
Leo pulang dengan wajah kesal. Dia memutuskan pergi dari pesta karena tidak ingin melihat kenyataan soal hubungan Nathan dan Bella yang berusaha di perbaiki.
Alangkah terkejutnya Leo ketika melihat sebuah mobil terparkir di bahu jalan depan rumahnya. Stefan bersandar pada body mobil lalu bergegas berdiri tegak ketika menyadari kedatangan Leo.
Ada apa lagi? Tap! Pintu mobil di tutup kasar. Leo berjalan menghampiri Stefan dan ingin menanyakan keperluannya.
"Di mana Lisa?" Tanya Stefan tanpa basa-basi. Sore ini Lisa pergi dari rumah dengan membawa perhiasan juga surat rumah.
"Lisa?" Leo tersenyum simpul. Perasaannya pada Lisa sudah menghilang semenjak kejadian naas itu." Kenapa bertanya padaku? Dia sudah jadi Istrimu kan." Imbuhnya.
"Dia membawa kabur hartaku juga surat rumah.'' Kini senyuman Leo berganti menjadi kekehan. Dulu dia sempat memperingatkan Stefan soal hal tersebut. Lisa wanita yang tidak tahu terimakasih dan penggila harta.
"Mana ku tahu? Aku tidak lagi mendengar kabarnya. Selain tidak perduli aku juga malas berurusan dengan wanita itu." Stefan mendengus. Dia takut di salahkan keluarga Nina atas hilangnya surat rumah.
"Kau tahu di mana rumah orang tuanya?"
"Cari saja di pemakaman. Sudah ya. Urusi masalahmu sendiri." Setelah mengucapkan itu, Leo masuk ke dalam rumah sementara Stefan kembali ke mobilnya dengan wajah kecewa.
🌹🌹🌹
Pukul sepuluh, Vila terlihat sudah sepi. Para tamu pulang mengingat langit malam ini tampak mendung. Meskipun sampai saat ini mereka tidak mengetahui kejelasan untuk apa pesta di gelar. Tapi nyatanya mereka menikmati jamuan dari Nathan.
Para pegawai catering membereskan peralatannya. Mereka sedikit terburu-buru karena takut hujan akan turun. Sementara Bella sendiri lebih banyak diam sambil mendengarkan obrolan antara Nathan dan Eldar. Ingin cepat pulang tapi Bella takut memotong pembicaraan.
"Bukankah lebih baik pulang besok saja Nona." Bella menoleh seraya tersenyum. Pesta yang cukup mengejutkan sampai-sampai membuatnya bingung harus bersikap.
Apa ini acara pertunangan? Atau hanya sekedar pesta sambutan biasa. Namun setelah penolakan tadi, para staf seakan melupakan kejadian tersebut padahal Bella merasa tidak enak.
"Ayah bisa khawatir Pak." Jawab Bella beralasan.
"Aku sudah pamit. Dia mengizinkan."
"Tapi tidak untuk menginap."
Dugaan turun hujan terlintas. Langit tampak berwarna merah gelap. Apalagi lokasi puncak memiliki jalan terjal dan berkabut. Sehingga Eldar menyarankan untuk pulang besok.
Namun lagi lagi fikiran Bella terlalu keruh. Dia masih saja menebak jika tawaran Eldar bagian dari rencana. Meski cinta dan ketertarikan begitu menggebu dengan sosok Nathan. Tapi Bella tidak ingin kejadian menjijikan terulang. Beradegan ranjang sebelum hubungan resmi.
"Sepertinya akan turun hujan Nona."
"Kalau begitu pulang sekarang saja." Bella bergegas berdiri di ikuti oleh Nathan.
"Hm ya sudah kita pulang." Eldar tersenyum simpul seraya mengangguk. Sesuai perintah, dia akan pergi setelah semua pegawai catering selesai.
"Hati-hati Tuan."
"Ya."
Bella dan Nathan berjalan keluar melewati pintu samping bersamaan dengan pegawai catering yang tampak sudah selesai berbenah. Mereka memasukkan peralatan yang sudah di cuci bersih ke dalam mobil.
__ADS_1
Eldar berdiri di ambang pintu, menatap mobil Nathan yang sudah meninggalkan pekarangan Vila. Dia kembali masuk untuk mengecek pintu dan jendela yang mungkin belum tertutup.
Vila tersebut jarang sekali di kunjungi. Penjaga rumah hanya datang satu Minggu sekali untuk bersih-bersih. Sehingga Eldar di haruskan mengunci satu persatu pintu dan juga jendela.
.
.
.
.
.
Sudah sepuluh menit berjalan, tidak ada obrolan hingga mobil terasa hening. Bella ingin memulai pembicaraan tapi dia enggan membuka mulut dan lebih memilih diam.
"Di daerah sini tidak bisa mengebut." Ujar Nathan mengawali pembicaraan.
"Hm terlalu terjal jalannya."
"Aku hanya takut hujan. Jarak pandang terbatas sebab di sini sering ada kabut."
"Tidak akan hujan." Jawab Bella asal.
Tepat di saat dia mengucapkan perkataan tersebut. Hujan perlahan turun. Nathan menambah kecepatan agar tidak terjebak jika nanti kabut menyelimuti jalanan. Tentu saja hal itu membuat Bella panik dan ketakutan. Jalan terjal juga berkelok-kelok langsung membangkitkan adrenalin.
"Mas jangan terlalu kencang. Aku takut ada kendaraan lain." Protes Bella menatap lurus ke depan. Saat Nathan membelokkan mobilnya, terkadang nafasnya terhenti sesaat.
Hujan semakin lebat, jarak pandang mulai terbatas. Nathan menyalakan lampu sorot agar dia tahu kalau ada mobil lain berlawanan arah.
Ciiiiiiiiiiiitttttttttttt!!! Seketika Nathan membanting setir saat melihat sebuah sepeda melintas. Hampir saja mobilnya menerobos orang yang terlihat tengah membawa hasil kebun.
"Astaga." Ucap Nathan sambil mengatur nafas begitupun Bella yang tengah memasang wajah tegang. Beruntung Nathan bisa mengerem di saat yang tepat. Jika tidak, keduanya akan masuk ke dalam jurang yang begitu dalam.
Terlihat seorang lelaki mengetuk-ngetuk pintu mobil. Dia membawa lampu senter dan payung. Nathan menurunkan kaca mobil untuk menanyakan tujuan orang tersebut.
"Lebih baik turun Mas. Hujannya lebat."
"Oh iya. Em bagaimana keadaan Bapak tadi?"
"Beliau hanya kaget. Sekarang ada di warung." Nathan dan Bella saling melihat. Mereka merasa bertanggung jawab atas insiden tersebut sebab hasil kebun si Bapak terlihat berhamburan di jalan.
"Kami tidak punya payung."
"Sebentar Mas."
Nathan kembali menaikkan kaca mobilnya. Setelah beberapa saat menunggu, lelaki tersebut kembali dengan membawa dua buah jas hujan. Bergegas, Nathan membuka pintu mobilnya.
"Pakai ini Mas."
__ADS_1
"Terimakasih."
"Sama-sama." Nathan meletakkan satu jas hujan ke pangkuan Bella.
"Kita turun. Em mungkin Bapak itu terluka." Tanpa berprotes dan berkomentar, Bella memakai jas hujan tersebut. Dia juga ingin tahu keadaan si Bapak yang hampir tertabrak tadi.
Setelah jas hujan terpasang, keduanya turun dan berjalan ke arah warung yang letaknya tidak jauh dari sana. Si Bapak terlihat duduk sambil meminum air mineral.
"Maaf Pak. Saya tadi tidak lihat." Si Bapak tersenyum teduh.
"Tidak apa Nak. Bapak juga salah."
"Apa ada yang terluka?" Tanya Bella seraya melepas jas hujan yang di pakai.
"Cuma kaget Non."
"Syukurlah."
"Mari teh hangat nya. Sekalian menunggu hujannya redah."
Nathan mengisyaratkan Bella untuk duduk. Dia juga mengambil satu cangkir teh dan memberikannya pada Bella.
"Tidak apa kan?" Tanyanya pelan.
"Ya sudah Mas. Daripada celaka." Nathan duduk di sisi Bella sambil menatap ke kucuran hujan di hadapannya.
Hawa dingin mulai menusuk tatkala angin berhembus kencang menerpa tubuh mereka. Sesekali Nathan melirik ke arah Bella yang terlihat kedinginan. Ingin rasanya jemarinya di genggam namun Nathan takut membuat Bella marah.
Sementara si Bapak dan lelaki pemilik warung berusaha mengobrol ramah. Meski rasanya Nathan tidak fokus dan malah memikirkan keadaan Bella.
Bagaimana kalau masuk angin? Seharusnya aku tadi membawa jaket.
Siapa sangka hujan pertama datang lebih awal. Sebab ketika berangkat langit terlihat cerah. Bella sendiri terlanjur memakai kaos tipis namun beruntung celana jeans panjang tampak di pakai sehingga tidak seberapa dingin.
"Aku tidak membawa jaket." Ucap Nathan pelan. Perkataan itu sontak membuat lelaki pemilik warung dan si Bapak berhenti mengobrol.
"Tidak apa Mas."
"Aku merasa bertanggung jawab. Kalau kamu sakit, nanti Om Bisri marah padaku." Bella tersenyum simpul.
"Ayahku bukan seperti itu."
"Memangnya rumahnya di mana?" Tanya si Bapak.
"Daerah XX Pak. Apartemen Galaxy."
"Itu jauh dari sini Mas." Sahut si pemilik warung." Terus ini tadi ada acara atau apa?" Imbuhnya bertanya.
"Hm dari pesta."
__ADS_1
"Sebaiknya di tunggu sampai redah Mas. Takut malah kecelakaan." Nathan tersenyum simpul sambil menggeser tubuhnya lebih dekat ke arah Bella. Dia ingin memberikan sedikit rasa hangat meskipun nantinya Bella menolak.
🌹🌹🌹