
Pak Bisri mengizinkan Bella keluar bahkan sangat senang mendengarnya. Selama ini dia berusaha memaksa Bella untuk menikmati hidup, namun selalu berakhir dengan penolakan.
Bella terlihat berdiri di depan lift. Dia hanya mengenakan celana jeans dan kaos longgar di balik sweater. Di tangannya ada dompet kecil yang berisi uang dan ponsel.
Ketika pintu lift terbuka, Bella bergegas masuk tanpa perduli pada Nathan yang ternyata sudah mengetahui lokasi Apartemen dari Eldar. Karena terlalu acuh membuat Bella masih tidak menyadari keberadaan Nathan di sampingnya.
📞📞📞
"Lima belas menit lagi supir ku sampai.
"Bagaimana sih? Aku sudah di lift.
"Tunggu saja di Lobby. Dia akan menjemput mu.
"Merepotkan sa...
📞📞📞
Ucapan Bella tertahan ketika ponsel miliknya di rebut lalu di banting ke lantai. Sontak dia menoleh ke arah Nathan yang kini sudah meraih pergelangan tangannya erat.
"Kau."
"Kita bicara empat mata." Ujar Nathan langsung menyeret paksa Bella untuk ikut dengannya. Ponsel miliknya bahkan masih tergeletak di lift dalam keadaan hidup.
"Lepas Mas, ini tidak sopan." Bella berusaha melepaskan diri tapi Nathan seakan tidak mendengar dan memasukkannya ke dalam mobil.
Tap!!!
Mobil melaju meninggalkan Apartemen bersamaan dengan datangnya supir pribadi Bastian.
"Sikapmu masih sangat buruk!! Menurut mu lelaki dewasa melakukan ini?!!" Teriak Bella geram.
"Aku berniat mendatangi Apartemen mu tapi kita bertemu di lift." Jawab Nathan pelan. Nada bicaranya terdengar lembut tidak seperti saat berdebat dengan Bastian.
"Turunkan aku. Jangan seperti ini?" Nathan menghembuskan nafas berat. Dia memarkir mobilnya di bahu jalan sebuah perumahan sepi penghuni.
Terlihat mimik wajah Nathan begitu frustasi ketika maniknya melirik ke arah Bella. Dia memilih diam dan menyadarkan punggungnya sambil mendengarkan umpatan dari Bella yang tengah berprotes.
"Aku menyesal." Bella tertawa kecil tanpa menatap ke arah Nathan. Sakit hati yang di torehan Nathan masih kental terasa.
"Sudahlah Mas. Kenapa kamu masih menganggu hidup ku?! Apa kamu ingin menyalahkan ku atas hidupmu yang berantakan?!"
__ADS_1
"Aku minta maaf dan ingin memperbaiki semua."
"Tidak bisa." Nathan tersenyum simpul. Dia kehabisan kata untuk membuat Bella percaya. Semua rayuan sudah di tunjukkan pada pertemuan dua tahun yang lalu.
"Kamu suka dengan nya?" Tanya Nathan pelan.
"Siapa maksud mu?"
"Bastian."
"Itu bukan urusan mu."
"Aku akan berhenti kalau kamu memang ingin hidup bahagia dengan nya." Ingin rasanya Bella menoleh tapi berusaha di tahan. Dia tidak ingin tertipu untuk kedua kali." Aku hanya butuh meminta maaf." Nathan bukan ingin menyerah. Tapi dia mencoba tidak bersikap egois dan membuat Bella semakin membencinya.
"Tipuan apalagi."
"Aku serius. Asalkan kamu menginginkan dia, ya sudah aku berhenti."
Nathan tengah berada di jalan buntu. Dia bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Bella sehingga keputusan ikhlas terpaksa di ambil. Tidak seharusnya Bella menanggung akibat dari perbuatannya. Nathan benar-benar ingin meminta maaf dan melepaskan Bella kalau hubungan keduanya sudah tidak bisa di perbaiki.
"Ya. Berhentilah. Jangan menganggu ku agar aku bisa hidup tenang." Ucapan yang bertolak belakang membuat suara Bella terdengar lirih namun terdengar di tekan.
"Kamu mencintai nya?" Bella menoleh ke arah Nathan yang tengah menatap lurus ke depan. Lelaki itu masih terlihat tampan meski wajahnya penuh luka memar.
"Sungguh? Aku tidak ingin pemberhentian ku sia-sia." Tanya Nathan mengulang.
Aku harus menjawab apa? Kenapa Ekspresi Nathan seperti itu? Kalau aku tidak berbohong, dia akan semakin besar kepala dan menginjak-injak ku lagi.
"Hm. Mas Ian lebih baik darimu."
"Ya. Aku memang brengsek. Aku mencoba ikhlas walaupun rasanya sulit. Selama ini aku mencari keberadaan mu dengan harapan kita dapat kembali bersama." Tidak dapat di pungkiri jika hati Bella bergetar mendengar ucapan tersebut.
"Itu mustahil Mas. Kau begitu buruk memperlakukan ku." Nathan mengulurkan tangannya. Bella tidak langsung menyambut karena cukup di buat bingung dengan ekspresi Nathan yang tidak biasa.
Wajahnya terlihat pucat. Matanya melambangkan keputusasaan berat. Namun Bella masih mempertanyakan kebenaran dari mimik wajahnya. Tipuan atau kebenaran?!
"Aku minta maaf. Aku berjanji akan berhenti setelah ini. Kamu tidak akan mendapatkan gangguan apapun dan... Aku akan berhenti mencari mu."
Sekuat apapun Bella berusaha menghempaskan rasa, namun perkataan Nathan membuat hatinya tersentuh. Semurah itu? Terkadang Bella mempertanyakan soal harga dirinya di mata Nathan. Pemerkosaan, penipuan sudah di suguhkan dua tahun lalu tapi keburukan itu tidak cukup kuat merubah ketertarikan Bella pada Nathan.
Payah hiks. Kenapa aku tidak mau dia berhenti?
__ADS_1
"Hanya berjabat tangan lalu selesai." Pinta Nathan mendesak. Dia berharap Bella masih memberikan kesempatan.
Aku yakin akan bisa? Kalau dia tidak berharap mungkin aku bisa segera membuka hati untuk yang lain. Ini demi Ayah.
Jemari Bella terlihat bergetar ketika dia menyambut uluran tangan Nathan. Saat kulit keduanya bersentuhan perasaan Bella tidak merasa lega dan malah begitu menginginkan Nathan.
"Senang mengenal mu. Sampaikan kata maaf ku untuk Ayahmu." Ujar Nathan seraya melepaskan jabatan tangannya. Dia mengambil ponsel dari saku lalu meletakkannya di depan kaca dalam posisi kamera menyala.
Dia sedang apa? Batin Bella semakin di buat bingung.
"Saya melakukan ini dengan kesadaran penuh. Tidak ada paksaan ataupun ancaman. Sengaja saya membuat video agar nantinya tidak ada pihak yang di salahkan."
"Kamu sedang apa?" Tanya Bella ingin tahu.
"Berhenti mencintai mu." Seketika Bella berhenti bernafas ketika Nathan mengeluarkan pisau lipat lalu menyayat pergelangan tangannya sendiri.
"Tidak hei! Kau gila!" Teriak Bella menatap nanar pergelangan tangan Nathan.
"Aku tidak tahu caranya berhenti." Darah segar mengucur. Bella berniat meraih pergelangan Nathan untuk menghentikan pendarahan namun di tolak mentah-mentah." Jangan lakukan itu. Aku sudah menulis surat wasiat agar nantinya kamu tidak terlibat." Imbuh Nathan yang pandangannya mulai kabur.
"Dasar bodoh! Kau bodoh sekali! Kau tidak boleh melakukan ini?!" Bergegas saja Bella mengambil ponsel milik Nathan lalu menghubungi kontak Eldar.
"Aku menyesal. Aku menangis setiap kali mengingat dosaku padamu. Kalau aku harus melihat mu bersama seseorang, akan lebih baik aku mati."
Bukan hanya Nathan, Bella sendiri merasa sesak bernafas ketika melihat darah begitu banyaknya mengucur. Setelah berhasil menghubungi Eldar, dia kembali meraih pergelangan tangan Nathan lalu mengikatnya dengan sweater miliknya.
"Tidak. Kau harus tetap sadar." Pinta Bella seraya menepuk-nepuk pipi Nathan agar tetap terjaga.
"Jangan menolong ku, biarkan saja aku mati agar aku bisa berhenti." Jawab Nathan lirih. Dia hanya mampu mendengar sebab pandangannya mulai kabur. Meski begitu bibirnya tersungging. Sentuhan Bella sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa rindunya selama ini.
"Aku memang sangat membenci mu tapi aku tidak bisa berhenti mencintai mu. Nath! Sadar! Kau tidak boleh pergi!!"
Bella menangis terisak seraya mendekap erat tubuh Nathan yang sudah benar-benar tidak sadarkan diri. Ada ketakutan terpatri pada mimik wajahnya di sertai tangisan histeris.
Ketika terlihat lampu sorot mobil mendekat. Bella menombol pintu otomatis lalu keluar mobil untuk mencari bantuan.
"Nona?" Bella hanya mampu menunjuk ke arah mobil dengan kaos berbalut darah. Tubuhnya bergetar hebat sehingga terpaksa Eldar memeluknya.
Terlihat tubuh Nathan di bawa masuk ke Ambulance. Bella di giring masuk ke dalam mobil Eldar yang terparkir tidak jauh dari sana.
Kenapa dia senekat itu? Batin Bella tanpa berkata sepatah katapun. Air matanya tidak berhenti jatuh membuat Eldar tersenyum simpul.
__ADS_1
Itu bukan hukuman dari Tuhan tapi pertanda dari Tuhan. Semoga tidak terjadi sesuatu dengan Tuanku agar dia bisa menunjukkan ketulusannya.
🌹🌹🌹