Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Syarat dari Pak Bisri


__ADS_3

Nathan mencoba bersikap ramah. Tapi tanggapan Pak Bisri membuat suasana menjadi mencekam. Bukan hanya nada bicara yang ketus. Mimik wajah serta tatapan tajam cukup menciutkan hati Nathan.


Suasananya jadi aneh. Kaku sekali orang tua Bella. Bukankah dia seharusnya bangga memiliki calon menantu seperti ku.


Sengaja sekali Bella memperlambat perkerjaannya. Dia berharap Nathan bisa akrab dengan Pak Bisri. Namun kenyataannya tidak sesuai. Sudah hampir setengah jam berlalu hanya ada keheningan.


Nathan bernafas lega ketika Bella keluar dengan membawa nampan yang berisi sirup dingin.


"Silahkan Mas." Ujar Bella menawarkan lalu duduk di sisi Pak Bisri." Besok aku akan kembali berkerja jadi kamu tidak perlu repot-repot datang ke sini." Nathan tersenyum aneh. Sikap Anak dan Bapak sama-sama membuatnya frustasi. Kalimat sapaan Bella terdengar seperti pengusiran secara halus.


"Aku datang bukan karena perkerjaan." Jawabnya tegas.


"Terus apa?"


"Ya. Ingin menemui mu saja." Tidak bisakah orang tua itu pergi?!


"Tetangga sekitar belum tahu soal perceraian ku. Di sini juga kampung yang sebagian besar orang-orangnya suka bergosip. Jadi..."


"Kamu yang menolak. Aku berniat memperjelas hubungan ini." Jawab Nathan tersulut emosi. Nada bicaranya terdengar meninggi sampai-sampai Pak Bisri menghela nafas panjang." Bagaimana Om. Apa saya salah melakukan ini?" Imbuhnya lagi.


Menggebu-gebu sekali anak ini.


"Tentu salah." Jawab Pak Bisri seraya mengambil cangkir dan meneguk teh yang sudah dingin.


"Letak kesalahan saya ada di mana? Saya ingin..."


"Saya tidak setuju." Sahut Pak Bisri cepat. Bella hanya terdiam, dia ingin menyerahkan keputusan pada sang Ayah setelah kegagalannya.


"Alasannya apa Om? Saya ini pemilik perusahaan besar di mana Bella berkerja dulu." Nathan mencoba memberitahu soal kesempurnaannya. Dia begitu yakin Pak Bisri langsung mengsetujui hubungan ketika kekuasaan tinggi berhasil di genggam.


"Uang tidak menjamin hidup seseorang bisa langgeng. Menurut mu perkerjaan saya apa? Hanya tukang kayu tapi Istri saya bahagia sampai akhir hayat."


Nathan memalingkan wajahnya seraya mendengus. Harapannya untuk mendekati Bella lewat keluarganya pupus. Dia tidak menyangka jika apa yang di anggapnya sempurna tidaklah berarti di mata Bella dan Pak Bisri.


"Sejak awal berhubungan dengan Leo, sebenarnya saya tidak setuju. Orang kantoran itu biasanya suka main wanita apalagi Bos besar seperti mu. Lebih baik kamu menikah dengan orang miskin tapi penuh tanggung jawab Nak." Pandangan Pak Bisri beralih pada Bella.


Bella menghela nafas panjang. Dia takut Nathan akan mundur ketika mendengar jawaban dari Pak Bisri yang di rasa keterlaluan. Tapi Bella juga tidak ingin munafik akan ketakutannya pada sebuah hubungan.


"Saya sudah kehilangan selera dengan wanita lain Om." Jawab Nathan pelan. Hatinya semakin tertarik untuk mendapatkan restu meski kekesalan berkecamuk.


"Sudahlah Nak. Bella juga tidak ingin cepat menikah. Akan lebih baik kamu tidak sering datang ke sini." Aku ingin tahu sebesar apa niatnya.

__ADS_1


"Saya ingin serius Om. Coba sebutkan syarat apa yang harus saya lakukan." Jawaban dari Nathan membuat perasaan Bella membaik walaupun dia tidak seberapa yakin.


"Contohnya sudah terlihat jelas." Menunjuk ke arah Bella." Saya sudah membesarkan anak saya dengan kasih sayang tanpa syarat. Tapi lelaki yang baru di kenal beberapa tahun lalu malah menghancurkan hidupnya. Syarat sangat mudah kalau memang kamu serius." Imbuh Pak Bisri menimpali.


"Apa itu Om?"


"Kamu harus memiliki rasa sayang yang lebih besar daripada saya, Ayah kandungnya." Menunjuk ke arah dadanya.


"Cara membuktikan itu bagaimana?"


"Nanti saya yang akan memutuskan. Kamu hanya perlu bersikap tanpa di buat-buat." Jawab Pak Bisri seraya berdiri. Keinginan yang di lontarkan semata-mata ingin menjaga Bella." Kalian boleh berbicara sampai pukul dua. Setelah itu pergilah." Pak Bisri menepuk pundak Bella lembut lalu berjalan masuk. Dia berniat memberikan ruang pada Nathan untuk mengobrol.


"Hei Bella. Kenapa watak kalian sama." Tanya Nathan berbisik setelah memastikan Pak Bisri pergi.


"Dia Ayahku." Jawab Bella pelan.


"Kalau itu aku tahu."


"Itu hal yang wajar."


"Hm ya." Nathan mengangguk-angguk seraya mengatur emosi yang sudah tersulut sejak tadi. Ingin rasanya dia berteriak nyaring namun hal itu akan menambah buruk keadaan.


"Biasanya Ayah tidak seketat itu. Aku di perbolehkan memilih tanpa ada perdebatan. Em kalau kamu ingin menyerah sebaiknya lakukan sekarang." Imbuh Bella menimpali.


"Itu urusan mu Mas."


"Tidak bisa begitu."


"Aku sudah menebak kalau semua ini tidaklah tulus." Nathan meremas rambut tebalnya sambil menatap frustasi ke arah Bella." Kalau kamu menikah hanya karena keanehan itu, lebih baik kamu kembalikan ponselku agar aku bisa menjadi tukang ojek lagi dan pergi dari hidupmu." Jawaban tersebut terdengar seperti sebuah ancaman.


"Eldar bilang kalau kamu sumber kesenangan ku. Itu kenapa kita harus menikah."


"Maaf Mas. Untuk saat ini aku tidak bisa. Restu juga belum ada kan."


"Ya baik oke. Akan ku buktikan keseriusan ku." Nathan mengeluarkan amplop coklat lalu menyodorkannya pada Bella." Anggap ini sebagai awal. Besok kita akan mencari ponsel baru untuk mu agar kamu tidak harus berkerja panas-panasan." Imbuhnya menjelaskan.


"Apa ini?" Tanya Bella tanpa menyentuh amplop.


"Uang."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Pakai untuk merawat tubuhmu agar Ayahmu segera merestui hubungan kita." Bella tersenyum simpul.


"Tidak. Ambil lagi uangnya. Aku tidak mau merawat diri."


"Why?"


"Agar kamu mundur karena malu." Ingin melihat ketulusan mu Mas.


Wanita ini benar-benar menguras emosi.


"Ya sudah. Pakai untuk biaya hidup mu sehari-hari."


"Terimakasih Mas. Tapi aku tetap tidak mau. Ayahku bisa marah nanti. Bawa kembali uang mu."


"Anggap sebagai ucapan belasungkawa." Jawab Nathan cepat. Sedikit kesal baginya. Tapi semakin besar penolakan di lontarkan Bella, keinginan Nathan untuk menaklukkan semakin menggebu-gebu.


"Berikan sendiri pada Ayah."


"Hm sudah jam dua. Aku harus pergi." Nathan berpura-pura tidak mendengar dan membiarkan amplop tergeletak di meja." Om saya mau berpamitan." Ujar Nathan setengah berteriak. Bella menghela nafas panjang seraya berdiri untuk memanggil Pak Bisri. Belum sampai niat itu terlaksana, Pak Bisri terlihat muncul dari ruang tengah.


Dengan sopan Nathan mencium punggung tangan Pak Bisri yang langsung di balas usapan lembut pada kepala. Perlakuan tersebut sangat menyentuh hati Nathan yang selama ini haus akan perhatian semenjak Ibunya meninggal.


"Hati-hati di jalan." Imbuh Pak Bisri dengan suara hangat. Berbeda dengan apa yang di lontarkan tadi.


"Ya Om." Jawab Nathan gugup. Ayah bahkan tidak pernah memperlakukan ku seperti ini. "Saya permisi." Imbuhnya tersenyum simpul.


Pak Bisri hanya mengangguk dan mengantarkan kepergian Nathan di ambang pintu sementara Bella tetap di dalam. Setelah mobil Nathan pergi, Pak Bisri kembali masuk lalu duduk di hadapan Bella.


"Kamu keberatan Ayah berkata begitu?"


"Tidak Yah." Jawab Bella pelan.


"Kamu suka dengan lelaki itu?" Bella tidak bergeming. Ingin berkata sejujurnya namun terasa berat." Ayah hanya berusaha menjaga mu." Bella mengangguk.


"Aku tidak ingin asal memilih. Sekarang keputusan ada di tangan Ayah. Em aku tidak becus memilih pasangan." Pak Bisri menghela nafas berat.


"Tidak bisa begitu Nak. Ayah hanya sekedar memberikan syarat. Keputusan tetap di tanganmu tapi ingat ya. Jangan pernah merendahkan diri untuk mengejar seorang lelaki."


Bella mengangguk patuh mengingat saat dia memberikan persyaratan yang di rasa tidak berguna. Menurutnya, menikah adalah syarat utama menjalin hubungan. Sehingga kala itu Bella memberikan syarat pada Leo untuk segera melamar.


"Kalau nantinya dia pergi. Harus ikhlas, masih banyak laki-laki lain. Ayah juga takut sebab Nathan bukan orang sembarangan sementara kita." Pak Bisri tersenyum teduh sambil menyeruput sisa tehnya.

__ADS_1


Ayah benar. Aku bukan orang yang pantas untuk Nathan. Seharusnya dia bersama wanita kaya dan cantik. Bukan bersama ku. Tapi aku berharap dia tetap tinggal.


🌹🌹🌹


__ADS_2