
Bu Rita melongok ketika sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah Leo. Sore itu dia berniat mengantarkan makanan untuk Lisa tapi pemandangan di hadapannya membuat Bu Rita mempercepat langkah.
Terlihat Leo baru selesai menandatangani surat terima barang. Bu Rita duduk di sisinya, dia menunggu kurir pengantar barang pergi.
"Terimakasih Pak. Permisi." Kurir tersenyum simpul kemudian pergi.
Kenapa Mama ke sini? Batin Leo mengeluh.
Bu Rita mengambil surat-surat dari tangan Leo dan membulatkan matanya ketika sudah memeriksa surat-surat tersebut.
"Kredit?" Tanya Bu Rita seraya menoleh ke arah Leo." Untuk apa Le? Mobil mu sudah bagus. Besok itu kamu butuh banyak biaya untuk kelahiran anak mu." Imbuhnya berprotes.
"Mau bagaimana lagi. Kata Mama aku harus memenuhi keinginan Ibu hamil. Lisa ingin mobil itu. Terpaksa aku mengambil pinjaman Bank karena harganya sangat mahal."
Tidak dapat di pungkiri jika Leo terbebani dengan keinginan tersebut. Tapi mau bagaimana lagi. Selain perintah Bu Rita, dia juga sangat menyanyangi Lisa.
"Tapi tidak semahal ini Le. Mobil biasa kan banyak. Ini hampir delapan miliar loh. Ya ampun Le. Kalau kamu tidak bisa membayar angsuran bagaimana?" Bu Rita merasa ketar-ketir juga khawatir jika nantinya Leo tidak sanggup membayar angsuran setiap bulannya yang mencapai 200 juta lebih.
"Dia hanya ingin mobil itu. Aku sudah menawarkan yang lain tapi tidak mau." Bu Rita menghela nafas panjang. Perasaannya kian aneh seakan-akan mampu menebak tentang kejadian buruk yang mungkin akan menimpa anaknya.
"Belum lagi pajak untuk setiap tahunnya Le. Ini sangat mahal. Mobil ini bukan untuk kalangan seperti kita." Leo hanya mampu terdiam sebab dirinya juga tidak mampu menolak. Lisa selalu berhasil meluluhkan hatinya.
Padangan keduanya beralih pada pintu. Terlihat Lisa baru saja datang dengan senyum mengembang. Bu Rita sempat menghela nafas panjang karena merasa keberatan dengan permintaan Lisa.
Dulu aku mengeluh soal Bella yang sering membeli makan di luaran. Tapi ternyata Lisa lebih buruk daripada itu. Aku takut anakku terbelit hutang.
"Apa itu mobil untuk ku Pa?" Tanya Lisa girang.
"Ya sesuai keinginan. Beruntung bisa langsung di kirim tapi hanya ada warna itu."
"Tidak apa Pa. Itu bagus sekali. Ingat kalau surat-suratnya atas nama ku kan."
"Hm kita tunggu 1 bulan lagi baru selesai."
Leo terpaksa mengambil pinjaman bank untuk membeli mobil tersebut. Lisa ingin langsung ada surat-suratnya tanpa menunggu beberapa tahun selayaknya kredit biasa. Seharusnya Leo mencium keganjilan tersebut sebab Lisa memang memutuskan untuk pergi setelah surat kepemilikan keluar. Apalagi Stefan menjanjikan sebuah pernikahan. Hal itu membuat Lisa memantapkan hatinya untuk meninggalkan Leo setelah menguras hartanya.
__ADS_1
"Terimakasih ya Pa." Dengan manja Lisa memberikan pelukan hangat serta kecupan singkat pada pipi. Aku tidak percaya Papa Leo benar-benar membelikan mobil mewah itu untukku. Bodoh haha...
🌹🌹🌹
Eldar memperhatikan kebersamaan Bella dan Nathan dari jauh. Terdengar helaan nafas panjang berhembus. Nathan sendiri tengah merajuk Bella untuk makan bersama sebelum pulang. Namun Bella menolak, dia mengacuhkan Nathan dari saat di depan ruangan sampai parkiran.
"Bagaimana bisa kita menjadi dekat kalau kamu menolak keinginan ku." Bella menaiki motornya bahkan sudah memasukkan kunci.
"Kita sudah bersama satu hari ini. Ingat pada keinginan Ayah untuk jangan berpura-pura sok baik." Jawab Bella mengingatkan.
"Aku tidak sedang berpura-pura. Aku sedang berusaha sesuai keinginan Ayahmu." Jawab Nathan menyangkal.
"Atur emosi mu terlebih dulu Mas. Kamu harus tahu jika tidak semua hal bisa kau genggam dengan mudah." Nathan mendengus. Otaknya mendadak panas karena perasaan yang menggebu-gebu tengah bergejolak.
"Aku sudah sangat sabar."
"Ku rasa belum. Aku pergi. Sampai jumpa besok pagi." Bella melajukan motornya. Nathan menatapnya frustasi lalu masuk ke dalam mobil. Dia berniat membeli beberapa makanan untuk Bella dan Pak Bisri padahal peringatan tidak sering berkunjung sudah di lontarkan.
Sementara Bella sendiri sesekali menatap kaca spion. Dia merasa kecewa saat melihat mobil Nathan tidak mengikuti. Terlihat munafik sebab tadi dia menolak keinginan Nathan.
Apa yang ku harapkan. Jangan berharap terlalu tinggi Bella. Nathan itu hanya ingin memenuhi rasa penasarannya saja.
Singkat waktu, setibanya di rumah. Pak Bisri sudah menunggu di teras. Dia menatap penuh tanya ke baju Bella yang sudah berganti menjadi kemeja dan rok ketat bawah lutut. Sepatu heels juga tampak Bella pakai.
"Katanya pulang jam 3. Bukankah kamu bilang pukul dua adalah pergantian shift." Bella tersenyum simpul lalu mencium punggung tangan Pak Bisri.
"Ini perbuatan Nathan yah. Dia menutup mini market itu lalu memaksaku berkerja di perusahaan yang dulu."
"Tapi kamu tidak di apa-apakan kan Nak?" Tanya Pak Bisri merasa khawatir.
"Tidak Yah."
"Syukurlah. Ayo masuk, Ayah sudah buatkan teh panas." Dengan hangat Pak Bisri merangkul kedua pundak Bella lalu mengiringnya masuk." Tadi Bapak kan ke warung. Terus ada salah satu tetangga yang menanyakan kenapa kamu tinggal di sini bukan di rumah Leo." Sontak Bella menoleh.
"Terus Ayah jawab apa?"
__ADS_1
"Ayah bilang kalau kamu dan Leo sudah bercerai."
"Ayah juga cerita soal rumah tangga ku?" Pak Bisri tersenyum teduh.
"Tidak Nak. Ayah hanya menjawab kalau kalian sudah sama-sama tidak cocok." Bella bernafas lega seraya mengangguk.
"Maaf ya Yah sudah mempermalukan."
"Mungkin sudah ketentuannya seperti itu. Amplop coklat sudah kamu kembalikan pada Nathan kan?" Bella menepuk jidatnya seraya tertawa kecil. Sikap itu di tujukan untuk menutupi perasaan kecewanya paska bertemu Leo. Apalagi tebakan soal kemandulan kini bersarang di otaknya.
"Aku lupa Yah. Tadi perkerjaannya cukup padat. Ada meeting siang dan sore sebelum pulang jadi aku melupakan itu."
Pak Bisri cukup merasa tenang ketika Bella bercerita dengan sangat antusias. Dirinya tahu jika dulu Bella merasa berat ketika melepas pekerjaan. Semua itu semata-mata di lakukan untuk menunjukkan baktinya pada permintaan Leo.
Syukurlah.. Bella menikmati perkerjaannya.
Sementara di sebuah restoran. Nathan berdiri untuk menunggu pesanannya di buat. Dia sengaja membelikan sajian dari restoran mahal dan berharap Pak Bisri terkesan.
Tiba-tiba saja mimik wajahnya berubah ketika dia melihat seorang wanita paruh baya duduk menatapnya tidak jauh dari sana.
"Bisa di percepat tidak?" Pinta Nathan seakan malas bertemu dengan wanita yang di ketahui bernama Marta, Ibu tirinya.
"Ini sudah di usahakan sesuai prosedur Kak."
"Apa kabar Nath." Sapa Marta tersenyum manis. Keriput pada wajahnya tidak menutupi kecantikannya. Wajar saja jika Bisma tergila-gila.
"Oh. Sedang menikmati hidup dengan uang Ayahku." Sontak Marta menghela nafas berat.
"Ku dengar kamu memindahkan Elena ke kantor cabang." Jawab Marta mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kau tahu alasannya apa. Wanita itu membuatku mual."
"Begitu? Bukankah kamu suka ketika mereka menempel tanpa celah ke tubuhmu." Jawab Marta berbisik. Dia tahu bagaimana watak anak tirinya yang selalu menjadi fantasi liarnya. Jujur saja jika Marta lebih tertarik pada Nathan daripada Bisma yang sakit-sakitan. Dia semakin terlihat dewasa. "Datanglah ke rumah. Ayahmu sedang tidak enak badan, itu kenapa aku makan di luar sekalian membungkus untuk di bawa pulang." Marta menatap Nathan dari atas sampai bawah. Fikirannya bergerilya entah sejauh mana sampai-sampai tidak sengaja bibir bawahnya di gigit.
"Kau sudah di bayar mahal. Rawat tua bangka itu, sampai kapanpun aku tidak mau pulang." Nathan berjalan keluar tanpa memperdulikan kasir restoran yang tengah meneriakinya.
__ADS_1
Darah muda memang masih berapi-api. Begitupun hasratnya yang pasti menggebu-gebu. Semua hak waris sudah ada di tangan Nathan. Aku harap tua bangka itu cepat mati agar aku bisa leluasa menggoda Nathan.
🌹🌹🌹