat perasaannya yang memang masih terpaut pada Nathan. Sungguh Bella tidak menginginkan itu namun apa bisa hatinya di setting sesuai keinginan. Tentu tidak.


"Cukup." Sahut Bastian seraya merangkul kedua pundak Bella erat. Sontak saja Nathan menatap tajam ke arah lengan Bastian, dia tidak rela Bella di sentuh lelaki lain.


"Singkirkan tangan mu!!" Dengan kasar Nathan menyingkirkan tangan Bastian lalu mencengkram erat kerah kemeja nya.


"Hei sabar Pak Nathan. Saya hanya datang sebagai pembela untuk dia." Menunjuk ke arah Bella.


"Akan ku patahkan lenganmu kalau kau berani menyentuhnya!!" Salah satu staf segera menghubungi pihak keamanan untuk melerai perseteruan tersebut.


"Kenapa ceritanya berbeda. Bella bilang kalau kamu menganggap nya barang taruhan." Bastian sama sekali tidak panik apalagi takut walaupun kemarahan Nathan begitu meluap-luap.


"Mana mungkin! Dia milikku!!"


"Tidak lagi. Dia sudah jadi milikku. Kami bahkan akan menikah tahun depan."

__ADS_1


Bugh!! Nathan langsung menghantam tubuh Bastian yang langsung di balas kontan. Tidak dapat di pungkiri jika semenjak dulu Bastian menaruh rasa kesal pada Nathan.


Cerita yang di dengar dari Eldar membuat Bastian tahu bagaimana buruknya kesalahan Nathan di masa lalu. Beberapa kali Bastian mencoba merebut hati Bella, sebanyak itu juga dia di buat kecewa atas sikap Bella yang berubah menjadi wanita tertutup.


Perkelahian tidak terhindarkan. Dua kubu yang sama-sama kuat membuat mereka babak belur. Tetesan darah bahkan berceceran di lantai.


Membutuhkan beberapa lelaki untuk melerai. Nathan terpaksa di masukkan ke dalam ruangan sementara Bastian di giring pergi keluar.


"Sejak kapan Eldar!!!" Teriak Nathan lantang. Dia menyadari jika selama ini Eldar menyembunyikan Bella darinya.


Eldar tertunduk dengan posisi berdiri. Tidak ada sedikitpun sesal terbesit. Meski Nathan merupakan Bos baginya namun rupanya Eldar ingin Nathan bisa berubah menjadi lebih baik.


"Maaf. Tuan tidak bisa di hentikan. Saya tidak tega ketika Tuan membohongi Ayah Nona Bella. Itu sungguh perbuatan yang sudah melewati batas." Jawab Eldar masih pada posisi yang sama.


"Sudah ku katakan kalau aku tetap akan menikahinya! Kenapa dia tahu soal taruhan itu hah!!!"


"Pernikahan bukan main-main. Tuan memang berniat menikahinya tapi bukan untuk selamanya. Saya hanya takut terdampak dosa."


"Jadi kau yang merencanakan ini?!! Kau suruh dia bersembunyi di tempat lelaki itu agar mereka bisa bersama!!! Apa begitu maksud mu."


Eldar kembali menghela nafas panjang. Dirinya juga tidak menyangka atas apa yang terjadi hari ini. Memang selama ini dia kerapkali meminta bantuan Bastian ketika ada masalah yang menyangkut Bella.


Kalau berpura-pura? Untuk apa saling melukai? Bagaimana kalau mereka benar-benar menikah?


"Itu di luar kuasa saya Tuan. Mereka memang akrab tapi sebatas teman. Saya tidak tahu menahu soal pernikahan yang akan di gelar tahun depan." Nathan mendengus. Dia mengambil tisu untuk membersihkan noda darah pada wajahnya. Sakit hati yang di rasakan menghantam kuat sampai-sampai nyeri pada rahang tersamarkan.


"Kau mengkhianati ku El!!"


"Saya terima hukuman apapun yang akan Tuan berikan." Eldar sudah pasrah atas apa yang terjadi. Kejadian hari ini di luar kuasanya. Sebenarnya dia tidak berniat menjodohkan Bella dengan Bastian. Eldar hanya berusaha menjauhkan Bella agar Nathan mendapatkan pelajaran dari sana.


"Keluar! Aku ingin sendiri!" Setelah mengangguk sejenak, Eldar berjalan keluar ruangan." Lihat saja. Kamu hanya boleh menikah dengan ku. Akan ku rusak hubungan kalian dengan cara apapun." Gumam Nathan seraya melepas kemeja putih dengan noda darah.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Di dalam mobil yang sedang terparkir, terlihat Bella tengah membersihkan luka pada wajah Bastian. Dia merasa bertanggung jawab atas itu walaupun pertengkaran tersebut tidak seharusnya terjadi.


"Bukankah anda terlihat bodoh melakukan tadi Pak." Gumam Bella pelan. Ini masih jam kerja sehingga dia berusaha menghormati sosok yang ada di hadapannya.


"Tidak. Hal wajar yang di lakukan lelaki terhadap pasangannya." Bella menghela nafas panjang. Selama ini dia tidak memiliki rasa pada siapapun tidak terkecuali Bastian. Bella menganggap Bastian sebagai teman, partner kerja juga seorang Kakak.


"Sudah cukup aktingnya." Jawabnya pelan.


"Om Bisri setuju. Dia memperbolehkan ku mendekati mu." Bella memberikan tisu pada Bastian lalu duduk tegak. Sungguh dia muak mendengar pembahasan soal sebuah hubungan.


"Kau akan tahu jawabannya seperti apa?"


"Ya. Aku akan berusaha."


"Membuang waktu." Jawab Bella ketus.


"Sama sekali tidak."


"Aku sedang memperingatkan mu kalau kau hanya akan membuang waktu!!"


"Suka sekali di ganggu. Ayo menikah maka semuanya selesai." Bella tersenyum simpul. Dia bosan mendengar ucapan tersebut.


"Aku tidak akan pernah menikah."


"Why? Apa aku tidak cukup baik bagimu?" Meski tidak ada ketertarikan namun Bella mengakui jika paras Bastian tidak kalah tampan. Tapi entah kenapa dia tidak pernah memiliki rasa pada sosok tersebut.


"Cukup bercanda nya? Mari kembali ke perusahaan."


"Aku serius, bukan sedang bercanda." Jawab Bastian seraya melajukan mobilnya.


"Jangan bodoh. Aku bukan pilihan yang tepat. Masih banyak wanita yang lebih baik. Hubungan kita hanya sebatas teman."


"Banyak?" Bastian terkekeh kecil di tengah rasa nyeri pada tulang rahangnya." Terlihat baik maksud mu? Memang banyak yang lebih cantik dan menarik tapi aku suka kepribadian mu." Bella tersenyum simpul seraya melirik malas.


"Ingat. Aku pernah gagal dalam berumah tangga. Itu berarti ada yang salah dalam diriku."


"Satu-satunya kesalahan adalah lelaki semacam mereka. Jangan sudutkan dirimu." Bella tidak bergeming. Bastian menatap frustasi sebab selama ini dia berusaha mendekat namun gagal. Ingin rasanya dia memaksa Bella untuk menikah melalui Pak Bisri. Namun Bastian tidak mau melakukan perbuatan yang mungkin akan membuat Bella semakin tidak mempercayai ketulusan.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2