Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Terendusnya kebohongan


__ADS_3

Siang itu Eldar dan Leo menghadiri pertemuan di sebuah hotel. Relasi yang berasal dari luar negeri tidak banyak mengetahui lokasi sehingga terpaksa mereka datang ke hotel untuk membicarakan kerja sama.


Ketika kata mufakat sudah tercapai. Para relasi terlihat kembali ke kamar hotel karena sore ini mereka sudah harus kembali ke negara asal.


"Saya tidak melihat Pak Nathan pagi ini." Jangan-jangan dia mencari Bella. Kenapa Nathan menghilang setelah Bara bercerita.


Terbesit rasa tidak rela ketika terlintas fikiran soal Nathan yang mungkin memutar haluan. Leo masih berharap bisa kembali memperbaiki hubungan seperti dulu. Memang sejak awal dia berniat begitu, sebab perasaan Leo masih sama dan tidak bergeser. Dia hanya ingin berhenti sejenak, tanpa memikirkan dan menimbang jika hubungan pernikahan bukanlah mainan.


"Beliau sedang mengurus beberapa hal di luar negeri." Leo mengangguk-angguk seraya melirik ke arah Eldar.


"Apakah lama?"


"Tergantung Pak. Kalau masalahnya cepat selesai, beliau akan kembali."


"Oh." Leo mencoba percaya meski tidak sepenuhnya.


Tiba-tiba saja Eldar tersenyum simpul tanpa sebab ketika maniknya menatap ke pintu masuk hotel. Rupanya dia sedang memperhatikan Lisa yang baru saja datang bersama seorang lelaki.


Semenjak Lisa tergoda dengan pengusaha muda yang tinggal di depan rumah. Dia tidak lagi mengurusi kegiatan Leo padahal biasanya Lisa selalu cemburu buta dan gampang curiga.


Istri sempurna hanya akan membawa kesenangan sesaat.


"Sepertinya itu Istri cantik Pak Leo." Ujar Eldar seraya menunjuk resepsionis dengan isyarat mata. Leo menoleh cepat. Seketika matanya membulat melihat pemandangan tersebut.


"Lisa." Gumamnya berdiri.


"Saya kembali duluan ya Pak. Ingat pada meeting malam ini di restoran Galaxy." Kata Eldar sebelum pergi.


"Ya."


Bergegas saja Leo menghampiri Lisa lalu menarik lengannya kasar. Apalagi setelah dia melihat kenyataan soal selingkuhan Lisa yang merupakan tetangganya sendiri.


"Apa-apaan ini Lis!!" Teriak Leo geram. Eldar menoleh sejenak lalu melenggang keluar lobby seraya tersenyum simpul.


"Lepas Pa." Tanpa rasa hormat, Lisa menarik tangannya lalu memegang lengan si tetangga yang di ketahui bernama Stefan.


"Pulang! Kalian sedang apa?!!" Stefan tersenyum simpul lalu berjalan satu langkah lebih dekat.


"Dia mengatakan sudah bosan padamu." Leo mendengus, menatap nanar banyaknya belanjaan yang di bawa Lisa.


"Lantas? Kau merebut nya?"


"Ya. Aku lebih bisa membahagiakan nya daripada kamu."


"Kak Stefan lebih royal daripada kamu Pa. Uang jajan yang Papa beri terlalu sedikit." Dengan gamblang Lisa menjawabnya begitu. Dia tidak melihat bagaimana jasa Leo yang sudah membiayai sekolah juga hidupnya selama ini.


"Tapi tidak seharusnya kamu berkhianat."


"Kalau Papa royal aku tidak mungkin.." Leo menarik kasar lengan Lisa.


"Kita bicarakan di rumah dan kau!!" Menunjuk ke arah Stefan." Akan ku buat perhitungan dengan mu." Bukan hanya Bella yang masih Leo cintai sebab ternyata dia terlanjur menyanyangi Lisa meski perangai buruk kerapkali di perlihatkan. Leo ingin serakah dan berniat memiliki keduanya.


🌹🌹🌹


Bella berusaha menghilangkan kekalutan hatinya dengan menata barang-barang yang masih ada di dalam kardus. Niat untuk pergi musnah, sebab dirinya merasa punya hutang budi pada sosok Nino. Apalagi perkerjaan sudah di dapatkan sehingga Bella memutuskan untuk tetap tinggal.


Bagaimana kalau Ayah menelfon? Aku belum mengabarinya.


Tok.. Tok.. Tok..


Bergegas saja Bella beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu. Mimik wajah canggung seketika menghiasi wajahnya saat melihat Nathan berdiri di depan pintu mengunakan sosok Nino.


"Eh Mas Nino. Ada apa?" Bella keluar dari kamar lalu menutup pintu untuk menjaga terjadinya fitnah.


"Em itu. Aku ingin mengajakmu makan malam sambil mengobrol untuk perkerjaan besok." Bella tersenyum tipis seraya mengalihkan pandangannya. Dia bingung harus menjawab apa sebab selama ini dirinya selalu menghindar ajakan siapapun. Selain tidak ada waktu, Bella kehilangan selera untuk bersosialisasi.


"Aku sudah makan tadi sore Mas. Ini mau tidur." Jawab Bella beralasan.

__ADS_1


"Masih jam tujuh malam. Kenapa tidur? Besok juga berangkat pukul sembilan." Senyum Bella berubah aneh. Jawaban yang di dengar tidak asing baginya. Ingatannya langsung tertuju pada satu nama yaitu, Nathan.


Tidak mungkin? Mustahil ini dia.


"Bagaimana Bella?"


"Itu Mas. Em.."


"Sudahlah ayo kalau memang kamu butuh perkerjaan." Belum apa-apa Nathan sudah menunjukkan watak pemaksa padahal Eldar berpesan untuk menahan diri.


"Hm Mas. Aku ambil sweater dulu."


"Ya. Aku tunggu di motor ya."


"Iya Mas." Meski setengah hati, Bella terpaksa mengiyakan. Perkerjaan menjadi tukang ojek tidak bisa di lakukan karena tidak adanya ponsel.


Ketika dirinya keluar dari kamar. Terdengar suara motor terparkir. Bella membalikkan badan setelah mengunci pintu dan melihat Silla tengah di antar seorang lelaki.


"Mau kemana Bell?" Sapa Silla seraya melirik ke Nathan yang memiliki postur tubuh lebih baik daripada kekasihnya.


"Di ajak Mas Nino."


"Oh. Kenalkan ini pacarku." Menunjuk ke lelaki yang terlihat memandang Bella rendah.


"Ya sudah. Aku pergi dulu ya." Bella sudah lebih dulu minder sehingga dia tidak mengulurkan tangannya pada kekasih Silla.


"Iya." Jawab Silla ketus. Ada dengusan keluar di sertai lirikan mata malas. Mata Nino benar-benar buta!!


"Itu temanmu?" Tanya si kekasih.


"Ya sayang. Kenapa?"


"Tidak apa. Lain kali tidak perlu mengenal ku padanya." Silla tersenyum. Kekasihnya terkenal pemilih dalam hal berteman.


"Aku berteman karena kasihan. Kamu lihat keadaannya kan."


"Ya sayang hati-hati." Silla tersenyum simpul sambil melambaikan tangan lalu masuk ke dalam kost-an dengan hati dongkol. Dia menaruh rasa cemburu pada Bella padahal Silla sudah memiliki kekasih.


.


.


.


Singkat waktu, setibanya di depot sate. Nathan memarkir motor dan Bella pun turun sambil menatap sekitar. Rasa percaya diri memang sejak lama menghilang sehingga Bella kerapkali mengunakan masker ketika berada di luar rumah.


"Duduk. Biar ku pesankan." Pinta Nathan berjalan ke arah si penjual sementara Bella duduk." Buka masker mu." Imbuh Nathan setelah memesan.


"Nanti saja Mas. Em bukankah sebaiknya di bungkus saja."


"Kenapa?"


"Lebih enak makan di rumah."


"Sambil cuci mata." Jawab Nathan asal. Bella memperhatikannya sedikit lama. Tingkah laku Nathan masih sangat Bella ingat.


Jika mungkin benar? Untuk apa dia melakukan ini?


Entah kenapa Bella merasa yakin jika lelaki yang duduk di hadapannya adalah Nathan.


Sebaiknya aku berpura-pura tidak tahu. Ini juga belum tentu benar. Tapi watak pemaksa nya sangat ku kenali.


"Lepas masker lalu makanlah." Pinta Nathan sambil menyodorkan satu porsi sate.


"Terimakasih Mas."


"Sama-sama. Besok perkerjaan mu hanya menata barang."

__ADS_1


"Ya Mas. Em apa benar Mas Nino menjabat sebagai manager?" Tanya Bella berusaha ramah.


"Iya."


"Terus kenapa tinggal di kost sederhana itu?" Bella berusaha memancing dan ingin tahu alasan Nathan.


"Memangnya harus ada alasan?" Bella mengangguk. Dia semakin yakin dengan tuduhannya. Siapa lagi lelaki yang suka memaksakan kehendak kalau bukan Nathan.


"Aku hanya sekedar bertanya Mas."


"Asal nyaman tidak masalah tinggal di mana pun."


"Hm iya."


"Nih." Tiba-tiba saja Nathan menyodorkan ponselnya." Mungkin kamu ingin menghubungi keluarga mu. Aku dengar kamu habis kecopetan?" Ingin rasanya Bella langsung mengiyakan namun dia merasa sungkan.


"Tidak perlu Mas." Jawabnya menolak dengan pelan.


"Pakai saja. Kita bertetangga. Aku akan mengabarkan kalau memang ada masalah genting." Nathan menebak jika Bella sangat menyanyangi kedua orang tuanya. Tidak seperti dia yang kehilangan rasa hormat pada sang Ayah.


"Takut merepotkan Mas."


"Tidak. Cepat lakukan."


"Hm. Aku akan menghubungi kontak Ayah tapi em aku minta sesuatu."


"Apa?"


"Em.. Apapun yang ku katakan di telepon semata-mata ingin menjaga kekhawatiran orang tua ku."


"Hm beres."


"Maaf ya Mas." Bella mengambil ponsel milik Nathan kemudian mengetik nomer telepon sang Ayah. Tujuan Nathan mengajak Bella pergi memang berniat memberikannya kesempatan untuk mengabari kedua orang tuanya.


📞📞📞


"Ini ponsel Mas Leo Yah. Aku belum bisa membelinya.


Seketika gejolak rasa cemburu menari-nari di otak Nathan sampai-sampai selera makannya runtuh.


"Tapi kamu tidak apa-apa?


"Aku baik-baik saja.


"Syukurlah.


"Ya sudah Yah. Kalau ada apa-apa kabari lewat nomer ini ya.


"Iya Nak.


📞📞📞


Setelah panggilan terputus. Bella mengembalikan ponsel pada Nathan yang tengah menatapnya tajam. Aneh? Tentu saja begitu. Bella membaca kecemburuan pada mimik wajah yang di perlihatkan.


"Ada apa Mas?"


"Tidak." Nathan mengantongi ponsel lalu menuangkannya sambal begitu banyak.


"Kamu suka pedas?"


"Ya suka sekali." Agar sekalian otakku terbakar. Ah gila!! Sebenarnya apa yang ku rasakan sekarang? Kenapa aku kesal ketika dia menyebut nama Leo!!


Kalau benar dia Mas Nathan? Apa dia sedang memperjuangkan ku dengan cara lain?


🌹🌹🌹


Maaf ya. Aku belum bisa doubel update 🙏🙏

__ADS_1


Terimakasih dukungannya 🥰🌹


__ADS_2