
Sudah beberapa hari ini Lisa merasakan mual hebat. Setiap kali dia mencium aroma yang menyengat membuatnya memuntahkan isi perut.
Tebakan soal kehamilan sudah terlontar dari bibir Bu Rita. Namun rupanya Lisa tidak menginginkan bayi tersebut dan menolak untuk memeriksakannya.
Alasan Lisa karena tidak berselera menghabiskan sisa waktu dengan lelaki loyo seperti Leo. Dia berniat mengeruk hartanya saja lalu pergi mencari lelaki yang lebih muda dan juga mapan seperti Stefan.
Lisa belum juga berhenti berhubungan. Keduanya kerapkali bertemu di apartemen mewah milik Stefan. Dia memutuskan tidak tinggal di depan rumah Leo untuk menghapus kecurigaan.
"Selamat Tuan, Em Nona Alisa hamil." Senyum Leo seketika mengembang. Ini adalah berita yang paling di nanti Bu Rita." Kehamilannya sudah menginjak 6 Minggu. Saya sarankan untuk trimester awal, sebaiknya Nona Alisa membatasi kegiatan di luar." Imbuhnya menuturkan.
"Baik Dok."
Semoga saja ini bukan anak Mas Leo. Malas sekali menghabiskan seumur hidup dengan nya. Batin Lisa seraya tersenyum penuh paksaan.
Setelah menebus obat, Leo mengiring Lisa bergegas pulang menuju rumah Bu Rita. Dia tidak sabar ingin memberitahu berita menggembirakan tersebut.
Singkat waktu, setibanya di lokasi. Bu Rita menyambut kedatangan Lisa dengan suka cita. Namun lain hal dengan Pak Salim yang sebenarnya masih tidak mengsetujui hubungan antara Leo dan Lisa.
"Kita adakan syukuran ya Le. Undang satu komplek juga tetangga sekitar Mama. Pokoknya acaranya harus besar-besaran. Ini kan cucu pertama Mama." Bu Rita hendak mengusap perut Lisa namun di tolak.
"Jangan sembarang menyentuh ya Ma. Aku tidak suka aroma tubuh orang tua." Sontak Leo melirik begitupun Pak Salim yang menghembuskan nafas berat. Suara ketus kerapkali Lisa lontarkan seakan-akan tidak ada rasa hormat di hatinya.
"Ya maaf. Itu namanya bawaan bayi." Tidak biasanya Bu Rita merendah diri. Rasanya keinginan memiliki cucu menjadi cita-cita terbesarnya." Mulai saat ini, biar Mama yang mengurus makan mu. Jangan sembarang beli di luar, itu tidak sehat." Kebahagiaan yang di rasakan Bu Rita membuat hatinya melunak.
"Asal bukan masakan kampungan."
"Walau kamu hamil. Tidak seharusnya kamu berkata seperti itu Nak." Sahut Pak Salim sangat tidak menyukai sikap Lisa. Dia masih memihak pada Bella yang di rasa punya sikap jauh lebih baik.
"Ish! Ayo pulang Pa." Lisa bergegas berdiri sambil melirik tajam ke arah Pak Salim.
"Aku pamit ya Yah, Ma." Leo mencium tangan Bu Rita dan Pak Salim sementara Lisa langsung melenggang keluar.
"Hm hati-hati Nak. Ingat ya. Lisa tidak boleh capek."
"Iya." Teriakan Lisa terdengar buruk sehingga cepat-cepat Leo berjalan menyusulnya.
"Jangan bicara seperti itu Pak. Orang hamil itu sensitif." Pak Salim kembali menghela nafas panjang.
"Sejak dulu sikap Lisa memang seperti itu semenjak Leo menjadikannya Istri. Bapak itu takut kalau suatu saat Leo menyesal sudah melepaskan Bella dan memilih wanita itu."
"Buktinya Lisa hamil kan Pak. Mama itu ingin cepat menimang cucu sementara Bella tidak juga memberikan."
"Ya kalau masalah anak itu urusan Tuhan Bu. Pasangan yang tidak memiliki keturunan tapi hidup bahagia juga banyak." Jawab Pak Salim menyangkal.
__ADS_1
"Halah Bapak ini apa? Sudah ah! Anterin Ibu ke pasar."
Meski kebahagiaan tengah di rasakan Bu Rita namun terselip perasaan tidak yakin akan hubungan Lisa dan Leo. Dia membenarkan apa yang di ucapkan Pak Salim namun terlalu angkuh untuk mengakui.
🌹🌹🌹
Bella melongok ketika dia melihat pintu mini market terkunci. Terbesit kecurigaan saat Eldar keluar dari mobil mewah yang terparkir di depan toko.
Lelaki itu merencanakan apalagi?
"Pagi Nona Isabella." Sapa Eldar ramah dengan senyum mengembang.
"Ya Pak. Em kenapa tokonya masih di..."
"Toko ini sudah di segel dan tidak beroperasi lagi. Saya di tugaskan menjemput anda." Bella tersenyum aneh seraya memundurkan tubuhnya.
"Menjemput? Maksudnya bagaimana?"
"Anda di terima kembali ke Asian group sebagai sekertaris pribadi Tuan Nathan." Bella menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak. Lebih baik saya mendaftar ulang agar saya bisa mengojek lagi."
"Semua akses sudah di tutup. Saya pastikan anda tidak akan dapat perkerjaan termasuk menjadi tukang ojek." Bella mendengus seraya berpaling.
"Tuan saya sedang merasa penasaran pada anda."
"Saya sudah tidak menarik lagi Pak. Lihatlah." Eldar menyadari tentang keburukan fisik Bella. Namun cinta bisa dengan mudah membutakan mata sebab ternyata Nathan masih saja menginginkan Bella." Mari ikut saya Nona." Dengan sopan Eldar membukakan pintu mobil. Terpaksa Bella masuk, dia berniat menanyakan ini pada Nathan sendiri.
.
.
Singkat waktu setibanya di Asian group. Eldar tidak langsung turun dan malah memutar tubuhnya ke arah Bella. Dia memberikan sebuah paper bag berisi baju yang harus Bella kenakan.
"Saya tunggu di luar Nona." Ucap Eldar sopan.
Tap! Pintu mobil tertutup. Bella menghela nafas panjang lalu mengeluarkan setelan baju kantoran. Dia tidak yakin akan pantas memakainya sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk berfikir.
Aku tidak mau Ayah berkerja. Kalau aku menolak, sudah pasti aku tidak akan mendapatkan perkerjaan di kota ini.
Setelah menimbang, Bella bergegas memakai baju tersebut. Bibirnya di poles dengan lipstik agar tidak pucat.
"Bukankah saya akan mempermalukan Pak Nathan?" Gumam Bella berdiri di samping Eldar.
__ADS_1
"Peraturan di sini sudah berubah Nona. Tuan Nathan tidak lagi memakai sistem lama."
"Maksudnya apa Pak? Saya tidak mengerti."
"Sejak beliau kehilangan selera dengan para wanita-wanita itu, sebagian staf wanita di pindahkan ke kantor cabang. Hanya segelintir yang tersisa. Wanita yang di pertahankan adalah wanita yang bagus dalam perkerjaannya dan tidak tertarik pada Tuan."
Setelah mendengar penjelasan dari Eldar membuat Bella sepenuhnya percaya akan keanehan yang terjadi pada Nathan.
"Tapi saya benar-benar tidak mengutuk Pak Nathan." Jawab Bella menyangkal.
"Hm mungkin Tuhan tidak terima karena Tuan sudah menyakiti wanita baik seperti Nona. Em sebaiknya kita langsung masuk. Silahkan."
Eldar mempersilahkan Bella berjalan di sampingnya. Terlihat jelas rasa percaya diri benar-benar musnah. Bella merasa tidak nyaman dengan tatapan sekitar.
Mereka pasti meledekku habis-habisan.
"Bella." Sapa seorang wanita paruh baya. Bella sontak menoleh dengan senyum canggung.
"Bu Anis." Gumam Bella pelan. Dia masih mengenal sosok tersebut.
"Astaga benar kamu. Apa Bella kembali berkerja di sini Pak." Sapaan dari Anis membuat hati Bella sedikit tenang.
"Ya." Jawab Eldar seraya tersenyum simpul.
"Hahahaha. Jadi ada anak kecil yang akan ku suruh-suruh lagi." Itu bukanlah kalimat ledekan. Sebab sejak dulu Anis berteman baik dengan Bella meski umur keduanya terpaut jauh.
"Nanti saja mengobrol nya."
"Oh ya Pak silahkan." Bella melambai sejenak sebelum akhirnya pergi bersama Eldar." Sekarang kamu percaya kan Bell. Leo itu tidak baik untuk mu. Kenapa kamu terburu-buru menerima pinangannya." Eluh Anis lirih.
Berita soal perceraian antara Leo dan Bella tersebar. Ada yang tidak perduli tapi ada juga yang menyayangkan keputusan Leo. Banyak dari para staf mengenal Bella sebagai wanita baik-baik dan tidak neko-neko. Acuh memang terlihat tapi sikap ramah selalu di tunjukkan jika berhadapan dengan orang yang mampu membuatnya nyaman. Hal tersebut menjadi poin terpenting meski Bella tidak memiliki paras cantik.
Itu bukan sombong tapi seharusnya wanita memang tidak terlalu murah.
Begitulah tanggapan para wanita paruh baya. Tapi lain hal dengan staf lelaki yang selalu saja membicarakan keangkuhan Bella.
Tidak cantik saja sok jual mahal!!
Untuk lelaki yang suka bermain-main tentu memberikan penilaian seperti itu. Mereka sangat suka pada wanita yang selalu welcome pada siapa saja termasuk apa yang Nathan fikirkan dulu.
🌹🌹🌹
Maaf typo bertebaran. Terimakasih dukungannya 🌹
__ADS_1