Pebinor Dari Masa Lalu

Pebinor Dari Masa Lalu
Tinggal bersebelahan


__ADS_3

Atas bujukan Pak Bisri, Bella mau mengemas barang-barang sore ini. Mereka akan pindah ke Apartemen yang sudah di siapkan Eldar. Terlihat beberapa orang membantu sebab Nathan menginginkan agar kepindahannya cepat selesai.


Di dalam mobil. Sengaja Pak Bisri duduk di samping Eldar yang tengah menyetir sementara Nathan dan Bella duduk di jog belakang.


Posisi Bella tengah memunggungi sementara Nathan cenderung menghadap ke arahnya. Di tangannya masih terdapat ponsel yang sampai sekarang tidak di terima oleh Bella.


"Tadi Pak Bastian menemui saya." Ujar Eldar mengawali pembicaraan.


"Ada apa?"


"Ingin memutuskan kerja sama Tuan."


"Lakukan saja. Apa kamu bilang seperti itu?"


"Tenang saja Tuan. Kuasa akan hal itu tidak bisa di lakukan Pak Bastian."


"Kenapa begitu?" Tanya Nathan ingin tahu. Dia sendiri belum paham tentang sosok Kai. Hanya Pak Bisma yang berhubungan baik dengan nya.


"Perusahaan bukan sepenuhnya milik Pak Bastian." Bella yang terpancing obrolan sedikit melirik ke kaca spion.


Jadi perusahaan itu bukan milik Mas Ian?


"Kamu bercanda El?"


"Tidak Tuan. Perusahaan Pak Bastian berada di naungan Xu group. Bukankah Tuan pernah bertemu Tuan Kai?"


"Hm hanya sekali. Itupun tidak terlalu jelas. Aku merasa dia lelaki yang sombong." Eldar tersenyum simpul. Dia tahu bagaimana misteriusnya sosok Kai di kalangan para pengusaha.


"Beliau sangat baik Tuan. Asal tidak menganggu kehidupan pribadinya. Tapi terkadang penilaian orang sangat lain jika mereka melihat dari satu sisi." Entah kenapa Bella tersindir sebab beberapa jam lalu Pak Bisri juga membicarakan hal tersebut.


Kenapa Nathan tega melakukan itu? Apa hanya karena dendam pada perbuatan ku dulu atau ada hal lain?


"Hm. Aku membelikan ponsel sesuai keinginanmu." Nathan kembali meletakkan paper bag ke pangkuan Bella. Sejak tadi dia tidak berhenti merajuk.


"Memangnya kau tahu keinginan ku seperti apa?! Kau selalu merusak ponselku."


"Ya aku minta maaf."


"Terima saja Nak." Sahut Pak Bisri menimpali. Dia sedikit bernafas lega setelah mendengar penjelasan soal Eldar perihal Bastian.


Sebenarnya Pak Bisri tidak menginginkan seorang menantu kaya raya. Namun yang jadi masalah adalah kata-kata dari Bastian sendiri. Dia ingat ketika Bastian bercerita soal jatuh bangunnya membangun perusahaan sampai sebesar sekarang.


Kala itu Pak Bisri cukup kagum sebab Bastian mampu membangun perusahaan dari nol sampai berkembang seperti sekarang. Bastian bahkan sempat menyebut Nathan yang memang hanya sebagai pewaris kekayaan Pak Bisma tanpa harus bekerja keras.


Terkadang buruk di awal itu lebih baik daripada baik di awal.


"Aku masih punya tabungan untuk membeli ponsel." Bella meletakkan paper bag di tengah.


"Nak Nathan ikhlas dan tidak butuh timbal balik. Benar begitu Nak Nathan?"


"Ya Om. Anggap sebagai ganti ponsel yang ku rusak. Aku berjanji tidak akan memaksa mu menikah. Apalagi menjadikan ponsel sebagai sogokan." Bella masih saja berpaling dan enggan melihat ke arah Nathan.


"Tuan Nathan sudah tidak seperti dulu Nona. Saya jamin." Sahut Eldar menimpali.


"Wajar saja kalau kamu membela Tuanmu."


"Saya lebih takut pada hukum karma kalau saya berbohong. Bukankah Nona tahu kalau anak saya ada dua. Saya tidak ingin mereka ikut menanggung dosa besok."


Padahal Bella bukan tidak percaya. Dia hanya sedang malu mengakui ketertarikannya pada Nathan. Suara ketus yang lontarkan semata-mata ingin menutupi wajah gugup serta getaran pada hatinya.

__ADS_1


"Aku memilih sesuai warna kesukaan mu." Nathan mengeluarkan kotak ponsel dari dalam paper bag dan menunjukkan ponsel berwarna biru.


Darimana dia tahu aku suka biru?


"Apa kamu ingin memakai ponsel Ayah? Biar ponsel baru itu Ayah yang pakai."


"Kenapa Ayah sangat membelanya?"


"Suatu saat kamu akan tahu kalau sudah menjadi orang tua. Kalau di jelaskan sekarang mungkin kamu tidak akan mengerti."


Pak Bisri hanya mengikuti kata hati. Dulu dia memang merasa ragu pada Nathan. Tapi entah kenapa sekarang dia sangat yakin apalagi setelah obrolan hangat yang terjadi semalam.


"Oke. Aku terima." Bella menyambar ponsel dari tangan Nathan. Sangat berkilau di mata sebab Bella menyukai warna biru.


Setibanya di tujuan, Bella dan Pak Salim cukup terkesima dengan Apartemen yang di sewa Nathan untuk satu tahun ke depan. Bagaimana tidak? Sebab Apartemen begitu mewah dengan kolam renang di dalamnya.


"Saya sudah menyewa untuk satu tahun ke depan. Tapi kalau Om dan Bella suka dengan tempatnya, saya bisa membelinya."


"Tidak Nak. Em Bella berniat kembali ke rumah lama kami. Di sana penuh kenangan."


"Berapa lama lagi Om?"


"Enam bulan paling lama."


Aku harap Bella segera memaafkan ku dan membuka lembaran baru.


"Em baik. Saya tinggal di sebelah. Kalau ada apa-apa Om bisa meminta bantuan pada saya." Ujar Nathan seraya menatap ke arah Bella yang sejak tadi tidak ikut berkomentar.


"Terimakasih ya Nak."


"Sama-sama Om." Sambil berjalan melangkah keluar. Nathan mengirimkan pesan singkat pada Bella.


Triiiing...


Rasanya berdebar-debar ketika Nathan bisa mendapatkan kesenangannya lagi. Selama dua tahun dia hidup dalam kekakuan karena tidak mampu melakukan kesenangannya. Pujian dan rayuan yang sering Nathan lontarkan pada para wanita dulu, sempat tergantikan dengan obrolan serius nan singkat.


Tapi setelah pertemuannya dengan Bella kemarin. Mood buruk di hatinya seketika lenyap. Dia ingin merayu seperti dulu, melakukan kesenangan dan mulai membayangkan sebuah sentuhan juga adegan ranjang. Hanya saja kali ini terasa lain, sebab Nathan ingin melakukannya untuk satu nama yaitu Bella.


Dia mulai lagi.


Bella hanya membaca pesan tersebut. Meski ingin rasanya membalas, tapi Bella tidak ingin lagi mengalah. Dia ingin bersikap apa adanya tanpa di tutupi apalagi berusaha menjadi sempurna hanya untuk seseorang.


Triiiing..


💌Aku tidak sabar menghabiskan waktu berdua. Kapan itu terjadi? Aku harap malam ini kamu mau makan malam bersama ku.


Tentu saja jantung Bella berdebar-debar membaca rayuan murahan itu. Dia menatap layar ponsel seraya tersenyum. Sangat tidak sesuai dengan sikap acuhnya.


"Mimpi apa Ayah berada di tempat sebagus ini." Gumam Pak Bisri membuyarkan lamunan Bella.


"Kenapa sih Ayah begitu?" Protes Bella pelan.


"Begitu bagaimana?"


"Jangan mudah terayu Yah. Mungkin saja Mas Nathan hanya berpura-pura."


Bella tidak juga memahami jika firasat orang tua begitu peka. Apalagi saat berada di rumah sakit, Nathan sudah berbicara dari hati ke hati. Entah kenapa kali ini Pak Bisri tidak mencium aroma kebohongan.


Sayatan pada pergelangan tangan yang begitu dalam pun menjadi bukti kalau Nathan benar-benar menyesal. Dia bahkan mendengar sendiri penjelasan Dokter yang berkata Nathan adalah orang yang beruntung karena bisa terhindar dari kematian.

__ADS_1


"Tenang saja Nak. Walaupun Ayah sudah yakin, keputusan menikah tetap ada padamu. Tapi umurmu sudah sangat matang."


"Dulu Ayah bilang umurku masih muda."


"Itu hanya alasan Ayah saja. Kalau memang kamu menginginkan Nathan. Cobalah memulai semuanya dari awal. Cinta itu tidak butuh keangkuhan dan tidak berbatas."


"Ish! Ayah tidak sesuai." Pak Bisri tertawa kecil. Sampai saat ini Bella tidak juga tahu bagaimana masa mudanya.


"Tidak sesuai bagaimana?"


"Dulu bilang begitu dan sekarang bilang begini."


"Apapun yang Ayah lakukan, tujuannya hanya ingin melihat kamu bahagia dengan orang yang tepat."


"Kalau dia tidak setia bagaimana Yah." Pak Bisri merangkul kedua pundak Bella erat." Dia play boy dan pasti sekarang sudah bosan." Bella tengah menimbang. Rasa cemburunya dan sifat pecinta wanita yang dominan dengan Nathan membuatnya ragu.


"Terus kenapa kamu dulu percaya padanya."


Dia tipe ku meski menyebalkan kalau harus melihatnya bersama wanita lain. Sudah cukup sakit hatinya, aku tidak mau lagi melihat penghianatan.


"Jujur sama Ayah." Imbuh Pak Bisri mendesak.


"Hanya melihat apa yang terlihat menonjol. Aku tidak perduli jika nantinya dia berkhianat."


Perasaan dan kenyataan yang bertolak belakang. Sebenarnya Bella lebih takut kehilangan Nathan daripada sebuah penghianatan.


"Ayah yakin dia sudah bosan melakukan itu. Setia pada satu nama lebih menyenangkan daripada berlabuh pada banyak hati. Rasanya sangat melelahkan kalau harus menuruti hawa naffsu. Tidak akan ada habisnya dan tidak ada ujungnya."


"Hm." Bella menunjukkan layar ponselnya. Untuk pertama kali setelah dua tahun bersikap tertutup. Hari ini dia ingin berbagi cerita dengan sang Ayah.


"Oh. Jadi."


"Dia tidak tahu diri. Setelah kesalahan itu dia masih bisa merayu."


"Hanya makan malam, tidak ada salahnya. Terima saja kalau memang kamu mengharapkannya."


"Tapi..."


"Ayah tahu apa yang ada di dalam hatimu."


"Dulu Ayah memihak Bastian."


"Beruntung kamu menolak. Ayah juga tidak menyangka kalau Bastian berbohong."


"Mas Nathan juga berbohong. Aku curiga, kenapa Ayah membelanya?"


"Versi berbohong itu berbeda-beda." Pak Bisri kembali tertawa kecil melihat wajah penuh tanya yang Bella tunjukkan.


"Aku rasa Ayah memang sejenis dengan Mas Nathan." Bella menyingkirkan tangan Pak Bisri dari pundaknya." Aku akan menata barang-barang ku Yah." Imbuhnya sambil membalas pesan.


💌Ya.


Triiiing..


💌Pukul enam malam ku jemput.


💌Hm.


💌Terimakasih kesempatannya.

__ADS_1


Bella hanya membaca pesan lalu meletakkan ponsel di atas nakas. Dia membuka koper besar dan mulai menata baju ke dalam lemari yang sudah tersedia di sana.


🌹🌹🌹


__ADS_2