
Bella menghembuskan nafas berat berkali-kali ketika dia menyadari sikap kekanak-kanakannya. Seharusnya dia tetap berada di dalam restoran dan bersikap profesional sebab jam kerja belum berakhir.
Setelah menenangkan perasaan, Bella berniat kembali masuk namun tertahan. Nathan terlihat keluar restoran dan berjalan menghampiri.
"Maaf Pak. Seharusnya saya tidak mencampuradukkan..."
"Kita kembali ke perusahaan." Sahut Nathan cepat. Dia lebih dulu masuk mobil lalu di ikuti oleh Bella. Sebenarnya aku malu mengakui Bella sebagai calon Istri ku. Tapi untuk mengambil hatinya, ya sudahlah terpaksa.
Selama ini Nathan masih menganggap apa yang di lakukan hanyalah berpura-pura. Kehidupan buruk yang di jalani membuatnya kesulitan untuk memilah isi hati dan niat kotornya. Dia masih saja menginginkan Bella hanya untuk menghilangkan keanehan. Tidak ada ketulusan apalagi niat untuk menghabiskan sisa waktu bersama. Menurutnya!
"Akan ku persulit kerja samanya." Ucap Nathan seraya menyetir.
"Tidak perlu Pak. Saya sudah merasa lega tadi."
"Mana mungkin?! Ibu adalah orang terpenting bagi hidup kita."
Dulu Nathan di kenal sebagai anak baik-baik. Dia pintar bergaul dan ramah. Tapi setelah kematian Sang Ibu membuat hidupnya berubah 99 derajat. Apalagi semenjak Ayahnya memutuskan menikah tanpa menimbang penolakannya. Membuat Nathan berubah menjadi lelaki brengsek dan tidak mempercayai ketulusan terutama hubungan pernikahan.
"Mama tidak mungkin suka melihat saya membalas dendam. Setujui sesuai prosedur kalau memang perusahaan Pak Stefan layak mendapatkannya."
"Hm." Nathan fokus menyetir seraya memikirkan cara lain agar Bella semakin yakin padanya. Jujur saja tubuhnya sudah terasa gatal. Dia ingin bercinta bebas seperti dulu. Begitulah yang sedang di fikirkan.
Nathan tidak berusaha mencari-cari kebenaran soal keinginan yang mungkin bukan apa yang ada di dalam hati. Jatuh cinta pada Bella terasa mustahil baginya. Mana mungkin? Sebab Nathan mengukuhkan niat untuk tidak menikah seumur hidup.
Sementara yang di rasakan Bella sesuai apa yang di inginkan Nathan. Dia mulai terjebak akan kepalsuan sikap. Bella bahkan berbangga diri karena sudah berhasil merubah seorang penjahat ranjang menjadi anti wanita.
Sabar. Ini masih terlalu singkat.
Sekuat apapun Bella berusaha menyingkirkan rasa. Nathan sering menunjukkan keseriusannya di setiap hari. Memberikan pembelaan, mengakuinya sebagai calon Istri meski dirinya terlihat buruk. Tapi satu-satunya sikap yang paling Bella sukai adalah ketika Nathan memperlihatkan perasaan cemburu yang berkobar-kobar ketika ada seorang lelaki yang mendekat.
Bagaimana mungkin Bella tidak besar kepala melihat itu? Nathan rela berseteru hanya untuk menjauhkannya dari lelaki lain termasuk Leo.
.
.
.
.
Beberapa Minggu kemudian...
Seperti biasa, sepulang Bella berkerja Pak Bisri selalu menanti kedatangannya di teras rumah. Tapi kali ini ada yang berbeda sebab Bella pulang dengan mimik wajah yang sulit di artikan. Antara senang dan gelisah sehingga membuat Pak Bisri tidak sabar ingin mendengar cerita dari Bella.
"Apa yang terjadi hari ini?" Tanya Pak Bisri dari ruang tengah sementara Bella di dalam kamar sedang mengganti baju.
"Seperti biasa Yah. Tapi hari ini sedikit santai. Perkerjaannya tidak banyak." Jawab Bella dari dalam kamar. Dadanya masih bergetar hebat sebab ternyata dia sedang menyiapkan diri untuk berbicara serius dengan Pak Bisri.
Setelah mengganti baju, Bella duduk di samping Pak Bisri sambil menatap layar televisi. Tidak biasanya dia menunda mandi. Hal itu menyakinkan hati Pak Bisri jika Bella ingin membicarakan sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa? Katakan." Ucap Pak Bisri lirih.
"Ini masalah Mas Nathan." Pak Bisri melirik seraya menghela nafas panjang. Dia merasa waktunya masih terlalu singkat untuk memutuskan namun rupanya Bella sudah tenggelam dalam jebakan Nathan.
"Kenapa?"
"Sebenarnya aku ingin menolak tapi..."
"Ini masih satu tengah bulan. Tunggu lebih lama lagi. Ayah hanya takut terjadi kegagalan." Bella terdiam. Jawaban dari Pak Bisri tetap sama setelah dua Minggu yang lalu dia menanyakannya." Ayah sungguh tidak memikirkan rasa malu pada tetangga sekitar Nak. Ayah lebih takut kalau kamu kembali kecewa dan sakit hati." Imbuh Pak Bisri mengusap lembut punggung Bella. Berharap permintaannya di turuti dan di patuhi.
"Tapi tetangga sekitar sering bertanya soal..."
"Yang perlu kamu fikirkan adalah perasaan mu sendiri. Jangan termakan perkataan orang lain. Kalau ada apa-apa, kamu juga yang merasakan. Ayah tidak mau melihat mu kurus seperti dulu."
Meski tanpa perawatan, kini keadaan Bella jauh lebih baik. Kulitnya kembali normal meski tidak sebersih dulu. Tubuhnya pun terlihat ideal sebab fikiran dan perut Bella mendapatkan asupan gizi yang cukup.
"Tapi Bella sudah yakin." Lagi lagi Bella kesulitan menahan gejolak hatinya yang tengah meronta-ronta.
"Yakin apa?"
"Menikah." Meski malu, Bella mengutarakan keinginan untuk menerima pinangan Nathan.
"Umurmu masih muda. Fikirkan lagi soal keputusan itu Nak."
"Sudah Yah." Aku bahkan tidak ingin berjauhan dengan Mas Nathan terlalu lama. "Ayolah Yah. Bella mohon." Seperti kesalahan yang di lakukan dulu. Bella kembali tidak kuasa menahan rasa ingin menikah seolah itulah akhir dari hidupnya.
"Mas Nathan tidak keberatan kalau setelah menikah kita tinggal bersama."
"Bukan masalah itu. Ayah tidak apa kalau tinggal di sini. Ayah masih kuat berkerja. Tapi Ayah lebih mengkhawatirkan kamu." Seperti yang di katakan. Pak Bisri belum sepenuhnya percaya pada Nathan meski beberapa kali dia mengizinkan Bella ketika Nathan meminta izin mengajaknya keluar.
"Tidak ada alasan untuk tidak percaya Yah. Mas Nathan memang tidak berselera dengan wanita lain." Kini Pak Bisri kembali berdiri di tengah kebimbangan. Bella tidak dapat di hentikan padahal beberapa Minggu lalu janji untuk lebih berhati-hati kerapkali di lontarkan.
"Kapan dia datang?" Tanya Pak Bisri dengan setengah hati. Sudah beberapa kali Nathan mengatakan niatnya untuk meminang Bella.
"Besok. Kalau Ayah setuju."
"Hm. Ayah tunggu kedatangannya besok." Terpaksa Pak Bisri mengiyakan sambil memanjatkan doa di dalam hati. Dia berharap Bella tidak lagi di kecewakan dan di sakiti.
"Terimakasih ya Yah. Aku mandi dulu." Setelah tersenyum sejenak, Bella bergegas masuk kamar. Pintunya tampak di tutup sebab ternyata Bella langsung memberitahu Nathan akan kabar gembira tersebut.
📞📞📞
"Besok aku akan datang bersama kedua orang tuaku.
Jantung Bella berpacu cepat ketika Nathan membalasnya dengan suka cita.
"Tapi sebenarnya ini terlalu mendadak Mas. Bukankah sebaiknya kamu datang sendiri dulu. Satu Minggu lagi baru datang bersama kedua orang tua. Semua perlu persiapan.
"Anak buahku banyak. Mereka akan datang ke sana untuk mempersiapkan semuanya. Akan ku suruh Eldar mengatur.
__ADS_1
"Em...
"Maaf Baby. Aku hanya merasa tidak sabar ingin memiliki mu.
Kata-kata bualan yang cukup ampuh menghantam perasaan Bella. Suara berat khas Nathan, membuat Bella tidak kuasa menolak rayuan yang terdengar murahan.
"Nanti akan ku bicarakan dengan Ayah.
"Hm.
"Aku mandi dulu Mas.
Terdengar nafas berat berhembus seakan-akan Nathan berusaha menunjukkan rasa tidak sabarnya.
"Ya. Kita akan melakukan itu bersama ketika sudah syah.
"Iya Mas. Bye. Sampai jumpa besok.
"Ya Baby.
📞📞📞
Setelah panggilan terputus Nathan terkekeh sejadi-jadinya. Tidak sia-sia dia merubah sikap hanya untuk mencuri perhatian dan simpatik Bella.
"Akhirnya..." Eldar menatap Nathan tanpa tersenyum sedikitpun. Tidak dapat di pungkiri jika dia merasa geram atas sikap Tuannya.
"Saya harap Tuan tidak mengecewakan."
"Cari orang untuk berpura-pura menjadi orang tuaku." Nafas Eldar berhembus kasar. Ada sesal terbesit sebab tenyata Nathan tidak juga mengurungkan niatnya untuk menipu Bella.
"Kenapa harus seperti itu Tuan?"
"Bisma akan meledekku kalau tahu soal pernikahan ini."
"Meski begitu, beliau adalah orang tua kandung Tuan sendiri. Em apa itu berarti, Tuan akan menceraikan Nona Bella setelah semuanya kembali normal?" Nathan mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Seperti rencana awal."
"Apa Tuan tidak takut akan hukuman yang lebih buruk?"
"Kalau keanehan ku tidak menghilang setelah menikah. Aku berjanji tidak akan meninggalkan Bella." Tapi aku tidak janji akan bisa setia. Meskipun aku tidak menceraikannya. Aku yakin Bella akan menuntut cerai setelah aku kembali seperti dulu.
"Saya pegang janji Tuan."
"Iya cepat cari. Besok acaranya Siang. Jangan lupa untuk mendekor rumah Bella agar aku tidak di sebut buruk."
"Baik Tuan. Akan saya atur." Eldar berdiri lalu pergi. Sementara Nathan bergegas menghubungi Bara untuk menceritakan keberhasilannya.
🌹🌹🌹
__ADS_1