Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Target baru


__ADS_3

Lisa sengaja melukai tubuhnya dan berharap bayi yang ada di kandungannya tidak selamat. Bagaimana mungkin seorang calon Ibu merencanakan hal buruk pada calon buah hatinya. Seakan-akan Lisa tidak memiliki rasa sayang dan hanya memikirkan materi.


Tadinya Lisa ingin anak itu lahir dengan selamat. Dia bahkan membayangkan punya keluarga kecil bersama Stefan. Namun kehadiran Nina membuat niatnya berbalik arah. Lisa tidak menginginkan bayi tersebut bahkan berniat membunuhnya.


"Selamat Ibu, bayinya laki-laki. Kondisinya tidak stabil jadi perlu perawatan intensif." Lisa yang baru saja melahirkan langsung duduk dan mencabut selang infus. Perbuatannya sontak membuat para suster panik.


"Ayahnya tidak mau bertanggung jawab. Saya tidak memiliki uang cukup untuk membiayai pengobatan nya."


"Semua bisa di bicarakan Bu. Tolong jangan seperti ini. Kondisi Ibu masih sangat lemah."


Sebaiknya aku pergi daripada nantinya aku di suruh membayar.


"Berikan bayi itu pada orang lain. Saya tidak perduli." Lisa menerobos keluar dengan keadaan berantakan. Para keluarga pasien berusaha ikut menenangkan namun gagal. Lisa bersikukuh ingin pergi meninggalkan rumah sakit.


"Kami akan mencarikan pengadopsi tapi Ibu harus kembali ke kamar."


"Tidak saya ingin pergi. Lelaki itu tidak mau bertanggung jawab. Biar bayi itu di rawat orang lain saja." Lisa membalikkan tubuhnya dan berniat pergi. Tanpa sengaja dia menabrak seorang berjas rapi. Dia adalah Kai, pemilik Xu grup. Astaga. Siapa lelaki ini?


Terlihat Kai menatap Lisa begitu tajam. Sentuhan yang terjadi tidak sengaja membuatnya muak.


"Jaga matamu!!" Umpat Kai kasar. Sebuah tangan dengan jemari lentik meraih lengannya lembut.


"Maaf saya tidak sengaja." Meski berkata demikian nyatanya bibir Lisa tersungging. Dia merasa sudah mendapatkan target baru tanpa perduli pada sosok cantik yang berdiri di samping Kai.


Note: Aku ingatkan lagi!! Bagi yang tidak tahu Kai. Mohon baca cerita kedua ku yang berjudul "Benih titipan Tuan Mafia"


"Sudahlah Mas. Dia tidak sengaja." Sahut Naysila tersenyum ramah. Dia memperhatikan penampilan Lisa yang berantakan.


"Mari ikut saya Bu."


"Tidak!" Tolak Lisa kasar. Dia ingin memanfaatkan situasi untuk mencari simpatik." Saya tidak punya biaya untuk anak itu." Kai tidak ingin ikut campur dan berniat mengajak Nay pergi.


"Mari kita kembali ke kamar. Untuk biayanya bisa kita bicarakan." Rajuk sang suster.


"Berapa biayanya?" Sahut Nay." Apa dia baru melahirkan?" Menunjuk ke arah Lisa.


Suster menjelaskan secara detail masalah yang menimpa Lisa. Tentu saja hal tersebut membuat Nay merasa iba. Dia berniat membantu biaya persalinan serta perawatan si bayi.


"Hubungi kontak ini. Dia akan menanggung biaya rumah sakit dan perawatan bayinya." Lisa tertunduk namun tersenyum. Nay telah masuk perangkap nya.

__ADS_1


"Terimakasih."


"Sama-sama." Seketika Nay menoleh ketika Darrel melewatinya begitu saja. Alan pun setengah berlari mengejarnya." Darrel." Teriak Nay sontak membuat langkah Darrel terhenti. Satu-satunya sosok yang bisa mengendalikan sikap dan kenakalannya. Kai bahkan di buat pusing atas perbuatan darah dagingnya sendiri. Setiap hari selalu membuat masalah sampai-sampai mereka kerapkali datang ke rumah sakit untuk memberikan kompensasi dan permintaan maaf.


"Ya Ma." Lisa di buat melongok saat Darrel membalikkan tubuhnya. Sosok tersebut memiliki wajah bak pinang di belah dua dengan Kai.


Astaga tampan sekali.


"Kamu ingin pergi kemana lagi?" Dengan terpaksa Darrel berjalan menghampiri Nay. Dia berdiri tepat di sampingnya. Alan mengatur nafasnya yang memburu. Cukup melelahkan memiliki keponakan yang super nakal.


"Pulang." Kai menghembuskan nafas berat. Dia melirik malas ke arah Darrel.


"Kita pulang bersama. Em hubungi kontak itu jika membutuhkan bantuan. Kami permisi." Setelah melontarkan itu, Nay, Kai, dan Darrel berjalan pulang.


Lisa menatapnya lekat tanpa sadar pada sosok Alan yang tengah memperhatikannya.


"Jangan salah gunakan kebaikan mereka. Kau akan dapat masalah besar." Alan tersenyum simpul kemudian pergi. Lisa tidak sadar dengan beberapa anak buah yang tampak membaur di sekitar. Dia hanya memikirkan sudah menemukan target baru.


"Erik? Apa ini namanya?" Gumam Lisa memandangi kartu nama yang ada di tangannya. Dia dengan senang hati masuk ke dalam ruang perawatan tanpa perdebatan seperti tadi.


🌹🌹🌹


Bella menelan bulat-bulat rasa malu tersebut. Toh namanya sudah terlanjur buruk. Dia berusaha tidak perduli atas pendapat orang lain dan ingin hidup sesuai keinginan. Mental bella terlatih akibat perbuatan yang di lakukan Nathan.


Apa Bastian hadir? Fikir Bella seraya mempelajari berkas di tangannya. Inilah alasan kenapa Bastian begitu menginginkan Bella. Meski tidak seberapa cantik, namun Bella seorang wanita yang cerdas. Dia sangat terbantu dalam dua tahun terakhir ini. Perusahaan mengalami peningkatan produksi sangat tinggi.


"Bagaimana?" Tanya Nathan memastikan.


"Waktunya terlalu singkat Pak. Saya yang akan membawakan presentasinya saja." Setengah jam lagi rapat di mulai. Nathan memerintahkan Bella meringkas bahan presentasi untuk rapat nanti. Tapi tentu saja waktunya terlalu singkat sehingga dia memutuskan membawa presentasinya sendiri.


Nathan menghembuskan nafas berat. Cukup malas mendengar Bella memanggilnya Pak. Meski kecerdasan Bella sudah terasah, namun tidak dapat di pungkiri jika Nathan ingin Bella berdiam diri di rumah.


"Jangan terlalu kaku." Protes Nathan pelan.


"Apa yang kaku?"


"Panggil aku Mas saja."


"Anda bilang ingin bersikap profesional?" Nathan mengangguk-angguk seraya tersenyum.

__ADS_1


"Sebenarnya itu keinginan kedua. Sebab keinginan utamaku adalah menikah dengan mu."


"Tidak perlu di ulang-ulang. Saya tahu dan paham." Bella membereskan berkas dan memasukkannya ke dalam map. Nathan ikut berdiri lalu keduanya keluar menuju ruang pertemuan.


Dan benar, terlihat ada Bastian yang turut hadir bersama sekretarisnya. Dia menatap tajam ke Bella yang baru saja masuk.


Bella sedikit gugup. Bukan karena tatapan tajam Bastian, melainkan dirinya harus kembali ada di sekeliling orang di masa lalu. Leo dan teman-temannya tampak hadir, tapi mereka tidak menunjukkan senyum mengejek seperti sebelumnya dan malah tertunduk.


"Rapat kali ini akan di pimpin Nona Bella." Ujar Nathan sebelum memulai. Kecemburuan Bastian semakin meluap-luap. Dia yang selama ini berusaha menahan diri untuk mengambil simpatik malah harus tersingkir.


Aku menyesal sudah menyia-nyiakannya. Batin Leo tidak kalah sakit. Kehidupannya berantakan setelah dia memilih Lisa dan meninggalkan Bella.


"Oke mari kita mulai."


Bella memulai rapat meski rasa canggung bergejolak di hati. Bagaimana tidak, sebab dirinya tengah berada di sekeliling staf lelaki. Sama sekali tidak ada wanita di sana. Sejak kemarin memang tidak pernah ada wanita.


Mbak Anis benar. Semua staf wanita sudah di pindahkan ke kantor cabang.


Eldar mengangguk-angguk. Dia sendiri merasa kagum pada kinerja Bella. Berkas darinya semakin mudah di mengerti karena cara penyampaian yang begitu baik.


"Proyek bisa di mulai Minggu ini." Ucap Bella mengakhiri presentasi nya.


"Saya ingin kamu yang bertanggung jawab atas proyek." Sahut Bastian mencari celah agar dia bisa kembali dekat dengan Bella.


"Tidak mungkin Pak. Saya sekedar membantu di sini. Semua proyek akan di handle Pak Eldar selaku penanggung jawab."


"Kalau saya ingin kamu bagaimana?" Tanya Bastian seraya melirik ke arah Nathan." Ini demi kelangsungan kerja sama." Untuk membalas rasa sakit hatinya, Bastian berusaha merendahkan Bella dengan cara halus.


"Batalkan saja kalau memang anda keberatan." Sahut Nathan cepat. Bella bergegas membereskan berkas lalu duduk di sampingnya.


"Apa salahnya memenuhi keinginan relasi. Toh Bella pernah berkerja dengan saya." Dengusan terdengar berhembus dari rongga hidung Bella. Kini kebencian dan dendam tengah bertengger di mimik wajah Bastian.


"Ya memang. Kecuali permintaan yang satu itu. Nona Bella hanya boleh membantuku, tidak lebih."


"Lantas apa gunanya dia di sini. Untuk bahan cuci mata bagi kami?" Bastian terkekeh begitupun relasi dari luar Asian group. Sementara para staf lebih memilih bungkam daripada harus di pecat.


Keburukannya terlihat jelas. Walaupun Bella tersinggung dengan ucapan tersebut tapi sebisa mungkin dia bersikap tenang seakan tidak mendengar. Cibiran seperti sekarang kerapkali di dengar sejak dulu. Tapi kali ini sedikit lain sebab mulut yang berceloteh merupakan milik Bastian, lelaki yang di anggapnya dewasa.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2